Posted by : ayachin Minggu, 21 April 2013

Wah, sudah lumayan lama aku nggak  ngetik. Serius, ngetik. Sebelumnya aku minta maaf kalo banyak typonya. Aku ngetik sambil nangis T_T

Dalam beberapa hari ini, bagiku, adalah hari-hari berkabung. Pada tanggal 14 april lalu, ayahnya temenku, Sanah, meninggal. Kalau tidak salah, sehari sebelumnya, Ibunya ade kelasku di SD juga meninggal. Dan pada hari Sabtu, 21 April 2013, ayahnya Yussi, temen sekelasku, berpulang ke sisi-Nya.

Kematian, bukanlah sesuatu sesimple "orang yang tak bernyawa lagi" atau "orang yang tidak bernafas lagi". Proses kematian itu sendiri tidaklah mudah. Kematian bukan seperti film-film action yang habis ditembak-mati lalu tidur selamanya dengan tenang. Tidak, masih ada kelanjutannya.

Aku menyaksikan sendiri proses almarhum ayahnya Sanah dimakamkan. Beliau meninggalkan seorang istri dan 3 anak. Beliau meninggal karena penyakit pada paru-paru, kalau tidak salah, TBC. Beliaum dimakamkan di Barabai, tepatnya di kampung halamannya.

Aku dan teman-temanku, Icha, Wilda, Ulin, beserta keluarga Eka, pergi ke Barabai. Ketika sampai di sana aku sedang mual, hampir muntah. Sanah menghampiri Wilda dan yang lain. Aku ingat persis ekspressi wajah Sanah ketika berpelukan dengan yang lain. Ia mengeluarkan air mata yang kusebut "air mata kehilangan".

Usai jenazah disholatkan, Aku, Icha, dan Sanah pun pergi ke tempat pemakaman. Tempatnya tidak jauh, hanya di belakang rumah Sanah. Ternyata, lubang tempat almarhum dimakamkan berair. Jenazah pun dimakamkan dengan peti yang diisi dengan tanah. Aku paling tidak bisa melihat hal yang seperti ini, air mataku perlahan jatuh. Terlebih, saat adik laki-laki Sanah, Sandi, bertanya pada Ibunya,
"Ma, kenapa abah dibuati tanah?"
(Bu, mengapa (peti) ayah dimasukkan tanah (kedalamnya) ?"


Sanah menjawab, "Kita tu berasal dari tanah, makanya kita kembali ke tanah jua."
(kita itu berasal (tercipta) dari tanah (adam), makanya (kalau) kita (meninggal) kita kembali ke tanah juga)

Aku menangis.

Sandi juga sempat bertanya, "Ma, abah kada bebulikan lagi leh? Di situ ai leh salawasan?"
(Bu, ayah tidak pulang lagi ya? Abah di sana selamanya?)
"Inggih."
(Iya.)

Sanah menangis, dan aku pun juga. Aku menenangkan Sanah agar ia kuat, agar ia tidak salah arah usai ini. Kehilangan orang yang disayang, apalagi orang tua, pasti sangat berat. Lebih berat dari kehilangan HP.

Aku hanya bisa berdoa, semoga almarhum diterima di sisi-Nya dan Sanah beserta keluarga bisa diberikan ketabahan agar bisa tegar menjalaninya. Amin.

Beralih ke Yussi. Yussi, menurutku, adalah seorang anak yang sangat menyayangi orang tuanya. Ia tidak pernah meminta yang macam-macam, bukan tipe anak yang minta ini-itu. Dan kepergian seorang ayah, pasti sangat berat. Jujur, aku belum pernah melihat ayah Yussi dengan persis. Aku hanya pernah melihat beliau dari belakang, ketika tak sengaja melihat ayahnya Yussi mengantar Yussi ke sekolah. Ayahnya Yussi adalah tulang punggung keluarga Yussi. Sementara kakak-kakak angkatnya yang lain tersebar di berbagai pulau di Indonesia. Dan kemungkinan besar, hal itu akan terjadi. Hal yang sangat aku tidak inginkan, kepindahan Yussi.

Ayah Yussi dimakamkan di Makassar. Sayang, aku belum sempat melayat dan bertemu Yussi dikarenakan les. Dan aku mendoakan Yussi dengan doa yang sama. Yang tabah ya, Yussi. Satu lagi, jangan pindah T_T

Kematian, bukan kali ini saja aku pernah menangis karenanya. Dulu, sewaktu Nenekku meninggal, bagiku adalah kehilangan yang super-duper kehilangan. Nenek adalah sosok yang sangat penyayang. Beliau, seumur hidup aku pernah mengabiskan waktu dengannya, tak pernah memarahiku. Itu yang kutahu. Kalau pun pernah, paling hanya sekali-duakalil. Tidak berbekas apa pun diingatanku kalau nenek pernah memarahiku. Beliau adalah typical yang selalu melakukan yang terbaik untuk cucunya. Nenek adalah Supergrandma-ku.

Nenek merawatku sampai aku berumur 5 tahun. Ketika bibiku melahirkan, Nenek pindah ke Batu Mandi (daerah Balangan) untuk menjaganya. Ketika nenek pergi, aku menangis. Aku selalu bertanya, "Nanti kalau anak bibi sudah besar, Nenek balik lagi ke Tanjung, iya 'kan, Nek?"
Nenek mengiyakan. Namun nyatanya, sampai beliau di panggil oleh Yang Maha Kuasa, Nenek tidak pernah kembali ke sini lagi.

Jika aku pergi ke Banjarmasin, atau kemana pun yang melewati rumah Nenek, ayahku selalu menyempatkan datang ke rumah Nenek. Ketika aku kecil, aku sering bertengkar dengan adik sepupuku itu, Laila, kalau Nenek itu "milikku."
Haha, dan perebutan itu berakhir dengan tangis. Anak kecil.

Nenek biasanya menghabiskan waktunya dengan berdzikir. Terkadang, beliau mengajakku dan Laila berbaring di sampingnya. Jika aku pamitan, beliau pasti mendoakanku dengan berbagai macam doa. "Mudahan cucuku selamat dunia akhirat. Mudahan cucuku jadi orang yang beriman. Mudahan cucuku pintar, sukses." Dan entah mengapa, aku selalu menangis jika mendengar doa-doa yang beliau katakan itu. Pernah aku mengajak tetanggaku, Intan, pergi ke Batu Mandi. Ketika pamitan, seperti biasa Nenek mendoakanku dengan berbagai macam doa. Intan yang mendengar saja sampai menangis.

Terakhir aku melihat Nenek yang masih bernyawa, kala itu perut nenek buncit sedang kaki beliau sangat kurus. Beliau tidak dapat berdiri lagi. Perasaan aneh menusukku, aku berpikiran yang macam-macam. Segera kuhapus pikiran itu dari kepalaku.

Pada akhirnya, itu adalah pertemuan terakhirku dengan Nenek.

Ada hal yang sangat kusesali saat kematian Nenek. Siang itu, ada orang yang menelpon ayahku berulang kali. Aku mendengarnya, namun tak kuhiraukan. Kala itu ayah sedang makan dan aku asyik membaca novel. Karena ponsel ayah terus berdering, aku pun pada akhirnya mengangkatnya. Tertera tulisan "Wati Laila" yang tidak lain adalah Bibiku. Ketika aku mengangkat telepon itu, Bibi memintaku mengasih ponselnya ke ayah.

Aku kembali membaca. Tak lama kemudian, ayahku datang. "Lia, Nenek meninggal."
Aku terdiam sesaat. Rasanya, tubuhku tertusuk beribu duri. Aku langsung menelpon kakak laki-lakiku untuk mengabarkan padanya. "Ka, Nenek meninggal." Kakakku langsung menangis.

Sore itu juga aku pergi ke Batu Mandi. Hanya Revand, Dani, dan Adit yang tahu karena kala itu hanya mereka yang kebetulan mengirimiku pesan. Dukungan sahabat-sahabat padaku mengalir tanpa henti. Dan  bagiku, itu adalah hal berharga yang tak boleh kulupakan.

Mungkin kamu bertanya, apa inti dari semua ini.
Aku juga tidak tahu, jujur saja.
Yang jelas, aku yakin kita semua memiliki cerita tersendiri tentang kematian orang yang kita sayangi. Entah itu teman, sahabat, keluarga, kerabat, calon suami/istri, pacar, atau siapa pun. Sudah / belum hal itu terjadi hanya urusan waktu. Aku yakin, orang yang pergi meninggalkan kita, tak ingin kita terpuruk dalam kehilangan. Orang yang telah pergi itu, ingin kita maju dan terus maju. Dia tidak ingin kita salah arah hanya gara-gara kepergiannya. Aku membayangkan, Nenek mengawasiku, di luar sana. Di tempat yang aku tidak tahu di mana. Kan kuingat semua doa-doamu, Nek. Maaf, Nek. Lia belum bisa membahagiakan Nenek. Lia yakin, semua keberhasilan Lia, tidak lain karena doa-doa Nenek juga. Terima kasih, Nek.

Terima kasih :')

{ 3 komentar... read them below or Comment }

Popular Post

Diberdayakan oleh Blogger.
K-On Mio Akiyama

Follow me

Nama Jepangku ~

- Copyright © 2013 Aau-chan's World -Sao v2- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -