Oke, kali ini aku bakal cerita tentang kegiatanku Kamis (27/5) bersama dengan teman-teman Belati (seBELas ipA TIga).
1) Lisa AL
FYI, AL itu singkatan dari Arianti Lestari, bukan Angkatan Laut. Lisa bisa dipanggil apa aja kecuali "pacar gue" soalnya dia udah punya pacar. Aku sih manggil dia rada-rada labil, kadang "Lis" kadang "Cha", tergantung lidahku yang terpleset ke arah mana. Ohya, Chacha adalah tuan rumah dalam acara masak-masak-bikin-kerajinan-buat-Seni-Budaya-nonton-Hormones-bikin-dream-catcher-tapi-gajadi-karena-mood-ilang- duh, apalagi yah? Yah kita sebut saja acara All-Kamis-Long-with-Chacha.
Cinthia ini udah bagaikantukang masak chef bagi kami karena skill memasaknya lebih hebat dari pada kami. Pokoknya, kalo ada acara masak-masak, gak afdhal deh kalo gak ada Cinthia. Hm, aku manggil Cinthia biasanya labil juga sih, kadang "Cinthia", kadang "Uti" -diambil dari nama akhirnya "Putri = Uti". Kenapa Putri bisa jadi Uti, dia punya sejarah keluarga tersendiri.
1) Lisa AL
FYI, AL itu singkatan dari Arianti Lestari, bukan Angkatan Laut. Lisa bisa dipanggil apa aja kecuali "pacar gue" soalnya dia udah punya pacar. Aku sih manggil dia rada-rada labil, kadang "Lis" kadang "Cha", tergantung lidahku yang terpleset ke arah mana. Ohya, Chacha adalah tuan rumah dalam acara masak-masak-bikin-kerajinan-buat-Seni-Budaya-nonton-Hormones-bikin-dream-catcher-tapi-gajadi-karena-mood-ilang- duh, apalagi yah? Yah kita sebut saja acara All-Kamis-Long-with-Chacha.
Nah ini dia penampakan Chacha
2) Cinthia A.E.P.Cinthia ini udah bagaikan
Nama aku Uti :3
3) Shofia Yurida
Ini temenku yang baru-baru aja ultah, tepatnya tanggal 28 Mei kemarin. Kalo manggil Shofia mah aku gak bakal labil. Panggilan tersayangku tetep USUP Shofia.
Tuh, orangnya yang ngangkat dua jari ._.v
Oh, ya, kemarin Siska datang juga. Penampakan Siska bisa anda lihat pada foto di atas. Yep, yang di samping Shofia. Siska datang di saat yang tidak tepat, di saat semua makanan udah pada abis. Kikiki ~
4) Langgeng Wakid N.
Langgeng ini Kambitinese alias berasal dari Kambitin. Kalian gak perlu tahu Kambitin itu di mana, pokoknya di Tabalong. Titik. Langgeng ikut acara ini karena dia mau bikin lampu tidur dari barang bekas buat tugas Seni Budaya.
5) Wahyu Abdillah
Wahyu fans berat Nicky Minaj, melebihi tinggi tubuhnya walau pun tidak ada hubungannya. Di kelas, dia biasanya nge-rap lagunya Nicky Minaj feat David Guetta - Turn Me On. Calon rapper masa depan, ini :')
Okeh, aku rasa perkenalannya cukup soalnya dalam post kali ini yang dibahas bukan tentang mereka. Langsung aja, acara All-Kamis-Long-With-Chacha secara resmi ........................................................... aku ceritakan.
Kamis kemarin libur, bertepatan dengan tanggal merah di kalender (._.) Chacha ngajakin aku masak-masak di rumahnya, katanya sih bikin Schotel Tahu sama Fresh Corn (atau Sweet Corn?). Karena berhubung dengan makanan, otomatis aku ikut. *ngusap-usap perut*
Ternyata langgeng dan Wahyu datang. Langgeng, seperti yang sudah kusebutkan, mau bikin lampu tidur dari botol bekas dipandu oleh Uti. Kalo Wahyu ... hmm ... kayaknya sekedar ikutan, itung-itung nemenin Langgeng. Agenda pertama kami membuat Schotel Tahu dan Fresh Corn sebagai cemilan untuk nonton Hormones, drama Thailand.
Singkat cerita, usai menonton Hormones dan makan cemilan, tiba-tiba Siska datang. Ia pun bergabung untuk minta file Hormones dan para cowok pada pulang karena emang udah siang. Saat itu aku dan Chacha sedang sibuk membuat dream catcher. Lama-lama, mood kami hilang, kemudian kami menghentikan pekerjaan kami.
Semua akhirnya pulang kecuali aku dan Chacha karena pada dasarnya Chacha udah di rumahnya sendiri. Siang itu sangat panas sedang aku memakai sweater dan kerudung hitam. Membayangkan hawa panas akan menyelimuti perjalananku ke rumah, aku mengurung niat untuk pulang. Tidak lama kemudian, hujan turun melanda, membuatku memiliki alasan lain untuk tidak pulang ke rumah.
Aku dan Chacha menghabiskan banyak waktu untuk berbicara. Aku mengagumi koleksi pulpen di kotak pensilnya yang beraneka ragam. Aku pun mencoba beberapa diantaranya, dan jatuh cinta pada pulpen manusia salju (terjemahkan dalam bahasa inggris, if you know what i mean) yang berukuran 0,2 ee ... milimeter atau centimeter ya? Ah, itulah intinya. Aku menuliskan seuntai lirik lagu dengan tulisan yang sedikit kurait, tahu-tahu Chacha bilang suka dengan gayaku meraitkan tulisan. Ehehe, jadi malu :3
Percakapan kami sangat panjang. Hal-hal yang diobrolkan, yah, kadang tidak lepas dari topik-topik umum seperti "Kamu akan kuliah di mana?" Ketika kami sedang membicarakan topik itu, tentu cita-cita berperan erat dalam mengambil haluan yang kita pilih. Sampai saat ini, jujur saja aku masih bingung dengan akan-menjadi-apa-aku-kelak?
Pastilah, jauh di suatu tempat dalam diri kalian, kalian pasti merasakan sebuah jiwa. Entah itu jiwa memerintah, jiwa pengajar, jiwa penolong, pasti kalian memiliki jiwa itu. Jujur saja, aku merasa memiliki jiwa memerintah dan jiwa pengajar, karenanya, ketika dalam sebuah kelompok, aku cenderung ingin mengatur kinerja kelompok. Mungkin suatu hari aku bisa menjadi pemimpin. Tetapi aku tidak tertarik. Dan jiwa pengajar, jiwa yang selama ini berusaha aku tolak, berkatnya aku merasa memiliki kesempatan menjadi seorang ........ guru. Pekerjaan yang sama dengan ibuku.
Sebagai seorang anak dari seorang ibu yang berprofesi guru, aku sedikit-banyak tahu suka-duka profesi itu. Dan, menurutku, aku ingin berprofesi yang lebih dari guru. Bukan berarti aku meanggap profesi guru itu rendah. Aku hanya ingin, apa pun, kecuali guru. Namun itu artinya aku melawan jiwaku. Jiwa mengajarku. Ibu Dwi pernah berkata, ketika kita memilih pekerjaan yang sesuai dengan jiwa kita, maka seberat apa pun itu, kita akan merasa enjoy, merasa nyaman. Tetapi ketika sebaliknya, maka kita tidak akan merasa bahagia menjalani pekerjaan kita. Ini lebih seperti teh es, nggak pakai es. Percuma. Dan bukan teh es namanya kalau nggak pakai es.
Pertanyaannya, mengapa jiwa dan keinginan kadang tidak selaras?
Selain membicarakan hal itu, ternyata pembicaraan kami berlanjut sampai ke masa lalu. Aku bercerita ke Chacha bahwa sewaktu aku SD dan SMP, aku pernah dimusuhi hampir satu kelas dengan cara yang sama : mendiamkanku, menjauhiku. Berpikir dengan cara seperti itu akan membuatku sadar pada segala kesalahanku.
Namun ketika mereka meninggalkanku dengan cara seperti itu, mereka sesungguhnya hanya seperti seorang ibu yang meninggalkan bayinya yang sedang menangis. Tidak tahu apa-apa, dan tetap membuat suara tangisan yang dianggap memekakkan telinga.
Chacha pun demikian. Ia bercerita bahwa ia juga pernah dijauhi sesaat oleh sahabat-sahabatnya. Dan, kami, sebagai sesama korban-dijauhi-teman, setuju 100% kalau cara menyadarkan teman dengan menjauhinya itu SALAH.
Bagaimana bisa kita melihat kesalahan kita sendiri, bahkan melihat seluruh tubuh dengan kedua mata sendiri saja tidak bisa? Maksudku, lihat punggungmu! Apa kau bisa? Tanpa bantuan cermin atau pun yang lainnya? Tidak bisa, kan? Apalagi kesalahan, yang bentuknya abstrak!
Kalau kesalahan itu dikarenakan sebuah peristiwa, mungkin akan bisa direnungkan secara jelas. Tapi, untuk menyadarkan sikap yang menjengkelkan (bagi mereka), itu ... abstrak! Dan sikap itu ... bawaan dari dalam diri. Kita takkan tahu mana yang benar mana yang salah sebelum ada yang menilai. Dalam hal ini, memberi tahu.
Sikap buruk tidak hanya berkisar pada egois, pemarah, galak, sikap buruk aku definisikan adalah sikap yang merugikan (dalam hal ini mengganggu) orang lain. Orang yang terlalu jujur pun kadang bisa menyakiti orang lain. Dunia telah berevolusi, jujur kini perlu dipertimbangkan dengan alasan hati.
Long Day, Short Time.
Aku pulang ke rumah malam hari dengan sukses diceramahi mamaku.
"Mama telpon kenapa nggak diangkat-anggkat?"
"Hape-nya di bawah, Ma. Lia di atas. Terus, gak ada pulsa lagi"
Kemudian, aku kabur ke kamar.
Masih banyak hal yang kubicarakan dengan Chacha, namun malam mengharuskanku segera pulang. Kalau dihitung-hitung, lebih dari separuh hari kuhabiskan di rumah Chacha, namun yang kurasakan, waktu hanya sebentar berlalu. Kuharap, nanti aku bisa mengobrol heart-to-heart lagi dengannya.
CHA! TERIMA KASIH ATAS HARI KAMIS YANG BEGITU MENYENANGKAN KEMARIN, YA!!!!
Dan ... seperti biasa ... nggak afdhal kalau dalam postingan Aau nggak ada quotes. Quotes hari ini :
"Kau tahu mengapa manusia tidak dapat melihat kesalahan?
Kesalahan itu letaknya di punggung, aku tidak bisa melihatnya kecuali kau memberitahukannya."
-Aau-chan
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
PS : Guys, sorry ngambil foto kalian tanpa izin ._.v
Akhirnya aku punya mood juga buat nulis lagi. Setelah lumayan lama vacuum cleaner di rumah rusak dari dunia tulis-menulis, aku pun kembali pada malam yang kayaknya cerah ini. Cerah gak yah? Ah udahlah, males ngecek ke luar.
CIE IMPACTO. Dari judulnya aja udah keren, 'kan? Eit, jangan salah. Ini bukan salah satu sihir Harry Potter atau jurus dalam dunia anime manapun. Cie impacto aku artikan sebagai "dampak cie". Hah? Dampak cie? Maksudnya apaan tuh? Mau tau? Nyok langsung baca aja lanjutannyatahun depan ~
Suatu hari aku kepikiran, tentang cara pandang setiap manusia, minimal di lingkungan kita, tentang yang namanya cinta. Aku sadar, waktu aku SD dulu, cepat atau lambat aku pasti bakal ketemu sama yang namanya cinta, terus fallin', terus ... aku asumsikan kalau aku jadian, terus ......
Gimana tanggapan ortu sama kakak-kakak aku yak? GLEK.
Mama sih jelas nentang, mama kan pinginnya aku belajar. Abah? Hm, gak pernah sih ngomong heart-to-heart masalah beginian sama aku tapi aku yakin bakal klop sama mama -.- Dan kakak-kakak ku?
Jadilah, aku merasa tiga huruf biadab yang kadang bisa lebih namun tidak mungkin kurang itu terkutuk banget. CIE dan keluarganya harus dimusnahkan dari dunia ini. Kalau perlu, ada UU yang mengatur setiap orang yang mengatakan "CIE" mendapat hukuman. Kini kusadari, betapa besar CIE IMPACT yang dulu kau serangkan padaku, kakak. Terima kasih, kakak :')
CIE IMPACTO. Dari judulnya aja udah keren, 'kan? Eit, jangan salah. Ini bukan salah satu sihir Harry Potter atau jurus dalam dunia anime manapun. Cie impacto aku artikan sebagai "dampak cie". Hah? Dampak cie? Maksudnya apaan tuh? Mau tau? Nyok langsung baca aja lanjutannya
Suatu hari aku kepikiran, tentang cara pandang setiap manusia, minimal di lingkungan kita, tentang yang namanya cinta. Aku sadar, waktu aku SD dulu, cepat atau lambat aku pasti bakal ketemu sama yang namanya cinta, terus fallin', terus ... aku asumsikan kalau aku jadian, terus ......
Gimana tanggapan ortu sama kakak-kakak aku yak? GLEK.
Mama sih jelas nentang, mama kan pinginnya aku belajar. Abah? Hm, gak pernah sih ngomong heart-to-heart masalah beginian sama aku tapi aku yakin bakal klop sama mama -.- Dan kakak-kakak ku?
THIS IS MY GREATEST FEAR.
Aku ingat, sewaktu aku kecil dulu, aku gak sengaja berduaan sama anak tetangga di belakang rumah. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan! Waktu itu dia nanya sesuatu kepadaku, entah apa itu, yang jelas perlu waktu lama untukku menjawabnya -kuharap tidak ada dari kalian yang berpikir ini sebuah pernyataan cinta. Aku berpikir sejenak, kemudian ...
"CCCCIIIEEEEE.......... LIIAAAA BEDUAAN ~"
Lewat lubang fentilasi, kakakku yang cowok diam-diam memata-matai kami. Aku pun langsung pulang ke rumah dan menangis -maklum, masih kecil. Aku pun menjadi bulan-bulanan oleh kakakku itu. Kuso! Sejak saat itu, aku jadi anti cowok. Anti. Banget.
Menginjak SMP, teman-teman di kelasku ternyata cuma mengandung sedikit kaum adam. Aku pun bersyukur karena setidaknya aku bisa terlepas dari ketakutanku itu. Namun, suatu hari, benih cinta ditabur oleh monyet tak bertanggung jawab. Dan aku tidak sengaja membesarkan salah satunya.
Damn! I'm falling in love!
Cinta. Cinta. Cinta. Pada saat itu satu-satunya hal yang tertera di kepalaku adalah; bagaimana agar tidak terlihat sedang jatuh cinta. Perasaan ini sungguh menggebu, seperti orang yang sedang mendobrak secara paksa sebuah pintu sedang di sisi pintu yang lain aku berusaha menahannya. Jujur, menahan rasa itu menyakitkan, kadang. Atau, lebih tepatnya melelahkan. Jika ada momen lucu, spesial, atau apa pun itu antara aku dan dia, sungguh aku ingin memiliki tempat untukku berbagi; menceritakan kisah malu-malu ini dan menjerit seperti anak cewek kebanyakan. Tapi tidak, mereka yang ingin menjadi tempatmu mencurahkan rasa terdakadang bukan karena mereka peduli, mereka kadang hanya ingin tahu. Dan aku, aku tidak mau di-cie-in anymore. Rasanya memalukan.
Jadilah, susah-senang dalam kisah cinta monyetku kupendam sendiri. Dan baru kusadari sekarang, saat aku telah menginjakkan kaki di SMA, sesungguhnya aku telah terkena CIE IMPACT. Bisa-bisanya aku menganggap kalau "jatuh cinta" itu seperti ... bagaimana aku mengatakannya, ya, ... aib? Ya! Kurang lebih seperti itu. Dan aku yakin, gak cuma aku yang menganggap -secara sadar ataupun tidak- jatuh cinta itu seperti aib; harus disembunyikan, bisa gaswat kalau diketahui semua orang.
Aku tiba-tiba terpikir hal ini tidak lain dan tidak bukan karena pada suatu hari aku teringat kejadian sewaktu aku masih anak putih-biru. Ibu Anikmah, guru biologiku, memberi jeda sebentar pada pelajarannya. Ia pun bertanya kepada kami, murid-muridnya,
"Siapa di sini yang pernah pacaran atau suka dengan lawan jenis?"
Kami pun saling lirik-melirik. Yang sudah pernah pacaran menganggat tanggan dengan malu-malu sambil tengok kanan kiri. Dari tatapan matanya aku bisa menyimpulkan dalam hati temanku itu berkata "Kamfret, dia pernah pacaran tapi nggak mau angkat tangan" -yah kira-kira seperti itu. Who knows?
Sedang aku??? Karena aku waktu itu masih tergolong unpopular girl di kelas -entah mengapa di saat seperti ini sepertinya bagus mengakuinya- aku pun enggan mengangkat tangan -siapa juga yang tahu aku sedang suka sama orang atau nggak. Sumfeh, aku malu banget. Rasanya kayak rahasia yang selama ini kupendam dibongkar di khalayak ramai. Dan rahasia itu kuanggap setara dengan aib! Teman klopku waktu itu, Sita, juga enggan mengangkat tangan. Jadi aku pun semakin percaya diri untuk tidak mengangkat tangan.
Setelah beberapa saat setelah adegan malu-malu mulai memuncak dengan adanya tuduh-menuduh yang-pernah-pacaran-gak-mau-angkat-tangan, ibu Anikmah pun mengambil alih. Dengan senyum khas beliau, aku pun merasa dag-dig-dug mendengar kata-kata apa yang bakal keluar dari bibir beliau.
"Yang angkat tangan berarti NORMAL. Yang nggak angkat tangan perlu dipertanyakan ke-NORMAL-annya."
Mati saja, aku.
Yang tidak angkat tangan pun mengelak dengan, "Nggak ada yang cocok, Bu."
Hahaha. Haha. Ha. Miris. Aku harus ngecek kenormalanku cuma gara-gara menyembunyikan rasa maluku. Harusnya aku angkat tangan! Harusnya!!!
Jadilah, aku merasa tiga huruf biadab yang kadang bisa lebih namun tidak mungkin kurang itu terkutuk banget. CIE dan keluarganya harus dimusnahkan dari dunia ini. Kalau perlu, ada UU yang mengatur setiap orang yang mengatakan "CIE" mendapat hukuman. Kini kusadari, betapa besar CIE IMPACT yang dulu kau serangkan padaku, kakak. Terima kasih, kakak :')
Benar-benar!
Budaya "cie" itu, entah dari mana asalnya, benar-benar menyesatkan. Korban yang telah menerima serangan tiga-huruf-biadab-yang-kadang-lebih-namun-tidak-mungkin-kurang itu pasti menerima rasa malu yang luar binasa. Dan mempermalukan orang lain itu emaknya biadab! Kalian tidak mengerti betapa malu itu bisa mengakibatkan trauma yang mendalam sampai-sampai seseorang harus mengecek kenormalannya.
Kukatakan, ya ...
Menaruh rasa pada seseorang itu hal yang WAJAR. Sumfeh. Meski pun terhadap seseorang yang tak seharusnya kau cintai! #dalem . Kukatakan, ya. Cinta itu satu dari sekian tanda bahwa elu itu NORMAL. Ya, NORMAL dengan Bold, Italic, dan Underline. Kurang apa, coba?
PERASAAN itu ADA untuk DIKELUARKAN
-NAMUN-
Dikeluarkan, dengan CARA yang TEPAT
Nggak ada yang bisa menahan rasa tanpa merasakan rasa sakit. Karena rasa akan terus memaksa, memaksa, dan memaksa, hingga akhirnya kita tergoda dan menyampaikannya kepada seseorang. Perasaan itu ada banyak, nggak cuma cinta! Kalau cinta ditahan karena rasa malu, rasa sakit bisa saja ditahan karena alasan harga diri!
Kukatakan, ya.
Ketika kau bahagia, tersenyumlah, tertawalah.
Ketika kau sedih, menangislah, menjeritlah.
Ketika kau jatuh cinta, ungkapkanlah, berbahagialah atasnya. Karena kau sudah merasakan kenormalanmu sebagai manusia dan terlebih, kau diberi kesempatan oleh Yang Maha Kuasa untuk merasakan berbagai macam rasa selama engkau hidup.
Namun perasaan bukan alasan untuk menyakiti orang lain.
Sudah kukatakan, bukan, perasaan itu memang baiknya dikeluarkan, kalau bisa harus, tetapi dengan cara yang tepat. Sebagai permisalan kamu mencintai pacar sahabatmu sendiri, kau bisa mengungkapkannya dengan membantu pacar sahabatmu itu kalau membutuhkan pertolongan. Berbahagialah atasnya. Berbahagialah atas cara mengungkapkan yang kamu bisa lakukan. Karena bagaimana pun, walau betapa tidak cukupnya itu, masih lebih baik dari pada tidak bisa mengungkapkannya sama sekali.
Percayalah, Tuhan tidak akan kejam kepadamu; memberimu kisah cinta yang begitu tragis. Semua akan baik-baik saja tergantung benar-tidaknya caramu menyikapinya.
Nja~ Kayaknya sekian dulu postinganku kali ini. Perasaan itu, sungguh menakjubkan, bukan? Tuhan, dengan besar kuasa-Nya, mengizinkan kita merasakan berbagai rasa yang menakjubkan itu. Bukankah itu berarti, kita harus bersyukur atas hal yang tak terpikirkan sebelumnya? Bukankah teh tanpa gula itu tidak enak? Apa jadinya kalau kita hidup tanpa perasaan sedikit pun? Hambar? Mungkin lebih ke ... pahit!
Aku buka postingan ini dengan membaca basmallah.
Bismillahirrahmanirrahim.
Wih ... alim betul, ya? Haha. Sementang kali ini membahas sabar. Tapi postingan ini umum, kok. Nggak menyangkut-pautkan tentang kepercayaan. Well, ibarat karya ilmah, tentu ada latar belakang yang mendasari mengapa-aku-mengangkat-tema-sabar.
Sebernarnya alasannya simple, sih. Gara-gara tadi, di sekolah, sewaktu pelajaran BP alias Budi Pekerti, kami disuruh menjawab 3 soal tentang pokok bahasan "sabar".
Dan pertanyaannya adalah .............. *eng* *ing* *eng*
1. Apa yang dimaksud sabar (menurut kamu) ?
2. Sebutkan dan jelaskan macam-macam sabar! (Min 4)
3. Apa manfaat sabar di dalam kehidupan?
...............yah yang kuingat kira-kira seperti itu pertanyaannya
Wih ... sekilas pertanyaannya mudah-mudah aja, ya. Cuma nomor 2 yang mengandung kata horor yaitu "jelaskan". Tapi untuk seorang pengamat dunia sepertiku, satu halaman kertas buram hampir terisi sepenuhnya. Dan ketika menjawab soal nomor dua, ada adegan yang bikin aku mau mengangkat tema sabar ke postinganku ini. Ehm, gak asyik, kayaknya kalau aku main to-the-point. Yah, sekedar basa-basi, mari simak jawabanku atas ketiga jawaban di atas.
1) Pengertian sabar menurutku.
Sabar adalah sikap tahan dalam menghadapi sesuatu hal buruk. Sabar juga dapat diartikan sebagai tidak cepat marah, tidak mudah putus asa, dll.
Oke, ehm, ... sebenarnya bisa dikatakan jawabanku itu bukan "menurutku" karena .............. bukan bukan bukan, ini tidak seperti aku mencontek, ya! #tsundere haha tapi bener kok, aku nggak nyontek. Hanya saja ....... aku ........... melihatnya di alfalink .___________. #ngomonggituajasusah
Yah karena aku ini kreatif (baca : tidak mau terlalu sama dengan di alfalink) aku menambahkan kata-kata biar jawabanku makin kece (baca : panjang). Huehehehehe ( '-')a
2) Macam-macam sabar
a) Sabar dalam menghadapi cobaan
So paste, sabar itu sering dikaitkan dengan yang namanya --> menghadapi cobaan. Dalam hidup, hal baik dan hal buruk akan datang silih berganti. Dan dalam menghadapi hal buruk (kita sebut sebagai cobaan) tentu sikap utama yang harus kita miliki adalah sabar. Orang yang sabar akan berusaha melewati cobaan dan menganggap cobaan sebagai ujian yang mengandung sejuta hikmah kehidupan. #tsahhhh #kece(baca:panjang)gaktuhjawabanku ?
b) Sabar dalam menghadapi kegagalan
Siapa, sih, yang dalam hidupnya nggak pernah ngalamin kegagalan? Nabi Muhammad aja pernah gagal (kalah) dalam perang (meski sebenarnya bukan Beliau penyebab kekalahan dalam perang tersebut). Hal ini musti belo-in mata kita bahwasanya, nggak ada yang sempurna. Jadi lupain deh yang namanya nyari cowo perfect. #Loh #TopikSalahArah
Kegagalan itu identik dalam perlombaan. Orang yang sabar akan bersikap optimis terhadap kegagalan. Orang yang sabar akan kuat mental menerima kegagalan dengan percaya bahwasanya kegagalan yang ia dapatkan merupakan titik start dari kesuksesan yang akan ia raih di garis finish. So, anggap aja kegagalan itu adalah rintangan atau medan yang harus kamu lewati sebelum akhirnya kamu akan melewati garis finish. Be PATIENT, be SUCCES! YAY!
FYI : Jawaban untuk point B aku ngarang sendiri (bukan dari jawaban asliku di sekolah. Gile aje kalo aku serajin ini nulis sebanyak yang di atas --")
c) Sabar dalam ketahanan emosi.
Emosi. Emosi erat kaitannya dengan marah. Padahal, orang yang emosional belum tentu adalah orang yang pemarah. Marah adalah salah satu bentuk emosi. Itulah yang aku pahami selama ini.
Emosi itu banyak. Dan kebanyakan mereka menuntut kita untuk meluapkannya dalam segala bentuk apa pun sehigga kita akan merasa "plong". Kalo nggak, analoginya seperti mau kentut, tapi ditahan.
#Oke #BacktoTopic
Emosi tidaklah semua patut diluapkan. Contoh paling umum adalah marah. Orang yang marah ancap kali sering melakukan apa saja agar dapat memuaskan tuntutan emosi. Entah dengan menampar, memukul, mengata-ngatai orang dengan kata-kata kasar, menjambak rambut, ahhh banyak lagi deh pokoknya. Dan dalam menghadapi emosi ini, diperlukan banyak kata sabar. Sabar di sini artinya kita meminimalisir / menekan kembali tekanan emosi itu. Menekannya sampai dia nggak muncul lagi.
FYI (lagi) : jawaban ini aku karang sendiri.
d) Sabar dalam menghadapi nafsu/godaan.
Beugh. Yang namanya godaan mah bejibun di dunia ini. Mulai dari godaan playboy kelas kakap sampai godaan playboy kelas bawal. #EmangSeaFood #Oke #TopikSalahArah
Godaan itu banyak, aku ambil contoh seseorang yang sedang berpuasa.
Sabar yang bagaimana sih yang dilakukan orang yang berpuasa?
Yaitu sabar dengan menghindari segala godaan yang ada dengan cara menahan nafsu makannya. Orang yang sabar dalam berpuasa akan memotivasi dirinya dengan apa yang ia niatkan dalam menahan nafsunya. Simplenya, sih, ketika nafsunya mulai menyerukan bisikan untuk membatalkan puasa, orang tersebut akan mengingatkan dirinya akan "niat" yang ingin ia tunaikan. Bahwasanya ia berniat puasa, dan bukan batal di tengah jalan.
Minimal 4, kan? Tapi gara-gara adegan ini, aku nambah satu point lagi untuk macam-macam sabar.
Dita : Au, kan yang ditanya macam-macam sabar ...
Aku : Iya, terus?
Dita : Berarti sabar dalam penantian, juga termasuk, dong, Au?
JLEB ................. BLEB ..................... BLEB.
e) Sabar dalam penantian
Menanti identik dengan, ehm, menunggu. Menuggu si itu peka dengan perasaanku. #Eh #TopikSalahArah
Menunggu. Menunggu juga banyak macamnya. Menuggu kepulangan seseorang. Menunggu kedatangan seseorang. Dan menunggu si itu peka dengan perasaanku. #TopikSalahArah #Lagi
Kalau ditanya harus menunggu sampai kapan, maka hanya waktu yang dapat menjawabnya. Bagaimana jika kita dihadapkan dengan menunggu sesuatu yang tak pasti akan datang? Selama apakah kita harus bersabar menunggunya? Apa dalam hal ini kita perlu menerapkan ilmu sabar? Bahwasanya orang yang sabar akan menunggu, menunggu sampai titik akhir, menunggu, layaknya Hachiko yang menunggu tuannya?
Semua kembali pada diri kita masing-masing. Keyakinan diri dan keteguhan hati juga berperan besar dalam mewujudkan sikap sabar. Mungkin memang benar, hanya waktu yang dapat menjawabnya. Tapi setidaknya, walau pun yang kita tunggu sebenarnya hanyalah kesia-siaan, seberapa lama kita kuat bersabar menunggu sesuatu itu, memberikan cermin yang akan memperlihatkan kepada kita :
Seberapa berharganya sesuatu itu hingga kita rela menunggunya untuk waktu yang lama.
Huaaaa ... gomennasai, kayaknya aku nggak sanggup lagi menjawab untuk soal nomor 3. Jari telunjukku pegel. Iya telunjuk. Hehehe .______.)a
Sekian!
Bismillahirrahmanirrahim.
Wih ... alim betul, ya? Haha. Sementang kali ini membahas sabar. Tapi postingan ini umum, kok. Nggak menyangkut-pautkan tentang kepercayaan. Well, ibarat karya ilmah, tentu ada latar belakang yang mendasari mengapa-aku-mengangkat-tema-sabar.
Sebernarnya alasannya simple, sih. Gara-gara tadi, di sekolah, sewaktu pelajaran BP alias Budi Pekerti, kami disuruh menjawab 3 soal tentang pokok bahasan "sabar".
Dan pertanyaannya adalah .............. *eng* *ing* *eng*
1. Apa yang dimaksud sabar (menurut kamu) ?
2. Sebutkan dan jelaskan macam-macam sabar! (Min 4)
3. Apa manfaat sabar di dalam kehidupan?
...............yah yang kuingat kira-kira seperti itu pertanyaannya
Wih ... sekilas pertanyaannya mudah-mudah aja, ya. Cuma nomor 2 yang mengandung kata horor yaitu "jelaskan". Tapi untuk seorang pengamat dunia sepertiku, satu halaman kertas buram hampir terisi sepenuhnya. Dan ketika menjawab soal nomor dua, ada adegan yang bikin aku mau mengangkat tema sabar ke postinganku ini. Ehm, gak asyik, kayaknya kalau aku main to-the-point. Yah, sekedar basa-basi, mari simak jawabanku atas ketiga jawaban di atas.
1) Pengertian sabar menurutku.
Sabar adalah sikap tahan dalam menghadapi sesuatu hal buruk. Sabar juga dapat diartikan sebagai tidak cepat marah, tidak mudah putus asa, dll.
Oke, ehm, ... sebenarnya bisa dikatakan jawabanku itu bukan "menurutku" karena .............. bukan bukan bukan, ini tidak seperti aku mencontek, ya! #tsundere haha tapi bener kok, aku nggak nyontek. Hanya saja ....... aku ........... melihatnya di alfalink .___________. #ngomonggituajasusah
Yah karena aku ini kreatif (baca : tidak mau terlalu sama dengan di alfalink) aku menambahkan kata-kata biar jawabanku makin kece (baca : panjang). Huehehehehe ( '-')a
2) Macam-macam sabar
a) Sabar dalam menghadapi cobaan
So paste, sabar itu sering dikaitkan dengan yang namanya --> menghadapi cobaan. Dalam hidup, hal baik dan hal buruk akan datang silih berganti. Dan dalam menghadapi hal buruk (kita sebut sebagai cobaan) tentu sikap utama yang harus kita miliki adalah sabar. Orang yang sabar akan berusaha melewati cobaan dan menganggap cobaan sebagai ujian yang mengandung sejuta hikmah kehidupan. #tsahhhh #kece(baca:panjang)gaktuhjawabanku ?
b) Sabar dalam menghadapi kegagalan
Siapa, sih, yang dalam hidupnya nggak pernah ngalamin kegagalan? Nabi Muhammad aja pernah gagal (kalah) dalam perang (meski sebenarnya bukan Beliau penyebab kekalahan dalam perang tersebut). Hal ini musti belo-in mata kita bahwasanya, nggak ada yang sempurna. Jadi lupain deh yang namanya nyari cowo perfect. #Loh #TopikSalahArah
Kegagalan itu identik dalam perlombaan. Orang yang sabar akan bersikap optimis terhadap kegagalan. Orang yang sabar akan kuat mental menerima kegagalan dengan percaya bahwasanya kegagalan yang ia dapatkan merupakan titik start dari kesuksesan yang akan ia raih di garis finish. So, anggap aja kegagalan itu adalah rintangan atau medan yang harus kamu lewati sebelum akhirnya kamu akan melewati garis finish. Be PATIENT, be SUCCES! YAY!
FYI : Jawaban untuk point B aku ngarang sendiri (bukan dari jawaban asliku di sekolah. Gile aje kalo aku serajin ini nulis sebanyak yang di atas --")
c) Sabar dalam ketahanan emosi.
Emosi. Emosi erat kaitannya dengan marah. Padahal, orang yang emosional belum tentu adalah orang yang pemarah. Marah adalah salah satu bentuk emosi. Itulah yang aku pahami selama ini.
Emosi itu banyak. Dan kebanyakan mereka menuntut kita untuk meluapkannya dalam segala bentuk apa pun sehigga kita akan merasa "plong". Kalo nggak, analoginya seperti mau kentut, tapi ditahan.
#Oke #BacktoTopic
Emosi tidaklah semua patut diluapkan. Contoh paling umum adalah marah. Orang yang marah ancap kali sering melakukan apa saja agar dapat memuaskan tuntutan emosi. Entah dengan menampar, memukul, mengata-ngatai orang dengan kata-kata kasar, menjambak rambut, ahhh banyak lagi deh pokoknya. Dan dalam menghadapi emosi ini, diperlukan banyak kata sabar. Sabar di sini artinya kita meminimalisir / menekan kembali tekanan emosi itu. Menekannya sampai dia nggak muncul lagi.
FYI (lagi) : jawaban ini aku karang sendiri.
d) Sabar dalam menghadapi nafsu/godaan.
Beugh. Yang namanya godaan mah bejibun di dunia ini. Mulai dari godaan playboy kelas kakap sampai godaan playboy kelas bawal. #EmangSeaFood #Oke #TopikSalahArah
Godaan itu banyak, aku ambil contoh seseorang yang sedang berpuasa.
Sabar yang bagaimana sih yang dilakukan orang yang berpuasa?
Yaitu sabar dengan menghindari segala godaan yang ada dengan cara menahan nafsu makannya. Orang yang sabar dalam berpuasa akan memotivasi dirinya dengan apa yang ia niatkan dalam menahan nafsunya. Simplenya, sih, ketika nafsunya mulai menyerukan bisikan untuk membatalkan puasa, orang tersebut akan mengingatkan dirinya akan "niat" yang ingin ia tunaikan. Bahwasanya ia berniat puasa, dan bukan batal di tengah jalan.
Minimal 4, kan? Tapi gara-gara adegan ini, aku nambah satu point lagi untuk macam-macam sabar.
Dita : Au, kan yang ditanya macam-macam sabar ...
Aku : Iya, terus?
Dita : Berarti sabar dalam penantian, juga termasuk, dong, Au?
JLEB ................. BLEB ..................... BLEB.
e) Sabar dalam penantian
Menanti identik dengan, ehm, menunggu. Menuggu si itu peka dengan perasaanku. #Eh #TopikSalahArah
Menunggu. Menunggu juga banyak macamnya. Menuggu kepulangan seseorang. Menunggu kedatangan seseorang. Dan menunggu si itu peka dengan perasaanku. #TopikSalahArah #Lagi
Kalau ditanya harus menunggu sampai kapan, maka hanya waktu yang dapat menjawabnya. Bagaimana jika kita dihadapkan dengan menunggu sesuatu yang tak pasti akan datang? Selama apakah kita harus bersabar menunggunya? Apa dalam hal ini kita perlu menerapkan ilmu sabar? Bahwasanya orang yang sabar akan menunggu, menunggu sampai titik akhir, menunggu, layaknya Hachiko yang menunggu tuannya?
Semua kembali pada diri kita masing-masing. Keyakinan diri dan keteguhan hati juga berperan besar dalam mewujudkan sikap sabar. Mungkin memang benar, hanya waktu yang dapat menjawabnya. Tapi setidaknya, walau pun yang kita tunggu sebenarnya hanyalah kesia-siaan, seberapa lama kita kuat bersabar menunggu sesuatu itu, memberikan cermin yang akan memperlihatkan kepada kita :
Seberapa berharganya sesuatu itu hingga kita rela menunggunya untuk waktu yang lama.
Huaaaa ... gomennasai, kayaknya aku nggak sanggup lagi menjawab untuk soal nomor 3. Jari telunjukku pegel. Iya telunjuk. Hehehe .______.)a
Sekian!
Oke setelah sekian lama menghilang kini aku muncul lagi ~
Hhmm untuk post kali ini enaknya bahas tentang apa, ya?
Tentang persahabatan, udah sering. Cinta, ahhh masa cinta-cintaan mulu. #faktorjomblo
Gimana kalo ngebahas hal yang gak biasa yang anti mainstream seperti ................................................
aku?
#Oke #Fine #Lupakan
Mungkin aku basa basi dulu kali ya...
Aku ini hobby baca novel, oleh karena itu banyak sekali anime di dalam netbookku ini. Gak nyambung? Emang.
Ya, aku adalah seorang Ani-Lovers alias Anime Lovers. Aku nggak sampai ke tahapan otaku karena basically aku cuma sekadar gemar menonton dan mengoleksi anime. Anime itu kayak film, ada genrenya. Dan diantara sekian banyak jenis genre, tiga genre faforitku adalah slice of life, supranatural, dan romance. Tapi yang bikin aku suka itu lebih ke genre slice of life. Biasanya banyak kata-kata mutiara dari anime yang bergenre itu. Jadilah, seorang Aau yang dulunya cuma asal nonton anime sekarang malah nonton anime -> ketemu quotes menarik -> pause -> pencet PrtScSysRq di keyboard -> buka Ms. Office Word 2010 -> Paste -> Klik kanan gambar -> Save as picture -> save.
Iya, sekarang aku punya kebiasaan baru ketika nonton anime, yaitu berburu quotes. Lumayan ribet, sih, karena terkadang aku lupa bahwa aku sedang berburu quotes.
Anime yang baru-baru ini aku tonton adalah Yahari ore no Seishun Love Come wa Machigatteiru atau kalau diartikan My Youth Romantic Comedy is Wrong as I Expected. Genrenya school life, comedy, slice of life, social psychology, romance ... nah, kan, ada slice of lifenya. Tapi mungkin yang dominan adalah social psychologynya.
Hhmm untuk post kali ini enaknya bahas tentang apa, ya?
Tentang persahabatan, udah sering. Cinta, ahhh masa cinta-cintaan mulu. #faktorjomblo
Gimana kalo ngebahas hal yang gak biasa yang anti mainstream seperti ................................................
aku?
#Oke #Fine #Lupakan
Mungkin aku basa basi dulu kali ya...
Aku ini hobby baca novel, oleh karena itu banyak sekali anime di dalam netbookku ini. Gak nyambung? Emang.
Ya, aku adalah seorang Ani-Lovers alias Anime Lovers. Aku nggak sampai ke tahapan otaku karena basically aku cuma sekadar gemar menonton dan mengoleksi anime. Anime itu kayak film, ada genrenya. Dan diantara sekian banyak jenis genre, tiga genre faforitku adalah slice of life, supranatural, dan romance. Tapi yang bikin aku suka itu lebih ke genre slice of life. Biasanya banyak kata-kata mutiara dari anime yang bergenre itu. Jadilah, seorang Aau yang dulunya cuma asal nonton anime sekarang malah nonton anime -> ketemu quotes menarik -> pause -> pencet PrtScSysRq di keyboard -> buka Ms. Office Word 2010 -> Paste -> Klik kanan gambar -> Save as picture -> save.
Iya, sekarang aku punya kebiasaan baru ketika nonton anime, yaitu berburu quotes. Lumayan ribet, sih, karena terkadang aku lupa bahwa aku sedang berburu quotes.
Anime yang baru-baru ini aku tonton adalah Yahari ore no Seishun Love Come wa Machigatteiru atau kalau diartikan My Youth Romantic Comedy is Wrong as I Expected. Genrenya school life, comedy, slice of life, social psychology, romance ... nah, kan, ada slice of lifenya. Tapi mungkin yang dominan adalah social psychologynya.
Nah ini dia anime yang aku maksud
Aku nggak bakal ngasih review apa-apa tentang anime ini, cuma ngasih info dikit, deh. Siapa tahu kalian tertarik. Anime ini menceritakan ketiga orang di atas yang semuanya itu LONER. Iya, loner, penyendiri. Otomatis, gak punya teman. Yang paling mending sih menurutku si Yuigahama Yui (yang rambut pink) soalnya walaupun dia loner, dia masih mau berusaha untuk berteman. Hanya saja, dia terlalu penurut. Dalam kelompok pergaulan, dia hanya mengiyakan setiap keputusan walau tak sesuai dengan yang ia mau. Karena takut akan ditinggalkan. Itu sih yang aku tangkap. Tapi tetep, faforitku si Yukinoshita Yukino. Ya, yang rambut hitam. Dia itu blak-blakan, kadang kasar, namun semua itu sesuai kenyataan. Aku kagum dengan karakter yang seperti itu. Karakter yang dewasa, dan tegar walaupun menjadi seorang loner.
Oke, mungkin kalian mulai bertanya topik pembicaraan ini mengarah ke mana sebenarnya.
Nah, gara-gara kebiasaan menonton animeku yang baru, ketika aku nonton anime ini, aku menemukan ................ ini :
Dan quotes itu...................ugly truth banget.
Setiap manusia pasti pernah nge-judge orang. Entah penampilannya, perilakunya, kebiasaannya, yang walau dilakukan dalam beberapa penjumlahan sampai pembagian dan mencari rata-rata, titik akhirnya cuma berada pada dua penilaian : baik, atau buruk.
Kesan pertama selalu merupakan kesan yang paling diingat. Kesan pertama ketemu sama seseorang, pertama mengikuti lomba, pertama kali menang lomba, pertama kali pacaran, dan pertama-pertama lainnya. Setiap orang secara sadar maupun tidak akan menilai hal-hal "pertama" tersebut. Aku kasih contoh deh ...
Aku sempat menjadi penyanyi cafe. Di hari pertama aku nyanyi, aku membawakan lagu Christina Peri - A Thousand Years. Dan ...... gila! Fals banget. Awal-awalnya sih engga, tapi terakhirannya itu loh. Ya ampun. Aku malu banget. Jadilah, aku nggak mau lagi membawakan lagu a thousand years. Trauma. Entar keinget hari pertama nyanyi di cafe. Malu di kuadrat-in. Malu-malu-in!
Dalam hidup, seringkali kita menilai seseorang. Penilaian beragam, namun seperti yang sudah kukatakan, hanya berujung baik atau buruk. Semua tergantung pada cara penilaian: sebelah mata, atau sepasang mata.
-Hukum I Kesan
Kesan buruk akan bertahan berkepanjangan. Ketika kesan baik datang, kesan buruk akan sama kuatnya dengan kesan baik. Kenapa? Karena ketika kesan baik datang, kesan buruk akan menghantui.
foreksampel:
Ada cowok yang playboy abis. Suatu hari, dia fallin' in love pada seorang cewek di saat ia sudah bertekad agar tidak playboy lagi. Sejauh ini PDKT berjalan lancar-lancar saja, sudah pake kakak-adek segala, lagi. Cuma yang bikin mereka nggak-jadi-jadi, yah, bisa dilihat dari sudut pandang si cewek.
Si cewek pasti, lah, tahu, kalau si cowok itu playboy. O to the matis, si cewek menilai buruk si cowok. Namun, alur membawa mereka berdua menjadi dekat. Lambat laun, sisi baik si cowok keluar, sehingga memberikan kesan yang baik. Si cewek? Dilema, lah. Walau si cowok janji buat setia, si cewek pastinya bakal takut. Takut si cowok bakal kembali kayak dulu. Karena mau gak mau kenyataan bahwa dia playboy itu masih ada. Karena itu, aku menganggap kedudukan kesan baik dan buruk dalam hal ini sama besar.
-Hukum II Kesan
Kesan baik dapat hancur seketika oleh kesan buruk
Orang yang selama ini menampilkan kesan baik, dapat hancur seketika oleh kesan buruk.
Foreksampel :
Ada seorang cewek yang taaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaat banget beribadah. Tapi suatu hari, dia kedapatan lagi pelukan sama cowok yang tidak dikenal. Gosip pun menyebar bahwa si cewek cuma baik-di-luar-buruk-di-dalam atau kalau aku analogikan kayak telor setengah matang. Dari luar kuning telurnya sih bagus-bagus aja, pas udah dibuka, isinya masih cair.
Namun pasti, di suatu tempat di luar sana, hukum kesan yang di atas justru gak berlaku. Hanya saja, kedua hukum di atas merupakan hukum yang paling sering diterapkan masyarakat. Atau kalau kasarnya aku bilang "Sekali buruk, tetap buruk. Kebaikan yang ia lakukan tidak lebih hanya sebagai penebus kesalahannya yang lalu-lalu"
Kejam, ya?
Bagaimana jika kita telah meninggalkan kesan buruk pada orang lain, kemudian ingin merubahnya?
Bagaimana jika mereka tidak percaya kita akan berubah?
Aku ......... tidak tahu.
Sejauh yang aku mengerti, diperlukan usaha yang keras untuk menggapai langit yang tinggi.
Jika tidak bisa terbang, naik balon udara. Oh, atau, naik pesawat. Apapun! Apapun yang dapat membuat kita mengangkasa.
Oleh karena itu ... mungkin ... mengubah kesan itu seperti menggapai langit. Tidak mungkin dapat diraih kalau kita hanya melocat-loncat saja. Dibutuhkan usaha lebih. Usaha yang ekstra. Karena mengubah kesan kita di mata orang lain tak semudah membalikkan telapak kaki tangan.
"Tapi, kalau kesan baik, berarti aku harus hati-hati dong sama kesan buruk."
Berhati-hati dengan kesan buruk sama saja menjauhkan kita dari perilaku yang tidak sepantasnya.
Dengan kata lain, menjauhan kita dari dosa. Bukan begitu?
Ciptakanlah kesan baik, atau tidak sama sekali! Kita takkan tahu betapa dahsyatnya pengaruh kesan terhadap kehidupan kita di masa mendatang. Kerjakan hal baik di masa sekarang dan nikmati buah dari hal baik tersebut di masa yang akan datang.
Salam !
My youth romantic comedy is wrong as I expected.
Read more at http://myanimelist.net/anime/14813/Yahari_Ore_no_Seishun_Love_Comedy_wa_Machigatteiru.#fdZcK3VPg9gFFRlt.99
Read more at http://myanimelist.net/anime/14813/Yahari_Ore_no_Seishun_Love_Comedy_wa_Machigatteiru.#fdZcK3VPg9gFFRlt.99
My youth romantic comedy is wrong as I expected.
Read more at http://myanimelist.net/anime/14813/Yahari_Ore_no_Seishun_Love_Comedy_wa_Machigatteiru.#fdZcK3VPg9gFFRlt.99
Read more at http://myanimelist.net/anime/14813/Yahari_Ore_no_Seishun_Love_Comedy_wa_Machigatteiru.#fdZcK3VPg9gFFRlt.99
My youth romantic comedy is wrong as I expected.
Read more at http://myanimelist.net/anime/14813/Yahari_Ore_no_Seishun_Love_Comedy_wa_Machigatteiru.#fdZcK3VPg9gFFRlt.99
Read more at http://myanimelist.net/anime/14813/Yahari_Ore_no_Seishun_Love_Comedy_wa_Machigatteiru.#fdZcK3VPg9gFFRlt.99
Aku rasa dunia remaja gahol dewasa ini sudah tidak asing lagi dengan istilah PHP. Yep, PHP adalah singkatan dari Pemberi Harapan Palsu. Aku, sih, sebagai salah satu remaja yang hidup di dunia itu ... ah, lebih tepatnya pengamat, pengamat dunia itu, telah banyak melihat kisah-kisah tentang ke-PHP-an. Objek pengamatanku sih nggak jauh-jauh, cukup teman-temanku aja. Yah, bukan berarti aku menjadikan mereka kelinci percobaan, hanya saja, aku mengamati perilaku mereka yang fallin in love dan terkadang mereka sering mempermasalahkan tentang ...
"Harapan"
Sebenernya, apasih, yang perlu kita khawatirkan? Kita boleh berharap, apa aja, udah gitu, gratis gak ada yang ngelarang! Cius! Jikalau keadaan memang tidak memungkinkan harapan itu terwujud, kita masih boleh berharap, tapi kita belum tentu dibolehin harapan-harapan itu terwujud.
Intinya, berharap itu boleh.
Sering ya, kalian mendapati teman kalian terlibat kasus had a crush on someone who too impossible to be reached. Bahkan, mungkin justru kalian salah satunya? Kasus-kasus pun terbagi dalam berbagai jenis, salah-empat-nya :
1)Suka sama si A -> nggak berani deketin si A -> berujung pada secret admirer yang suka nyumpahin si A putus kalau si A punya pacar.
2)Suka sama si B -> nggak berani deketin si B -> berujung pada berusaha ikhlas dan tersenyum ketika si B punya pacar
3)Suka sama si C -> nggak bisa deketin si C karena si C orang terkece seantero sekolah -> berujung pada secret admirer yang selalu berdoa agar si C suatu hari berpaling padanya
4)Suka sama si D -> berusaha akrab sama si D -> nggak berani nyatain perasaan -> berujung pada secret admirer yang selalu bilang "Aku nggak papa" "Aku nggak mama ngarepin dia lagi kok" "Semua sudah berlalu, lagian dia udah punya pacar" Padahal dalam hatinya ... Atttiiiitttt.
Ahhh banyak lagi lah pokoknya kasus-kasusnya. Terus, di semua tipe kasus itu, pasti ada adegan di mana harapan itu ada, dan harapan itu hilang. Bikin orang jadi labil, kadang ngarep, kadang "Aku harus sadar kalau aku harus ngelepasin dia~". Ujung-ujungnya sih ngadu deh sama temen "Kemaren dia kayak suka sama aku, baik sama aku, kenapa dia sekarang malah pacaran sama orang lin? Aku di-PHP-in dong? Huaaa" #nangisdipojokan
Nih, ya, elu elu elu dan elu harus tau bahwa PHP itu ada 2 macam.
1. PHP karena salah paham.
2. PHP karena ... ya elu emang sejak awal mau diPHPin sama orang itu.
TAPI.
Nggak fair kan kalau ternyata PHP yang kamu alamin ternyata PHP yang nomer 1? Terus kamu malah umbar sana umbar sini kalau si dia itu cuma PeHaPers? Siapa tau orangnya baik, rajin menabung dan tidak sombong, cuman kalian aja yang ......................
Bagaimana aku menyebutnya ya ............
MMmmmmmm ...
"Ke-GR-an"
Oke aku cuma mau bahas PHP yang nomer 1 karena aku nggak setuju ada pihak yang selalu dirugikan dalam masalah "Siapa yang salah dalam kasus PHP ini?"
Menurut sudut pandang aku sih, yang sering jadi korban ya pihak cowok. Ya, cewek sering ke-GR-an. Otomatis, aku nggak setuju kalau pihak cowok dihujani gosip yang nggak-nggak. Tapi aku juga gak bilang kalau nggak banyak oknum cowok yang emang brengs*k. Ada kok cowok yang sukanya cuma main-main sama perasaan cewek. Merasa tersinggung? Situ suka mainin perasaan cewek nggak? Nggak? Brarti nggak brengs*k. Susmat. Susah amat.
Andai, ya. Google Translate bisa men-terjemah-kan makna perkataan atau sikap perhatian orang lain kepada kita. Pasti. Pasti tingkat korban dan pelaku PHP menurun drastis. Dari sisi ke-cewek-an aku, jujur aku merasa cewek itu emang suka diperhatikan. Tapi, diperhatikannya secara gentle. Lo gak mesti harus nanya udah-makan-belom-udah-mandi-belom-udah-BAB-belom, contohnya aja nih, pas ada cewek lagi sakit, dia muruuuung aja di kelas, lo pegang dahinya, terus bilang "Ke UKS, ya? Jangan memaksakan diri. Sini aku antar." Edeeehhh aku mah bakal kelepek kuadrat mah kalau gitu! Yaha ... maklum ... kebanyakan nonton drama xD
But-ta-to-the-pi ~
Si cewek ketika menghadapi ke-care-an dari seseorang, tidak boleh mengasumsikan bahwa seseorang itu suka sama dia. Pokoknya nggak boleh. Titik. Ini, nih yang biasanya disalahartikan sama cewek. Sebagai cewek, kita harus berfikir sepositif mungkin dengan mempertimbangkan kemungkinan terburuk yang ada. Kemungkinan, bahwa itu cuma perhatian biasa. Nggak lebih. Biar pas kita tahu kebenaran buruknya (bahwa ternyata si cowok nggak ada feel sama sekali) kita nggak akan merasa di-PHP-i.
Kesimpulannya yo guys ...
Buat cowok, kalau mau perhatian sama cewek boleh boleh aja, tapi secara gentle dan tidak berlebihan.
Buat
cewek, jangan salah mengartikan perhatian cowok. Ingat, rasa GR-mu
itulah yang membuatmu merasa di-PHP pada akhirnya. Tanggapilah balik
perhatian itu jika memang kamu sudah memastikan perasaannya terhadapmu
:)
Oh, dan kalau kamu terlalu lelah menunggu kepastian, maka kamu sendirilah yang harus memastikannya. Berikan suatu ketegasan, padanya :)
Nah, untuk itu, aku ada quotes buat kalian semuwaaa ~
"It's a man's duty to be gentle, and it's a woman's duty to do not misunderstand with a man's gentleness"
-Aau-chan
Artinya? Aku rasa mbah gutrans masih bisa nerjemahin deh.
Sekian dan terima kasih banyaaaaaaaaaaaaaaak !!!
Cokelat Misterius dari Mr.Misterius
Ehm. Di suatu pagi yang cerah -sebenernya gak cerah-cerah amat sih, mendung juga kagak, eh, lebih tepatnya aku nggak tahu gimana cuaca di luar- ketika aku sedang terburu-buru menyusun buku pelajaranku, aku dikejutkan oleh bungkus yang bergambar kacang mete yang aku kenal banget bungkus apaan itu.Coklat.
Beberapa saat, aku bengong ngeliatin tuh coklat. Punya siapa? Punya temen yang gak sengaja coklatnya masuk ke tasku? Atau ... ada orang yang ngasih? Ah gamungkin-gamungkin-gamungkin. Valentine masih jauh. Terus ini coklat siapa? siapa?
Dalam hati, aku ke-GR-an abis. Jangan-jangan aku punya secret admirer. Jangan-jangan coklat ini emang ditujukan sama aku. Jangan-jangan bentar lagi ada yang nembak aku. Tapi semua jangan-jangan itu hilang saat aku menatap cermin. Nggak, bukannya jelek. Jilbabku gak rapi. Itu aja kok.
Karena masih dihantui dengan jangan-jangan-ini-coklat-temen-yang-gak-sengaja-masuk-ke-tas-ku, sampai di sekolah, aku nggak berani makan tuh coklat. Aku nunggu gugatan
Sampai akhirnya, si Mr.Misterius mengakui kalau dia yang ngasih aku cokelat. Aku kaget, pada awalnya. Tapi semua kekagetan itu berusaha aku simpan dalam-dalam. Tapi ternyata susah, bawaannya pengen senyam-senyum mulu. Bukan karena yang ngasih cowok-cakep-se-antero-SMA *bukan berarti dia cowok jelek seantero SMA , ya --"* Tapi karena detik itu ... aku ... merasa kayak di film-film, cuy.
Pulang ke rumah, rasa senang itu masih lekat di hati. Buktinya, senyumku yang mengembang enggan layu. Rasanya ... We-A-We-We-O-We. Rasanya ... apa ya? Ah, aku gak bisa lukiskan dalam kata-kata. Lucu, mungkin. Haha. Adegan-adegan yang biasanya kamu *iya, kamu. Aku kan udah mupon dari tipi* tonton di tipitipi, yang biasanya bikin kamu iri, yang kemudian kamun mengutuki adegan sinetron itu dengan "Halah, drama banget, sih." "Mana ada cowok yang kayak gitu. Alah, sinetron" Tapi ternyata justru terjadi di hidupmu itu rasanya ............................................ waw.
Usai naruh tas, buru-buru deh aku ambil tuh coklat. Ngambil pita, ikat di coklatnya *haha, iya, pita itu aku yang ngikat, biar lebih drama :D *, terus Twitpic. Jadilah temen-temenku pada heboh semua. Apalagi temen-temen OGAL yang digandrungi @shenoza_ @CinthiA_E_P @shofiayrd @ditasifa_ ditambah makhluk yang aku anggap kakak sendiri @sehaevo . Mereka pada kepo sama identitas Mr.Misterius. Tapi aku gak mau kasih tau karena .................
Jujur, menurutku ini memalukan.
Dulu, aku orangnya open sama orang terdekatku. Aku gak segan-segan cerita masalah tentangku ke orang tersebut. Dia juga gak segan-segan bercerita apa pun tentangnya, keluarganya, padaku. Tapi, karena suatu hal, kami bertengkar. Dan akhirnya, semua rahasia-rahasiaku yang dulu terpaut dengan jari kelingking kami, semuanya terbongkar. Kenapa aku nggak balas bongkar rahasia dia? Karena aku orangnya pelupa. Aku itu tipikal orang yang kepo selangit, kalo udah tau ya puas, tapi lama-kelamaan semua hal itu bakal terlupa olehku. Jadi, aku bisa jamin kerahasiaan yang ingin orang lain simpan padaku. Toh, nantinya aku juga lupa. It is hard to keep something big alone. Sometimes it's good to have someone to share; someone who will help, someone who will keep, someone who will listen.
Dari situ, aku merasa ........... jera.
Peranku berubah. Aku yang dulunya terbuka sekarang tertutup. Tapi aku tetap terbuka sebagai orang yang "dibagi", bukan sebagai orang yang "membagi". Aku senang membantu orang lain memecahkan masalah mereka. Aku senang menjaga setiap rahasia-rahasia mereka -yang padahal bisa aja terlupa. Dan aku sangat senang menjadi orang yang mereka percayai untuk mendengar masalah-masalah mereka. Tapi, emang, ya. Berbicara itu lebih sulit dibanding mendengar. Aku enggan membicarakan hal-hal pribadiku kepada orang dekatku, bahkan OGAL sekali pun. Mungkin karena masih teringat masa lalu. Mungkin juga masa lalu itu menghantuiku sehingga nyaliku ciut untuk berbicara pada orang lain. Tapi, di sisi lain, dengan sangat jujur hati kecilku berharap : Aku ingin memiliki tempat untukku berbagi.
Temen-temen OGALku orangnya baik. Aku nggak bilang kalo mereka nggak bisa dipercaya. Tapi, itu tadi, aku takut. Takut nantinya kami bertengkar. Takut nantinya semua rahasia itu bocor. Takut nantinya rahasia itu dipandang layaknya aib oleh orang lain saat melihatku. Aku takut. Tapi aku ingin.
Jadilah aku mencoba menguatkan diri dengan mencoba berbagai alternatif lain. Mulai dari mencurahkan di diary, jika rasanya ingin menangis aku dengerin lagu yang paling bikin semangat, jika aku teringat aku akan menyibukkan diriku dengan kegiatan lain, tapi perasaan lega yang kudapat setelah melakukan semua hal itu bukan perasaan lega seperti ketika aku membicarakannya pada orang lain.
It's different.
Rasanya berat, bukan, memikul semuanya sendirian?
Hanya jiwa yang cukup tegar yang mampu melakukannya. Namun jiwa yang tegar itu belum mampu bisa menikmatinya. Menurutmu, apakah yang dimaksud dengan janji?
Menurutku, janji adalah pertaruhan hati.
Ya, pertaruhan. Ketika kita berjanji, menurutku, kita sudah mempertaruhkan hati kita. Jika dalam pertaruhan itu kita gagal, akan ada perasaan yang terbuang. Perasaan yang seharusnya lega, justru menjadi suatu ketakutan, atau dendam, atau benci, atau yang lainnya.
Janji juga cermin.
Janji dapat memperihatkan sosok seseorang tergantung berhasil tidaknya ia menjaga janji tersebut.
Janji pun adalah jalan yang terlihat ujungnya.
Janji tidak dapat dilihat bagaimana akhirnya. Apakah akan terbongkar, terlupa, tersimpan.
Tapi ketahuilah, orang yang berjanji, mempertaruhkan kepercayaannya padamu.
Orang yang berjanji mempertaruhkan sudut pandang mereka di matamu. Tentunya gak ada orang yang bodoh yang mau dicap sebagai a liar, 'kan? Jika kamu ingin menautkan jari kelingkingmu pada orang lain, cek dulu orangnya kayak gimana. Ya, kurang lebihnya kayak ngecek keaslian uang. Kalo aku sih, bukan orang yang paling tahu tentangmu, kebiasaanmu, atau apa pun yang berhubungan dengan kamu lainnya yang lainnya yang tepat untuk menjadi teman berbagi, tapi orang yang bisa membuatmu nyaman ketika kamu berbicara padanya. Orang yang cukup keras kepala yang berusaha mematahkan kata-kata "Aku nggak apa-apa, kok." Orang yang cukup humoris yang akan membuatmu tertawa. Dan orang yang tulus yang akan berkata "Aku senang, kamu udah senyum lagi :)"
Identitas Mr.Misterius udah aku kasih tau sama seseorang. Rasanya, sangat lega. Lega yang dulu tidak pernah lagi aku rasakan karena ketakutanku. Karenanya, aku belajar mempercayai seseorang. Aku ingin percaya pada teman-teman dekatku. Aku ingin mempertaruhkan kepercayaan ini pada mereka, karena mereka juga mempertaruhkan kepercayaan ini padaku. Seseorang pernah berkata padaku, kunci sebuah kesuksesan dalam bersahabat adalah :
"Mutual trust"
Jujur gue orangnya nggak suka keramaian. Tau deh tuh kenapa. Sampai-sampai, dulu, waktu gue lagi asyik pacaran sama nebi di kamar (baca: netbook), terus tiba-tiba bokap-nyokap-ponakan tiba-tiba masuk, gue merasa sedikit ........... terusik.
Idih, emang setan kali ya?
Naujubilah.
Sebenarnya mereka nggak ngapa-ngapain. Ponakan gue masuk cuma mau ganggu-ganggu gue aja- biasa lah, anak kecil. Dia loncat-loncat di kasur, terus bokap-nyokap ketawa ngeliat tingkah laku ponakan gue yang kekanak-kanakan -Lha, dia kan masih kecil ?!?!- tapi gue cuma bisa tersenyum sinis sambil mikir;
Apanya yang lucu?
Jadilah kamar gue dipenuhi gelak tawa. Gue sih diem. Dalam hati gue pengen semuanya cepet-cepet keluar. Gue pengen ketenangan. Tapi tenangnya gak usah sampai mati lampu segala. Itu bukan tenang, horor namanya.
Tiba-tiba gue mikir : Gue jahat, ya, sampai bisa mikir kayak gitu?
Mungkin. Mungkin kalo gue bisa merasakan "lucu" yang bokap-nyokap gue rasain ketika melihat tingkah ponakan gue, gue gak bakal merasa terusik. Mungkin gue justru bakal seneng kamar gue jadi ramai. Tapi itu "mungkin", kenyataannya gue gak bisa nangkep apa yang mereka tertawakan.
Gue ... nggak jahat, kan? ._______.
Sekarang gue menyandang predikat baru. Gue bukan lagi anak rumahan. Gue anak "kamar-an". Yo'i, kalo nggak ada yang gue kerjakan, gue bakal diem di kamar. Gue nggak peduli lagi sama dunia luar. Sampai-sampai, gue nggak peduli lagi sama TV. Tadi, di sekolah,
Cinthia : "Au, tadi Novan nyanyi goyang oplosan"
Gue : "Terus?"
Cinthia : "Bener-bener nggak ngerti nih anak. Nggak punya tipi dia di rumah"
Gue cuma cengengesan.
Oke. oke. Gue udah move on dari tv sejak ......... kapan, ya? Mungkin sejak gue masuk SMA. Menurut gue, SMA itu berat. Buktinya gue gak sanggup ngangkat SMA gue. Tuh, kan. Berat.
Back to topic.
Saking beratnya, gue nggakbisa ngangkat ada niatan lagi nonton TV. Tugas kelompok, lah. PR, lah. Ekskul, lah. Les, lah. Bener-bener bikin gue aktif seharian. Belum lagi kalau ada ulangan, bisa sampai malam tuh aktifnya.
Mungkin gara-gara itu semua, gue merasa tenang di kamar ini. Gue merasa nyaman. Padahal kamar ini pernah menjadi list ruang-di-rumah-yang-paling-gue-takutin. Kamar ini meraih posisi kedua setelah ruang tamu. Alasannya? Simple. Gelap.
Awalnya kamar ini nggak ada yang nempatin, sebatas ruang buat sholat gitu. Nah, pas belum ada yang nempatin, gue sering disuruh nyalain lampu luar pas magrib. Pas buka pintu, rasanya pengen dzikir 1000 kali. Gelap abis.
Ruang tamu? Nggak beda jauh. Yang jauh cuma saklarnya doang, bikin gue harus jalan beberapa langkah. Kalau yang di kamar ini mah nggak jauh sama pintu. Tiga langkah pun jadi. Kalau di ruang tamu, gue bisa lari. Lari ketakutan.
Entah. Entah deh tuh bokap-nyokap gue ngeliat putriyang tertukar nya yang suka diem di kamar ini kayak gimana. Mereka nggak ada komentar sih. Atau malah nggak peduli? DEG. Tapi nggak papa, gue nggak minta diperhatiin juga, kok. *pembelaan*
Di kamar, temen gue sih ada dua; nebi sama HP. Asal ngutak-ngatik mereka berdua nih, gue sih nggak masalah sendirian. Bahkan, gue bisa aja lupa kalau gue ini sendirian dan ... kesepian.
Tapi suatu hari, bencana itu terjadi.
Bencanya yang akhirnya menjitak kepala gue yang akhirnya menyadarkan gue akan kesendirian.
Mati lampu.
HP sama Nebi couple-an, sama-sama lowbat.
Jadilah gue diem di kamar dalam gelap. Gue sengaja nggak nyalain lampu emergency karena emang lampu emergency yang gue punya dipake semua. Gue sengaja nggak nyalain lilin karena emang gue nggak punya. Gue sengaja nggak nyalain lampu duduk karena emang gue nggak punya lampu berdiri.
Intinya, gue sengaja. Entah karena perasaan apa, gue merasa tenang dalam kegelapan itu.
Gue menoleh ke kiri dan ke kanan.
Nggak keliatan apa-apa.
*Senam Ya Iya Iya Lah ~*
Abaikan.
Gue sadar, betapa mirisnya gue. Tanpa nebi sama HP, gue cuma bisa diem mematung di kamar. Gue baru sadar sebeginikesepiannya gue. Nggak ada temen yang merupakan tetangga yang bisa diajak main, nggak ada kakak yang bisa diajak curhat, nggak ada adik yang bisa diajak main -gue bungsu, sih, dan masih banyak nggak ada nggak ada lainnya.
Gue kesepian, ya, ternyata?
Gue mikir, mungkin di ruangan ini ada makhluk lain yang sedang ngeliat gue. Kalau itu benar, rasanya, pengen deh, punya kemampuan untuk melihatnya. Siapa tahu gue bisa nyapa dia, terus temenan deh sama dia. Mengingat, nggak ada nggak ada di atas tadi. Tapi, ini gila! Gue nggak sebegitunya juga, kali ._____.
Haha, bahkan waktu kecil dulu, gue berharap punya peri kecil sejenis Tinker Bell. Seenggaknya, gue gak bakal merasa kesepian di rumah. Habisnya, gue merasa, di rumah ini nggak ada orang yang cocok yang bisa mendengar cerita gue, keluh kesah gue, cerita bahagia gue.
Yang bisa mendengarnya hanyalah temen-temen gue.
Makanya, gue sangat menghargai mereka yang ada untuk mendengar cerita gue. Karena menurut gue, cerita ke orang itu perkara yang sulit. Gue sih biasanya mikir 2x, bahkan lebih sebelum gue yakin cerita ke orang. Bagi mereka yang pernah mendengar ceritaku, selamat, kamu adalah orang yang termasuk dalam orang yang gue percayai.
Gue gak yakin, perilaku gue yang menyendiri ini benar. Di sekolah, gue sih fine-fine aja sama temen-temen. Bahkan gue nggak terganggu akan keramaian yang mereka buat. Karena aku, ikut tertawa di dalamnya. Ketika kesepian itu melanda, kupikir, aku hanya perlu mencari obatnya. Bisa juga, berpura-pura tidak berada di dalamnya. Pilihan lain: menikmatinya.
Tapi untuk kupu-kupu sejenisku, yang memiliki sepasang sayap kecil indah namun sebenarnya rapuh, pada akhirnya, pilihan mencari temanlah yang terbaik. Namun jika kamu dapat menahannya sepertiku, Kuakui kamu termasuk orang yang tegar. Jika kamu melarikan diri darinya, aku hanya bisa berharap kamu menemukan jalan baru yang dalam mengembangkan senyum di bibirmu :)
Di dalam kegelapan, aku bertanya.
Dapatkah aku mendapatkan cahaya yang 'kan menerangi?
Baru aku sadari betapa gelapnya hati ini.
Hey, katakan padaku.
Maukah kau menjadi cahaya itu?
Idih, emang setan kali ya?
Naujubilah.
Sebenarnya mereka nggak ngapa-ngapain. Ponakan gue masuk cuma mau ganggu-ganggu gue aja- biasa lah, anak kecil. Dia loncat-loncat di kasur, terus bokap-nyokap ketawa ngeliat tingkah laku ponakan gue yang kekanak-kanakan -Lha, dia kan masih kecil ?!?!- tapi gue cuma bisa tersenyum sinis sambil mikir;
Apanya yang lucu?
Jadilah kamar gue dipenuhi gelak tawa. Gue sih diem. Dalam hati gue pengen semuanya cepet-cepet keluar. Gue pengen ketenangan. Tapi tenangnya gak usah sampai mati lampu segala. Itu bukan tenang, horor namanya.
Tiba-tiba gue mikir : Gue jahat, ya, sampai bisa mikir kayak gitu?
Mungkin. Mungkin kalo gue bisa merasakan "lucu" yang bokap-nyokap gue rasain ketika melihat tingkah ponakan gue, gue gak bakal merasa terusik. Mungkin gue justru bakal seneng kamar gue jadi ramai. Tapi itu "mungkin", kenyataannya gue gak bisa nangkep apa yang mereka tertawakan.
Gue ... nggak jahat, kan? ._______.
Sekarang gue menyandang predikat baru. Gue bukan lagi anak rumahan. Gue anak "kamar-an". Yo'i, kalo nggak ada yang gue kerjakan, gue bakal diem di kamar. Gue nggak peduli lagi sama dunia luar. Sampai-sampai, gue nggak peduli lagi sama TV. Tadi, di sekolah,
Cinthia : "Au, tadi Novan nyanyi goyang oplosan"
Gue : "Terus?"
Cinthia : "Bener-bener nggak ngerti nih anak. Nggak punya tipi dia di rumah"
Gue cuma cengengesan.
Oke. oke. Gue udah move on dari tv sejak ......... kapan, ya? Mungkin sejak gue masuk SMA. Menurut gue, SMA itu berat. Buktinya gue gak sanggup ngangkat SMA gue. Tuh, kan. Berat.
Back to topic.
Saking beratnya, gue nggak
Mungkin gara-gara itu semua, gue merasa tenang di kamar ini. Gue merasa nyaman. Padahal kamar ini pernah menjadi list ruang-di-rumah-yang-paling-gue-takutin. Kamar ini meraih posisi kedua setelah ruang tamu. Alasannya? Simple. Gelap.
Awalnya kamar ini nggak ada yang nempatin, sebatas ruang buat sholat gitu. Nah, pas belum ada yang nempatin, gue sering disuruh nyalain lampu luar pas magrib. Pas buka pintu, rasanya pengen dzikir 1000 kali. Gelap abis.
Ruang tamu? Nggak beda jauh. Yang jauh cuma saklarnya doang, bikin gue harus jalan beberapa langkah. Kalau yang di kamar ini mah nggak jauh sama pintu. Tiga langkah pun jadi. Kalau di ruang tamu, gue bisa lari. Lari ketakutan.
Entah. Entah deh tuh bokap-nyokap gue ngeliat putri
Di kamar, temen gue sih ada dua; nebi sama HP. Asal ngutak-ngatik mereka berdua nih, gue sih nggak masalah sendirian. Bahkan, gue bisa aja lupa kalau gue ini sendirian dan ... kesepian.
Tapi suatu hari, bencana itu terjadi.
Bencanya yang akhirnya menjitak kepala gue yang akhirnya menyadarkan gue akan kesendirian.
Mati lampu.
HP sama Nebi couple-an, sama-sama lowbat.
Jadilah gue diem di kamar dalam gelap. Gue sengaja nggak nyalain lampu emergency karena emang lampu emergency yang gue punya dipake semua. Gue sengaja nggak nyalain lilin karena emang gue nggak punya. Gue sengaja nggak nyalain lampu duduk karena emang gue nggak punya lampu berdiri.
Intinya, gue sengaja. Entah karena perasaan apa, gue merasa tenang dalam kegelapan itu.
Gue menoleh ke kiri dan ke kanan.
Nggak keliatan apa-apa.
*Senam Ya Iya Iya Lah ~*
Abaikan.
Gue sadar, betapa mirisnya gue. Tanpa nebi sama HP, gue cuma bisa diem mematung di kamar. Gue baru sadar sebeginikesepiannya gue. Nggak ada temen yang merupakan tetangga yang bisa diajak main, nggak ada kakak yang bisa diajak curhat, nggak ada adik yang bisa diajak main -gue bungsu, sih, dan masih banyak nggak ada nggak ada lainnya.
Gue kesepian, ya, ternyata?
Gue mikir, mungkin di ruangan ini ada makhluk lain yang sedang ngeliat gue. Kalau itu benar, rasanya, pengen deh, punya kemampuan untuk melihatnya. Siapa tahu gue bisa nyapa dia, terus temenan deh sama dia. Mengingat, nggak ada nggak ada di atas tadi. Tapi, ini gila! Gue nggak sebegitunya juga, kali ._____.
Haha, bahkan waktu kecil dulu, gue berharap punya peri kecil sejenis Tinker Bell. Seenggaknya, gue gak bakal merasa kesepian di rumah. Habisnya, gue merasa, di rumah ini nggak ada orang yang cocok yang bisa mendengar cerita gue, keluh kesah gue, cerita bahagia gue.
Yang bisa mendengarnya hanyalah temen-temen gue.
Makanya, gue sangat menghargai mereka yang ada untuk mendengar cerita gue. Karena menurut gue, cerita ke orang itu perkara yang sulit. Gue sih biasanya mikir 2x, bahkan lebih sebelum gue yakin cerita ke orang. Bagi mereka yang pernah mendengar ceritaku, selamat, kamu adalah orang yang termasuk dalam orang yang gue percayai.
Gue gak yakin, perilaku gue yang menyendiri ini benar. Di sekolah, gue sih fine-fine aja sama temen-temen. Bahkan gue nggak terganggu akan keramaian yang mereka buat. Karena aku, ikut tertawa di dalamnya. Ketika kesepian itu melanda, kupikir, aku hanya perlu mencari obatnya. Bisa juga, berpura-pura tidak berada di dalamnya. Pilihan lain: menikmatinya.
Tapi untuk kupu-kupu sejenisku, yang memiliki sepasang sayap kecil indah namun sebenarnya rapuh, pada akhirnya, pilihan mencari temanlah yang terbaik. Namun jika kamu dapat menahannya sepertiku, Kuakui kamu termasuk orang yang tegar. Jika kamu melarikan diri darinya, aku hanya bisa berharap kamu menemukan jalan baru yang dalam mengembangkan senyum di bibirmu :)
Di dalam kegelapan, aku bertanya.
Dapatkah aku mendapatkan cahaya yang 'kan menerangi?
Baru aku sadari betapa gelapnya hati ini.
Hey, katakan padaku.
Maukah kau menjadi cahaya itu?







