Sebelumnya, aku mau berterima kasih yang sebesar-besarnya pada Yenny yang mengizinkanku untuk mempost cerita hidupnya.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pernah suatu ketika, aku iseng duduk-duduk dekat Yenny, teman sekelasku. Biar kuceritakan dulu sesuatu tentang Yenny.
Saat pertama kali masuk sekolah, Yenny typical orang-yang-mau-bertanggung-jawab-atas-kelas-X-3. Itu yang kulihat darinya. Saat pertama masuk, ia selalu ingin terlibat tentang hal-hal yang menyangkut kelas X-3, misalnya pemilihan struktur organisasi kelas. Namun, tidak semua pekerjaannya terlihat beres. Pernah suatu ketika, Yenny mengatakan ingin menghandle tugas memesan-makanan-untuk-buka-puasa-bersama-seluruh-kelas yang berlangsung pada Ramadhan lalu. Kami pun mempercayakan tugas itu padanya. Uang pun terkumpul, ia berencana memesan makanannya hari ini. Kalau tidak salah, satu hari sebelum hari H, ia mengembalikan uang tersebut. "Rumah makannya tutup selama Ramadhan." Di waktu yang sesempit itu sontak kami kecewa. Lantas, memesan di mana? Di RM yang enak? Uangnya nggak cukup! Mau ngumpulkan lagi? Mana sempat! Yang lain udah pada pulang! Mau di RM itu? Sama dengan kelas yang lain! Ah, kok aku jadi marah-marah?! *elus elus dada* *dada ayam*
Akhirnya Hisan, Intan, dan Seha yang bertanggung jawab atas makanan. Sementara aku menyumbang karpet untuk duduk. Kami pun hanya makan lamongan. Nasi putih dengan ayam plus lalapan. Parahnya, nggak ada kecap ._. *okeabaikan*. Yah, setidaknya masih ada es buah untuk cuci mulut. Kelas kami mungkin kelas yang paling sederhana makanannya. Hambar. Ya, hambar sekali.
Usai kejadian tersebut banyak yang mulai tidak menyukai Yenny, termasuk aku. Percaya atau tidak, sekali kalian mensugesti diri bahwa kalian tidak menyukai seseorang, kalian akan membencinya mulai dari hal-hal yang salah, sampai hal-hal yang benar darinya. Semua tindakannya bernilai negative di mata kalian. Dan ini yang salah. Ini yang salah.
Tempat dudukku dan Yenny terbilang seperti Sabang dan Merauke. Aku duduk di pojok kanan depan, sementara Yenny duduk di pojok kiri belakang. Sehingga, aku tidak terlalu berteman dengannya, atau, mengetahui apa tentangnya. Jika ada hal buruk tentang dirinya, aku hanya mendengarnya dari temanku. Dulu, Yenny duduk sendirian karena jumlah anggota kelas kami ganjil. Namun, selang beberapa lama, Misna pindah. Yenny pun duduk dengan Anti, yang sebelumnya duduk dengan Misna.
Oke, kita lanjut ke awal.
Saat itu pelajaran sedang kosong dan kelas kami tidak diberi tugas apa-apa. Waktu luang ini entah kenapa mendorong aku untuk duduk di dekat Yenny yang sedang asyik ngobrol dengan Anti. Ternyata, Yenny menceritakan masa lalunya.
Tak ada yang salah dengan keluarga Yenny. Yang salah adalah cara hidupnya.
Sewaktu Yenny kecil, ia dititipkan ke rumah Om-nya yang berada di Jawa karena faktor pekerjaan orang tuanya. Yenny bercerita, bahwa ketika ia kecil, ia sering di bedakan dengan ketiga sepupunya -anak dari Om dan Tante-nya. Ia bercerita bahwa sejak kecil ia sudah mandiri, Tantenya tidak mau mencucikan bajunya sehingga Yenny harus mencuci bajunya sendiri, ah, kalau tidak salah ia juga mencucikan baju Om-Tante-serta-sepupu-sepupunya. Anak kecil mana yang mau disuruh demikian? Tapi namanya juga "numpang", mau bagaimana lagi? Perlakuan buruk juga datang dari sepupu-sepupunya. Saat mereka bertiga sedang nonton TV, jika Yenny datang untuk melihat, mereka akan mematikan TVnya. jika Yenny pergi, mereka baru akan menyalakan TVnya. Makanan. Makanan pun tak jarang Yenny mendapat yang-sudah-tidak-layak-makan. You know what I mean, right?
Jam malam pun dibatasi sampai jam 8 malam. Pernah suatu ketika Yenny asyik nonton TV di rumah tetangga, ketika ia pulang, ternyata sudah lebih dari jam 8 malam. Oh please, anak kecil mana yang sudah ngerti dengan jam? Yenny tidak diizinkan masuk. Bahkan lampu di luar dimatikan. Seseorang menepuk pundak Yennymaka tertidurlah ia dan mengajaknya untuk menginap di tempatnya.
Orang tua Yenny bukannya tidak bertanggung jawab. Mereka mengirimi Yenny baju, susu, dan sebagainya untuk keperluan Yenny. Sesekali Ibunya Yenny juga menelpon anak sulungnya tersebut. Namun, yah, seperti di film-film. Hak-hak Yenny bukannya mengalir padanya tapi justru berpindah tangan ke sepupu-sepupunya. Dan telepon? Yenny kerap dipaksa berbohong kepada Ibunya bahwa ia diberi uang jajan yang cukup padahal ... udah, you know what I mean.
AKU BENAR-BENAR NGGAK NYANGKA!
Di kelasku ... kelas X-3, satu diantaranya memiliki kisah hidup yang biasanya aku temui di film-film!
Kalau tidak salah saat Yenny menginjak kelas 5, Ibunya Yenny mengambil kembali Yenny. What a relief. Tapi ada satu hal, Ibunya Yenny sudah melahirkan seorang anak baru. Ya, dia adiknya Yenny! Bayangkan jika tiba-tiba ada seseorang datang ke rumahmu dan orang tuamu berkata "Dia kakak kandungmu" apa kalian bisa menerima begitu saja? Sebagian mungkin bisa menerima sebagian lain mungkin mengalami fase shock terlebih dahulu. Dan sayangnya, adiknya Yenny bukan typical orang-yang-bisa-menerima-begitu-saja. Kecanggungan antara kakak-adik yang terpisah pun terjadi. Argh, kayak drama-drama di TV!
Namun, sayangnya, itu benar terjadi.
Adiknya Yenny pintar. Ia sering menjuarai peringkat satu di kelasnya. Ayah dan Ibunya Yenny tentu bangga padanya. Kebalikannya, Yenny tidak pintar dalam akademik. Ia jujur padaku bahwa ia merasa sering dibedakan dengan adiknya yang pintar itu.
Allah bukannya nggak adil. Allah itu Maha Adil. Dibalik itu semua, Allah memberikan kelebihan kepada Yenny. Yenny mungkin tidak perpotensi banyak dalam akademik, tapi dalam karate, jangan remehkan dia. Yenny sudah sering menjuarai perlombaan karate sampai-sampai ia ikut kejuaraan bertaraf nasional di Jakarta. Meski tidak menang, ia tetaplah hebat. Nasional, cuy!
Karate adalah jalan Yenny membahagiakan orang tuanya. Orang tuanya mendukung penuh Yenny dalam karate. Aku salut padanya. Oh, bagaimana dengan Om-Tante-serta-sepupu-sepupu-itu? Iya, mereka terkejut. Inikah Yenny yang dulu? Mereka meminta maaf kepada Yenny dan berkata ia Yenny memaafkannya.
"Yang berlalu biarlah berlalu. Dendam hanya akan menghambatmu menuju pintu ketentraman. Sebaliknya, maaf adalah cara termudah menuju dunia yang tentram, yang damai. Kuharap, dengan ini ada yang belajar dari pengalaman hidupku."
-Yenny-
Ya, Yenny. Aku belajar banyak darimu.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pandanganku berubah 180 derajat pada Yenny. Nggak, aku nggak mau lagi memandang negative seseorang hanya karena dia telah berbuat kesalahan yang mengecewakan. Maksudku, hey, you know, tak ada di dunia ini yang sempurna! Allah mengajarkan pelajaran hidup kepada hamba-hambanya melalui banyak cara. Entah dari pengalaman buruk, memalukan, menyedihkan, membahagiakan, pengalaman orang lain, binatang, tumbuhan, ah, banyak lah pokoknya!
Mungkin sikap Yenny ada yang membuatku kesal, marah, tapi siapa yang tahu, dibalik dirinya itu tersimpan sosok yang pemaaf?
Maaf ya Yenny, atas pandanganku yang tidak baik padamu selama ini. Kuharap aku bisa belajar dari pengalaman hidupmu lebih banyak lagi. Aku hanya manusia yang masih belajar, masih perlu belajar banyak agar bisa memahami makna kehidupan. Agar aku tahu, apa alasanku hidup di dunia yang mengagumkan ini.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pernah suatu ketika, aku iseng duduk-duduk dekat Yenny, teman sekelasku. Biar kuceritakan dulu sesuatu tentang Yenny.
Saat pertama kali masuk sekolah, Yenny typical orang-yang-mau-bertanggung-jawab-atas-kelas-X-3. Itu yang kulihat darinya. Saat pertama masuk, ia selalu ingin terlibat tentang hal-hal yang menyangkut kelas X-3, misalnya pemilihan struktur organisasi kelas. Namun, tidak semua pekerjaannya terlihat beres. Pernah suatu ketika, Yenny mengatakan ingin menghandle tugas memesan-makanan-untuk-buka-puasa-bersama-seluruh-kelas yang berlangsung pada Ramadhan lalu. Kami pun mempercayakan tugas itu padanya. Uang pun terkumpul, ia berencana memesan makanannya hari ini. Kalau tidak salah, satu hari sebelum hari H, ia mengembalikan uang tersebut. "Rumah makannya tutup selama Ramadhan." Di waktu yang sesempit itu sontak kami kecewa. Lantas, memesan di mana? Di RM yang enak? Uangnya nggak cukup! Mau ngumpulkan lagi? Mana sempat! Yang lain udah pada pulang! Mau di RM itu? Sama dengan kelas yang lain! Ah, kok aku jadi marah-marah?! *elus elus dada* *dada ayam*
Akhirnya Hisan, Intan, dan Seha yang bertanggung jawab atas makanan. Sementara aku menyumbang karpet untuk duduk. Kami pun hanya makan lamongan. Nasi putih dengan ayam plus lalapan. Parahnya, nggak ada kecap ._. *okeabaikan*. Yah, setidaknya masih ada es buah untuk cuci mulut. Kelas kami mungkin kelas yang paling sederhana makanannya. Hambar. Ya, hambar sekali.
Usai kejadian tersebut banyak yang mulai tidak menyukai Yenny, termasuk aku. Percaya atau tidak, sekali kalian mensugesti diri bahwa kalian tidak menyukai seseorang, kalian akan membencinya mulai dari hal-hal yang salah, sampai hal-hal yang benar darinya. Semua tindakannya bernilai negative di mata kalian. Dan ini yang salah. Ini yang salah.
Tempat dudukku dan Yenny terbilang seperti Sabang dan Merauke. Aku duduk di pojok kanan depan, sementara Yenny duduk di pojok kiri belakang. Sehingga, aku tidak terlalu berteman dengannya, atau, mengetahui apa tentangnya. Jika ada hal buruk tentang dirinya, aku hanya mendengarnya dari temanku. Dulu, Yenny duduk sendirian karena jumlah anggota kelas kami ganjil. Namun, selang beberapa lama, Misna pindah. Yenny pun duduk dengan Anti, yang sebelumnya duduk dengan Misna.
Oke, kita lanjut ke awal.
Saat itu pelajaran sedang kosong dan kelas kami tidak diberi tugas apa-apa. Waktu luang ini entah kenapa mendorong aku untuk duduk di dekat Yenny yang sedang asyik ngobrol dengan Anti. Ternyata, Yenny menceritakan masa lalunya.
Tak ada yang salah dengan keluarga Yenny. Yang salah adalah cara hidupnya.
Sewaktu Yenny kecil, ia dititipkan ke rumah Om-nya yang berada di Jawa karena faktor pekerjaan orang tuanya. Yenny bercerita, bahwa ketika ia kecil, ia sering di bedakan dengan ketiga sepupunya -anak dari Om dan Tante-nya. Ia bercerita bahwa sejak kecil ia sudah mandiri, Tantenya tidak mau mencucikan bajunya sehingga Yenny harus mencuci bajunya sendiri, ah, kalau tidak salah ia juga mencucikan baju Om-Tante-serta-sepupu-sepupunya. Anak kecil mana yang mau disuruh demikian? Tapi namanya juga "numpang", mau bagaimana lagi? Perlakuan buruk juga datang dari sepupu-sepupunya. Saat mereka bertiga sedang nonton TV, jika Yenny datang untuk melihat, mereka akan mematikan TVnya. jika Yenny pergi, mereka baru akan menyalakan TVnya. Makanan. Makanan pun tak jarang Yenny mendapat yang-sudah-tidak-layak-makan. You know what I mean, right?
Jam malam pun dibatasi sampai jam 8 malam. Pernah suatu ketika Yenny asyik nonton TV di rumah tetangga, ketika ia pulang, ternyata sudah lebih dari jam 8 malam. Oh please, anak kecil mana yang sudah ngerti dengan jam? Yenny tidak diizinkan masuk. Bahkan lampu di luar dimatikan. Seseorang menepuk pundak Yenny
Orang tua Yenny bukannya tidak bertanggung jawab. Mereka mengirimi Yenny baju, susu, dan sebagainya untuk keperluan Yenny. Sesekali Ibunya Yenny juga menelpon anak sulungnya tersebut. Namun, yah, seperti di film-film. Hak-hak Yenny bukannya mengalir padanya tapi justru berpindah tangan ke sepupu-sepupunya. Dan telepon? Yenny kerap dipaksa berbohong kepada Ibunya bahwa ia diberi uang jajan yang cukup padahal ... udah, you know what I mean.
AKU BENAR-BENAR NGGAK NYANGKA!
Di kelasku ... kelas X-3, satu diantaranya memiliki kisah hidup yang biasanya aku temui di film-film!
Kalau tidak salah saat Yenny menginjak kelas 5, Ibunya Yenny mengambil kembali Yenny. What a relief. Tapi ada satu hal, Ibunya Yenny sudah melahirkan seorang anak baru. Ya, dia adiknya Yenny! Bayangkan jika tiba-tiba ada seseorang datang ke rumahmu dan orang tuamu berkata "Dia kakak kandungmu" apa kalian bisa menerima begitu saja? Sebagian mungkin bisa menerima sebagian lain mungkin mengalami fase shock terlebih dahulu. Dan sayangnya, adiknya Yenny bukan typical orang-yang-bisa-menerima-begitu-saja. Kecanggungan antara kakak-adik yang terpisah pun terjadi. Argh, kayak drama-drama di TV!
Namun, sayangnya, itu benar terjadi.
Adiknya Yenny pintar. Ia sering menjuarai peringkat satu di kelasnya. Ayah dan Ibunya Yenny tentu bangga padanya. Kebalikannya, Yenny tidak pintar dalam akademik. Ia jujur padaku bahwa ia merasa sering dibedakan dengan adiknya yang pintar itu.
Allah bukannya nggak adil. Allah itu Maha Adil. Dibalik itu semua, Allah memberikan kelebihan kepada Yenny. Yenny mungkin tidak perpotensi banyak dalam akademik, tapi dalam karate, jangan remehkan dia. Yenny sudah sering menjuarai perlombaan karate sampai-sampai ia ikut kejuaraan bertaraf nasional di Jakarta. Meski tidak menang, ia tetaplah hebat. Nasional, cuy!
Karate adalah jalan Yenny membahagiakan orang tuanya. Orang tuanya mendukung penuh Yenny dalam karate. Aku salut padanya. Oh, bagaimana dengan Om-Tante-serta-sepupu-sepupu-itu? Iya, mereka terkejut. Inikah Yenny yang dulu? Mereka meminta maaf kepada Yenny dan berkata ia Yenny memaafkannya.
"Yang berlalu biarlah berlalu. Dendam hanya akan menghambatmu menuju pintu ketentraman. Sebaliknya, maaf adalah cara termudah menuju dunia yang tentram, yang damai. Kuharap, dengan ini ada yang belajar dari pengalaman hidupku."
-Yenny-
Ya, Yenny. Aku belajar banyak darimu.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pandanganku berubah 180 derajat pada Yenny. Nggak, aku nggak mau lagi memandang negative seseorang hanya karena dia telah berbuat kesalahan yang mengecewakan. Maksudku, hey, you know, tak ada di dunia ini yang sempurna! Allah mengajarkan pelajaran hidup kepada hamba-hambanya melalui banyak cara. Entah dari pengalaman buruk, memalukan, menyedihkan, membahagiakan, pengalaman orang lain, binatang, tumbuhan, ah, banyak lah pokoknya!
Mungkin sikap Yenny ada yang membuatku kesal, marah, tapi siapa yang tahu, dibalik dirinya itu tersimpan sosok yang pemaaf?
Maaf ya Yenny, atas pandanganku yang tidak baik padamu selama ini. Kuharap aku bisa belajar dari pengalaman hidupmu lebih banyak lagi. Aku hanya manusia yang masih belajar, masih perlu belajar banyak agar bisa memahami makna kehidupan. Agar aku tahu, apa alasanku hidup di dunia yang mengagumkan ini.
Hari ini sudah bulan Ramadhan aja, ya. Glek. Udah berapa lama aku nggak nulis T^T eh salah, ngetik. Ah, abaikan. Banyak banget nih kejadian-kejadian lampau yang pengen banget aku tulis -ngetik, ah, apalah- di sini yang menurutku bisa dijadikan pelajaran hidup. Banyak ... saking banyaknya aku rada-rada lupa ._.
Kebahagiaan itu ... kecil. Percaya, nggak?
Waktu itu sepulang sekolah, aku dan Icha bareng ke parkiran. Baru saja melewati kelas X-5, Kak Ayu memanggil Icha. Icha memintaku menunggu dan ia pun masuk ke kelas X-5 Aku bertahan. Melirik sebentar ke dalam. Sebagian teman-teman anggota habsyi berkumpul dan berpusat pada Kak Ayu. Aku heran, yah, sebagai anggota Rismata -kelompok habsyi mesjid At-Taqwa- mengapa aku tidak dipanggil? Hatiku meragu, antara ingin masuk ke dalam dan tidak. Usai bolak-balik tidak keruan, aku pun memberanikan diri masuk dan mendengarkan pembicaraan mereka.
Ternyata, Kak Ayu sedang merekrut anggota rebana. Ia diminta untuk mencari orang yang bisa memukul gendang untuk lomba antar-kecamatan. Tentunya, kami bisa. Tapi, banyak dari anggota Rismata yang tidak bisa ikut. Pada akhirnya, hanya aku, Icha, dan Kak Ayu dari Rismata yang ikut. Fyi, Kak Ayu tidak terlalu berpengalaman dalam gendang. Di Rismata, Kak Ayu seorang penyair, yaitu orang yang membaca syair, sementara aku dan Icha, menjadi ... gendang-ers.
Perlombaan masih cukup lama. Latihan pun dilaksanakan hari demi hari. Bertempat di kantor kecamatan Tanjung, di sana aku memperoleh apa yang kusebut ... kebahagiaan.
Pada awal-awal latihan, aku agak sedikit bingung. Latihan yang kami jalani sangat membingungkan. Aku saja bingung ketukanku yang mana. Kalau disuruh begini, ya begini. Besoknya? Lupa. Kami pun memiliki kendala personil yang masih belum lengkap -diperlukan 11 orang. Namun lambat laun personil lengkap, 12 orang, malah. Tapi kondisi latihan yang acakadut, membuat aku dan Icha ragu. Kami tidak tahu ketukan mana yang harus kami dendangkan.
Faktornya? Jelas ada. Sebagian besar anggota rebana kami masih newbie. Iya, newbie -pemula. Mereka masih harus diajari dasar-dasarnya dan mereka sering salah. My .. my ..
Tapi, sekitar 2 minggu sebelum hari H, kami seperti mendapat setruman ekstra. Latihan yang semula cuma sore hari kini beralih menjadi malam. Harapannya, bisa mendapat waktu latihan lebih lama. Mengingat, anak SMA yang pulangnya siang ditambah ada kegiatan ekstrakulikuler mempersempit waktu latihan. Belum lagi ... pramuka. Namun, karena kegiatan ini, kami, oleh pihak kecamatan diberi surat dispensasi ke sekolah untuk libur pramuka. Yay!
Kata-kata yang biasanya seperti ini "Au, hari ini latihan" sekarang berubah menjadi "Au, hari ini latihan malam". Kuakui, sungguh melelahkan. Belum lagi jika ada ulangan. Rasanya ... stres.
Selama latihan, tentu banyak hal yang telah kami lalui bersama. Pernah, suatu malam ketika kami latihan, mati lampu. Penerangan hanya bermodal lilin. Karena rata-rata lapar, kami diberi popmi. "Air panasnya?", tanya kami bergantian. "Pakai banyu akua gen loko?" (Pakai air akua aja, gih) Kami pun gelak tertawa. Masa popmi pake akua. Kami pun punya gelaran masing-masing, dan masih banyak lagi.
Hari H tiba. Kami mendapat no urut pertama tampil. Pakaian kami, jujur saja, kurang bagus. Modelnya adalah model lama nan sederhana, ditambah warna hijau lumut dan kuning keemasan. menurutku tidak begitu cocok. Dibanding peserta lain, mereka modis sekali. Nyaliku agak ciut di sini.
Kami pun tampil dengan catatan; yang boleh tampil hanya 11 orang. Kacau! Formasi berubah! Aku panik. Bagaimana bisa mengubah formasi tanpa latihan minimal 3 hari? Yah, 3 hari, karena formasi-formasi yang ada saja kami suka salah. This will be bad.
Benar saja, ketika tampil, formasi kacau. Panggungnya? Disayangkan, sangat sempit menurutku. Ditambah, banyak tali-tali memenuhi lantai. Menyusahkan untuk melangkah. Tangga untuk naik panggung juga sangat curam! Untung, sepatu kami tidak terlalu tinggi, asal pelan, maka takkan terjatuh. Penampilan kami pun tidak semaksimal ketika latihan terakhir. Sangat disayangkan.
Usai tampil, kami duduk di tempat semula. Penampilan-demi-penampilan berikutnya sangatlah memukau. Berbeda dari kami yang formasinya sangat sederhana. Aku tahu tak ada harapan menang. Tidak ada.
Malamnya, kami langsung pulang.
Di rumah, rasanya kecewa. Kecewa tidak bisa memberikan yang terbaik padahal selama ini sudah berlatih keras, bahkan usai tampil, jariku bengkak sampai beberapa hari. Tapi aku berusaha memaklumi keadaan, we're not a professional, thought.
Ya, kami tidak menang. Setidaknya, katanya, vocalis rebana kami yang paling baik diantara yang lainnya. Setidaknya nggak hancur-hancur amat lah. Masih ada point plus untuk kami. Setidaknya ...
Apa kalian rasa kegagalanku ini juga sebuah bentuk kesia-siaan? Yah, sia-sia latihan keras kalau hasilnya di panggung tidak maksimal dan terbilang mengecewakan. Pelatih kami, beliau tidak sama sekali memasang air muka kecewa. Bahkan, beliau memuji kami atas penampilan kami. Aku merasa bersalah. Setelah semuanya ... hanya begini jadinya?
Terlintas di pikiranku ... Apa semua pertarungan Naruto selalu menang?
Ya. Boleh jadi ceritaku kali ini adalah cerita kegagalan. Bahkan Rasulullah saw. pernah kalah sekali dalam perang yang meski kekalahan tersebut bukan dikarenakan beliau, melainkan karena pengikutnya yang tidak patuh padanya. Tidak ada cerita yang selalu happy ending.
Aku menampar pipiku. Mata hatiku terbuka lebar. Selain belajar yang namanya kegagalan, aku juga menyadari, bahwa kebahagiaan itu sebenarnya kecil. Aku sadar, selama latihan, tak pernah sekali pun kami konflik. Kami selalu bercanda dan tentunya tertawa. Makan bersama, letih bersama, semuanya bersama. Aku sadar, kebahagiaan itu begitu kecil. Sekecil senyum yang kau ukir ketika melihat album foto lama ... sekecil kau menang ketika main PS melawan temanmu, sekecil ketika idolamu menang dalam suatu ajang tertentu, sekecil ketika ... kamu tertawa bahagia bersama temanmu. Teman terbaikmu. Orang yang kau sayang.
Lantas ... kebahagiaan terbesar ... apa ya?
Kebahagiaan terbesar -menurutku- adalah ...
"Membuat orang lain bahagia"
Sekecil apa pun senyum yang orang lain berikan -walau tak tersenyum sekalipun- asal dia bahagia, itu sudah luar biasa senangnya. Membahagiakan orang lain ... terutama yang kau sayangi <3
Aku terbangun dari lamunanku. Aku menoleh kepada Icha yang sedari tadi sibuk dengan makanannya.
"Cha, hari ini latihan malam"
Kebahagiaan itu ... kecil. Percaya, nggak?
Waktu itu sepulang sekolah, aku dan Icha bareng ke parkiran. Baru saja melewati kelas X-5, Kak Ayu memanggil Icha. Icha memintaku menunggu dan ia pun masuk ke kelas X-5 Aku bertahan. Melirik sebentar ke dalam. Sebagian teman-teman anggota habsyi berkumpul dan berpusat pada Kak Ayu. Aku heran, yah, sebagai anggota Rismata -kelompok habsyi mesjid At-Taqwa- mengapa aku tidak dipanggil? Hatiku meragu, antara ingin masuk ke dalam dan tidak. Usai bolak-balik tidak keruan, aku pun memberanikan diri masuk dan mendengarkan pembicaraan mereka.
Ternyata, Kak Ayu sedang merekrut anggota rebana. Ia diminta untuk mencari orang yang bisa memukul gendang untuk lomba antar-kecamatan. Tentunya, kami bisa. Tapi, banyak dari anggota Rismata yang tidak bisa ikut. Pada akhirnya, hanya aku, Icha, dan Kak Ayu dari Rismata yang ikut. Fyi, Kak Ayu tidak terlalu berpengalaman dalam gendang. Di Rismata, Kak Ayu seorang penyair, yaitu orang yang membaca syair, sementara aku dan Icha, menjadi ... gendang-ers.
Perlombaan masih cukup lama. Latihan pun dilaksanakan hari demi hari. Bertempat di kantor kecamatan Tanjung, di sana aku memperoleh apa yang kusebut ... kebahagiaan.
Pada awal-awal latihan, aku agak sedikit bingung. Latihan yang kami jalani sangat membingungkan. Aku saja bingung ketukanku yang mana. Kalau disuruh begini, ya begini. Besoknya? Lupa. Kami pun memiliki kendala personil yang masih belum lengkap -diperlukan 11 orang. Namun lambat laun personil lengkap, 12 orang, malah. Tapi kondisi latihan yang acakadut, membuat aku dan Icha ragu. Kami tidak tahu ketukan mana yang harus kami dendangkan.
Faktornya? Jelas ada. Sebagian besar anggota rebana kami masih newbie. Iya, newbie -pemula. Mereka masih harus diajari dasar-dasarnya dan mereka sering salah. My .. my ..
Tapi, sekitar 2 minggu sebelum hari H, kami seperti mendapat setruman ekstra. Latihan yang semula cuma sore hari kini beralih menjadi malam. Harapannya, bisa mendapat waktu latihan lebih lama. Mengingat, anak SMA yang pulangnya siang ditambah ada kegiatan ekstrakulikuler mempersempit waktu latihan. Belum lagi ... pramuka. Namun, karena kegiatan ini, kami, oleh pihak kecamatan diberi surat dispensasi ke sekolah untuk libur pramuka. Yay!
Kata-kata yang biasanya seperti ini "Au, hari ini latihan" sekarang berubah menjadi "Au, hari ini latihan malam". Kuakui, sungguh melelahkan. Belum lagi jika ada ulangan. Rasanya ... stres.
Selama latihan, tentu banyak hal yang telah kami lalui bersama. Pernah, suatu malam ketika kami latihan, mati lampu. Penerangan hanya bermodal lilin. Karena rata-rata lapar, kami diberi popmi. "Air panasnya?", tanya kami bergantian. "Pakai banyu akua gen loko?" (Pakai air akua aja, gih) Kami pun gelak tertawa. Masa popmi pake akua. Kami pun punya gelaran masing-masing, dan masih banyak lagi.
Hari H tiba. Kami mendapat no urut pertama tampil. Pakaian kami, jujur saja, kurang bagus. Modelnya adalah model lama nan sederhana, ditambah warna hijau lumut dan kuning keemasan. menurutku tidak begitu cocok. Dibanding peserta lain, mereka modis sekali. Nyaliku agak ciut di sini.
Kami pun tampil dengan catatan; yang boleh tampil hanya 11 orang. Kacau! Formasi berubah! Aku panik. Bagaimana bisa mengubah formasi tanpa latihan minimal 3 hari? Yah, 3 hari, karena formasi-formasi yang ada saja kami suka salah. This will be bad.
Benar saja, ketika tampil, formasi kacau. Panggungnya? Disayangkan, sangat sempit menurutku. Ditambah, banyak tali-tali memenuhi lantai. Menyusahkan untuk melangkah. Tangga untuk naik panggung juga sangat curam! Untung, sepatu kami tidak terlalu tinggi, asal pelan, maka takkan terjatuh. Penampilan kami pun tidak semaksimal ketika latihan terakhir. Sangat disayangkan.
Usai tampil, kami duduk di tempat semula. Penampilan-demi-penampilan berikutnya sangatlah memukau. Berbeda dari kami yang formasinya sangat sederhana. Aku tahu tak ada harapan menang. Tidak ada.
Malamnya, kami langsung pulang.
Di rumah, rasanya kecewa. Kecewa tidak bisa memberikan yang terbaik padahal selama ini sudah berlatih keras, bahkan usai tampil, jariku bengkak sampai beberapa hari. Tapi aku berusaha memaklumi keadaan, we're not a professional, thought.
Ya, kami tidak menang. Setidaknya, katanya, vocalis rebana kami yang paling baik diantara yang lainnya. Setidaknya nggak hancur-hancur amat lah. Masih ada point plus untuk kami. Setidaknya ...
Apa kalian rasa kegagalanku ini juga sebuah bentuk kesia-siaan? Yah, sia-sia latihan keras kalau hasilnya di panggung tidak maksimal dan terbilang mengecewakan. Pelatih kami, beliau tidak sama sekali memasang air muka kecewa. Bahkan, beliau memuji kami atas penampilan kami. Aku merasa bersalah. Setelah semuanya ... hanya begini jadinya?
Terlintas di pikiranku ... Apa semua pertarungan Naruto selalu menang?
Ya. Boleh jadi ceritaku kali ini adalah cerita kegagalan. Bahkan Rasulullah saw. pernah kalah sekali dalam perang yang meski kekalahan tersebut bukan dikarenakan beliau, melainkan karena pengikutnya yang tidak patuh padanya. Tidak ada cerita yang selalu happy ending.
Aku menampar pipiku. Mata hatiku terbuka lebar. Selain belajar yang namanya kegagalan, aku juga menyadari, bahwa kebahagiaan itu sebenarnya kecil. Aku sadar, selama latihan, tak pernah sekali pun kami konflik. Kami selalu bercanda dan tentunya tertawa. Makan bersama, letih bersama, semuanya bersama. Aku sadar, kebahagiaan itu begitu kecil. Sekecil senyum yang kau ukir ketika melihat album foto lama ... sekecil kau menang ketika main PS melawan temanmu, sekecil ketika idolamu menang dalam suatu ajang tertentu, sekecil ketika ... kamu tertawa bahagia bersama temanmu. Teman terbaikmu. Orang yang kau sayang.
Lantas ... kebahagiaan terbesar ... apa ya?
Kebahagiaan terbesar -menurutku- adalah ...
"Membuat orang lain bahagia"
Sekecil apa pun senyum yang orang lain berikan -walau tak tersenyum sekalipun- asal dia bahagia, itu sudah luar biasa senangnya. Membahagiakan orang lain ... terutama yang kau sayangi <3
Aku terbangun dari lamunanku. Aku menoleh kepada Icha yang sedari tadi sibuk dengan makanannya.
"Cha, hari ini latihan malam"
Minggu, 26 Mei 2013
Hoaaahhmmm ... lelah rasanya. Setelah kemarin seharian nongkrong di depan netbook hanya untuk mendownload anime dari episode 5-13 ._. Pagi ini, ehem, aku kesiangan ._.
Sarapan dengan 2 lembar roti panggang cukup untuk mengganjal perutku *dua roti untuk mengganjal?!* Habisnya ... hari ini Revand, temanku, akan mentraktir di depotnya, depot Arum. Pukul 9 aku dan yang lainnya sepakat. Ah, traktiran ini untuk merayakan ulang tahun Revand 16 Mei lalu. Yaahh ... walau agak "terlambat", yang penting, makan-makan ~ :9
Kali ini hanya beberapa yang bisa datang, diantaranya : aku, wilda, sanah, dian, dani dan almay. Mereka semua adalah teman seperjuangan sewaktu SMP. Acara makan-makan begitu mengasyikkan dengan obrolan-obrolan yang tak pernah lepas jika kami ngumpul-ngumpul : sekolah, bola, dll. Usai acara makan-makan, kami sepakat untuk "mengungsi" ke rumah Almay, yah, rencananya nonton film.
Sesampainya di rumah Almay, kami mulai mengobrak-abrik kaset-kaset film yang ia miliki. Perbedaan pendapat pun mulai menghiasi ruang tamu itu. Ya, semuanya berebut menonton film yang belum pernah ditonton. Tapi pada akhirnya, kami sepakat untuk menonton film "Chinese Zodiac"
Gelak tawa kami pecah tatkala menonton film tersebut. Sungguh mengasyikkan :D
Usai menonton film, kami makan siang di rumah Almay. Ibunda Almay yang sangat baik hati memasakkan makanan untuk kami #wetseahhh. Usai makan, kami mulai bercanda lagi dengan celotehan-celotehan yang mengundang gelak tawa. Selesai makan, kami pun mulai bernarsis ria dengan kamera, ehm, baru milik Almay. Berfoto dengan gaya gokil dari ruang makan, ke tangga, sampai ke atas "atap" rumah Almay. Sebenarnya bukan atap sih ... eee ... atap-nya berupa semen. Ah, intinya itu ._.
Di atas, kami begitu bernarsis ria, yah ... para ladies, sih, kebanyakan. Kami melakukan pose konyol, unik, keren, dan sebagainya. Seperti :
Semuanya mengundang gelak tawa. Beberapa moment lucu terabadikan lewat foto. Hari ini, bahkan tak terhitung sudah berapa kali aku tertawa. Tak terhitung sudah berapa kali aku tersenyum. Tak terhitung sudah berapa lama aku merasakan kebahagiaan ... seperti ini.
Yah, kau tahu maksudku.
Wilda, Sanah, Dian, Almay, Dani, mereka adalah teman seperjuangan sewaktu di SMP. Karena kami mengambil program akselerasi (2 tahun), tak heran jika kami bisa akrab seperti ini. Sekelas bersama mereka selama 2 tahun tentu telah menjadikan kami paham akan karakter masing-masing. Tentunya, banyak kisah yang kami rajut bersama. Tidak, kami bukanlah sebuah "genk" atau grup atau ... apa pun istilah lainnya. Kami adalah sahabat, ah, bukan, satu keluarga :)
Kurasa ... kita semua yang telah mengalami perpisahan sekolah pasti memiliki kesan atau perasaan yang dalam. Mungkin, kalian masih merasa ingin kembali ke zaman-zaman SMA (bagi yang kuliah), SMP, SD, atau bahkan TK? Mungkin kita masih merasa sayang melepas teman-teman yang sejatinya telah ada bersama kita, menemani kita, mengukir senyum atau menghapus air mata kita. Walau pun mereka juga pernah memanah busur kekecewaan di hati kita.
Sekolah, memang selayaknya menjadi tempat kita mengukir berbagai cerita dengan teman yang ada di sekeliling kita. Bahkan, sekolah menjadi saksi bisu tentang hal-hal yang kita alami sewaktu "hidup" di dalamnya. Bagiku, masa-masa SMP adalah masa yang teramat sulit untuk dilupakan, dan terlalu berharga untuk dibuang begitu saja. Karena apa? Aku benar-benar memulai semuanya dari nol. Aku memulai kisahku di sana benar-benar dari awal, dari seorang "Aulia" yang tidak memiliki teman sama sekali (karena tidak ada lulusan SD ku yang mengambil akselerasi kecuali aku), sampai memiliki sahabat-sahabat super seperti mereka sekarang ini.
Perpisahanku dengan anggota-anggota "keluarga"ku itu terbilang cukup ... berat bagiku sampai-sampai ketika diawal-awal aku baru masuk SMA, aku masih merasa suasana ketika aku SMP. Masih tidak percaya kalau aku sudah bukan anak putih - biru lagi, melainkan putih - abu-abu. Terlebih, aku harus berpisah dengan orang-orang terdekatku dengan jarak yang begitu ... jauh, Vena dan Mutia diantaranya. Untuk Wilda, Sanah, dan Dani, mereka terpisah denganku dengan catatan masih satu kota. Almay, Dian, dan Revand? Ah, tiap hari aku masih bisa melihat batang hidung mereka di sekolah :D
Hei, kalian tahu? Perpisahan tidaklah begitu buruk, ia masih memiliki sisi baik. Kebahagiaan yang timbul ketika kita bertemu teman lama akan terasa "lebih" ketimbang bertemu dengan teman yang selalu kita temui setiap harinya. Maksudku, hei, perpisahan membuat kita berada di jalan yang berbeda. Dan ketika jalan itu bertemu kembali pada suatu titik, kita akan mulai menceritakan apa yang dialami kita ketika berada di jalan masing-masing. Dengan kata lain, kita bukan hanya mendengar 1 cerita, melainkan 2 cerita! Malah lebih! Bandingkan dengan kita yang terus-terusan bersama, kita hanya akan mendapatkan satu cerita yang sama, bukan?
Bukankah dengan begini, kita bisa menjadi lebih tahu bagaimana dunia ini?
Hoaaahhmmm ... lelah rasanya. Setelah kemarin seharian nongkrong di depan netbook hanya untuk mendownload anime dari episode 5-13 ._. Pagi ini, ehem, aku kesiangan ._.
Sarapan dengan 2 lembar roti panggang cukup untuk mengganjal perutku *dua roti untuk mengganjal?!* Habisnya ... hari ini Revand, temanku, akan mentraktir di depotnya, depot Arum. Pukul 9 aku dan yang lainnya sepakat. Ah, traktiran ini untuk merayakan ulang tahun Revand 16 Mei lalu. Yaahh ... walau agak "terlambat", yang penting, makan-makan ~ :9
Kali ini hanya beberapa yang bisa datang, diantaranya : aku, wilda, sanah, dian, dani dan almay. Mereka semua adalah teman seperjuangan sewaktu SMP. Acara makan-makan begitu mengasyikkan dengan obrolan-obrolan yang tak pernah lepas jika kami ngumpul-ngumpul : sekolah, bola, dll. Usai acara makan-makan, kami sepakat untuk "mengungsi" ke rumah Almay, yah, rencananya nonton film.
Sesampainya di rumah Almay, kami mulai mengobrak-abrik kaset-kaset film yang ia miliki. Perbedaan pendapat pun mulai menghiasi ruang tamu itu. Ya, semuanya berebut menonton film yang belum pernah ditonton. Tapi pada akhirnya, kami sepakat untuk menonton film "Chinese Zodiac"
Gelak tawa kami pecah tatkala menonton film tersebut. Sungguh mengasyikkan :D
Usai menonton film, kami makan siang di rumah Almay. Ibunda Almay yang sangat baik hati memasakkan makanan untuk kami #wetseahhh. Usai makan, kami mulai bercanda lagi dengan celotehan-celotehan yang mengundang gelak tawa. Selesai makan, kami pun mulai bernarsis ria dengan kamera, ehm, baru milik Almay. Berfoto dengan gaya gokil dari ruang makan, ke tangga, sampai ke atas "atap" rumah Almay. Sebenarnya bukan atap sih ... eee ... atap-nya berupa semen. Ah, intinya itu ._.
Di atas, kami begitu bernarsis ria, yah ... para ladies, sih, kebanyakan. Kami melakukan pose konyol, unik, keren, dan sebagainya. Seperti :
cool ~
Itu ada eyang subur (revand) megang komik terbalik :b
Eyang subur naik sapu :D
Hana, Dul, SET!
Revandman !!!
Dani vs Revand
Semuanya mengundang gelak tawa. Beberapa moment lucu terabadikan lewat foto. Hari ini, bahkan tak terhitung sudah berapa kali aku tertawa. Tak terhitung sudah berapa kali aku tersenyum. Tak terhitung sudah berapa lama aku merasakan kebahagiaan ... seperti ini.
Yah, kau tahu maksudku.
Wilda, Sanah, Dian, Almay, Dani, mereka adalah teman seperjuangan sewaktu di SMP. Karena kami mengambil program akselerasi (2 tahun), tak heran jika kami bisa akrab seperti ini. Sekelas bersama mereka selama 2 tahun tentu telah menjadikan kami paham akan karakter masing-masing. Tentunya, banyak kisah yang kami rajut bersama. Tidak, kami bukanlah sebuah "genk" atau grup atau ... apa pun istilah lainnya. Kami adalah sahabat, ah, bukan, satu keluarga :)
Kurasa ... kita semua yang telah mengalami perpisahan sekolah pasti memiliki kesan atau perasaan yang dalam. Mungkin, kalian masih merasa ingin kembali ke zaman-zaman SMA (bagi yang kuliah), SMP, SD, atau bahkan TK? Mungkin kita masih merasa sayang melepas teman-teman yang sejatinya telah ada bersama kita, menemani kita, mengukir senyum atau menghapus air mata kita. Walau pun mereka juga pernah memanah busur kekecewaan di hati kita.
Sekolah, memang selayaknya menjadi tempat kita mengukir berbagai cerita dengan teman yang ada di sekeliling kita. Bahkan, sekolah menjadi saksi bisu tentang hal-hal yang kita alami sewaktu "hidup" di dalamnya. Bagiku, masa-masa SMP adalah masa yang teramat sulit untuk dilupakan, dan terlalu berharga untuk dibuang begitu saja. Karena apa? Aku benar-benar memulai semuanya dari nol. Aku memulai kisahku di sana benar-benar dari awal, dari seorang "Aulia" yang tidak memiliki teman sama sekali (karena tidak ada lulusan SD ku yang mengambil akselerasi kecuali aku), sampai memiliki sahabat-sahabat super seperti mereka sekarang ini.
Perpisahanku dengan anggota-anggota "keluarga"ku itu terbilang cukup ... berat bagiku sampai-sampai ketika diawal-awal aku baru masuk SMA, aku masih merasa suasana ketika aku SMP. Masih tidak percaya kalau aku sudah bukan anak putih - biru lagi, melainkan putih - abu-abu. Terlebih, aku harus berpisah dengan orang-orang terdekatku dengan jarak yang begitu ... jauh, Vena dan Mutia diantaranya. Untuk Wilda, Sanah, dan Dani, mereka terpisah denganku dengan catatan masih satu kota. Almay, Dian, dan Revand? Ah, tiap hari aku masih bisa melihat batang hidung mereka di sekolah :D
Hei, kalian tahu? Perpisahan tidaklah begitu buruk, ia masih memiliki sisi baik. Kebahagiaan yang timbul ketika kita bertemu teman lama akan terasa "lebih" ketimbang bertemu dengan teman yang selalu kita temui setiap harinya. Maksudku, hei, perpisahan membuat kita berada di jalan yang berbeda. Dan ketika jalan itu bertemu kembali pada suatu titik, kita akan mulai menceritakan apa yang dialami kita ketika berada di jalan masing-masing. Dengan kata lain, kita bukan hanya mendengar 1 cerita, melainkan 2 cerita! Malah lebih! Bandingkan dengan kita yang terus-terusan bersama, kita hanya akan mendapatkan satu cerita yang sama, bukan?
Bukankah dengan begini, kita bisa menjadi lebih tahu bagaimana dunia ini?
Bukan begitu, Sahabatku? :)
Oceh. Aku jelaskan sedikit kenapa ada gambar dari anime Love Live! School Idol Project di postku kali ini. Anime ini berceritakan tentang sekumpulan gadis yang ingin menyelamatkan sekolahnya. Berawal dari tiga sekawan Umi, Kotori, dan Honoka yang ingin menyelamatkan sekolahnya dengan cara membuat grup Idola Sekolah. Yah, bisa dikatakan semacam girl group. Mereka ingin menjadi idola agar jumlah murid baru yang masuk ke sekolah mereka memenuhi quota. Jika tidak, sekolah mereka akan ditutup.
Dramatis, ya?
Membuat grup Idola dan menyelamatkan sekolah. Apa kalian pernah terpikir merasakan hal yang sama? Yah, tidak perlu menyelamatkan sekolah, melakukan hal nyata, yang termasuk perjuangan "untuk" atau "bagi" sekolah, pernahkah kalian melakukannya?
Well, itu terjadi padaku.
Sabtu, 18 Mei 2013.
Semua berawal pada Sabtu pagi yang cerah ... Secerah-cerahnya ketika aku tahu kalau aku tidak remedial Biologi. Pagi itu yang tidak mengikuti remedial diminta berada di luar kelas. Tiba-tiba, Ibu Walintje datang. Aku pun menghampiri beliau dengan maksud bertanya tentang kegitan PMR. Percakapan kami pun berakhir di meja pengawas bersama Ibu Lia dan Ibu Tri.
Selang beberapa menit, tiba-tiba Pak Rusdi, Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Tanjung, datang dan memberikan amplop. Setelah dibuka, ternyata isinya undangan untuk mengikuti Olimpiade Bahasa Inggris tingkat Nasional yang diadakan oleh Universitas Brawijaya Malang (UnBraw). I was so ... SURPRISED! Ini yang kutunggu-tunggu sedari dulu. Aku pun membaca ketentuan (syarat) yang diajukan. Ternyata, dead line-nya tanggal 20 Mei. Lebih jelasnya, seperti ini :
Sekolah konfirmasi untuk mengikuti olimpiade ke UnBraw -> UnBraw mengirimi soal olimpiade ke sekolah -> sekolah mengadakan olimpiade -> jawaban olimpiade dikirim ke UnBraw.
Masalahnya, aku harus mencari paling tidak 40 siswa yang mau mengikuti Olimpiade ini, dari kelas X dan XI. Jika tidak, maka, kesempatan mengikuti event ini akan gagal. Pak Rusni memintaku mencari 40 peserta, jika sudah dapat, maka Olimpiade akan dilaksanakan pada hari Senin (20 Mei), dan pada hari itu pula jawaban akan dikirim ke UnBraw.
Aku pun mulai promosi ke beberapa kelas terdekat seperti X-2. Hanya beberapa orang yang bersedia ikut. Aku mulai frustasi. Bagaimana caranya mencari 40 peserta dalam waktu beberapa jam? Dibantu dengan Anti, kami mulai mencari peserta. Berulang kali kami bolak-balik untuk mengurus olimpiade ini. Jalan terasa lebih mudah tatkala ibu Nurmiani mau membantuku mencari peserta. Perncarian diawali dengan mendata murid yang kiranya mampu mengikuti olimpiade ini. Mulai dari X-1 sampai X-7. Usai mendata, kami pun langsung terjun ke lapangan untuk meminta secara langsung. Tak disangka, tenyata banyak yang ikut. Karena terlalu banyak dari kelas X, ada beberapa kelas yang terpaksa tidak ditawari. Kami juga harus bersikap adil kepada kelas XI yang mungkin juga ingin mengikuti olimpiade ini. Kami pun mencari ke kelas XI, dimulai dari XI IPA I - XI IPA 3, dilanjutkan dengan XI IPS dan terakhir dari kelas XI Akselerasi.
Pada akhirnya, aku tidak belajar apa-apa hari ini kecuali Biologi, itu pun hanya sebentar.
Kelas XI Akselerasi menjadi penutup perjuanganku sekaligus penutup akhir pelajaran hari ini. Akhirnya, aku mendapatkan 40 peserta yang mau mengikuti olimpiade ini. Tak kusangka, hal-hal yang biasa kutonton di anime-anime Jepang ternyata terjadi padaku. Ini membuka mataku lebar-lebar bahwa "khayalan tidak selamanya abstrak, ia bisa menjadi nyata"
Tamat.
Tidak, masih ada kelanjutannya.
Usai mendapatkan 40 peserta, aku masih memiliki tugas untuk mendata nama peserta dan menyerahkan datanya ke staf Tata Usaha (TU). Aku pun mulai mendata dan memperbaiki tulisan yang acakadut agar terlihat rapi dan sopan. Usai pendataan selesai, aku dengan bahagianya pergi ke ruang TU. Siang itu, hujan ringan turun. Ternyata ...
Ruangan TU -> TUTUP.
Aku pun pulang dengan frustasi. Aku tidak mempedulikan hujan, atau sedingin apa hawa yang kurasakan. Apa perjuanganku sia-sia? Aku ... argh ... aku kacau.
Aku mencoba menahan air mata. Rasanya pikiranku kosong, dan hampa. Rasa lelah setelah mengusahakan semuanya, berakhir begitu saja?
Sesampainya di rumah, aku melakukan rutinitas seperti biasa. Mataku tak henti memandang kertas yang berisi syarat serta ketentuan untuk mengikuti olimpiade. Mataku tertuju pada Contact Person. Akhirnya, aku memberanikan diri menelpon dengangagah berani menggunakan ponsel Ayahku.
Aku : "Halo, selamat siang"
ODCPYMTK* : "Selamat siang. Ada yang bisa kami bantu?"
Aku : "Saya dari SMA Negeri 1 Tanjung. Saya ingin bertanya, apa benar dead line pengiriman jawaban tanggal 20 mei?"
ODCPYMTK : "Oh, itu ada kesalahan, Ibu. Yang benar tanggal 26 Mei. Akan tetapi, karena 26 Mei hari minggu, maka diundur satu hari menjadi tanggal 27 Mei atau hari Senin."
Aku : "Oo begitu ya, Pak. Terima kasih infonya"
ODCPYMTK : "Iya, sama-sama"
Tuuuuttt .. teleponnya mati.
Aku terdiam sejenak. This is ........................... MIRACLE!
Aku loncat-loncat di kamar, "Perjuanganku tidak sia-sia!"
Kali ini, aku merasakan realita hidup yang begitu nyata. Yang tidak hanya ada di tipi-tipi atau pilem-pilem. This is how life supposed to be; REAL.
*PS : ODCPYMTK = Orang Dari Contact Person Yang Menjawab Telpon Ku
Dramatis, ya?
Membuat grup Idola dan menyelamatkan sekolah. Apa kalian pernah terpikir merasakan hal yang sama? Yah, tidak perlu menyelamatkan sekolah, melakukan hal nyata, yang termasuk perjuangan "untuk" atau "bagi" sekolah, pernahkah kalian melakukannya?
Well, itu terjadi padaku.
Sabtu, 18 Mei 2013.
Semua berawal pada Sabtu pagi yang cerah ... Secerah-cerahnya ketika aku tahu kalau aku tidak remedial Biologi. Pagi itu yang tidak mengikuti remedial diminta berada di luar kelas. Tiba-tiba, Ibu Walintje datang. Aku pun menghampiri beliau dengan maksud bertanya tentang kegitan PMR. Percakapan kami pun berakhir di meja pengawas bersama Ibu Lia dan Ibu Tri.
Selang beberapa menit, tiba-tiba Pak Rusdi, Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Tanjung, datang dan memberikan amplop. Setelah dibuka, ternyata isinya undangan untuk mengikuti Olimpiade Bahasa Inggris tingkat Nasional yang diadakan oleh Universitas Brawijaya Malang (UnBraw). I was so ... SURPRISED! Ini yang kutunggu-tunggu sedari dulu. Aku pun membaca ketentuan (syarat) yang diajukan. Ternyata, dead line-nya tanggal 20 Mei. Lebih jelasnya, seperti ini :
Sekolah konfirmasi untuk mengikuti olimpiade ke UnBraw -> UnBraw mengirimi soal olimpiade ke sekolah -> sekolah mengadakan olimpiade -> jawaban olimpiade dikirim ke UnBraw.
Masalahnya, aku harus mencari paling tidak 40 siswa yang mau mengikuti Olimpiade ini, dari kelas X dan XI. Jika tidak, maka, kesempatan mengikuti event ini akan gagal. Pak Rusni memintaku mencari 40 peserta, jika sudah dapat, maka Olimpiade akan dilaksanakan pada hari Senin (20 Mei), dan pada hari itu pula jawaban akan dikirim ke UnBraw.
Aku pun mulai promosi ke beberapa kelas terdekat seperti X-2. Hanya beberapa orang yang bersedia ikut. Aku mulai frustasi. Bagaimana caranya mencari 40 peserta dalam waktu beberapa jam? Dibantu dengan Anti, kami mulai mencari peserta. Berulang kali kami bolak-balik untuk mengurus olimpiade ini. Jalan terasa lebih mudah tatkala ibu Nurmiani mau membantuku mencari peserta. Perncarian diawali dengan mendata murid yang kiranya mampu mengikuti olimpiade ini. Mulai dari X-1 sampai X-7. Usai mendata, kami pun langsung terjun ke lapangan untuk meminta secara langsung. Tak disangka, tenyata banyak yang ikut. Karena terlalu banyak dari kelas X, ada beberapa kelas yang terpaksa tidak ditawari. Kami juga harus bersikap adil kepada kelas XI yang mungkin juga ingin mengikuti olimpiade ini. Kami pun mencari ke kelas XI, dimulai dari XI IPA I - XI IPA 3, dilanjutkan dengan XI IPS dan terakhir dari kelas XI Akselerasi.
Pada akhirnya, aku tidak belajar apa-apa hari ini kecuali Biologi, itu pun hanya sebentar.
Kelas XI Akselerasi menjadi penutup perjuanganku sekaligus penutup akhir pelajaran hari ini. Akhirnya, aku mendapatkan 40 peserta yang mau mengikuti olimpiade ini. Tak kusangka, hal-hal yang biasa kutonton di anime-anime Jepang ternyata terjadi padaku. Ini membuka mataku lebar-lebar bahwa "khayalan tidak selamanya abstrak, ia bisa menjadi nyata"
Tamat.
Tidak, masih ada kelanjutannya.
Usai mendapatkan 40 peserta, aku masih memiliki tugas untuk mendata nama peserta dan menyerahkan datanya ke staf Tata Usaha (TU). Aku pun mulai mendata dan memperbaiki tulisan yang acakadut agar terlihat rapi dan sopan. Usai pendataan selesai, aku dengan bahagianya pergi ke ruang TU. Siang itu, hujan ringan turun. Ternyata ...
Ruangan TU -> TUTUP.
Aku pun pulang dengan frustasi. Aku tidak mempedulikan hujan, atau sedingin apa hawa yang kurasakan. Apa perjuanganku sia-sia? Aku ... argh ... aku kacau.
Aku mencoba menahan air mata. Rasanya pikiranku kosong, dan hampa. Rasa lelah setelah mengusahakan semuanya, berakhir begitu saja?
Sesampainya di rumah, aku melakukan rutinitas seperti biasa. Mataku tak henti memandang kertas yang berisi syarat serta ketentuan untuk mengikuti olimpiade. Mataku tertuju pada Contact Person. Akhirnya, aku memberanikan diri menelpon dengan
Aku : "Halo, selamat siang"
ODCPYMTK* : "Selamat siang. Ada yang bisa kami bantu?"
Aku : "Saya dari SMA Negeri 1 Tanjung. Saya ingin bertanya, apa benar dead line pengiriman jawaban tanggal 20 mei?"
ODCPYMTK : "Oh, itu ada kesalahan, Ibu. Yang benar tanggal 26 Mei. Akan tetapi, karena 26 Mei hari minggu, maka diundur satu hari menjadi tanggal 27 Mei atau hari Senin."
Aku : "Oo begitu ya, Pak. Terima kasih infonya"
ODCPYMTK : "Iya, sama-sama"
Tuuuuttt .. teleponnya mati.
Aku terdiam sejenak. This is ........................... MIRACLE!
Aku loncat-loncat di kamar, "Perjuanganku tidak sia-sia!"
Kali ini, aku merasakan realita hidup yang begitu nyata. Yang tidak hanya ada di tipi-tipi atau pilem-pilem. This is how life supposed to be; REAL.
*PS : ODCPYMTK = Orang Dari Contact Person Yang Menjawab Telpon Ku
Kamis, 16 Mei 2013
Hari ini ... mungkin adalah hari di mana mataku sangat terbuka lebar, pakai banget. Hari di mana aku menyadari "Aku tidaklah sendirian" "Not only me but also them". Cerita bermula pada ...
Pelajaran TI.
Waktu itu sedang diadakan ulangan lisan. Jadi, satu per satu siswa maju ketika dipanggil. Mereka akan ditanya seputar mail merge. Semakin tidak tahu semakin lama ulangannya. Untungnya aku sudah ulangan jauh-jauh hari. Dan ketika pelajaran TI, aku bisa bersantaidengan menaruh kaki di atas meja , sama seperti hari Kamis ini.
Karena bosan, aku mencoba menyibukkan diri. Jadi, aku dan Anti, temanku, pergi ke UKS. Toh kami nggak bakal ngapa-ngapain di kelas. Siapa tahu di UKS bisa bersantai. Aku meminta Seha mengatakan kepada Bapak Rahman jika Pak Rahman mencari kami.
Di UKS, aku berbincang sedikit dengan Ibu Walintje tentang ekskul PMR. Usai berbincang, mataku tiba-tiba menangkap tumpukkan brosur yang kurang rapi . Aku pun tertarik untuk melihat-lihat. Ternyata, itu adalah tumpukkan brosur universitas-universitas yang ada di Indonesia. Aku dan Anti pun sepakat merapikannya, siapa tahu mendapatkan universitas yang diinginkan kelak jika sudah lulus nanti.
Kami pun merapikannya dengan mengumpulkan brosur-brosur yang sejenis. Tidak seperti yang kukira, ternyata merapikannya cukup membuat badanku bermandikan keringat. Usai merapikannya, aku dan Anti berbaring di kasur. Kebetulan, saat itu tidak ada yang sakit.
Aku berbaring. Memandangi langit-langit sebentar kemudian memulai pembicaraan.
"Anti, pernahkah kamu berpikir alasan mengapa kita dilahirkan di keluarga kita? Maksudnya, kenapa nggak di keluarga lain saja yang misalnya ... kaya, alim, perfect lah pokoknya. Ya ... siapa tahu kita bisa sekolah di luar negri, atau ... yah, paling nggak kita bisa lebih 'enak' daripada sekarang. Yah, aku ada beberapa masalah sama ortuku, ya ... maksudnya mamaku"
"Sama. Aku kadang kesal sama mamaku. Semuanya dilarang. Nggak boleh ini nggak boleh itu. Aku merasa tertekan. Masak kebanyakan dimarahi, nggak masak apalagi. Banyak lagi lah pokoknya ..."
Aku menjawab
"Apalagi jika perlakuan kita dibedakan dengan kakak. Rasanya kayak di-anak-tiri-kan. Kadang kesal, merasa tertekan, stres. Apalagi kalau kita lagi sibuk-sibuknya belajar, malah disuruh ini itu."
"Anti, apa kamu percaya, reinkarnasi itu benar-benar ada?"
"Maksudnya, misalkan kita meninggal kemudian dilahirkan kembali di tubuh yang baru, dunia yang baru, dunia yang kita impikan selama ini ... apa semua itu yang kita mau?"
Anti menggeleng. "Entahlah."
Setelah berbicara lebih lanjut dengan Anti, barulah aku menyadari kami banyak memiliki kesamaan masalah yang dihadapi di rumah. Aku merasa tidak sendirian. Aku punya teman yang mengerti bagaimana rasanya ketika orang tuamu mengatakan "Nak, hati-hati, ya. Jangan ngebut, motor diparkir baik-baik, kalau kecelakaan bapak/ibu nggak bisa belikan motor lagi."
Kemana hilangnya perkataan "Kalau kecelakaan nyawa nggak bisa diganti, motor masih bisa" ?
Awkward.
Mulai saat itu, aku menjadi semakin dekat dengan Anti. Kami jadi sering melakukan beberapa hal bersama.
Tamat.
Tidak, cerita ini bukan berakhir sampai di sini. Ada beberapa percakapan yang belum kuceritakan.
Aku : "Kalau kita melihat orang yang hidupnya enak, kita jadi iri ya , Ti."
Anti : "Iya, tapi coba kita lihat orang yang berada di bawah kita, orang yang nasibnya masih di bawah dari kita, kita jadi kasihan dan bersyukur pada hidup kita sekarang ini."
Aku terdiam. Tiba-tiba sesuatu memasuki pikiranku.
Aku : "Ti, Melihat ke atas langit membuat bumi serasa tak ada apa-apanya. Melihat ke bawah serasa kasihan menginjak bumi." ... bukankah itu perumpamaan yang 'pas' ?
Semua itu membuka mataku lebar-lebar. Bahwasanya, apa yang harus kita lakukan adalah "bersyukur", bukan berharap reinkarnasi itu ada dan terjadi pada diri kita. Jika kamu hidup sebagai (baca dengan nama panjangmu) dan selama hayat-hidupmu kamu telah tertawa bahagia sebanyak sejuta kali, jika kamu dilahirkan kembali, apa kamu akan mendapat tawa sebanyak itu juga di kehidupanmu yang lain? Oh, mungkin jika kamu mengingat telah tertawa terbahak-bahak bahkan sampai mengeluarkan air mata misalnya dikarenakan hal-hal seperti "prikitiw", apa dikehidupan yang lain kamu juga akan tertawa karena hal yang sama?
Sepertinya ... tidak.
Oh, aku teringat sesuatu. Saat itu pelajaran Geografi. Ibu Lia memberikan refreshing sebentar dengan melihat ukuran-ukuran seorang perempuan dikatakan cantik. Orang China dulu berpendapat, wanita berkaki pendek itu cantik. Menurut suku Kayan di Myanmar, wanita berleher panjang itu cantik. Dan masih banyak menurut-menurut yang lainnya!
Apa hubungannya? Jelas ada!
Jika kamu melihat tingkat keberuntungan seseorang dari kaya atau tidaknya dia, bersekolah di sekolah mahal, wajah cantik / tampan, memiliki suara merdu, tinggi, atau yang lainnya yang tidak ada pada dirimu, kamu salah.
KAMU BERUNTUNG, TAU !
Kamu beruntung bisa dilahirkan di dunia! Merasakan hangatnya mentari, segarnya menghirup udara, tertawa bahagia, dan yang terpenting , Kamu memiliki orang tua yang menyayangimu!
Kita semua BERUNTUNG!
Bukan dari kekayaan, bukan dari merk HP, bukan dari talenta,
Kita semua sudah beruntung sejak kita dilahirkan bahkan sejak ruh kita ditiupkan ke janin yang ibu kita. Kita BERUNTUNG, sungguh BERUNTUNG.
Hanya saja ... kita tidak menyadarinya. Bahkan lupa untuk bersyukur kepada-Nya.
Banyak-banyaklah bersyukur, niscaya Tuhan memberi kita nikmat yang banyak.
Aku percaya tak ada seorang pun dari kita yang suka kepada orang yang tidak berterima kasih kepada kita jika kita memberi sesuatu padanya.
BerSYUKURlah, karena kamu BERUNTUNG! :)
Hari ini ... mungkin adalah hari di mana mataku sangat terbuka lebar, pakai banget. Hari di mana aku menyadari "Aku tidaklah sendirian" "Not only me but also them". Cerita bermula pada ...
Pelajaran TI.
Waktu itu sedang diadakan ulangan lisan. Jadi, satu per satu siswa maju ketika dipanggil. Mereka akan ditanya seputar mail merge. Semakin tidak tahu semakin lama ulangannya. Untungnya aku sudah ulangan jauh-jauh hari. Dan ketika pelajaran TI, aku bisa bersantai
Karena bosan, aku mencoba menyibukkan diri. Jadi, aku dan Anti, temanku, pergi ke UKS. Toh kami nggak bakal ngapa-ngapain di kelas. Siapa tahu di UKS bisa bersantai. Aku meminta Seha mengatakan kepada Bapak Rahman jika Pak Rahman mencari kami.
Di UKS, aku berbincang sedikit dengan Ibu Walintje tentang ekskul PMR. Usai berbincang, mataku tiba-tiba menangkap tumpukkan brosur yang kurang rapi . Aku pun tertarik untuk melihat-lihat. Ternyata, itu adalah tumpukkan brosur universitas-universitas yang ada di Indonesia. Aku dan Anti pun sepakat merapikannya, siapa tahu mendapatkan universitas yang diinginkan kelak jika sudah lulus nanti.
Kami pun merapikannya dengan mengumpulkan brosur-brosur yang sejenis. Tidak seperti yang kukira, ternyata merapikannya cukup membuat badanku bermandikan keringat. Usai merapikannya, aku dan Anti berbaring di kasur. Kebetulan, saat itu tidak ada yang sakit.
Aku berbaring. Memandangi langit-langit sebentar kemudian memulai pembicaraan.
"Anti, pernahkah kamu berpikir alasan mengapa kita dilahirkan di keluarga kita? Maksudnya, kenapa nggak di keluarga lain saja yang misalnya ... kaya, alim, perfect lah pokoknya. Ya ... siapa tahu kita bisa sekolah di luar negri, atau ... yah, paling nggak kita bisa lebih 'enak' daripada sekarang. Yah, aku ada beberapa masalah sama ortuku, ya ... maksudnya mamaku"
"Sama. Aku kadang kesal sama mamaku. Semuanya dilarang. Nggak boleh ini nggak boleh itu. Aku merasa tertekan. Masak kebanyakan dimarahi, nggak masak apalagi. Banyak lagi lah pokoknya ..."
Aku menjawab
"Apalagi jika perlakuan kita dibedakan dengan kakak. Rasanya kayak di-anak-tiri-kan. Kadang kesal, merasa tertekan, stres. Apalagi kalau kita lagi sibuk-sibuknya belajar, malah disuruh ini itu."
"Anti, apa kamu percaya, reinkarnasi itu benar-benar ada?"
"Maksudnya, misalkan kita meninggal kemudian dilahirkan kembali di tubuh yang baru, dunia yang baru, dunia yang kita impikan selama ini ... apa semua itu yang kita mau?"
Anti menggeleng. "Entahlah."
Setelah berbicara lebih lanjut dengan Anti, barulah aku menyadari kami banyak memiliki kesamaan masalah yang dihadapi di rumah. Aku merasa tidak sendirian. Aku punya teman yang mengerti bagaimana rasanya ketika orang tuamu mengatakan "Nak, hati-hati, ya. Jangan ngebut, motor diparkir baik-baik, kalau kecelakaan bapak/ibu nggak bisa belikan motor lagi."
Kemana hilangnya perkataan "Kalau kecelakaan nyawa nggak bisa diganti, motor masih bisa" ?
Awkward.
Mulai saat itu, aku menjadi semakin dekat dengan Anti. Kami jadi sering melakukan beberapa hal bersama.
Tamat.
Tidak, cerita ini bukan berakhir sampai di sini. Ada beberapa percakapan yang belum kuceritakan.
Aku : "Kalau kita melihat orang yang hidupnya enak, kita jadi iri ya , Ti."
Anti : "Iya, tapi coba kita lihat orang yang berada di bawah kita, orang yang nasibnya masih di bawah dari kita, kita jadi kasihan dan bersyukur pada hidup kita sekarang ini."
Aku terdiam. Tiba-tiba sesuatu memasuki pikiranku.
Aku : "Ti, Melihat ke atas langit membuat bumi serasa tak ada apa-apanya. Melihat ke bawah serasa kasihan menginjak bumi." ... bukankah itu perumpamaan yang 'pas' ?
Semua itu membuka mataku lebar-lebar. Bahwasanya, apa yang harus kita lakukan adalah "bersyukur", bukan berharap reinkarnasi itu ada dan terjadi pada diri kita. Jika kamu hidup sebagai (baca dengan nama panjangmu) dan selama hayat-hidupmu kamu telah tertawa bahagia sebanyak sejuta kali, jika kamu dilahirkan kembali, apa kamu akan mendapat tawa sebanyak itu juga di kehidupanmu yang lain? Oh, mungkin jika kamu mengingat telah tertawa terbahak-bahak bahkan sampai mengeluarkan air mata misalnya dikarenakan hal-hal seperti "prikitiw", apa dikehidupan yang lain kamu juga akan tertawa karena hal yang sama?
Sepertinya ... tidak.
Oh, aku teringat sesuatu. Saat itu pelajaran Geografi. Ibu Lia memberikan refreshing sebentar dengan melihat ukuran-ukuran seorang perempuan dikatakan cantik. Orang China dulu berpendapat, wanita berkaki pendek itu cantik. Menurut suku Kayan di Myanmar, wanita berleher panjang itu cantik. Dan masih banyak menurut-menurut yang lainnya!
Apa hubungannya? Jelas ada!
Jika kamu melihat tingkat keberuntungan seseorang dari kaya atau tidaknya dia, bersekolah di sekolah mahal, wajah cantik / tampan, memiliki suara merdu, tinggi, atau yang lainnya yang tidak ada pada dirimu, kamu salah.
KAMU BERUNTUNG, TAU !
Kamu beruntung bisa dilahirkan di dunia! Merasakan hangatnya mentari, segarnya menghirup udara, tertawa bahagia, dan yang terpenting , Kamu memiliki orang tua yang menyayangimu!
Kita semua BERUNTUNG!
Bukan dari kekayaan, bukan dari merk HP, bukan dari talenta,
Kita semua sudah beruntung sejak kita dilahirkan bahkan sejak ruh kita ditiupkan ke janin yang ibu kita. Kita BERUNTUNG, sungguh BERUNTUNG.
Hanya saja ... kita tidak menyadarinya. Bahkan lupa untuk bersyukur kepada-Nya.
Banyak-banyaklah bersyukur, niscaya Tuhan memberi kita nikmat yang banyak.
Aku percaya tak ada seorang pun dari kita yang suka kepada orang yang tidak berterima kasih kepada kita jika kita memberi sesuatu padanya.
BerSYUKURlah, karena kamu BERUNTUNG! :)
Perasaan aneh menghampiriku. Perasaan malu, sedikit menyesal bercampur aduk dalam diriku. Entah orang macam apa aku ini yang tergambar di dalam benaknya. Orang yang aneh? Sepertinya begitu. Mungkin tidak seharusnya aku menghampirnya. Tidak, setidaknya dengan ini aku dapat berbicara sedikit dengannya. Tapi ... ah, perasaanku kacau.
Kulangkahkan kembali kaki ini ke tempat asalku yang bersih dari kepulan asap rokok. Kuraih gagang cangkir kopi dan menghabiskannya dalam waktu singkat. Barangkali, perasaan kacau ini dapat berkurang. Pandanganku tertuju pada jendela itu lagi. Bodoh, jika aku tidak menghampirinya mungkin aku dapat melihatnya sedikit lebih lama.
Sang rembulan akhirnya terbit. Setelah peristiwa ini, kira-kira masih bisakah aku bertemu dengan perempuan di mimpiku itu? Aku ingin memastikan kebenaran antara kedua perempuan ini. Jika sudah bertemu dengannya di mimpi, kupastikan untuk berbicara padanya kali ini.
Cahaya terang mengetuk kelopak mataku. Dengan enggan, aku berusaha membukanya.
“Hah? Sudah pagi? Tapi ... aku bahkan belum .... bermimpi.”
Kecewa. Aku sangat kecewa. Apa yang salah dengan tidurku? Tak ada yang berbeda, sungguh. Ke mana perginya mimpi itu? Kuingin bertemu dengannya sekali lagi, walau hanya dalam mimpi. Jangan, kumohon jangan buat aku menyesal karena tidak berbicara pada perempuan itu pada mimpi sebelumnya.
Jika kau menyuruhku untuk melupakan semuanya begitu saja, sulit, jujur saja. Aku juga tidak mengerti dengan rasa penasaran ini. Rasa ini terus dan terus saja mendorongku untuk mengetahuinya. Mengetahui, siapa sebernarnya perempuan itu. Perempuan yang ada di dalam mimpiku, dan perempuan yang kutemui kemarin. Apakah mereka orang yang sama? Jika iya, mengapa ia hadir dalam mimpiku? Oh, setidaknya aku harus menanyakan, “Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”
Kupejamkan kembali mataku. Berharap, aku dapat tidur kembali dan pergi ke alam mimpi. Namun, ternyata tak sejalan dengan harapanku. Kuremas kuat-kuat selimut yang menutupi tubuhku. “Kembalikan aku ... pada mimpi itu”. Aku enggan beranjak dari tempat tidurku. Aku menutup mataku dan mulai menerawang kembali sosok perempuan dalam mimpiku.
Perempuan itu. Memang perempuan yang ada di dalam mimpiku.
Seseorang menepuk pundakku dari belakang. Betapa terkejutnya aku. Sebagai sebuah bentuk refleks, aku memalingkan badan ke belakang.
“Kamu?”
Perempuan itu begitu saja berada di hadapanku.
“Kemana saja kamu?”
Aku terdiam. Sungguh aku tidak mengerti dengan pertanyaan yang ia lontarkan.
“Maaf?”
“Kamu hadir dalam duniaku, kemudian pergi begitu saja. Kemana saja kamu?”
Dia memelukku. Kini rasa penasaranku berubah menjadi sebuah tanda tanya yang teramat besar. Hei, bukankah ini masih di alam mimpi? Aku melangkah mundur, membuat perempuan itu melepaskan pelukannya dariku. Tiba-tiba suara bising terdengar di mana-mana. Aku menutup telingaku namun perempuan itu berdiri dengan tenang.
“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”, teriakku.
Perempuan itu menjawab. Namun, aku tidak dapat mendengarnya. Suara bising ini membuatku pusing sampai-sampai aku tak dapat membaca gerak mulutnya. Perempuan itu berbalik dan melangkah pergi meninggalkanku.
“Hei! Aku tak dapat mendengarmu!”
Ia menghentikan langkahnya. Ia menoleh kebelakang, ia melempar sebuah senyuman dan sebuah anggukan kecil. Kemudian, ia kembali pada jalannya dan menghilang.
Aku pun terbangun dengan dering jam weker yang rupanya telah berbunyi sedari tadi.
“Begitu, ya”
Wah, sudah lumayan lama aku nggak ngetik. Serius, ngetik. Sebelumnya aku minta maaf kalo banyak typonya. Aku ngetik sambil nangis T_T
Dalam beberapa hari ini, bagiku, adalah hari-hari berkabung. Pada tanggal 14 april lalu, ayahnya temenku, Sanah, meninggal. Kalau tidak salah, sehari sebelumnya, Ibunya ade kelasku di SD juga meninggal. Dan pada hari Sabtu, 21 April 2013, ayahnya Yussi, temen sekelasku, berpulang ke sisi-Nya.
Kematian, bukanlah sesuatu sesimple "orang yang tak bernyawa lagi" atau "orang yang tidak bernafas lagi". Proses kematian itu sendiri tidaklah mudah. Kematian bukan seperti film-film action yang habis ditembak-mati lalu tidur selamanya dengan tenang. Tidak, masih ada kelanjutannya.
Aku menyaksikan sendiri proses almarhum ayahnya Sanah dimakamkan. Beliau meninggalkan seorang istri dan 3 anak. Beliau meninggal karena penyakit pada paru-paru, kalau tidak salah, TBC. Beliaum dimakamkan di Barabai, tepatnya di kampung halamannya.
Aku dan teman-temanku, Icha, Wilda, Ulin, beserta keluarga Eka, pergi ke Barabai. Ketika sampai di sana aku sedang mual, hampir muntah. Sanah menghampiri Wilda dan yang lain. Aku ingat persis ekspressi wajah Sanah ketika berpelukan dengan yang lain. Ia mengeluarkan air mata yang kusebut "air mata kehilangan".
Usai jenazah disholatkan, Aku, Icha, dan Sanah pun pergi ke tempat pemakaman. Tempatnya tidak jauh, hanya di belakang rumah Sanah. Ternyata, lubang tempat almarhum dimakamkan berair. Jenazah pun dimakamkan dengan peti yang diisi dengan tanah. Aku paling tidak bisa melihat hal yang seperti ini, air mataku perlahan jatuh. Terlebih, saat adik laki-laki Sanah, Sandi, bertanya pada Ibunya,
"Ma, kenapa abah dibuati tanah?"
(Bu, mengapa (peti) ayah dimasukkan tanah (kedalamnya) ?"
Sanah menjawab, "Kita tu berasal dari tanah, makanya kita kembali ke tanah jua."
(kita itu berasal (tercipta) dari tanah (adam), makanya (kalau) kita (meninggal) kita kembali ke tanah juga)
Aku menangis.
Sandi juga sempat bertanya, "Ma, abah kada bebulikan lagi leh? Di situ ai leh salawasan?"
(Bu, ayah tidak pulang lagi ya? Abah di sana selamanya?)
"Inggih."
(Iya.)
Sanah menangis, dan aku pun juga. Aku menenangkan Sanah agar ia kuat, agar ia tidak salah arah usai ini. Kehilangan orang yang disayang, apalagi orang tua, pasti sangat berat. Lebih berat dari kehilangan HP.
Aku hanya bisa berdoa, semoga almarhum diterima di sisi-Nya dan Sanah beserta keluarga bisa diberikan ketabahan agar bisa tegar menjalaninya. Amin.
Beralih ke Yussi. Yussi, menurutku, adalah seorang anak yang sangat menyayangi orang tuanya. Ia tidak pernah meminta yang macam-macam, bukan tipe anak yang minta ini-itu. Dan kepergian seorang ayah, pasti sangat berat. Jujur, aku belum pernah melihat ayah Yussi dengan persis. Aku hanya pernah melihat beliau dari belakang, ketika tak sengaja melihat ayahnya Yussi mengantar Yussi ke sekolah. Ayahnya Yussi adalah tulang punggung keluarga Yussi. Sementara kakak-kakak angkatnya yang lain tersebar di berbagai pulau di Indonesia. Dan kemungkinan besar, hal itu akan terjadi. Hal yang sangat aku tidak inginkan, kepindahan Yussi.
Ayah Yussi dimakamkan di Makassar. Sayang, aku belum sempat melayat dan bertemu Yussi dikarenakan les. Dan aku mendoakan Yussi dengan doa yang sama. Yang tabah ya, Yussi. Satu lagi, jangan pindah T_T
Kematian, bukan kali ini saja aku pernah menangis karenanya. Dulu, sewaktu Nenekku meninggal, bagiku adalah kehilangan yang super-duper kehilangan. Nenek adalah sosok yang sangat penyayang. Beliau, seumur hidup aku pernah mengabiskan waktu dengannya, tak pernah memarahiku. Itu yang kutahu. Kalau pun pernah, paling hanya sekali-duakalil. Tidak berbekas apa pun diingatanku kalau nenek pernah memarahiku. Beliau adalah typical yang selalu melakukan yang terbaik untuk cucunya. Nenek adalah Supergrandma-ku.
Nenek merawatku sampai aku berumur 5 tahun. Ketika bibiku melahirkan, Nenek pindah ke Batu Mandi (daerah Balangan) untuk menjaganya. Ketika nenek pergi, aku menangis. Aku selalu bertanya, "Nanti kalau anak bibi sudah besar, Nenek balik lagi ke Tanjung, iya 'kan, Nek?"
Nenek mengiyakan. Namun nyatanya, sampai beliau di panggil oleh Yang Maha Kuasa, Nenek tidak pernah kembali ke sini lagi.
Jika aku pergi ke Banjarmasin, atau kemana pun yang melewati rumah Nenek, ayahku selalu menyempatkan datang ke rumah Nenek. Ketika aku kecil, aku sering bertengkar dengan adik sepupuku itu, Laila, kalau Nenek itu "milikku."
Haha, dan perebutan itu berakhir dengan tangis. Anak kecil.
Nenek biasanya menghabiskan waktunya dengan berdzikir. Terkadang, beliau mengajakku dan Laila berbaring di sampingnya. Jika aku pamitan, beliau pasti mendoakanku dengan berbagai macam doa. "Mudahan cucuku selamat dunia akhirat. Mudahan cucuku jadi orang yang beriman. Mudahan cucuku pintar, sukses." Dan entah mengapa, aku selalu menangis jika mendengar doa-doa yang beliau katakan itu. Pernah aku mengajak tetanggaku, Intan, pergi ke Batu Mandi. Ketika pamitan, seperti biasa Nenek mendoakanku dengan berbagai macam doa. Intan yang mendengar saja sampai menangis.
Terakhir aku melihat Nenek yang masih bernyawa, kala itu perut nenek buncit sedang kaki beliau sangat kurus. Beliau tidak dapat berdiri lagi. Perasaan aneh menusukku, aku berpikiran yang macam-macam. Segera kuhapus pikiran itu dari kepalaku.
Pada akhirnya, itu adalah pertemuan terakhirku dengan Nenek.
Ada hal yang sangat kusesali saat kematian Nenek. Siang itu, ada orang yang menelpon ayahku berulang kali. Aku mendengarnya, namun tak kuhiraukan. Kala itu ayah sedang makan dan aku asyik membaca novel. Karena ponsel ayah terus berdering, aku pun pada akhirnya mengangkatnya. Tertera tulisan "Wati Laila" yang tidak lain adalah Bibiku. Ketika aku mengangkat telepon itu, Bibi memintaku mengasih ponselnya ke ayah.
Aku kembali membaca. Tak lama kemudian, ayahku datang. "Lia, Nenek meninggal."
Aku terdiam sesaat. Rasanya, tubuhku tertusuk beribu duri. Aku langsung menelpon kakak laki-lakiku untuk mengabarkan padanya. "Ka, Nenek meninggal." Kakakku langsung menangis.
Sore itu juga aku pergi ke Batu Mandi. Hanya Revand, Dani, dan Adit yang tahu karena kala itu hanya mereka yang kebetulan mengirimiku pesan. Dukungan sahabat-sahabat padaku mengalir tanpa henti. Dan bagiku, itu adalah hal berharga yang tak boleh kulupakan.
Mungkin kamu bertanya, apa inti dari semua ini.
Aku juga tidak tahu, jujur saja.
Yang jelas, aku yakin kita semua memiliki cerita tersendiri tentang kematian orang yang kita sayangi. Entah itu teman, sahabat, keluarga, kerabat, calon suami/istri, pacar, atau siapa pun. Sudah / belum hal itu terjadi hanya urusan waktu. Aku yakin, orang yang pergi meninggalkan kita, tak ingin kita terpuruk dalam kehilangan. Orang yang telah pergi itu, ingin kita maju dan terus maju. Dia tidak ingin kita salah arah hanya gara-gara kepergiannya. Aku membayangkan, Nenek mengawasiku, di luar sana. Di tempat yang aku tidak tahu di mana. Kan kuingat semua doa-doamu, Nek. Maaf, Nek. Lia belum bisa membahagiakan Nenek. Lia yakin, semua keberhasilan Lia, tidak lain karena doa-doa Nenek juga. Terima kasih, Nek.
Terima kasih :')
Dalam beberapa hari ini, bagiku, adalah hari-hari berkabung. Pada tanggal 14 april lalu, ayahnya temenku, Sanah, meninggal. Kalau tidak salah, sehari sebelumnya, Ibunya ade kelasku di SD juga meninggal. Dan pada hari Sabtu, 21 April 2013, ayahnya Yussi, temen sekelasku, berpulang ke sisi-Nya.
Kematian, bukanlah sesuatu sesimple "orang yang tak bernyawa lagi" atau "orang yang tidak bernafas lagi". Proses kematian itu sendiri tidaklah mudah. Kematian bukan seperti film-film action yang habis ditembak-mati lalu tidur selamanya dengan tenang. Tidak, masih ada kelanjutannya.
Aku menyaksikan sendiri proses almarhum ayahnya Sanah dimakamkan. Beliau meninggalkan seorang istri dan 3 anak. Beliau meninggal karena penyakit pada paru-paru, kalau tidak salah, TBC. Beliaum dimakamkan di Barabai, tepatnya di kampung halamannya.
Aku dan teman-temanku, Icha, Wilda, Ulin, beserta keluarga Eka, pergi ke Barabai. Ketika sampai di sana aku sedang mual, hampir muntah. Sanah menghampiri Wilda dan yang lain. Aku ingat persis ekspressi wajah Sanah ketika berpelukan dengan yang lain. Ia mengeluarkan air mata yang kusebut "air mata kehilangan".
Usai jenazah disholatkan, Aku, Icha, dan Sanah pun pergi ke tempat pemakaman. Tempatnya tidak jauh, hanya di belakang rumah Sanah. Ternyata, lubang tempat almarhum dimakamkan berair. Jenazah pun dimakamkan dengan peti yang diisi dengan tanah. Aku paling tidak bisa melihat hal yang seperti ini, air mataku perlahan jatuh. Terlebih, saat adik laki-laki Sanah, Sandi, bertanya pada Ibunya,
"Ma, kenapa abah dibuati tanah?"
(Bu, mengapa (peti) ayah dimasukkan tanah (kedalamnya) ?"
Sanah menjawab, "Kita tu berasal dari tanah, makanya kita kembali ke tanah jua."
(kita itu berasal (tercipta) dari tanah (adam), makanya (kalau) kita (meninggal) kita kembali ke tanah juga)
Aku menangis.
Sandi juga sempat bertanya, "Ma, abah kada bebulikan lagi leh? Di situ ai leh salawasan?"
(Bu, ayah tidak pulang lagi ya? Abah di sana selamanya?)
"Inggih."
(Iya.)
Sanah menangis, dan aku pun juga. Aku menenangkan Sanah agar ia kuat, agar ia tidak salah arah usai ini. Kehilangan orang yang disayang, apalagi orang tua, pasti sangat berat. Lebih berat dari kehilangan HP.
Aku hanya bisa berdoa, semoga almarhum diterima di sisi-Nya dan Sanah beserta keluarga bisa diberikan ketabahan agar bisa tegar menjalaninya. Amin.
Beralih ke Yussi. Yussi, menurutku, adalah seorang anak yang sangat menyayangi orang tuanya. Ia tidak pernah meminta yang macam-macam, bukan tipe anak yang minta ini-itu. Dan kepergian seorang ayah, pasti sangat berat. Jujur, aku belum pernah melihat ayah Yussi dengan persis. Aku hanya pernah melihat beliau dari belakang, ketika tak sengaja melihat ayahnya Yussi mengantar Yussi ke sekolah. Ayahnya Yussi adalah tulang punggung keluarga Yussi. Sementara kakak-kakak angkatnya yang lain tersebar di berbagai pulau di Indonesia. Dan kemungkinan besar, hal itu akan terjadi. Hal yang sangat aku tidak inginkan, kepindahan Yussi.
Ayah Yussi dimakamkan di Makassar. Sayang, aku belum sempat melayat dan bertemu Yussi dikarenakan les. Dan aku mendoakan Yussi dengan doa yang sama. Yang tabah ya, Yussi. Satu lagi, jangan pindah T_T
Kematian, bukan kali ini saja aku pernah menangis karenanya. Dulu, sewaktu Nenekku meninggal, bagiku adalah kehilangan yang super-duper kehilangan. Nenek adalah sosok yang sangat penyayang. Beliau, seumur hidup aku pernah mengabiskan waktu dengannya, tak pernah memarahiku. Itu yang kutahu. Kalau pun pernah, paling hanya sekali-duakalil. Tidak berbekas apa pun diingatanku kalau nenek pernah memarahiku. Beliau adalah typical yang selalu melakukan yang terbaik untuk cucunya. Nenek adalah Supergrandma-ku.
Nenek merawatku sampai aku berumur 5 tahun. Ketika bibiku melahirkan, Nenek pindah ke Batu Mandi (daerah Balangan) untuk menjaganya. Ketika nenek pergi, aku menangis. Aku selalu bertanya, "Nanti kalau anak bibi sudah besar, Nenek balik lagi ke Tanjung, iya 'kan, Nek?"
Nenek mengiyakan. Namun nyatanya, sampai beliau di panggil oleh Yang Maha Kuasa, Nenek tidak pernah kembali ke sini lagi.
Jika aku pergi ke Banjarmasin, atau kemana pun yang melewati rumah Nenek, ayahku selalu menyempatkan datang ke rumah Nenek. Ketika aku kecil, aku sering bertengkar dengan adik sepupuku itu, Laila, kalau Nenek itu "milikku."
Haha, dan perebutan itu berakhir dengan tangis. Anak kecil.
Nenek biasanya menghabiskan waktunya dengan berdzikir. Terkadang, beliau mengajakku dan Laila berbaring di sampingnya. Jika aku pamitan, beliau pasti mendoakanku dengan berbagai macam doa. "Mudahan cucuku selamat dunia akhirat. Mudahan cucuku jadi orang yang beriman. Mudahan cucuku pintar, sukses." Dan entah mengapa, aku selalu menangis jika mendengar doa-doa yang beliau katakan itu. Pernah aku mengajak tetanggaku, Intan, pergi ke Batu Mandi. Ketika pamitan, seperti biasa Nenek mendoakanku dengan berbagai macam doa. Intan yang mendengar saja sampai menangis.
Terakhir aku melihat Nenek yang masih bernyawa, kala itu perut nenek buncit sedang kaki beliau sangat kurus. Beliau tidak dapat berdiri lagi. Perasaan aneh menusukku, aku berpikiran yang macam-macam. Segera kuhapus pikiran itu dari kepalaku.
Pada akhirnya, itu adalah pertemuan terakhirku dengan Nenek.
Ada hal yang sangat kusesali saat kematian Nenek. Siang itu, ada orang yang menelpon ayahku berulang kali. Aku mendengarnya, namun tak kuhiraukan. Kala itu ayah sedang makan dan aku asyik membaca novel. Karena ponsel ayah terus berdering, aku pun pada akhirnya mengangkatnya. Tertera tulisan "Wati Laila" yang tidak lain adalah Bibiku. Ketika aku mengangkat telepon itu, Bibi memintaku mengasih ponselnya ke ayah.
Aku kembali membaca. Tak lama kemudian, ayahku datang. "Lia, Nenek meninggal."
Aku terdiam sesaat. Rasanya, tubuhku tertusuk beribu duri. Aku langsung menelpon kakak laki-lakiku untuk mengabarkan padanya. "Ka, Nenek meninggal." Kakakku langsung menangis.
Sore itu juga aku pergi ke Batu Mandi. Hanya Revand, Dani, dan Adit yang tahu karena kala itu hanya mereka yang kebetulan mengirimiku pesan. Dukungan sahabat-sahabat padaku mengalir tanpa henti. Dan bagiku, itu adalah hal berharga yang tak boleh kulupakan.
Mungkin kamu bertanya, apa inti dari semua ini.
Aku juga tidak tahu, jujur saja.
Yang jelas, aku yakin kita semua memiliki cerita tersendiri tentang kematian orang yang kita sayangi. Entah itu teman, sahabat, keluarga, kerabat, calon suami/istri, pacar, atau siapa pun. Sudah / belum hal itu terjadi hanya urusan waktu. Aku yakin, orang yang pergi meninggalkan kita, tak ingin kita terpuruk dalam kehilangan. Orang yang telah pergi itu, ingin kita maju dan terus maju. Dia tidak ingin kita salah arah hanya gara-gara kepergiannya. Aku membayangkan, Nenek mengawasiku, di luar sana. Di tempat yang aku tidak tahu di mana. Kan kuingat semua doa-doamu, Nek. Maaf, Nek. Lia belum bisa membahagiakan Nenek. Lia yakin, semua keberhasilan Lia, tidak lain karena doa-doa Nenek juga. Terima kasih, Nek.
Terima kasih :')








