Perasaan aneh menghampiriku. Perasaan malu, sedikit menyesal bercampur aduk
dalam diriku. Entah orang macam apa aku ini yang tergambar di dalam benaknya.
Orang yang aneh? Sepertinya begitu. Mungkin tidak seharusnya aku menghampirnya.
Tidak, setidaknya dengan ini aku dapat berbicara sedikit dengannya. Tapi ...
ah, perasaanku kacau.
Kulangkahkan kembali kaki ini ke tempat asalku yang bersih dari kepulan asap
rokok. Kuraih gagang cangkir kopi dan menghabiskannya dalam waktu singkat.
Barangkali, perasaan kacau ini dapat berkurang. Pandanganku tertuju pada
jendela itu lagi. Bodoh, jika aku tidak menghampirinya mungkin aku dapat
melihatnya sedikit lebih lama.
Sang rembulan akhirnya terbit. Setelah peristiwa ini, kira-kira masih
bisakah aku bertemu dengan perempuan di mimpiku itu? Aku ingin memastikan
kebenaran antara kedua perempuan ini. Jika sudah bertemu dengannya di mimpi, kupastikan
untuk berbicara padanya kali ini.
Cahaya terang mengetuk kelopak mataku. Dengan enggan, aku berusaha
membukanya.
“Hah? Sudah pagi? Tapi ... aku bahkan belum .... bermimpi.”
Kecewa. Aku sangat kecewa. Apa yang salah dengan tidurku? Tak ada yang
berbeda, sungguh. Ke mana perginya mimpi itu? Kuingin bertemu dengannya sekali
lagi, walau hanya dalam mimpi. Jangan, kumohon jangan buat aku menyesal karena
tidak berbicara pada perempuan itu pada mimpi sebelumnya.
Jika kau menyuruhku untuk melupakan semuanya begitu saja, sulit, jujur saja.
Aku juga tidak mengerti dengan rasa penasaran ini. Rasa ini terus dan terus
saja mendorongku untuk mengetahuinya. Mengetahui, siapa sebernarnya perempuan
itu. Perempuan yang ada di dalam mimpiku, dan perempuan yang kutemui kemarin.
Apakah mereka orang yang sama? Jika iya, mengapa ia hadir dalam mimpiku? Oh,
setidaknya aku harus menanyakan, “Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”
Kupejamkan kembali mataku. Berharap, aku dapat tidur kembali dan pergi ke
alam mimpi. Namun, ternyata tak sejalan dengan harapanku. Kuremas kuat-kuat
selimut yang menutupi tubuhku. “Kembalikan aku ... pada mimpi itu”. Aku enggan
beranjak dari tempat tidurku. Aku menutup mataku dan mulai menerawang kembali
sosok perempuan dalam mimpiku.
Perempuan itu. Memang perempuan yang ada di dalam mimpiku.
Seseorang menepuk pundakku dari belakang. Betapa terkejutnya aku. Sebagai
sebuah bentuk refleks, aku memalingkan badan ke belakang.
“Kamu?”
Perempuan itu begitu saja berada di hadapanku.
“Kemana saja kamu?”
Aku terdiam. Sungguh aku tidak mengerti dengan pertanyaan yang ia lontarkan.
“Maaf?”
“Kamu hadir dalam duniaku, kemudian pergi begitu saja. Kemana saja kamu?”
Dia memelukku. Kini rasa penasaranku berubah menjadi sebuah tanda tanya yang
teramat besar. Hei, bukankah ini masih di alam mimpi? Aku melangkah mundur,
membuat perempuan itu melepaskan pelukannya dariku. Tiba-tiba suara bising
terdengar di mana-mana. Aku menutup telingaku namun perempuan itu berdiri
dengan tenang.
“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”, teriakku.
Perempuan itu menjawab. Namun, aku tidak dapat mendengarnya. Suara bising
ini membuatku pusing sampai-sampai aku tak dapat membaca gerak mulutnya.
Perempuan itu berbalik dan melangkah pergi meninggalkanku.
“Hei! Aku tak dapat mendengarmu!”
Ia menghentikan langkahnya. Ia menoleh kebelakang, ia melempar sebuah
senyuman dan sebuah anggukan kecil. Kemudian, ia kembali pada jalannya dan
menghilang.
Aku pun terbangun dengan dering jam weker yang rupanya telah berbunyi sedari
tadi.
“Begitu, ya”