Jujur gue orangnya nggak suka keramaian. Tau deh tuh kenapa. Sampai-sampai, dulu, waktu gue lagi asyik pacaran sama nebi di kamar (baca: netbook), terus tiba-tiba bokap-nyokap-ponakan tiba-tiba masuk, gue merasa sedikit ........... terusik.
Idih, emang setan kali ya?
Naujubilah.
Sebenarnya mereka nggak ngapa-ngapain. Ponakan gue masuk cuma mau ganggu-ganggu gue aja- biasa lah, anak kecil. Dia loncat-loncat di kasur, terus bokap-nyokap ketawa ngeliat tingkah laku ponakan gue yang kekanak-kanakan -Lha, dia kan masih kecil ?!?!- tapi gue cuma bisa tersenyum sinis sambil mikir;
Apanya yang lucu?
Jadilah kamar gue dipenuhi gelak tawa. Gue sih diem. Dalam hati gue pengen semuanya cepet-cepet keluar. Gue pengen ketenangan. Tapi tenangnya gak usah sampai mati lampu segala. Itu bukan tenang, horor namanya.
Tiba-tiba gue mikir : Gue jahat, ya, sampai bisa mikir kayak gitu?
Mungkin. Mungkin kalo gue bisa merasakan "lucu" yang bokap-nyokap gue rasain ketika melihat tingkah ponakan gue, gue gak bakal merasa terusik. Mungkin gue justru bakal seneng kamar gue jadi ramai. Tapi itu "mungkin", kenyataannya gue gak bisa nangkep apa yang mereka tertawakan.
Gue ... nggak jahat, kan? ._______.
Sekarang gue menyandang predikat baru. Gue bukan lagi anak rumahan. Gue anak "kamar-an". Yo'i, kalo nggak ada yang gue kerjakan, gue bakal diem di kamar. Gue nggak peduli lagi sama dunia luar. Sampai-sampai, gue nggak peduli lagi sama TV. Tadi, di sekolah,
Cinthia : "Au, tadi Novan nyanyi goyang oplosan"
Gue : "Terus?"
Cinthia : "Bener-bener nggak ngerti nih anak. Nggak punya tipi dia di rumah"
Gue cuma cengengesan.
Oke. oke. Gue udah move on dari tv sejak ......... kapan, ya? Mungkin sejak gue masuk SMA. Menurut gue, SMA itu berat. Buktinya gue gak sanggup ngangkat SMA gue. Tuh, kan. Berat.
Back to topic.
Saking beratnya, gue nggak bisa ngangkat ada niatan lagi nonton TV. Tugas kelompok, lah. PR, lah. Ekskul, lah. Les, lah. Bener-bener bikin gue aktif seharian. Belum lagi kalau ada ulangan, bisa sampai malam tuh aktifnya.
Mungkin gara-gara itu semua, gue merasa tenang di kamar ini. Gue merasa nyaman. Padahal kamar ini pernah menjadi list ruang-di-rumah-yang-paling-gue-takutin. Kamar ini meraih posisi kedua setelah ruang tamu. Alasannya? Simple. Gelap.
Awalnya kamar ini nggak ada yang nempatin, sebatas ruang buat sholat gitu. Nah, pas belum ada yang nempatin, gue sering disuruh nyalain lampu luar pas magrib. Pas buka pintu, rasanya pengen dzikir 1000 kali. Gelap abis.
Ruang tamu? Nggak beda jauh. Yang jauh cuma saklarnya doang, bikin gue harus jalan beberapa langkah. Kalau yang di kamar ini mah nggak jauh sama pintu. Tiga langkah pun jadi. Kalau di ruang tamu, gue bisa lari. Lari ketakutan.
Entah. Entah deh tuh bokap-nyokap gue ngeliat putri yang tertukar nya yang suka diem di kamar ini kayak gimana. Mereka nggak ada komentar sih. Atau malah nggak peduli? DEG. Tapi nggak papa, gue nggak minta diperhatiin juga, kok. *pembelaan*
Di kamar, temen gue sih ada dua; nebi sama HP. Asal ngutak-ngatik mereka berdua nih, gue sih nggak masalah sendirian. Bahkan, gue bisa aja lupa kalau gue ini sendirian dan ... kesepian.
Tapi suatu hari, bencana itu terjadi.
Bencanya yang akhirnya menjitak kepala gue yang akhirnya menyadarkan gue akan kesendirian.
Mati lampu.
HP sama Nebi couple-an, sama-sama lowbat.
Jadilah gue diem di kamar dalam gelap. Gue sengaja nggak nyalain lampu emergency karena emang lampu emergency yang gue punya dipake semua. Gue sengaja nggak nyalain lilin karena emang gue nggak punya. Gue sengaja nggak nyalain lampu duduk karena emang gue nggak punya lampu berdiri.
Intinya, gue sengaja. Entah karena perasaan apa, gue merasa tenang dalam kegelapan itu.
Gue menoleh ke kiri dan ke kanan.
Nggak keliatan apa-apa.
*Senam Ya Iya Iya Lah ~*
Abaikan.
Gue sadar, betapa mirisnya gue. Tanpa nebi sama HP, gue cuma bisa diem mematung di kamar. Gue baru sadar sebeginikesepiannya gue. Nggak ada temen yang merupakan tetangga yang bisa diajak main, nggak ada kakak yang bisa diajak curhat, nggak ada adik yang bisa diajak main -gue bungsu, sih, dan masih banyak nggak ada nggak ada lainnya.
Gue kesepian, ya, ternyata?
Gue mikir, mungkin di ruangan ini ada makhluk lain yang sedang ngeliat gue. Kalau itu benar, rasanya, pengen deh, punya kemampuan untuk melihatnya. Siapa tahu gue bisa nyapa dia, terus temenan deh sama dia. Mengingat, nggak ada nggak ada di atas tadi. Tapi, ini gila! Gue nggak sebegitunya juga, kali ._____.
Haha, bahkan waktu kecil dulu, gue berharap punya peri kecil sejenis Tinker Bell. Seenggaknya, gue gak bakal merasa kesepian di rumah. Habisnya, gue merasa, di rumah ini nggak ada orang yang cocok yang bisa mendengar cerita gue, keluh kesah gue, cerita bahagia gue.
Yang bisa mendengarnya hanyalah temen-temen gue.
Makanya, gue sangat menghargai mereka yang ada untuk mendengar cerita gue. Karena menurut gue, cerita ke orang itu perkara yang sulit. Gue sih biasanya mikir 2x, bahkan lebih sebelum gue yakin cerita ke orang. Bagi mereka yang pernah mendengar ceritaku, selamat, kamu adalah orang yang termasuk dalam orang yang gue percayai.
Gue gak yakin, perilaku gue yang menyendiri ini benar. Di sekolah, gue sih fine-fine aja sama temen-temen. Bahkan gue nggak terganggu akan keramaian yang mereka buat. Karena aku, ikut tertawa di dalamnya. Ketika kesepian itu melanda, kupikir, aku hanya perlu mencari obatnya. Bisa juga, berpura-pura tidak berada di dalamnya. Pilihan lain: menikmatinya.
Tapi untuk kupu-kupu sejenisku, yang memiliki sepasang sayap kecil indah namun sebenarnya rapuh, pada akhirnya, pilihan mencari temanlah yang terbaik. Namun jika kamu dapat menahannya sepertiku, Kuakui kamu termasuk orang yang tegar. Jika kamu melarikan diri darinya, aku hanya bisa berharap kamu menemukan jalan baru yang dalam mengembangkan senyum di bibirmu :)
Di dalam kegelapan, aku bertanya.
Dapatkah aku mendapatkan cahaya yang 'kan menerangi?
Baru aku sadari betapa gelapnya hati ini.
Hey, katakan padaku.
Maukah kau menjadi cahaya itu?
inginku ... tak ada lagi sembilu
BalasHapusyang mengiris halusnya qalbumu
inginku ... tak ada lagi debu
yang hinggap menarik tangismu
inginku ...
:) karna aku ...
bak bumi yang memandang
dan kau
bak langit yang gemilang
cerah dengan semua
hujan dengan sendiri
terang laksana lukisan
gelap laksana kuburan
... diniamu ..... duniaku
dunia yang akan ku beri tiang
:)
Hapusahahaha ,,,, wetseh jadi cuman senyum nih balasan buat pengunjung setia :p
HapusDikasih senyum minta lebih, ngga senyum dimarahin. Maunya apasih -.-
BalasHapusahahahaha .... mengajak yang punya blog buat bercanda ria ... terlepas dari beban yang ada ... dan kekhawatiran yang berlebihan ... yosh
BalasHapus