Posted by : ayachin Jumat, 20 Desember 2013

Jika hidup bagaikan sebuah handphone, maka pulsa dapat dianalogikan sebagai batasan dapat digunakan-tidaknya handphone tersebut untuk sms atau telepon. Pulsa yang hanya diberikan sekali seumur hidup. Pulsa yang tidak dapat dicek nominalnya. Pulsa yang misterius. Pulsa yang kadang membuat hati bertanya-tanya "Jika aku menelpon seseorang sekarang, cukup tidak, ya?"

Tentu, selama kita memiliki handphone tersebut, tidak semuanya kita gunakan hanya untuk menelpon/sms semata. Kita dapat mengambil foto, mendengarkan lagu, merekam video maupun audio, tergantung tipe dan merk handphone yang kita punya. Seperti merk handphone A yang speakernya keras tapi kameranya hanya 3.2 megapixel tetapi merk B speakernya kecil namun kameranya 5 megapixel. Selalu ada kekurangan, kelebihan, mau pun kebalikan.

Ya, selama kita memiliki handphone, kita bisa menggunakannya untuk hal lain juga. Kadang kita memakainya karena memang membutuhkannya. Namun kadang kita juga memakainya tanpa alasan jelas. Sekedar menekan tombol "unlock" menatap layarnya sebentar, kemudian me-lock-nya kembali.

Kadang, aku sering menatap handphoneku tanpa alasan. Kadang aku membandingkannya dengan tipe yang lebih tinggi, kemudian aku melihat betapa kurangnya ponselku. Kemudian aku membandingkannya dengan tipe yang lebih rendah, kemudian aku melihat betapa lebihnya ponselku. Tapi akhirnya aku tak ingin membandingkannya dengan tipe manapun karena ponselku adalah ponselku. Aku dapat membuatnya lebih baik, aku dapat pula membuatnya menjadi buruk. Tak pandang tipe, yang penting isi. Tipe yang tinggi berperan besar sebagai faktor pendukung, namun jika dipakai hanya untuk smsan/telponan semata, apa artinya?

Sampai sekarang, aku masih bertanya-tanya pada diriku, "Berapa banyak pulsa yang kupunya?"
Aku ingin menggunakannya dengan baik, aku tak ingin membuang-buangnya, namun bagaimana aku memperhitungkannya jika aku sendiri tak tahu nominalnya? Ingin sekali aku menganggarkan pulsa tersebut dalam kebutuhan yang aku miliki. Kebutuhan komunikasi sms, telpon, sampai internet, semuanya. Tapi aku dihantui rasa takut. Takut pulsaku habis tanpa kugunakan untuk hal yang benar-benar penting. Takut pulsaku habis hanya gara-gara melakukan hal yang tak penting.

Ya, kira-kira seperti itulah hidup.

Kadang aku berangan-angan, lulus SMA aku akan masuk perguruan tinggi. Mencari program beasiswa untuk kuliah abroad. Membayangkan jika aku benar-benar dapat mewujudkannya. Membayangkan hidupku yang nantinya akan sendiri dan mandiri. Membayangkan aku dapat sukses kuliah sukses pula bekerja. Membayangkan aku pulang ke kampung halaman dan dengan jerih payah itu aku akan mengantarkan orang tuaku ke Tanah Suci Mekah. Aku menjadi bersemangat, dan ... takut.

Bagaimana jika hidupku berakhir sebelum aku bisa mewujudkannya?
Bagaimana jika kuliahku tidak sesuai dengan yang kuimpikan?
Bagaimana jika pekerjaanku tidak berjalan mulus?
Dan masih banyak bagaimana-bagaimana lainnya.

Apa itu artinya aku telah sia-sia membeli "handphone"?

Tujuan hidup utamaku sebagai seorang anak adalah membahagiakan kedua orang tuaku. Itu yang aku yakini hingga sekarang dan aku ingin terus meyakininya. Diperjalanan meraih keinginan itu, aku dapat sambil memenuhi keinginan pribadi hidupku misalnya kuliah di universitas terkenal ataupun menginjakkan kakiku di luar negeri. Aku hanya bisa berharap, berdoa agar aku dapat mewujudkannya. Sekesal apa pun terkadang aku dengan orang tuaku, pada akhirnya orang tua kita adalah orang tua kita. Adalah orang yang melahirkan kita dan menyayangi kita. Tak peduli luka kata atau luka hati yang pernah tergores di diri kita karena mereka. Aku yakin, di lubuk hati mereka, mereka menyayangi kita sepenuh hati. Jika kau ragu, anggap saja perasaan mereka tersembunyi. Well, sekarang tugasmu untuk membuat mereka memperlihatkan betapa sayangnya mereka kepadamu. Jadi, masih ada alasan untuk tidak membahagiakan mereka?

Kepada ayah dan ibu yang telah melahirkanku.
Kepada ayah dan ibu yang telah membesarkanku.
Kepada ayah dan ibu yang selalu menyayangiku.
Aku tidak tahu kapan waktu di mana kita masih dapat berkumpul berakhir. Namun aku akan berusaha membahagiakan kalian sebelum waktu tersebut tiba. Maafkan sikapku yang mengisolasi diri dari keramaian. Itu semua karena aku merasa nyaman berada di dalamnya. Maafkan tak bercerita masalahku pada kalian. Itu semua karena aku lebih merasa nyaman memendamnya, sebesar-besar mengungkapkannya hanyalah pada teman yang benar-benar kupercaya.
Kepada ayah dan ibu,
Aku menyayangimu.



"Tak seorangpun ingin menyianyiakan hidupnya di dunia ini. Di dunia ini terlalu banyak jalan. Kita bisa saja mengambil jalan yang salah. Jika kita terlanjur mengambilnya, beritahu orang lain agar tidak mengambil jalan tersebut. Maka hidupmu takkan sia-sia. Karena itu artinya kamu telah menyelamatkan orang lain dari jalan yang salah."

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Popular Post

Diberdayakan oleh Blogger.
K-On Mio Akiyama

Follow me

Nama Jepangku ~

- Copyright © 2013 Aau-chan's World -Sao v2- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -