Akhirnya aku punya mood juga buat nulis lagi. Setelah lumayan lama vacuum cleaner di rumah rusak dari dunia tulis-menulis, aku pun kembali pada malam yang kayaknya cerah ini. Cerah gak yah? Ah udahlah, males ngecek ke luar.
CIE IMPACTO. Dari judulnya aja udah keren, 'kan? Eit, jangan salah. Ini bukan salah satu sihir Harry Potter atau jurus dalam dunia anime manapun. Cie impacto aku artikan sebagai "dampak cie". Hah? Dampak cie? Maksudnya apaan tuh? Mau tau? Nyok langsung baca aja lanjutannya tahun depan ~
Suatu hari aku kepikiran, tentang cara pandang setiap manusia, minimal di lingkungan kita, tentang yang namanya cinta. Aku sadar, waktu aku SD dulu, cepat atau lambat aku pasti bakal ketemu sama yang namanya cinta, terus fallin', terus ... aku asumsikan kalau aku jadian, terus ......
Gimana tanggapan ortu sama kakak-kakak aku yak? GLEK.
Mama sih jelas nentang, mama kan pinginnya aku belajar. Abah? Hm, gak pernah sih ngomong heart-to-heart masalah beginian sama aku tapi aku yakin bakal klop sama mama -.- Dan kakak-kakak ku?
THIS IS MY GREATEST FEAR.
Aku ingat, sewaktu aku kecil dulu, aku gak sengaja berduaan sama anak tetangga di belakang rumah. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan! Waktu itu dia nanya sesuatu kepadaku, entah apa itu, yang jelas perlu waktu lama untukku menjawabnya -kuharap tidak ada dari kalian yang berpikir ini sebuah pernyataan cinta. Aku berpikir sejenak, kemudian ...
"CCCCIIIEEEEE.......... LIIAAAA BEDUAAN ~"
Lewat lubang fentilasi, kakakku yang cowok diam-diam memata-matai kami. Aku pun langsung pulang ke rumah dan menangis -maklum, masih kecil. Aku pun menjadi bulan-bulanan oleh kakakku itu. Kuso! Sejak saat itu, aku jadi anti cowok. Anti. Banget.
Menginjak SMP, teman-teman di kelasku ternyata cuma mengandung sedikit kaum adam. Aku pun bersyukur karena setidaknya aku bisa terlepas dari ketakutanku itu. Namun, suatu hari, benih cinta ditabur oleh monyet tak bertanggung jawab. Dan aku tidak sengaja membesarkan salah satunya.
Damn! I'm falling in love!
Cinta. Cinta. Cinta. Pada saat itu satu-satunya hal yang tertera di kepalaku adalah; bagaimana agar tidak terlihat sedang jatuh cinta. Perasaan ini sungguh menggebu, seperti orang yang sedang mendobrak secara paksa sebuah pintu sedang di sisi pintu yang lain aku berusaha menahannya. Jujur, menahan rasa itu menyakitkan, kadang. Atau, lebih tepatnya melelahkan. Jika ada momen lucu, spesial, atau apa pun itu antara aku dan dia, sungguh aku ingin memiliki tempat untukku berbagi; menceritakan kisah malu-malu ini dan menjerit seperti anak cewek kebanyakan. Tapi tidak, mereka yang ingin menjadi tempatmu mencurahkan rasa terdakadang bukan karena mereka peduli, mereka kadang hanya ingin tahu. Dan aku, aku tidak mau di-cie-in anymore. Rasanya memalukan.
Jadilah, susah-senang dalam kisah cinta monyetku kupendam sendiri. Dan baru kusadari sekarang, saat aku telah menginjakkan kaki di SMA, sesungguhnya aku telah terkena CIE IMPACT. Bisa-bisanya aku menganggap kalau "jatuh cinta" itu seperti ... bagaimana aku mengatakannya, ya, ... aib? Ya! Kurang lebih seperti itu. Dan aku yakin, gak cuma aku yang menganggap -secara sadar ataupun tidak- jatuh cinta itu seperti aib; harus disembunyikan, bisa gaswat kalau diketahui semua orang.
Aku tiba-tiba terpikir hal ini tidak lain dan tidak bukan karena pada suatu hari aku teringat kejadian sewaktu aku masih anak putih-biru. Ibu Anikmah, guru biologiku, memberi jeda sebentar pada pelajarannya. Ia pun bertanya kepada kami, murid-muridnya,
"Siapa di sini yang pernah pacaran atau suka dengan lawan jenis?"
Kami pun saling lirik-melirik. Yang sudah pernah pacaran menganggat tanggan dengan malu-malu sambil tengok kanan kiri. Dari tatapan matanya aku bisa menyimpulkan dalam hati temanku itu berkata "Kamfret, dia pernah pacaran tapi nggak mau angkat tangan" -yah kira-kira seperti itu. Who knows?
Sedang aku??? Karena aku waktu itu masih tergolong unpopular girl di kelas -entah mengapa di saat seperti ini sepertinya bagus mengakuinya- aku pun enggan mengangkat tangan -siapa juga yang tahu aku sedang suka sama orang atau nggak. Sumfeh, aku malu banget. Rasanya kayak rahasia yang selama ini kupendam dibongkar di khalayak ramai. Dan rahasia itu kuanggap setara dengan aib! Teman klopku waktu itu, Sita, juga enggan mengangkat tangan. Jadi aku pun semakin percaya diri untuk tidak mengangkat tangan.
Setelah beberapa saat setelah adegan malu-malu mulai memuncak dengan adanya tuduh-menuduh yang-pernah-pacaran-gak-mau-angkat-tangan, ibu Anikmah pun mengambil alih. Dengan senyum khas beliau, aku pun merasa dag-dig-dug mendengar kata-kata apa yang bakal keluar dari bibir beliau.
"Yang angkat tangan berarti NORMAL. Yang nggak angkat tangan perlu dipertanyakan ke-NORMAL-annya."
Mati saja, aku.
Yang tidak angkat tangan pun mengelak dengan, "Nggak ada yang cocok, Bu."
Hahaha. Haha. Ha. Miris. Aku harus ngecek kenormalanku cuma gara-gara menyembunyikan rasa maluku. Harusnya aku angkat tangan! Harusnya!!!
Jadilah, aku merasa tiga huruf biadab yang kadang bisa lebih namun tidak mungkin kurang itu terkutuk banget. CIE dan keluarganya harus dimusnahkan dari dunia ini. Kalau perlu, ada UU yang mengatur setiap orang yang mengatakan "CIE" mendapat hukuman. Kini kusadari, betapa besar CIE IMPACT yang dulu kau serangkan padaku, kakak. Terima kasih, kakak :')
Benar-benar!
Budaya "cie" itu, entah dari mana asalnya, benar-benar menyesatkan. Korban yang telah menerima serangan tiga-huruf-biadab-yang-kadang-lebih-namun-tidak-mungkin-kurang itu pasti menerima rasa malu yang luar binasa. Dan mempermalukan orang lain itu emaknya biadab! Kalian tidak mengerti betapa malu itu bisa mengakibatkan trauma yang mendalam sampai-sampai seseorang harus mengecek kenormalannya.
Kukatakan, ya ...
Menaruh rasa pada seseorang itu hal yang WAJAR. Sumfeh. Meski pun terhadap seseorang yang tak seharusnya kau cintai! #dalem . Kukatakan, ya. Cinta itu satu dari sekian tanda bahwa elu itu NORMAL. Ya, NORMAL dengan Bold, Italic, dan Underline. Kurang apa, coba?
PERASAAN itu ADA untuk DIKELUARKAN
-NAMUN-
Dikeluarkan, dengan CARA yang TEPAT
Nggak ada yang bisa menahan rasa tanpa merasakan rasa sakit. Karena rasa akan terus memaksa, memaksa, dan memaksa, hingga akhirnya kita tergoda dan menyampaikannya kepada seseorang. Perasaan itu ada banyak, nggak cuma cinta! Kalau cinta ditahan karena rasa malu, rasa sakit bisa saja ditahan karena alasan harga diri!
Kukatakan, ya.
Ketika kau bahagia, tersenyumlah, tertawalah.
Ketika kau sedih, menangislah, menjeritlah.
Ketika kau jatuh cinta, ungkapkanlah, berbahagialah atasnya. Karena kau sudah merasakan kenormalanmu sebagai manusia dan terlebih, kau diberi kesempatan oleh Yang Maha Kuasa untuk merasakan berbagai macam rasa selama engkau hidup.
Namun perasaan bukan alasan untuk menyakiti orang lain.
Sudah kukatakan, bukan, perasaan itu memang baiknya dikeluarkan, kalau bisa harus, tetapi dengan cara yang tepat. Sebagai permisalan kamu mencintai pacar sahabatmu sendiri, kau bisa mengungkapkannya dengan membantu pacar sahabatmu itu kalau membutuhkan pertolongan. Berbahagialah atasnya. Berbahagialah atas cara mengungkapkan yang kamu bisa lakukan. Karena bagaimana pun, walau betapa tidak cukupnya itu, masih lebih baik dari pada tidak bisa mengungkapkannya sama sekali.
Percayalah, Tuhan tidak akan kejam kepadamu; memberimu kisah cinta yang begitu tragis. Semua akan baik-baik saja tergantung benar-tidaknya caramu menyikapinya.
Nja~ Kayaknya sekian dulu postinganku kali ini. Perasaan itu, sungguh menakjubkan, bukan? Tuhan, dengan besar kuasa-Nya, mengizinkan kita merasakan berbagai rasa yang menakjubkan itu. Bukankah itu berarti, kita harus bersyukur atas hal yang tak terpikirkan sebelumnya? Bukankah teh tanpa gula itu tidak enak? Apa jadinya kalau kita hidup tanpa perasaan sedikit pun? Hambar? Mungkin lebih ke ... pahit!
cccciiiiieeeeeeee ,,,, ahahahah :P .... ga nyangka ... benar2 lucu loe punya cerita ahahaha :p ... pantesannnnn ... hihihiih ... hmmm hmmm hmmm ... ditunggu cerita2 lcu lainnya ... sumpehh gue mulai ngertii kenapa loe sekrang kayak gini ... ahahahha .... ga kayak foto beberapa taoonn lalu ahahahah ... (y) ... like it
BalasHapus