Hari ini sudah bulan Ramadhan aja, ya. Glek. Udah berapa lama aku nggak nulis T^T eh salah, ngetik. Ah, abaikan. Banyak banget nih kejadian-kejadian lampau yang pengen banget aku tulis -ngetik, ah, apalah- di sini yang menurutku bisa dijadikan pelajaran hidup. Banyak ... saking banyaknya aku rada-rada lupa ._.
Kebahagiaan itu ... kecil. Percaya, nggak?
Waktu itu sepulang sekolah, aku dan Icha bareng ke parkiran. Baru saja melewati kelas X-5, Kak Ayu memanggil Icha. Icha memintaku menunggu dan ia pun masuk ke kelas X-5 Aku bertahan. Melirik sebentar ke dalam. Sebagian teman-teman anggota habsyi berkumpul dan berpusat pada Kak Ayu. Aku heran, yah, sebagai anggota Rismata -kelompok habsyi mesjid At-Taqwa- mengapa aku tidak dipanggil? Hatiku meragu, antara ingin masuk ke dalam dan tidak. Usai bolak-balik tidak keruan, aku pun memberanikan diri masuk dan mendengarkan pembicaraan mereka.
Ternyata, Kak Ayu sedang merekrut anggota rebana. Ia diminta untuk mencari orang yang bisa memukul gendang untuk lomba antar-kecamatan. Tentunya, kami bisa. Tapi, banyak dari anggota Rismata yang tidak bisa ikut. Pada akhirnya, hanya aku, Icha, dan Kak Ayu dari Rismata yang ikut. Fyi, Kak Ayu tidak terlalu berpengalaman dalam gendang. Di Rismata, Kak Ayu seorang penyair, yaitu orang yang membaca syair, sementara aku dan Icha, menjadi ... gendang-ers.
Perlombaan masih cukup lama. Latihan pun dilaksanakan hari demi hari. Bertempat di kantor kecamatan Tanjung, di sana aku memperoleh apa yang kusebut ... kebahagiaan.
Pada awal-awal latihan, aku agak sedikit bingung. Latihan yang kami jalani sangat membingungkan. Aku saja bingung ketukanku yang mana. Kalau disuruh begini, ya begini. Besoknya? Lupa. Kami pun memiliki kendala personil yang masih belum lengkap -diperlukan 11 orang. Namun lambat laun personil lengkap, 12 orang, malah. Tapi kondisi latihan yang acakadut, membuat aku dan Icha ragu. Kami tidak tahu ketukan mana yang harus kami dendangkan.
Faktornya? Jelas ada. Sebagian besar anggota rebana kami masih newbie. Iya, newbie -pemula. Mereka masih harus diajari dasar-dasarnya dan mereka sering salah. My .. my ..
Tapi, sekitar 2 minggu sebelum hari H, kami seperti mendapat setruman ekstra. Latihan yang semula cuma sore hari kini beralih menjadi malam. Harapannya, bisa mendapat waktu latihan lebih lama. Mengingat, anak SMA yang pulangnya siang ditambah ada kegiatan ekstrakulikuler mempersempit waktu latihan. Belum lagi ... pramuka. Namun, karena kegiatan ini, kami, oleh pihak kecamatan diberi surat dispensasi ke sekolah untuk libur pramuka. Yay!
Kata-kata yang biasanya seperti ini "Au, hari ini latihan" sekarang berubah menjadi "Au, hari ini latihan malam". Kuakui, sungguh melelahkan. Belum lagi jika ada ulangan. Rasanya ... stres.
Selama latihan, tentu banyak hal yang telah kami lalui bersama. Pernah, suatu malam ketika kami latihan, mati lampu. Penerangan hanya bermodal lilin. Karena rata-rata lapar, kami diberi popmi. "Air panasnya?", tanya kami bergantian. "Pakai banyu akua gen loko?" (Pakai air akua aja, gih) Kami pun gelak tertawa. Masa popmi pake akua. Kami pun punya gelaran masing-masing, dan masih banyak lagi.
Hari H tiba. Kami mendapat no urut pertama tampil. Pakaian kami, jujur saja, kurang bagus. Modelnya adalah model lama nan sederhana, ditambah warna hijau lumut dan kuning keemasan. menurutku tidak begitu cocok. Dibanding peserta lain, mereka modis sekali. Nyaliku agak ciut di sini.
Kami pun tampil dengan catatan; yang boleh tampil hanya 11 orang. Kacau! Formasi berubah! Aku panik. Bagaimana bisa mengubah formasi tanpa latihan minimal 3 hari? Yah, 3 hari, karena formasi-formasi yang ada saja kami suka salah. This will be bad.
Benar saja, ketika tampil, formasi kacau. Panggungnya? Disayangkan, sangat sempit menurutku. Ditambah, banyak tali-tali memenuhi lantai. Menyusahkan untuk melangkah. Tangga untuk naik panggung juga sangat curam! Untung, sepatu kami tidak terlalu tinggi, asal pelan, maka takkan terjatuh. Penampilan kami pun tidak semaksimal ketika latihan terakhir. Sangat disayangkan.
Usai tampil, kami duduk di tempat semula. Penampilan-demi-penampilan berikutnya sangatlah memukau. Berbeda dari kami yang formasinya sangat sederhana. Aku tahu tak ada harapan menang. Tidak ada.
Malamnya, kami langsung pulang.
Di rumah, rasanya kecewa. Kecewa tidak bisa memberikan yang terbaik padahal selama ini sudah berlatih keras, bahkan usai tampil, jariku bengkak sampai beberapa hari. Tapi aku berusaha memaklumi keadaan, we're not a professional, thought.
Ya, kami tidak menang. Setidaknya, katanya, vocalis rebana kami yang paling baik diantara yang lainnya. Setidaknya nggak hancur-hancur amat lah. Masih ada point plus untuk kami. Setidaknya ...
Apa kalian rasa kegagalanku ini juga sebuah bentuk kesia-siaan? Yah, sia-sia latihan keras kalau hasilnya di panggung tidak maksimal dan terbilang mengecewakan. Pelatih kami, beliau tidak sama sekali memasang air muka kecewa. Bahkan, beliau memuji kami atas penampilan kami. Aku merasa bersalah. Setelah semuanya ... hanya begini jadinya?
Terlintas di pikiranku ... Apa semua pertarungan Naruto selalu menang?
Ya. Boleh jadi ceritaku kali ini adalah cerita kegagalan. Bahkan Rasulullah saw. pernah kalah sekali dalam perang yang meski kekalahan tersebut bukan dikarenakan beliau, melainkan karena pengikutnya yang tidak patuh padanya. Tidak ada cerita yang selalu happy ending.
Aku menampar pipiku. Mata hatiku terbuka lebar. Selain belajar yang namanya kegagalan, aku juga menyadari, bahwa kebahagiaan itu sebenarnya kecil. Aku sadar, selama latihan, tak pernah sekali pun kami konflik. Kami selalu bercanda dan tentunya tertawa. Makan bersama, letih bersama, semuanya bersama. Aku sadar, kebahagiaan itu begitu kecil. Sekecil senyum yang kau ukir ketika melihat album foto lama ... sekecil kau menang ketika main PS melawan temanmu, sekecil ketika idolamu menang dalam suatu ajang tertentu, sekecil ketika ... kamu tertawa bahagia bersama temanmu. Teman terbaikmu. Orang yang kau sayang.
Lantas ... kebahagiaan terbesar ... apa ya?
Kebahagiaan terbesar -menurutku- adalah ...
"Membuat orang lain bahagia"
Sekecil apa pun senyum yang orang lain berikan -walau tak tersenyum sekalipun- asal dia bahagia, itu sudah luar biasa senangnya. Membahagiakan orang lain ... terutama yang kau sayangi <3
Aku terbangun dari lamunanku. Aku menoleh kepada Icha yang sedari tadi sibuk dengan makanannya.
"Cha, hari ini latihan malam"