Posted by : ayachin Jumat, 17 Mei 2013

Kamis, 16 Mei 2013

Hari ini ... mungkin adalah hari di mana mataku sangat terbuka lebar, pakai banget. Hari di mana aku menyadari "Aku tidaklah sendirian" "Not only me but also them". Cerita bermula pada ...

Pelajaran TI.

Waktu itu sedang diadakan ulangan lisan. Jadi, satu per satu siswa maju ketika dipanggil. Mereka akan ditanya seputar mail merge. Semakin tidak tahu semakin lama ulangannya. Untungnya aku sudah ulangan jauh-jauh hari. Dan ketika pelajaran TI, aku bisa bersantai dengan menaruh kaki di atas meja , sama seperti hari Kamis ini.

Karena bosan, aku mencoba menyibukkan diri. Jadi, aku dan Anti, temanku, pergi ke UKS. Toh kami nggak bakal ngapa-ngapain di kelas. Siapa tahu di UKS bisa bersantai. Aku meminta Seha mengatakan kepada Bapak Rahman jika Pak Rahman mencari kami.

Di UKS, aku berbincang sedikit dengan Ibu Walintje tentang ekskul PMR. Usai berbincang, mataku tiba-tiba menangkap tumpukkan brosur yang kurang rapi . Aku pun tertarik untuk melihat-lihat. Ternyata, itu adalah tumpukkan brosur universitas-universitas yang ada di Indonesia. Aku dan Anti pun sepakat merapikannya, siapa tahu mendapatkan universitas yang diinginkan kelak jika sudah lulus nanti.

Kami pun merapikannya dengan mengumpulkan brosur-brosur yang sejenis. Tidak seperti yang kukira, ternyata merapikannya cukup membuat badanku bermandikan keringat. Usai merapikannya, aku dan Anti berbaring di kasur. Kebetulan, saat itu tidak ada yang sakit.

Aku berbaring. Memandangi langit-langit sebentar kemudian memulai pembicaraan.
"Anti, pernahkah kamu berpikir alasan mengapa kita dilahirkan di keluarga kita? Maksudnya, kenapa nggak di keluarga lain saja yang misalnya ... kaya, alim, perfect lah pokoknya. Ya ... siapa tahu kita bisa sekolah di luar negri, atau ... yah, paling nggak kita bisa lebih 'enak' daripada sekarang. Yah, aku ada beberapa masalah sama ortuku, ya ... maksudnya mamaku"

"Sama. Aku kadang kesal sama mamaku. Semuanya dilarang. Nggak boleh ini nggak boleh itu. Aku merasa tertekan. Masak kebanyakan dimarahi, nggak masak apalagi. Banyak lagi lah pokoknya ..."

Aku menjawab
"Apalagi jika perlakuan kita dibedakan dengan kakak. Rasanya kayak di-anak-tiri-kan. Kadang kesal, merasa tertekan, stres. Apalagi kalau kita lagi sibuk-sibuknya belajar, malah disuruh ini itu."

"Anti, apa kamu percaya, reinkarnasi itu benar-benar ada?"
"Maksudnya, misalkan kita meninggal kemudian dilahirkan kembali di tubuh yang baru, dunia yang baru, dunia yang kita impikan selama ini ... apa semua itu yang kita mau?"

Anti menggeleng. "Entahlah."

Setelah berbicara lebih lanjut dengan Anti, barulah aku menyadari kami banyak memiliki kesamaan masalah yang dihadapi di rumah. Aku merasa tidak sendirian. Aku punya teman yang mengerti bagaimana rasanya ketika orang tuamu mengatakan "Nak, hati-hati, ya. Jangan ngebut, motor diparkir baik-baik, kalau kecelakaan bapak/ibu nggak bisa belikan motor lagi."

Kemana hilangnya perkataan "Kalau kecelakaan nyawa nggak bisa diganti, motor masih bisa" ?






Awkward.


Mulai saat itu, aku menjadi semakin dekat dengan Anti. Kami jadi sering melakukan beberapa hal bersama.

Tamat.


Tidak, cerita ini bukan berakhir sampai di sini. Ada beberapa percakapan yang belum kuceritakan.
Aku : "Kalau kita melihat orang yang hidupnya enak, kita jadi iri ya , Ti."
Anti : "Iya, tapi coba kita lihat orang yang berada di bawah kita, orang yang nasibnya masih di bawah dari kita, kita jadi kasihan dan bersyukur pada hidup kita sekarang ini."
Aku terdiam. Tiba-tiba sesuatu memasuki pikiranku.
Aku : "Ti, Melihat ke atas langit membuat bumi serasa tak ada apa-apanya. Melihat ke bawah serasa kasihan menginjak bumi." ... bukankah itu perumpamaan yang 'pas' ?

Semua itu membuka mataku lebar-lebar. Bahwasanya, apa yang harus kita lakukan adalah "bersyukur", bukan berharap reinkarnasi itu ada dan terjadi pada diri kita. Jika kamu hidup sebagai (baca dengan nama panjangmu) dan selama hayat-hidupmu kamu telah tertawa bahagia sebanyak sejuta kali, jika kamu dilahirkan kembali, apa kamu akan mendapat tawa sebanyak itu juga di kehidupanmu yang lain? Oh, mungkin jika kamu mengingat telah tertawa terbahak-bahak bahkan sampai mengeluarkan air mata misalnya dikarenakan hal-hal seperti "prikitiw", apa dikehidupan yang lain kamu juga akan tertawa karena hal yang sama?

Sepertinya ... tidak.

Oh, aku teringat sesuatu. Saat itu pelajaran Geografi. Ibu Lia memberikan refreshing sebentar dengan melihat ukuran-ukuran seorang perempuan dikatakan cantik. Orang China dulu berpendapat, wanita berkaki pendek itu cantik. Menurut suku Kayan di Myanmar, wanita berleher panjang itu cantik. Dan masih banyak menurut-menurut yang lainnya!

Apa hubungannya? Jelas ada!

Jika kamu melihat tingkat keberuntungan seseorang dari kaya atau tidaknya dia, bersekolah di sekolah mahal, wajah cantik / tampan, memiliki suara merdu, tinggi, atau yang lainnya yang tidak ada pada dirimu, kamu salah.

KAMU BERUNTUNG, TAU !

Kamu beruntung bisa dilahirkan di dunia! Merasakan hangatnya mentari, segarnya menghirup udara, tertawa bahagia, dan yang terpenting , Kamu memiliki orang tua yang menyayangimu!

Kita semua BERUNTUNG!
Bukan dari kekayaan, bukan dari merk HP, bukan dari talenta,

Kita semua sudah beruntung sejak kita dilahirkan bahkan sejak ruh kita ditiupkan ke janin yang ibu kita. Kita BERUNTUNG, sungguh BERUNTUNG.

Hanya saja ... kita tidak menyadarinya. Bahkan lupa untuk bersyukur kepada-Nya.
Banyak-banyaklah bersyukur, niscaya Tuhan memberi kita nikmat yang banyak.

Aku percaya tak ada seorang pun dari kita yang suka kepada orang yang tidak berterima kasih kepada kita jika kita memberi sesuatu padanya.

BerSYUKURlah, karena kamu BERUNTUNG! :)

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Popular Post

Diberdayakan oleh Blogger.
K-On Mio Akiyama

Follow me

Nama Jepangku ~

- Copyright © 2013 Aau-chan's World -Sao v2- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -