Cokelat Misterius dari Mr.Misterius
Ehm. Di suatu pagi yang cerah -sebenernya gak cerah-cerah amat sih, mendung juga kagak, eh, lebih tepatnya aku nggak tahu gimana cuaca di luar- ketika aku sedang terburu-buru menyusun buku pelajaranku, aku dikejutkan oleh bungkus yang bergambar kacang mete yang aku kenal banget bungkus apaan itu.Coklat.
Beberapa saat, aku bengong ngeliatin tuh coklat. Punya siapa? Punya temen yang gak sengaja coklatnya masuk ke tasku? Atau ... ada orang yang ngasih? Ah gamungkin-gamungkin-gamungkin. Valentine masih jauh. Terus ini coklat siapa? siapa?
Dalam hati, aku ke-GR-an abis. Jangan-jangan aku punya secret admirer. Jangan-jangan coklat ini emang ditujukan sama aku. Jangan-jangan bentar lagi ada yang nembak aku. Tapi semua jangan-jangan itu hilang saat aku menatap cermin. Nggak, bukannya jelek. Jilbabku gak rapi. Itu aja kok.
Karena masih dihantui dengan jangan-jangan-ini-coklat-temen-yang-gak-sengaja-masuk-ke-tas-ku, sampai di sekolah, aku nggak berani makan tuh coklat. Aku nunggu gugatan
Sampai akhirnya, si Mr.Misterius mengakui kalau dia yang ngasih aku cokelat. Aku kaget, pada awalnya. Tapi semua kekagetan itu berusaha aku simpan dalam-dalam. Tapi ternyata susah, bawaannya pengen senyam-senyum mulu. Bukan karena yang ngasih cowok-cakep-se-antero-SMA *bukan berarti dia cowok jelek seantero SMA , ya --"* Tapi karena detik itu ... aku ... merasa kayak di film-film, cuy.
Pulang ke rumah, rasa senang itu masih lekat di hati. Buktinya, senyumku yang mengembang enggan layu. Rasanya ... We-A-We-We-O-We. Rasanya ... apa ya? Ah, aku gak bisa lukiskan dalam kata-kata. Lucu, mungkin. Haha. Adegan-adegan yang biasanya kamu *iya, kamu. Aku kan udah mupon dari tipi* tonton di tipitipi, yang biasanya bikin kamu iri, yang kemudian kamun mengutuki adegan sinetron itu dengan "Halah, drama banget, sih." "Mana ada cowok yang kayak gitu. Alah, sinetron" Tapi ternyata justru terjadi di hidupmu itu rasanya ............................................ waw.
Usai naruh tas, buru-buru deh aku ambil tuh coklat. Ngambil pita, ikat di coklatnya *haha, iya, pita itu aku yang ngikat, biar lebih drama :D *, terus Twitpic. Jadilah temen-temenku pada heboh semua. Apalagi temen-temen OGAL yang digandrungi @shenoza_ @CinthiA_E_P @shofiayrd @ditasifa_ ditambah makhluk yang aku anggap kakak sendiri @sehaevo . Mereka pada kepo sama identitas Mr.Misterius. Tapi aku gak mau kasih tau karena .................
Jujur, menurutku ini memalukan.
Dulu, aku orangnya open sama orang terdekatku. Aku gak segan-segan cerita masalah tentangku ke orang tersebut. Dia juga gak segan-segan bercerita apa pun tentangnya, keluarganya, padaku. Tapi, karena suatu hal, kami bertengkar. Dan akhirnya, semua rahasia-rahasiaku yang dulu terpaut dengan jari kelingking kami, semuanya terbongkar. Kenapa aku nggak balas bongkar rahasia dia? Karena aku orangnya pelupa. Aku itu tipikal orang yang kepo selangit, kalo udah tau ya puas, tapi lama-kelamaan semua hal itu bakal terlupa olehku. Jadi, aku bisa jamin kerahasiaan yang ingin orang lain simpan padaku. Toh, nantinya aku juga lupa. It is hard to keep something big alone. Sometimes it's good to have someone to share; someone who will help, someone who will keep, someone who will listen.
Dari situ, aku merasa ........... jera.
Peranku berubah. Aku yang dulunya terbuka sekarang tertutup. Tapi aku tetap terbuka sebagai orang yang "dibagi", bukan sebagai orang yang "membagi". Aku senang membantu orang lain memecahkan masalah mereka. Aku senang menjaga setiap rahasia-rahasia mereka -yang padahal bisa aja terlupa. Dan aku sangat senang menjadi orang yang mereka percayai untuk mendengar masalah-masalah mereka. Tapi, emang, ya. Berbicara itu lebih sulit dibanding mendengar. Aku enggan membicarakan hal-hal pribadiku kepada orang dekatku, bahkan OGAL sekali pun. Mungkin karena masih teringat masa lalu. Mungkin juga masa lalu itu menghantuiku sehingga nyaliku ciut untuk berbicara pada orang lain. Tapi, di sisi lain, dengan sangat jujur hati kecilku berharap : Aku ingin memiliki tempat untukku berbagi.
Temen-temen OGALku orangnya baik. Aku nggak bilang kalo mereka nggak bisa dipercaya. Tapi, itu tadi, aku takut. Takut nantinya kami bertengkar. Takut nantinya semua rahasia itu bocor. Takut nantinya rahasia itu dipandang layaknya aib oleh orang lain saat melihatku. Aku takut. Tapi aku ingin.
Jadilah aku mencoba menguatkan diri dengan mencoba berbagai alternatif lain. Mulai dari mencurahkan di diary, jika rasanya ingin menangis aku dengerin lagu yang paling bikin semangat, jika aku teringat aku akan menyibukkan diriku dengan kegiatan lain, tapi perasaan lega yang kudapat setelah melakukan semua hal itu bukan perasaan lega seperti ketika aku membicarakannya pada orang lain.
It's different.
Rasanya berat, bukan, memikul semuanya sendirian?
Hanya jiwa yang cukup tegar yang mampu melakukannya. Namun jiwa yang tegar itu belum mampu bisa menikmatinya. Menurutmu, apakah yang dimaksud dengan janji?
Menurutku, janji adalah pertaruhan hati.
Ya, pertaruhan. Ketika kita berjanji, menurutku, kita sudah mempertaruhkan hati kita. Jika dalam pertaruhan itu kita gagal, akan ada perasaan yang terbuang. Perasaan yang seharusnya lega, justru menjadi suatu ketakutan, atau dendam, atau benci, atau yang lainnya.
Janji juga cermin.
Janji dapat memperihatkan sosok seseorang tergantung berhasil tidaknya ia menjaga janji tersebut.
Janji pun adalah jalan yang terlihat ujungnya.
Janji tidak dapat dilihat bagaimana akhirnya. Apakah akan terbongkar, terlupa, tersimpan.
Tapi ketahuilah, orang yang berjanji, mempertaruhkan kepercayaannya padamu.
Orang yang berjanji mempertaruhkan sudut pandang mereka di matamu. Tentunya gak ada orang yang bodoh yang mau dicap sebagai a liar, 'kan? Jika kamu ingin menautkan jari kelingkingmu pada orang lain, cek dulu orangnya kayak gimana. Ya, kurang lebihnya kayak ngecek keaslian uang. Kalo aku sih, bukan orang yang paling tahu tentangmu, kebiasaanmu, atau apa pun yang berhubungan dengan kamu lainnya yang lainnya yang tepat untuk menjadi teman berbagi, tapi orang yang bisa membuatmu nyaman ketika kamu berbicara padanya. Orang yang cukup keras kepala yang berusaha mematahkan kata-kata "Aku nggak apa-apa, kok." Orang yang cukup humoris yang akan membuatmu tertawa. Dan orang yang tulus yang akan berkata "Aku senang, kamu udah senyum lagi :)"
Identitas Mr.Misterius udah aku kasih tau sama seseorang. Rasanya, sangat lega. Lega yang dulu tidak pernah lagi aku rasakan karena ketakutanku. Karenanya, aku belajar mempercayai seseorang. Aku ingin percaya pada teman-teman dekatku. Aku ingin mempertaruhkan kepercayaan ini pada mereka, karena mereka juga mempertaruhkan kepercayaan ini padaku. Seseorang pernah berkata padaku, kunci sebuah kesuksesan dalam bersahabat adalah :
"Mutual trust"
Jujur gue orangnya nggak suka keramaian. Tau deh tuh kenapa. Sampai-sampai, dulu, waktu gue lagi asyik pacaran sama nebi di kamar (baca: netbook), terus tiba-tiba bokap-nyokap-ponakan tiba-tiba masuk, gue merasa sedikit ........... terusik.
Idih, emang setan kali ya?
Naujubilah.
Sebenarnya mereka nggak ngapa-ngapain. Ponakan gue masuk cuma mau ganggu-ganggu gue aja- biasa lah, anak kecil. Dia loncat-loncat di kasur, terus bokap-nyokap ketawa ngeliat tingkah laku ponakan gue yang kekanak-kanakan -Lha, dia kan masih kecil ?!?!- tapi gue cuma bisa tersenyum sinis sambil mikir;
Apanya yang lucu?
Jadilah kamar gue dipenuhi gelak tawa. Gue sih diem. Dalam hati gue pengen semuanya cepet-cepet keluar. Gue pengen ketenangan. Tapi tenangnya gak usah sampai mati lampu segala. Itu bukan tenang, horor namanya.
Tiba-tiba gue mikir : Gue jahat, ya, sampai bisa mikir kayak gitu?
Mungkin. Mungkin kalo gue bisa merasakan "lucu" yang bokap-nyokap gue rasain ketika melihat tingkah ponakan gue, gue gak bakal merasa terusik. Mungkin gue justru bakal seneng kamar gue jadi ramai. Tapi itu "mungkin", kenyataannya gue gak bisa nangkep apa yang mereka tertawakan.
Gue ... nggak jahat, kan? ._______.
Sekarang gue menyandang predikat baru. Gue bukan lagi anak rumahan. Gue anak "kamar-an". Yo'i, kalo nggak ada yang gue kerjakan, gue bakal diem di kamar. Gue nggak peduli lagi sama dunia luar. Sampai-sampai, gue nggak peduli lagi sama TV. Tadi, di sekolah,
Cinthia : "Au, tadi Novan nyanyi goyang oplosan"
Gue : "Terus?"
Cinthia : "Bener-bener nggak ngerti nih anak. Nggak punya tipi dia di rumah"
Gue cuma cengengesan.
Oke. oke. Gue udah move on dari tv sejak ......... kapan, ya? Mungkin sejak gue masuk SMA. Menurut gue, SMA itu berat. Buktinya gue gak sanggup ngangkat SMA gue. Tuh, kan. Berat.
Back to topic.
Saking beratnya, gue nggakbisa ngangkat ada niatan lagi nonton TV. Tugas kelompok, lah. PR, lah. Ekskul, lah. Les, lah. Bener-bener bikin gue aktif seharian. Belum lagi kalau ada ulangan, bisa sampai malam tuh aktifnya.
Mungkin gara-gara itu semua, gue merasa tenang di kamar ini. Gue merasa nyaman. Padahal kamar ini pernah menjadi list ruang-di-rumah-yang-paling-gue-takutin. Kamar ini meraih posisi kedua setelah ruang tamu. Alasannya? Simple. Gelap.
Awalnya kamar ini nggak ada yang nempatin, sebatas ruang buat sholat gitu. Nah, pas belum ada yang nempatin, gue sering disuruh nyalain lampu luar pas magrib. Pas buka pintu, rasanya pengen dzikir 1000 kali. Gelap abis.
Ruang tamu? Nggak beda jauh. Yang jauh cuma saklarnya doang, bikin gue harus jalan beberapa langkah. Kalau yang di kamar ini mah nggak jauh sama pintu. Tiga langkah pun jadi. Kalau di ruang tamu, gue bisa lari. Lari ketakutan.
Entah. Entah deh tuh bokap-nyokap gue ngeliat putriyang tertukar nya yang suka diem di kamar ini kayak gimana. Mereka nggak ada komentar sih. Atau malah nggak peduli? DEG. Tapi nggak papa, gue nggak minta diperhatiin juga, kok. *pembelaan*
Di kamar, temen gue sih ada dua; nebi sama HP. Asal ngutak-ngatik mereka berdua nih, gue sih nggak masalah sendirian. Bahkan, gue bisa aja lupa kalau gue ini sendirian dan ... kesepian.
Tapi suatu hari, bencana itu terjadi.
Bencanya yang akhirnya menjitak kepala gue yang akhirnya menyadarkan gue akan kesendirian.
Mati lampu.
HP sama Nebi couple-an, sama-sama lowbat.
Jadilah gue diem di kamar dalam gelap. Gue sengaja nggak nyalain lampu emergency karena emang lampu emergency yang gue punya dipake semua. Gue sengaja nggak nyalain lilin karena emang gue nggak punya. Gue sengaja nggak nyalain lampu duduk karena emang gue nggak punya lampu berdiri.
Intinya, gue sengaja. Entah karena perasaan apa, gue merasa tenang dalam kegelapan itu.
Gue menoleh ke kiri dan ke kanan.
Nggak keliatan apa-apa.
*Senam Ya Iya Iya Lah ~*
Abaikan.
Gue sadar, betapa mirisnya gue. Tanpa nebi sama HP, gue cuma bisa diem mematung di kamar. Gue baru sadar sebeginikesepiannya gue. Nggak ada temen yang merupakan tetangga yang bisa diajak main, nggak ada kakak yang bisa diajak curhat, nggak ada adik yang bisa diajak main -gue bungsu, sih, dan masih banyak nggak ada nggak ada lainnya.
Gue kesepian, ya, ternyata?
Gue mikir, mungkin di ruangan ini ada makhluk lain yang sedang ngeliat gue. Kalau itu benar, rasanya, pengen deh, punya kemampuan untuk melihatnya. Siapa tahu gue bisa nyapa dia, terus temenan deh sama dia. Mengingat, nggak ada nggak ada di atas tadi. Tapi, ini gila! Gue nggak sebegitunya juga, kali ._____.
Haha, bahkan waktu kecil dulu, gue berharap punya peri kecil sejenis Tinker Bell. Seenggaknya, gue gak bakal merasa kesepian di rumah. Habisnya, gue merasa, di rumah ini nggak ada orang yang cocok yang bisa mendengar cerita gue, keluh kesah gue, cerita bahagia gue.
Yang bisa mendengarnya hanyalah temen-temen gue.
Makanya, gue sangat menghargai mereka yang ada untuk mendengar cerita gue. Karena menurut gue, cerita ke orang itu perkara yang sulit. Gue sih biasanya mikir 2x, bahkan lebih sebelum gue yakin cerita ke orang. Bagi mereka yang pernah mendengar ceritaku, selamat, kamu adalah orang yang termasuk dalam orang yang gue percayai.
Gue gak yakin, perilaku gue yang menyendiri ini benar. Di sekolah, gue sih fine-fine aja sama temen-temen. Bahkan gue nggak terganggu akan keramaian yang mereka buat. Karena aku, ikut tertawa di dalamnya. Ketika kesepian itu melanda, kupikir, aku hanya perlu mencari obatnya. Bisa juga, berpura-pura tidak berada di dalamnya. Pilihan lain: menikmatinya.
Tapi untuk kupu-kupu sejenisku, yang memiliki sepasang sayap kecil indah namun sebenarnya rapuh, pada akhirnya, pilihan mencari temanlah yang terbaik. Namun jika kamu dapat menahannya sepertiku, Kuakui kamu termasuk orang yang tegar. Jika kamu melarikan diri darinya, aku hanya bisa berharap kamu menemukan jalan baru yang dalam mengembangkan senyum di bibirmu :)
Di dalam kegelapan, aku bertanya.
Dapatkah aku mendapatkan cahaya yang 'kan menerangi?
Baru aku sadari betapa gelapnya hati ini.
Hey, katakan padaku.
Maukah kau menjadi cahaya itu?
Idih, emang setan kali ya?
Naujubilah.
Sebenarnya mereka nggak ngapa-ngapain. Ponakan gue masuk cuma mau ganggu-ganggu gue aja- biasa lah, anak kecil. Dia loncat-loncat di kasur, terus bokap-nyokap ketawa ngeliat tingkah laku ponakan gue yang kekanak-kanakan -Lha, dia kan masih kecil ?!?!- tapi gue cuma bisa tersenyum sinis sambil mikir;
Apanya yang lucu?
Jadilah kamar gue dipenuhi gelak tawa. Gue sih diem. Dalam hati gue pengen semuanya cepet-cepet keluar. Gue pengen ketenangan. Tapi tenangnya gak usah sampai mati lampu segala. Itu bukan tenang, horor namanya.
Tiba-tiba gue mikir : Gue jahat, ya, sampai bisa mikir kayak gitu?
Mungkin. Mungkin kalo gue bisa merasakan "lucu" yang bokap-nyokap gue rasain ketika melihat tingkah ponakan gue, gue gak bakal merasa terusik. Mungkin gue justru bakal seneng kamar gue jadi ramai. Tapi itu "mungkin", kenyataannya gue gak bisa nangkep apa yang mereka tertawakan.
Gue ... nggak jahat, kan? ._______.
Sekarang gue menyandang predikat baru. Gue bukan lagi anak rumahan. Gue anak "kamar-an". Yo'i, kalo nggak ada yang gue kerjakan, gue bakal diem di kamar. Gue nggak peduli lagi sama dunia luar. Sampai-sampai, gue nggak peduli lagi sama TV. Tadi, di sekolah,
Cinthia : "Au, tadi Novan nyanyi goyang oplosan"
Gue : "Terus?"
Cinthia : "Bener-bener nggak ngerti nih anak. Nggak punya tipi dia di rumah"
Gue cuma cengengesan.
Oke. oke. Gue udah move on dari tv sejak ......... kapan, ya? Mungkin sejak gue masuk SMA. Menurut gue, SMA itu berat. Buktinya gue gak sanggup ngangkat SMA gue. Tuh, kan. Berat.
Back to topic.
Saking beratnya, gue nggak
Mungkin gara-gara itu semua, gue merasa tenang di kamar ini. Gue merasa nyaman. Padahal kamar ini pernah menjadi list ruang-di-rumah-yang-paling-gue-takutin. Kamar ini meraih posisi kedua setelah ruang tamu. Alasannya? Simple. Gelap.
Awalnya kamar ini nggak ada yang nempatin, sebatas ruang buat sholat gitu. Nah, pas belum ada yang nempatin, gue sering disuruh nyalain lampu luar pas magrib. Pas buka pintu, rasanya pengen dzikir 1000 kali. Gelap abis.
Ruang tamu? Nggak beda jauh. Yang jauh cuma saklarnya doang, bikin gue harus jalan beberapa langkah. Kalau yang di kamar ini mah nggak jauh sama pintu. Tiga langkah pun jadi. Kalau di ruang tamu, gue bisa lari. Lari ketakutan.
Entah. Entah deh tuh bokap-nyokap gue ngeliat putri
Di kamar, temen gue sih ada dua; nebi sama HP. Asal ngutak-ngatik mereka berdua nih, gue sih nggak masalah sendirian. Bahkan, gue bisa aja lupa kalau gue ini sendirian dan ... kesepian.
Tapi suatu hari, bencana itu terjadi.
Bencanya yang akhirnya menjitak kepala gue yang akhirnya menyadarkan gue akan kesendirian.
Mati lampu.
HP sama Nebi couple-an, sama-sama lowbat.
Jadilah gue diem di kamar dalam gelap. Gue sengaja nggak nyalain lampu emergency karena emang lampu emergency yang gue punya dipake semua. Gue sengaja nggak nyalain lilin karena emang gue nggak punya. Gue sengaja nggak nyalain lampu duduk karena emang gue nggak punya lampu berdiri.
Intinya, gue sengaja. Entah karena perasaan apa, gue merasa tenang dalam kegelapan itu.
Gue menoleh ke kiri dan ke kanan.
Nggak keliatan apa-apa.
*Senam Ya Iya Iya Lah ~*
Abaikan.
Gue sadar, betapa mirisnya gue. Tanpa nebi sama HP, gue cuma bisa diem mematung di kamar. Gue baru sadar sebeginikesepiannya gue. Nggak ada temen yang merupakan tetangga yang bisa diajak main, nggak ada kakak yang bisa diajak curhat, nggak ada adik yang bisa diajak main -gue bungsu, sih, dan masih banyak nggak ada nggak ada lainnya.
Gue kesepian, ya, ternyata?
Gue mikir, mungkin di ruangan ini ada makhluk lain yang sedang ngeliat gue. Kalau itu benar, rasanya, pengen deh, punya kemampuan untuk melihatnya. Siapa tahu gue bisa nyapa dia, terus temenan deh sama dia. Mengingat, nggak ada nggak ada di atas tadi. Tapi, ini gila! Gue nggak sebegitunya juga, kali ._____.
Haha, bahkan waktu kecil dulu, gue berharap punya peri kecil sejenis Tinker Bell. Seenggaknya, gue gak bakal merasa kesepian di rumah. Habisnya, gue merasa, di rumah ini nggak ada orang yang cocok yang bisa mendengar cerita gue, keluh kesah gue, cerita bahagia gue.
Yang bisa mendengarnya hanyalah temen-temen gue.
Makanya, gue sangat menghargai mereka yang ada untuk mendengar cerita gue. Karena menurut gue, cerita ke orang itu perkara yang sulit. Gue sih biasanya mikir 2x, bahkan lebih sebelum gue yakin cerita ke orang. Bagi mereka yang pernah mendengar ceritaku, selamat, kamu adalah orang yang termasuk dalam orang yang gue percayai.
Gue gak yakin, perilaku gue yang menyendiri ini benar. Di sekolah, gue sih fine-fine aja sama temen-temen. Bahkan gue nggak terganggu akan keramaian yang mereka buat. Karena aku, ikut tertawa di dalamnya. Ketika kesepian itu melanda, kupikir, aku hanya perlu mencari obatnya. Bisa juga, berpura-pura tidak berada di dalamnya. Pilihan lain: menikmatinya.
Tapi untuk kupu-kupu sejenisku, yang memiliki sepasang sayap kecil indah namun sebenarnya rapuh, pada akhirnya, pilihan mencari temanlah yang terbaik. Namun jika kamu dapat menahannya sepertiku, Kuakui kamu termasuk orang yang tegar. Jika kamu melarikan diri darinya, aku hanya bisa berharap kamu menemukan jalan baru yang dalam mengembangkan senyum di bibirmu :)
Di dalam kegelapan, aku bertanya.
Dapatkah aku mendapatkan cahaya yang 'kan menerangi?
Baru aku sadari betapa gelapnya hati ini.
Hey, katakan padaku.
Maukah kau menjadi cahaya itu?
Jika hidup bagaikan sebuah handphone, maka pulsa dapat dianalogikan sebagai batasan dapat digunakan-tidaknya handphone tersebut untuk sms atau telepon. Pulsa yang hanya diberikan sekali seumur hidup. Pulsa yang tidak dapat dicek nominalnya. Pulsa yang misterius. Pulsa yang kadang membuat hati bertanya-tanya "Jika aku menelpon seseorang sekarang, cukup tidak, ya?"
Tentu, selama kita memiliki handphone tersebut, tidak semuanya kita gunakan hanya untuk menelpon/sms semata. Kita dapat mengambil foto, mendengarkan lagu, merekam video maupun audio, tergantung tipe dan merk handphone yang kita punya. Seperti merk handphone A yang speakernya keras tapi kameranya hanya 3.2 megapixel tetapi merk B speakernya kecil namun kameranya 5 megapixel. Selalu ada kekurangan, kelebihan, mau pun kebalikan.
Ya, selama kita memiliki handphone, kita bisa menggunakannya untuk hal lain juga. Kadang kita memakainya karena memang membutuhkannya. Namun kadang kita juga memakainya tanpa alasan jelas. Sekedar menekan tombol "unlock" menatap layarnya sebentar, kemudian me-lock-nya kembali.
Kadang, aku sering menatap handphoneku tanpa alasan. Kadang aku membandingkannya dengan tipe yang lebih tinggi, kemudian aku melihat betapa kurangnya ponselku. Kemudian aku membandingkannya dengan tipe yang lebih rendah, kemudian aku melihat betapa lebihnya ponselku. Tapi akhirnya aku tak ingin membandingkannya dengan tipe manapun karena ponselku adalah ponselku. Aku dapat membuatnya lebih baik, aku dapat pula membuatnya menjadi buruk. Tak pandang tipe, yang penting isi. Tipe yang tinggi berperan besar sebagai faktor pendukung, namun jika dipakai hanya untuk smsan/telponan semata, apa artinya?
Sampai sekarang, aku masih bertanya-tanya pada diriku, "Berapa banyak pulsa yang kupunya?"
Aku ingin menggunakannya dengan baik, aku tak ingin membuang-buangnya, namun bagaimana aku memperhitungkannya jika aku sendiri tak tahu nominalnya? Ingin sekali aku menganggarkan pulsa tersebut dalam kebutuhan yang aku miliki. Kebutuhan komunikasi sms, telpon, sampai internet, semuanya. Tapi aku dihantui rasa takut. Takut pulsaku habis tanpa kugunakan untuk hal yang benar-benar penting. Takut pulsaku habis hanya gara-gara melakukan hal yang tak penting.
Ya, kira-kira seperti itulah hidup.
Kadang aku berangan-angan, lulus SMA aku akan masuk perguruan tinggi. Mencari program beasiswa untuk kuliah abroad. Membayangkan jika aku benar-benar dapat mewujudkannya. Membayangkan hidupku yang nantinya akan sendiri dan mandiri. Membayangkan aku dapat sukses kuliah sukses pula bekerja. Membayangkan aku pulang ke kampung halaman dan dengan jerih payah itu aku akan mengantarkan orang tuaku ke Tanah Suci Mekah. Aku menjadi bersemangat, dan ... takut.
Bagaimana jika hidupku berakhir sebelum aku bisa mewujudkannya?
Bagaimana jika kuliahku tidak sesuai dengan yang kuimpikan?
Bagaimana jika pekerjaanku tidak berjalan mulus?
Dan masih banyak bagaimana-bagaimana lainnya.
Apa itu artinya aku telah sia-sia membeli "handphone"?
Tujuan hidup utamaku sebagai seorang anak adalah membahagiakan kedua orang tuaku. Itu yang aku yakini hingga sekarang dan aku ingin terus meyakininya. Diperjalanan meraih keinginan itu, aku dapat sambil memenuhi keinginan pribadi hidupku misalnya kuliah di universitas terkenal ataupun menginjakkan kakiku di luar negeri. Aku hanya bisa berharap, berdoa agar aku dapat mewujudkannya. Sekesal apa pun terkadang aku dengan orang tuaku, pada akhirnya orang tua kita adalah orang tua kita. Adalah orang yang melahirkan kita dan menyayangi kita. Tak peduli luka kata atau luka hati yang pernah tergores di diri kita karena mereka. Aku yakin, di lubuk hati mereka, mereka menyayangi kita sepenuh hati. Jika kau ragu, anggap saja perasaan mereka tersembunyi. Well, sekarang tugasmu untuk membuat mereka memperlihatkan betapa sayangnya mereka kepadamu. Jadi, masih ada alasan untuk tidak membahagiakan mereka?
Kepada ayah dan ibu yang telah melahirkanku.
Kepada ayah dan ibu yang telah membesarkanku.
Kepada ayah dan ibu yang selalu menyayangiku.
Aku tidak tahu kapan waktu di mana kita masih dapat berkumpul berakhir. Namun aku akan berusaha membahagiakan kalian sebelum waktu tersebut tiba. Maafkan sikapku yang mengisolasi diri dari keramaian. Itu semua karena aku merasa nyaman berada di dalamnya. Maafkan tak bercerita masalahku pada kalian. Itu semua karena aku lebih merasa nyaman memendamnya, sebesar-besar mengungkapkannya hanyalah pada teman yang benar-benar kupercaya.
Kepada ayah dan ibu,
Aku menyayangimu.
"Tak seorangpun ingin menyianyiakan hidupnya di dunia ini. Di dunia ini terlalu banyak jalan. Kita bisa saja mengambil jalan yang salah. Jika kita terlanjur mengambilnya, beritahu orang lain agar tidak mengambil jalan tersebut. Maka hidupmu takkan sia-sia. Karena itu artinya kamu telah menyelamatkan orang lain dari jalan yang salah."
Tentu, selama kita memiliki handphone tersebut, tidak semuanya kita gunakan hanya untuk menelpon/sms semata. Kita dapat mengambil foto, mendengarkan lagu, merekam video maupun audio, tergantung tipe dan merk handphone yang kita punya. Seperti merk handphone A yang speakernya keras tapi kameranya hanya 3.2 megapixel tetapi merk B speakernya kecil namun kameranya 5 megapixel. Selalu ada kekurangan, kelebihan, mau pun kebalikan.
Ya, selama kita memiliki handphone, kita bisa menggunakannya untuk hal lain juga. Kadang kita memakainya karena memang membutuhkannya. Namun kadang kita juga memakainya tanpa alasan jelas. Sekedar menekan tombol "unlock" menatap layarnya sebentar, kemudian me-lock-nya kembali.
Kadang, aku sering menatap handphoneku tanpa alasan. Kadang aku membandingkannya dengan tipe yang lebih tinggi, kemudian aku melihat betapa kurangnya ponselku. Kemudian aku membandingkannya dengan tipe yang lebih rendah, kemudian aku melihat betapa lebihnya ponselku. Tapi akhirnya aku tak ingin membandingkannya dengan tipe manapun karena ponselku adalah ponselku. Aku dapat membuatnya lebih baik, aku dapat pula membuatnya menjadi buruk. Tak pandang tipe, yang penting isi. Tipe yang tinggi berperan besar sebagai faktor pendukung, namun jika dipakai hanya untuk smsan/telponan semata, apa artinya?
Sampai sekarang, aku masih bertanya-tanya pada diriku, "Berapa banyak pulsa yang kupunya?"
Aku ingin menggunakannya dengan baik, aku tak ingin membuang-buangnya, namun bagaimana aku memperhitungkannya jika aku sendiri tak tahu nominalnya? Ingin sekali aku menganggarkan pulsa tersebut dalam kebutuhan yang aku miliki. Kebutuhan komunikasi sms, telpon, sampai internet, semuanya. Tapi aku dihantui rasa takut. Takut pulsaku habis tanpa kugunakan untuk hal yang benar-benar penting. Takut pulsaku habis hanya gara-gara melakukan hal yang tak penting.
Ya, kira-kira seperti itulah hidup.
Kadang aku berangan-angan, lulus SMA aku akan masuk perguruan tinggi. Mencari program beasiswa untuk kuliah abroad. Membayangkan jika aku benar-benar dapat mewujudkannya. Membayangkan hidupku yang nantinya akan sendiri dan mandiri. Membayangkan aku dapat sukses kuliah sukses pula bekerja. Membayangkan aku pulang ke kampung halaman dan dengan jerih payah itu aku akan mengantarkan orang tuaku ke Tanah Suci Mekah. Aku menjadi bersemangat, dan ... takut.
Bagaimana jika hidupku berakhir sebelum aku bisa mewujudkannya?
Bagaimana jika kuliahku tidak sesuai dengan yang kuimpikan?
Bagaimana jika pekerjaanku tidak berjalan mulus?
Dan masih banyak bagaimana-bagaimana lainnya.
Apa itu artinya aku telah sia-sia membeli "handphone"?
Tujuan hidup utamaku sebagai seorang anak adalah membahagiakan kedua orang tuaku. Itu yang aku yakini hingga sekarang dan aku ingin terus meyakininya. Diperjalanan meraih keinginan itu, aku dapat sambil memenuhi keinginan pribadi hidupku misalnya kuliah di universitas terkenal ataupun menginjakkan kakiku di luar negeri. Aku hanya bisa berharap, berdoa agar aku dapat mewujudkannya. Sekesal apa pun terkadang aku dengan orang tuaku, pada akhirnya orang tua kita adalah orang tua kita. Adalah orang yang melahirkan kita dan menyayangi kita. Tak peduli luka kata atau luka hati yang pernah tergores di diri kita karena mereka. Aku yakin, di lubuk hati mereka, mereka menyayangi kita sepenuh hati. Jika kau ragu, anggap saja perasaan mereka tersembunyi. Well, sekarang tugasmu untuk membuat mereka memperlihatkan betapa sayangnya mereka kepadamu. Jadi, masih ada alasan untuk tidak membahagiakan mereka?
Kepada ayah dan ibu yang telah melahirkanku.
Kepada ayah dan ibu yang telah membesarkanku.
Kepada ayah dan ibu yang selalu menyayangiku.
Aku tidak tahu kapan waktu di mana kita masih dapat berkumpul berakhir. Namun aku akan berusaha membahagiakan kalian sebelum waktu tersebut tiba. Maafkan sikapku yang mengisolasi diri dari keramaian. Itu semua karena aku merasa nyaman berada di dalamnya. Maafkan tak bercerita masalahku pada kalian. Itu semua karena aku lebih merasa nyaman memendamnya, sebesar-besar mengungkapkannya hanyalah pada teman yang benar-benar kupercaya.
Kepada ayah dan ibu,
Aku menyayangimu.
"Tak seorangpun ingin menyianyiakan hidupnya di dunia ini. Di dunia ini terlalu banyak jalan. Kita bisa saja mengambil jalan yang salah. Jika kita terlanjur mengambilnya, beritahu orang lain agar tidak mengambil jalan tersebut. Maka hidupmu takkan sia-sia. Karena itu artinya kamu telah menyelamatkan orang lain dari jalan yang salah."
Pada dasarnya manusia itu serupa tapi tak sama. Manusia dilahirkan ke dunia dengan berbagai cerita; mengharukan, menyedihkan, menegangkan, dan manusia pun hidup di dunia dengan berbagai kisah pula. Manusia, jika dikaitkan dalam biologi, adalah kesatuan sistem organ yang berfungsi menurut fungsinya masing-masing sehingga terciptalah individu. Ya, individu.
Manusia adalah individu yang unik. Pada dasarnya mereka lemah, tapi mereka peduli terhadap sesama. Mereka tidak memiliki cakar elang maupun rauman singa, namun hal yang tak dapat dilihat seperti akal membuatnya menjadi makhluk hidup yang berada di tingkat atas dibanding hewan dan tumbuhan. Manusia memiliki perasaan, yang dapat mereka ekspressikan dengan 3 cara; langsung, tak langsung, dipendam. Hal itu semakin membuat manusia makhluk yang menarik. Mereka dapat tertawa dengan ramainya di sebuah perkumpulan namun dapat juga terpecah belah karena hal kecil.
Manusia adalah makhluk sosial. Mereka memerlukan satu sama lain dalam menjalankan kehidupannya. Mereka membutuhkan orang lain dan menentukan posisinya di matanya; entah sebagai teman belaka, sahabat sejati, rekan kerja, kekasih, dll. Ngomong-ngomong, temanmu ada berapa?
Aku? Jawabanku tidak tahu. Bukan, bukan karena sangking banyaknya aku memiliki teman, bukan juga karena tidak memiliki sama sekali. Aku hanya ... tidak bisa menentukan dengan pasti posisi mereka di mataku. Sejak kapan, ya ... Mungkin tahun keduaku di SMP, Aku tidak terlalu tertarik lagi dengan pencarian teman. Karena beberapa alasan tertentu, aku memilih ikut GNB (Gerakan Non-Blok). Pergaulan di kelasku kebanyakan membuat blok-blok atau yang biasa kalian sebut 'gang'. Biar kuberi sedikit gambaran, dulu aku pernah musuhan sama teman-teman dikelas. Yah, musuhannya ini simplenya seperti ini:
1) Aku mulai bersikap menyebalkan di kelas
2) Mereka mulai tidak menyukaiku
3) Aku dimusuhi dengan tujuan agar aku menyadari kesalahanku
Yah, namanya manusia. Melihat punggungnya aja nggak bisa tanpa bantuan cermin apalagi melihat kesalahan dirinya yang tak terlihat itu. Aku pun menjalani hariku secara pasif.
Usai kami baikan, aku masih belum tenang atau tepatnya merasa belum ada yang berubah dari diriku. Aku hanya berusaha sebisa mungkin menjadi apa yang dapat diterima mereka agar dapat menjadi bagian dari mereka. Kadang, ketika mereka bersenang-senang, aku hanya bisa tertawa dengan tawa palsu. Sungguh, aku tidak dapat masuk ke dunia mereka lagi. Dari situ, aku mulai menyadari, duniaku berbeda dengan mereka. Jika kami sedang melangkah di tangga, mereka melangkah dengan jarak yang jauh denganku. Sampai-sampai walau mereka menghadap ke belakang, mereka takkan melihat batang hidungku. Sementara aku, aku adalah orang-yang-tertinggal, yang ingin maju dan melangkah bersama mereka. Di saat aku menyadari betapa tertinggalnya aku, aku menyadari bahwa diriku ... kesepian.
Dan perasaan itu membuatku takut menjalani hubungan pertemanan yang terlalu berlebih sampai ke SMA. Di mataku, teman adalah seseorang yang kau kenal, dimana kau bisa bermain bersamanya, bercanda, ataupun bertengkar, namun hanya bersifat sementara karena mereka bisa datang, bisa pergi.
Sulit bagiku untuk berharap "teman yang selalu ada untukku" karena pada dasarnya aku tidak bisa menjadi "teman yang selalu ada untuk mereka". Bukankah di sekolah kita sudah diajarkan untuk menghargai orang lain jika ingin dihargai?
Permasalahan hidup datang silih berganti. Semakin pahit makanan yang kau makan, jika dapat melaluinya, lidahmu akan terlatih agar tahan pada makanan pahit. Yah, kira-kira seperti itu. Semua permasalahan itu membuatku yakin pada sebuah keyakinan; lebih baik sendiri daripada berdua tetapi tidak abadi. Masalah-masalah yang menimpaku selalu kupendam, dan sebesar-besarnya aku dapat meluapkan, paling-paling hanyalah sikap jutekku di rumah karena stres.
Tapi, teman ...
Hidup sendiri dan kesepian tidaklah membuatmu menjadi orang yang 'cool'. Bagaimana pun juga, hal itu menyakitkan. Namun karena sakit, kita menjadi kuat. Namun kekuatan itu tidak berguna jika pada akhirnya, hati kita hanya akan hancur berkeping-keping. Jika kamu merasa sepi, sadarlah, berarti kamu membutuhkan orang lain.
Tadi siang, aku bertanya kepada seniorku;
Aau-chan : "Apa yang sebaiknya kita lakukan kalau kita ... kesepian?"
Senior : "Ahahahaha .... cari temen ... gitu aja kok repot :b hihihi ..."
Aau-chan : "Itu ... maksudnya, kegiatan yang dilakukan secara individu tapi nggak bikin kesepian"
Senior : ":) Ga ada ... Ahahaha ... Ngebohongin diri sendiri itu cuma berlaku di beberapa situasi. Sebenernya kesibukan apa pun bisa bikin kita lupa kalo kita lagi sendiri. Tapi, kalo udah tiba waktu kejenuhannya di puncak, cuma orang lain yang bisa bantu keluar :) itu sebabnya manusia gak bisa sendirian"
Aku merasa tertampar dengan jawaban Senior itu. Bagaimana pun gajenya dia balas smsku (Lihat saja dia ketawa "ahahaha" mulu), tapi dia berbakat dalam bidang beginian. Mungkin, orang kesepian itu (terlebih orang sepertiku) lebih menyukai sosok bijak yang dapat membangun semangat mereka. Ya, kita membutuhkan orang lain. Seberapapun tangguhnya kita berdiri di atas kayu yang rapuh.
Sayangnya, kebanyakan manusia itu bawel.
1) Mereka menginginkan orang yang dapat mengerti mereka,
2) Mereka menginginkan orang yang peka terhadap perasaan mereka sekalipun tidak dikatakan,
3) Mereka menginginkan orang yang dapat membuatnya bahagia,
PADAHAL,
Mereka sendiri tidak dapat melakukan ketiga hal utama di atas kepada orang lain.
"Jika kamu haus, minumlah air dengan menutup matamu. Jika pahit, langsung kau buang. Tak perlu kau pedulikan warna dan rasa."
Ya, jika kita membutuhkan teman, janganlah mencari teman dengan kriteria ini itu. Terimalah mereka apa adanya. Jika teman itu hanya semakin memperparah keadaanmu, atau membimbingmu ke jalan yang salah, berarti dia bukanlah teman yang kau butuhkan. Jangan pedulikan kekurangannya, hargai keberadaanya untukmu.
- Thank a million for B-senpai
Manusia adalah individu yang unik. Pada dasarnya mereka lemah, tapi mereka peduli terhadap sesama. Mereka tidak memiliki cakar elang maupun rauman singa, namun hal yang tak dapat dilihat seperti akal membuatnya menjadi makhluk hidup yang berada di tingkat atas dibanding hewan dan tumbuhan. Manusia memiliki perasaan, yang dapat mereka ekspressikan dengan 3 cara; langsung, tak langsung, dipendam. Hal itu semakin membuat manusia makhluk yang menarik. Mereka dapat tertawa dengan ramainya di sebuah perkumpulan namun dapat juga terpecah belah karena hal kecil.
Manusia adalah makhluk sosial. Mereka memerlukan satu sama lain dalam menjalankan kehidupannya. Mereka membutuhkan orang lain dan menentukan posisinya di matanya; entah sebagai teman belaka, sahabat sejati, rekan kerja, kekasih, dll. Ngomong-ngomong, temanmu ada berapa?
Aku? Jawabanku tidak tahu. Bukan, bukan karena sangking banyaknya aku memiliki teman, bukan juga karena tidak memiliki sama sekali. Aku hanya ... tidak bisa menentukan dengan pasti posisi mereka di mataku. Sejak kapan, ya ... Mungkin tahun keduaku di SMP, Aku tidak terlalu tertarik lagi dengan pencarian teman. Karena beberapa alasan tertentu, aku memilih ikut GNB (Gerakan Non-Blok). Pergaulan di kelasku kebanyakan membuat blok-blok atau yang biasa kalian sebut 'gang'. Biar kuberi sedikit gambaran, dulu aku pernah musuhan sama teman-teman dikelas. Yah, musuhannya ini simplenya seperti ini:
1) Aku mulai bersikap menyebalkan di kelas
2) Mereka mulai tidak menyukaiku
3) Aku dimusuhi dengan tujuan agar aku menyadari kesalahanku
Yah, namanya manusia. Melihat punggungnya aja nggak bisa tanpa bantuan cermin apalagi melihat kesalahan dirinya yang tak terlihat itu. Aku pun menjalani hariku secara pasif.
Usai kami baikan, aku masih belum tenang atau tepatnya merasa belum ada yang berubah dari diriku. Aku hanya berusaha sebisa mungkin menjadi apa yang dapat diterima mereka agar dapat menjadi bagian dari mereka. Kadang, ketika mereka bersenang-senang, aku hanya bisa tertawa dengan tawa palsu. Sungguh, aku tidak dapat masuk ke dunia mereka lagi. Dari situ, aku mulai menyadari, duniaku berbeda dengan mereka. Jika kami sedang melangkah di tangga, mereka melangkah dengan jarak yang jauh denganku. Sampai-sampai walau mereka menghadap ke belakang, mereka takkan melihat batang hidungku. Sementara aku, aku adalah orang-yang-tertinggal, yang ingin maju dan melangkah bersama mereka. Di saat aku menyadari betapa tertinggalnya aku, aku menyadari bahwa diriku ... kesepian.
Dan perasaan itu membuatku takut menjalani hubungan pertemanan yang terlalu berlebih sampai ke SMA. Di mataku, teman adalah seseorang yang kau kenal, dimana kau bisa bermain bersamanya, bercanda, ataupun bertengkar, namun hanya bersifat sementara karena mereka bisa datang, bisa pergi.
Sulit bagiku untuk berharap "teman yang selalu ada untukku" karena pada dasarnya aku tidak bisa menjadi "teman yang selalu ada untuk mereka". Bukankah di sekolah kita sudah diajarkan untuk menghargai orang lain jika ingin dihargai?
Permasalahan hidup datang silih berganti. Semakin pahit makanan yang kau makan, jika dapat melaluinya, lidahmu akan terlatih agar tahan pada makanan pahit. Yah, kira-kira seperti itu. Semua permasalahan itu membuatku yakin pada sebuah keyakinan; lebih baik sendiri daripada berdua tetapi tidak abadi. Masalah-masalah yang menimpaku selalu kupendam, dan sebesar-besarnya aku dapat meluapkan, paling-paling hanyalah sikap jutekku di rumah karena stres.
Tapi, teman ...
Hidup sendiri dan kesepian tidaklah membuatmu menjadi orang yang 'cool'. Bagaimana pun juga, hal itu menyakitkan. Namun karena sakit, kita menjadi kuat. Namun kekuatan itu tidak berguna jika pada akhirnya, hati kita hanya akan hancur berkeping-keping. Jika kamu merasa sepi, sadarlah, berarti kamu membutuhkan orang lain.
Tadi siang, aku bertanya kepada seniorku;
Aau-chan : "Apa yang sebaiknya kita lakukan kalau kita ... kesepian?"
Senior : "Ahahahaha .... cari temen ... gitu aja kok repot :b hihihi ..."
Aau-chan : "Itu ... maksudnya, kegiatan yang dilakukan secara individu tapi nggak bikin kesepian"
Senior : ":) Ga ada ... Ahahaha ... Ngebohongin diri sendiri itu cuma berlaku di beberapa situasi. Sebenernya kesibukan apa pun bisa bikin kita lupa kalo kita lagi sendiri. Tapi, kalo udah tiba waktu kejenuhannya di puncak, cuma orang lain yang bisa bantu keluar :) itu sebabnya manusia gak bisa sendirian"
Aku merasa tertampar dengan jawaban Senior itu. Bagaimana pun gajenya dia balas smsku (Lihat saja dia ketawa "ahahaha" mulu), tapi dia berbakat dalam bidang beginian. Mungkin, orang kesepian itu (terlebih orang sepertiku) lebih menyukai sosok bijak yang dapat membangun semangat mereka. Ya, kita membutuhkan orang lain. Seberapapun tangguhnya kita berdiri di atas kayu yang rapuh.
Sayangnya, kebanyakan manusia itu bawel.
1) Mereka menginginkan orang yang dapat mengerti mereka,
2) Mereka menginginkan orang yang peka terhadap perasaan mereka sekalipun tidak dikatakan,
3) Mereka menginginkan orang yang dapat membuatnya bahagia,
PADAHAL,
Mereka sendiri tidak dapat melakukan ketiga hal utama di atas kepada orang lain.
"Jika kamu haus, minumlah air dengan menutup matamu. Jika pahit, langsung kau buang. Tak perlu kau pedulikan warna dan rasa."
Ya, jika kita membutuhkan teman, janganlah mencari teman dengan kriteria ini itu. Terimalah mereka apa adanya. Jika teman itu hanya semakin memperparah keadaanmu, atau membimbingmu ke jalan yang salah, berarti dia bukanlah teman yang kau butuhkan. Jangan pedulikan kekurangannya, hargai keberadaanya untukmu.
- Thank a million for B-senpai
Setelah sekian lama menghilang akhirnya aku kembali. Semua tidak lain dan tidak bukan karena keyboard netbookku yang rusak ._. Well, well, langsung aja ke topik ya?
Tepatnya Senin lalu, Aku mendapat pemikiran aneh yang, yah, kepikiran mulu. Tapi oke juga dipermasalahkan. Bingung? Haha, oke, aku ceritakan dulu apa yang terjadi.
JENG! JENG!
Aku sudah menjadi kakak kelas ~ Senangnya ~ #norak
Dengan predikat anak XI IPA 3, aku merasa kece banget masuk sekolah Senin itu. Tak ada yang spesial pada pagi hari, cuma ... rasanya ... kece aja. Pelajaran diawali dengan pelajaran biologi, dilanjutkan dengan matematika. Sumpah, aku heran kenapa aku selalu ketemu sama yang namanya matik di hari senin. Tradisi kali, yee ....
Kemudian, ada pengunguman bahwa besok akan diadakan lomba 17 Agustusan. Lombanya banyak, mulai makan kerupuk sampai makan kelereng :|
Lombanya macam-macam;
*Sepetak bersama,
*Kelereng,
*Tarik tambang,
*Pukul balon,
*Makan kerupuk,
*Paku botol,
*Jepit balon, dan
*Kaki bersama.
Kayaknya nggak perlu kujelasin ya itu permainannya kayak apa. Kita kan nggak bahas tentang itu ... #ngeles
Namanya juga kelas baru, jadi kelas masih belum kompak saat merundingkan perwakilan kelas yang akan mengikuti lomba-lomba di atas. Aku, yang kecil-pendek-hidup-lagi ini, pengen ikutan tarik tambang. Tapi, cowo-cowo di kelas pada protes, "Bah! Kalah pasti kelas kita". Dan akhirnya semua cowo dikelas dipilih menjadi perwakilan dalam tarik tambang. Memang, jumlah cowo di kelasku terbilang sedikit. Aku merasa ter-diskriminasi. Pada akhirnya, aku ditunjuk dalam lomba sepetak bersama karena faktor badan. #jleb
Pernah gak sih kalian merasa dibedakan? Dibedakan karena kekurangan atau kelemahan kalian, dianggap remeh, dipandang rendah, kurasa semua orang pasti pernah mengalaminya. So pasti cause nobody's perfect, right? Lantas? Apa yang kalian lakukan jika merasa terdiskriminasi? Marah? Pada siapa? Pada orang yang men-diskriminasimu? Tapi bukankah itu benar adanya, bahwasanya kamu memang tidak mampu jika melakukan itu? Pada Tuhan yang menciptakanmu? Jangan bercanda. Harusnya kekurangan dan kelemahan itu bukanlah hal yang sepantasnya kamu rengekkan pada Tuhan. Melalui kelebihanmu, kamu harusnya bisa menutupinya.
Jadi, apa?
Di sini topik yang ingin aku angkat. Mengerti-dimengerti.
Jelas, ter-diskriminasi itu rasanya tidaklah enak. Rasanya kayak diinjek-injeksemut harga diri kita. Tapi di sinilah harusnya kita mengerti, bahwasanya, ini untuk kebaikan bersama, kebaikan kelas, supaya tim tarik tambang punya peluang untuk menang dengan orang-orang yang dirasa kuat untuk tarik tambang. Kau boleh marah karena ter-disriminasi, tapi kau tidak seharusnya memaksa untuk tetap mengikutinya. Karena itu hanya akan membuat kita terlihat egois, right?
Cara mereka salah, mereka agak kasar dengan mengatakan itu. Tapi aku mengerti mereka, mereka ingin menang.
"Bukan mereka yang harusnya mengerti kita, kita yang harusnya mengerti mereka. Karena jika kita mengerti mereka, mereka akan mengerti kita. Sama halnya jika kita menghargai orang lain."
Keesokan harinya, aku dan teman-teman setim mengikuti lomba sepetak bersama. Sayangnya, kami kalah. Tapi, bagiku, rasanya mengasyikkan. Tarik tambang? Dibatalkan. Talinya putus. Haha. Mungkin emang rezekinya aku ikut lomba sepetak bersama, ya.
Tepatnya Senin lalu, Aku mendapat pemikiran aneh yang, yah, kepikiran mulu. Tapi oke juga dipermasalahkan. Bingung? Haha, oke, aku ceritakan dulu apa yang terjadi.
JENG! JENG!
Aku sudah menjadi kakak kelas ~ Senangnya ~ #norak
Dengan predikat anak XI IPA 3, aku merasa kece banget masuk sekolah Senin itu. Tak ada yang spesial pada pagi hari, cuma ... rasanya ... kece aja. Pelajaran diawali dengan pelajaran biologi, dilanjutkan dengan matematika. Sumpah, aku heran kenapa aku selalu ketemu sama yang namanya matik di hari senin. Tradisi kali, yee ....
Kemudian, ada pengunguman bahwa besok akan diadakan lomba 17 Agustusan. Lombanya banyak, mulai makan kerupuk sampai makan kelereng :|
Lombanya macam-macam;
*Sepetak bersama,
*Kelereng,
*Tarik tambang,
*Pukul balon,
*Makan kerupuk,
*Paku botol,
*Jepit balon, dan
*Kaki bersama.
Kayaknya nggak perlu kujelasin ya itu permainannya kayak apa. Kita kan nggak bahas tentang itu ... #ngeles
Namanya juga kelas baru, jadi kelas masih belum kompak saat merundingkan perwakilan kelas yang akan mengikuti lomba-lomba di atas. Aku, yang kecil-pendek-hidup-lagi ini, pengen ikutan tarik tambang. Tapi, cowo-cowo di kelas pada protes, "Bah! Kalah pasti kelas kita". Dan akhirnya semua cowo dikelas dipilih menjadi perwakilan dalam tarik tambang. Memang, jumlah cowo di kelasku terbilang sedikit. Aku merasa ter-diskriminasi. Pada akhirnya, aku ditunjuk dalam lomba sepetak bersama karena faktor badan. #jleb
Pernah gak sih kalian merasa dibedakan? Dibedakan karena kekurangan atau kelemahan kalian, dianggap remeh, dipandang rendah, kurasa semua orang pasti pernah mengalaminya. So pasti cause nobody's perfect, right? Lantas? Apa yang kalian lakukan jika merasa terdiskriminasi? Marah? Pada siapa? Pada orang yang men-diskriminasimu? Tapi bukankah itu benar adanya, bahwasanya kamu memang tidak mampu jika melakukan itu? Pada Tuhan yang menciptakanmu? Jangan bercanda. Harusnya kekurangan dan kelemahan itu bukanlah hal yang sepantasnya kamu rengekkan pada Tuhan. Melalui kelebihanmu, kamu harusnya bisa menutupinya.
Jadi, apa?
Di sini topik yang ingin aku angkat. Mengerti-dimengerti.
Jelas, ter-diskriminasi itu rasanya tidaklah enak. Rasanya kayak diinjek-injek
Cara mereka salah, mereka agak kasar dengan mengatakan itu. Tapi aku mengerti mereka, mereka ingin menang.
"Bukan mereka yang harusnya mengerti kita, kita yang harusnya mengerti mereka. Karena jika kita mengerti mereka, mereka akan mengerti kita. Sama halnya jika kita menghargai orang lain."
Keesokan harinya, aku dan teman-teman setim mengikuti lomba sepetak bersama. Sayangnya, kami kalah. Tapi, bagiku, rasanya mengasyikkan. Tarik tambang? Dibatalkan. Talinya putus. Haha. Mungkin emang rezekinya aku ikut lomba sepetak bersama, ya.
Sebelumnya, aku mau berterima kasih yang sebesar-besarnya pada Yenny yang mengizinkanku untuk mempost cerita hidupnya.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pernah suatu ketika, aku iseng duduk-duduk dekat Yenny, teman sekelasku. Biar kuceritakan dulu sesuatu tentang Yenny.
Saat pertama kali masuk sekolah, Yenny typical orang-yang-mau-bertanggung-jawab-atas-kelas-X-3. Itu yang kulihat darinya. Saat pertama masuk, ia selalu ingin terlibat tentang hal-hal yang menyangkut kelas X-3, misalnya pemilihan struktur organisasi kelas. Namun, tidak semua pekerjaannya terlihat beres. Pernah suatu ketika, Yenny mengatakan ingin menghandle tugas memesan-makanan-untuk-buka-puasa-bersama-seluruh-kelas yang berlangsung pada Ramadhan lalu. Kami pun mempercayakan tugas itu padanya. Uang pun terkumpul, ia berencana memesan makanannya hari ini. Kalau tidak salah, satu hari sebelum hari H, ia mengembalikan uang tersebut. "Rumah makannya tutup selama Ramadhan." Di waktu yang sesempit itu sontak kami kecewa. Lantas, memesan di mana? Di RM yang enak? Uangnya nggak cukup! Mau ngumpulkan lagi? Mana sempat! Yang lain udah pada pulang! Mau di RM itu? Sama dengan kelas yang lain! Ah, kok aku jadi marah-marah?! *elus elus dada* *dada ayam*
Akhirnya Hisan, Intan, dan Seha yang bertanggung jawab atas makanan. Sementara aku menyumbang karpet untuk duduk. Kami pun hanya makan lamongan. Nasi putih dengan ayam plus lalapan. Parahnya, nggak ada kecap ._. *okeabaikan*. Yah, setidaknya masih ada es buah untuk cuci mulut. Kelas kami mungkin kelas yang paling sederhana makanannya. Hambar. Ya, hambar sekali.
Usai kejadian tersebut banyak yang mulai tidak menyukai Yenny, termasuk aku. Percaya atau tidak, sekali kalian mensugesti diri bahwa kalian tidak menyukai seseorang, kalian akan membencinya mulai dari hal-hal yang salah, sampai hal-hal yang benar darinya. Semua tindakannya bernilai negative di mata kalian. Dan ini yang salah. Ini yang salah.
Tempat dudukku dan Yenny terbilang seperti Sabang dan Merauke. Aku duduk di pojok kanan depan, sementara Yenny duduk di pojok kiri belakang. Sehingga, aku tidak terlalu berteman dengannya, atau, mengetahui apa tentangnya. Jika ada hal buruk tentang dirinya, aku hanya mendengarnya dari temanku. Dulu, Yenny duduk sendirian karena jumlah anggota kelas kami ganjil. Namun, selang beberapa lama, Misna pindah. Yenny pun duduk dengan Anti, yang sebelumnya duduk dengan Misna.
Oke, kita lanjut ke awal.
Saat itu pelajaran sedang kosong dan kelas kami tidak diberi tugas apa-apa. Waktu luang ini entah kenapa mendorong aku untuk duduk di dekat Yenny yang sedang asyik ngobrol dengan Anti. Ternyata, Yenny menceritakan masa lalunya.
Tak ada yang salah dengan keluarga Yenny. Yang salah adalah cara hidupnya.
Sewaktu Yenny kecil, ia dititipkan ke rumah Om-nya yang berada di Jawa karena faktor pekerjaan orang tuanya. Yenny bercerita, bahwa ketika ia kecil, ia sering di bedakan dengan ketiga sepupunya -anak dari Om dan Tante-nya. Ia bercerita bahwa sejak kecil ia sudah mandiri, Tantenya tidak mau mencucikan bajunya sehingga Yenny harus mencuci bajunya sendiri, ah, kalau tidak salah ia juga mencucikan baju Om-Tante-serta-sepupu-sepupunya. Anak kecil mana yang mau disuruh demikian? Tapi namanya juga "numpang", mau bagaimana lagi? Perlakuan buruk juga datang dari sepupu-sepupunya. Saat mereka bertiga sedang nonton TV, jika Yenny datang untuk melihat, mereka akan mematikan TVnya. jika Yenny pergi, mereka baru akan menyalakan TVnya. Makanan. Makanan pun tak jarang Yenny mendapat yang-sudah-tidak-layak-makan. You know what I mean, right?
Jam malam pun dibatasi sampai jam 8 malam. Pernah suatu ketika Yenny asyik nonton TV di rumah tetangga, ketika ia pulang, ternyata sudah lebih dari jam 8 malam. Oh please, anak kecil mana yang sudah ngerti dengan jam? Yenny tidak diizinkan masuk. Bahkan lampu di luar dimatikan. Seseorang menepuk pundak Yennymaka tertidurlah ia dan mengajaknya untuk menginap di tempatnya.
Orang tua Yenny bukannya tidak bertanggung jawab. Mereka mengirimi Yenny baju, susu, dan sebagainya untuk keperluan Yenny. Sesekali Ibunya Yenny juga menelpon anak sulungnya tersebut. Namun, yah, seperti di film-film. Hak-hak Yenny bukannya mengalir padanya tapi justru berpindah tangan ke sepupu-sepupunya. Dan telepon? Yenny kerap dipaksa berbohong kepada Ibunya bahwa ia diberi uang jajan yang cukup padahal ... udah, you know what I mean.
AKU BENAR-BENAR NGGAK NYANGKA!
Di kelasku ... kelas X-3, satu diantaranya memiliki kisah hidup yang biasanya aku temui di film-film!
Kalau tidak salah saat Yenny menginjak kelas 5, Ibunya Yenny mengambil kembali Yenny. What a relief. Tapi ada satu hal, Ibunya Yenny sudah melahirkan seorang anak baru. Ya, dia adiknya Yenny! Bayangkan jika tiba-tiba ada seseorang datang ke rumahmu dan orang tuamu berkata "Dia kakak kandungmu" apa kalian bisa menerima begitu saja? Sebagian mungkin bisa menerima sebagian lain mungkin mengalami fase shock terlebih dahulu. Dan sayangnya, adiknya Yenny bukan typical orang-yang-bisa-menerima-begitu-saja. Kecanggungan antara kakak-adik yang terpisah pun terjadi. Argh, kayak drama-drama di TV!
Namun, sayangnya, itu benar terjadi.
Adiknya Yenny pintar. Ia sering menjuarai peringkat satu di kelasnya. Ayah dan Ibunya Yenny tentu bangga padanya. Kebalikannya, Yenny tidak pintar dalam akademik. Ia jujur padaku bahwa ia merasa sering dibedakan dengan adiknya yang pintar itu.
Allah bukannya nggak adil. Allah itu Maha Adil. Dibalik itu semua, Allah memberikan kelebihan kepada Yenny. Yenny mungkin tidak perpotensi banyak dalam akademik, tapi dalam karate, jangan remehkan dia. Yenny sudah sering menjuarai perlombaan karate sampai-sampai ia ikut kejuaraan bertaraf nasional di Jakarta. Meski tidak menang, ia tetaplah hebat. Nasional, cuy!
Karate adalah jalan Yenny membahagiakan orang tuanya. Orang tuanya mendukung penuh Yenny dalam karate. Aku salut padanya. Oh, bagaimana dengan Om-Tante-serta-sepupu-sepupu-itu? Iya, mereka terkejut. Inikah Yenny yang dulu? Mereka meminta maaf kepada Yenny dan berkata ia Yenny memaafkannya.
"Yang berlalu biarlah berlalu. Dendam hanya akan menghambatmu menuju pintu ketentraman. Sebaliknya, maaf adalah cara termudah menuju dunia yang tentram, yang damai. Kuharap, dengan ini ada yang belajar dari pengalaman hidupku."
-Yenny-
Ya, Yenny. Aku belajar banyak darimu.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pandanganku berubah 180 derajat pada Yenny. Nggak, aku nggak mau lagi memandang negative seseorang hanya karena dia telah berbuat kesalahan yang mengecewakan. Maksudku, hey, you know, tak ada di dunia ini yang sempurna! Allah mengajarkan pelajaran hidup kepada hamba-hambanya melalui banyak cara. Entah dari pengalaman buruk, memalukan, menyedihkan, membahagiakan, pengalaman orang lain, binatang, tumbuhan, ah, banyak lah pokoknya!
Mungkin sikap Yenny ada yang membuatku kesal, marah, tapi siapa yang tahu, dibalik dirinya itu tersimpan sosok yang pemaaf?
Maaf ya Yenny, atas pandanganku yang tidak baik padamu selama ini. Kuharap aku bisa belajar dari pengalaman hidupmu lebih banyak lagi. Aku hanya manusia yang masih belajar, masih perlu belajar banyak agar bisa memahami makna kehidupan. Agar aku tahu, apa alasanku hidup di dunia yang mengagumkan ini.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pernah suatu ketika, aku iseng duduk-duduk dekat Yenny, teman sekelasku. Biar kuceritakan dulu sesuatu tentang Yenny.
Saat pertama kali masuk sekolah, Yenny typical orang-yang-mau-bertanggung-jawab-atas-kelas-X-3. Itu yang kulihat darinya. Saat pertama masuk, ia selalu ingin terlibat tentang hal-hal yang menyangkut kelas X-3, misalnya pemilihan struktur organisasi kelas. Namun, tidak semua pekerjaannya terlihat beres. Pernah suatu ketika, Yenny mengatakan ingin menghandle tugas memesan-makanan-untuk-buka-puasa-bersama-seluruh-kelas yang berlangsung pada Ramadhan lalu. Kami pun mempercayakan tugas itu padanya. Uang pun terkumpul, ia berencana memesan makanannya hari ini. Kalau tidak salah, satu hari sebelum hari H, ia mengembalikan uang tersebut. "Rumah makannya tutup selama Ramadhan." Di waktu yang sesempit itu sontak kami kecewa. Lantas, memesan di mana? Di RM yang enak? Uangnya nggak cukup! Mau ngumpulkan lagi? Mana sempat! Yang lain udah pada pulang! Mau di RM itu? Sama dengan kelas yang lain! Ah, kok aku jadi marah-marah?! *elus elus dada* *dada ayam*
Akhirnya Hisan, Intan, dan Seha yang bertanggung jawab atas makanan. Sementara aku menyumbang karpet untuk duduk. Kami pun hanya makan lamongan. Nasi putih dengan ayam plus lalapan. Parahnya, nggak ada kecap ._. *okeabaikan*. Yah, setidaknya masih ada es buah untuk cuci mulut. Kelas kami mungkin kelas yang paling sederhana makanannya. Hambar. Ya, hambar sekali.
Usai kejadian tersebut banyak yang mulai tidak menyukai Yenny, termasuk aku. Percaya atau tidak, sekali kalian mensugesti diri bahwa kalian tidak menyukai seseorang, kalian akan membencinya mulai dari hal-hal yang salah, sampai hal-hal yang benar darinya. Semua tindakannya bernilai negative di mata kalian. Dan ini yang salah. Ini yang salah.
Tempat dudukku dan Yenny terbilang seperti Sabang dan Merauke. Aku duduk di pojok kanan depan, sementara Yenny duduk di pojok kiri belakang. Sehingga, aku tidak terlalu berteman dengannya, atau, mengetahui apa tentangnya. Jika ada hal buruk tentang dirinya, aku hanya mendengarnya dari temanku. Dulu, Yenny duduk sendirian karena jumlah anggota kelas kami ganjil. Namun, selang beberapa lama, Misna pindah. Yenny pun duduk dengan Anti, yang sebelumnya duduk dengan Misna.
Oke, kita lanjut ke awal.
Saat itu pelajaran sedang kosong dan kelas kami tidak diberi tugas apa-apa. Waktu luang ini entah kenapa mendorong aku untuk duduk di dekat Yenny yang sedang asyik ngobrol dengan Anti. Ternyata, Yenny menceritakan masa lalunya.
Tak ada yang salah dengan keluarga Yenny. Yang salah adalah cara hidupnya.
Sewaktu Yenny kecil, ia dititipkan ke rumah Om-nya yang berada di Jawa karena faktor pekerjaan orang tuanya. Yenny bercerita, bahwa ketika ia kecil, ia sering di bedakan dengan ketiga sepupunya -anak dari Om dan Tante-nya. Ia bercerita bahwa sejak kecil ia sudah mandiri, Tantenya tidak mau mencucikan bajunya sehingga Yenny harus mencuci bajunya sendiri, ah, kalau tidak salah ia juga mencucikan baju Om-Tante-serta-sepupu-sepupunya. Anak kecil mana yang mau disuruh demikian? Tapi namanya juga "numpang", mau bagaimana lagi? Perlakuan buruk juga datang dari sepupu-sepupunya. Saat mereka bertiga sedang nonton TV, jika Yenny datang untuk melihat, mereka akan mematikan TVnya. jika Yenny pergi, mereka baru akan menyalakan TVnya. Makanan. Makanan pun tak jarang Yenny mendapat yang-sudah-tidak-layak-makan. You know what I mean, right?
Jam malam pun dibatasi sampai jam 8 malam. Pernah suatu ketika Yenny asyik nonton TV di rumah tetangga, ketika ia pulang, ternyata sudah lebih dari jam 8 malam. Oh please, anak kecil mana yang sudah ngerti dengan jam? Yenny tidak diizinkan masuk. Bahkan lampu di luar dimatikan. Seseorang menepuk pundak Yenny
Orang tua Yenny bukannya tidak bertanggung jawab. Mereka mengirimi Yenny baju, susu, dan sebagainya untuk keperluan Yenny. Sesekali Ibunya Yenny juga menelpon anak sulungnya tersebut. Namun, yah, seperti di film-film. Hak-hak Yenny bukannya mengalir padanya tapi justru berpindah tangan ke sepupu-sepupunya. Dan telepon? Yenny kerap dipaksa berbohong kepada Ibunya bahwa ia diberi uang jajan yang cukup padahal ... udah, you know what I mean.
AKU BENAR-BENAR NGGAK NYANGKA!
Di kelasku ... kelas X-3, satu diantaranya memiliki kisah hidup yang biasanya aku temui di film-film!
Kalau tidak salah saat Yenny menginjak kelas 5, Ibunya Yenny mengambil kembali Yenny. What a relief. Tapi ada satu hal, Ibunya Yenny sudah melahirkan seorang anak baru. Ya, dia adiknya Yenny! Bayangkan jika tiba-tiba ada seseorang datang ke rumahmu dan orang tuamu berkata "Dia kakak kandungmu" apa kalian bisa menerima begitu saja? Sebagian mungkin bisa menerima sebagian lain mungkin mengalami fase shock terlebih dahulu. Dan sayangnya, adiknya Yenny bukan typical orang-yang-bisa-menerima-begitu-saja. Kecanggungan antara kakak-adik yang terpisah pun terjadi. Argh, kayak drama-drama di TV!
Namun, sayangnya, itu benar terjadi.
Adiknya Yenny pintar. Ia sering menjuarai peringkat satu di kelasnya. Ayah dan Ibunya Yenny tentu bangga padanya. Kebalikannya, Yenny tidak pintar dalam akademik. Ia jujur padaku bahwa ia merasa sering dibedakan dengan adiknya yang pintar itu.
Allah bukannya nggak adil. Allah itu Maha Adil. Dibalik itu semua, Allah memberikan kelebihan kepada Yenny. Yenny mungkin tidak perpotensi banyak dalam akademik, tapi dalam karate, jangan remehkan dia. Yenny sudah sering menjuarai perlombaan karate sampai-sampai ia ikut kejuaraan bertaraf nasional di Jakarta. Meski tidak menang, ia tetaplah hebat. Nasional, cuy!
Karate adalah jalan Yenny membahagiakan orang tuanya. Orang tuanya mendukung penuh Yenny dalam karate. Aku salut padanya. Oh, bagaimana dengan Om-Tante-serta-sepupu-sepupu-itu? Iya, mereka terkejut. Inikah Yenny yang dulu? Mereka meminta maaf kepada Yenny dan berkata ia Yenny memaafkannya.
"Yang berlalu biarlah berlalu. Dendam hanya akan menghambatmu menuju pintu ketentraman. Sebaliknya, maaf adalah cara termudah menuju dunia yang tentram, yang damai. Kuharap, dengan ini ada yang belajar dari pengalaman hidupku."
-Yenny-
Ya, Yenny. Aku belajar banyak darimu.
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Pandanganku berubah 180 derajat pada Yenny. Nggak, aku nggak mau lagi memandang negative seseorang hanya karena dia telah berbuat kesalahan yang mengecewakan. Maksudku, hey, you know, tak ada di dunia ini yang sempurna! Allah mengajarkan pelajaran hidup kepada hamba-hambanya melalui banyak cara. Entah dari pengalaman buruk, memalukan, menyedihkan, membahagiakan, pengalaman orang lain, binatang, tumbuhan, ah, banyak lah pokoknya!
Mungkin sikap Yenny ada yang membuatku kesal, marah, tapi siapa yang tahu, dibalik dirinya itu tersimpan sosok yang pemaaf?
Maaf ya Yenny, atas pandanganku yang tidak baik padamu selama ini. Kuharap aku bisa belajar dari pengalaman hidupmu lebih banyak lagi. Aku hanya manusia yang masih belajar, masih perlu belajar banyak agar bisa memahami makna kehidupan. Agar aku tahu, apa alasanku hidup di dunia yang mengagumkan ini.
Hari ini sudah bulan Ramadhan aja, ya. Glek. Udah berapa lama aku nggak nulis T^T eh salah, ngetik. Ah, abaikan. Banyak banget nih kejadian-kejadian lampau yang pengen banget aku tulis -ngetik, ah, apalah- di sini yang menurutku bisa dijadikan pelajaran hidup. Banyak ... saking banyaknya aku rada-rada lupa ._.
Kebahagiaan itu ... kecil. Percaya, nggak?
Waktu itu sepulang sekolah, aku dan Icha bareng ke parkiran. Baru saja melewati kelas X-5, Kak Ayu memanggil Icha. Icha memintaku menunggu dan ia pun masuk ke kelas X-5 Aku bertahan. Melirik sebentar ke dalam. Sebagian teman-teman anggota habsyi berkumpul dan berpusat pada Kak Ayu. Aku heran, yah, sebagai anggota Rismata -kelompok habsyi mesjid At-Taqwa- mengapa aku tidak dipanggil? Hatiku meragu, antara ingin masuk ke dalam dan tidak. Usai bolak-balik tidak keruan, aku pun memberanikan diri masuk dan mendengarkan pembicaraan mereka.
Ternyata, Kak Ayu sedang merekrut anggota rebana. Ia diminta untuk mencari orang yang bisa memukul gendang untuk lomba antar-kecamatan. Tentunya, kami bisa. Tapi, banyak dari anggota Rismata yang tidak bisa ikut. Pada akhirnya, hanya aku, Icha, dan Kak Ayu dari Rismata yang ikut. Fyi, Kak Ayu tidak terlalu berpengalaman dalam gendang. Di Rismata, Kak Ayu seorang penyair, yaitu orang yang membaca syair, sementara aku dan Icha, menjadi ... gendang-ers.
Perlombaan masih cukup lama. Latihan pun dilaksanakan hari demi hari. Bertempat di kantor kecamatan Tanjung, di sana aku memperoleh apa yang kusebut ... kebahagiaan.
Pada awal-awal latihan, aku agak sedikit bingung. Latihan yang kami jalani sangat membingungkan. Aku saja bingung ketukanku yang mana. Kalau disuruh begini, ya begini. Besoknya? Lupa. Kami pun memiliki kendala personil yang masih belum lengkap -diperlukan 11 orang. Namun lambat laun personil lengkap, 12 orang, malah. Tapi kondisi latihan yang acakadut, membuat aku dan Icha ragu. Kami tidak tahu ketukan mana yang harus kami dendangkan.
Faktornya? Jelas ada. Sebagian besar anggota rebana kami masih newbie. Iya, newbie -pemula. Mereka masih harus diajari dasar-dasarnya dan mereka sering salah. My .. my ..
Tapi, sekitar 2 minggu sebelum hari H, kami seperti mendapat setruman ekstra. Latihan yang semula cuma sore hari kini beralih menjadi malam. Harapannya, bisa mendapat waktu latihan lebih lama. Mengingat, anak SMA yang pulangnya siang ditambah ada kegiatan ekstrakulikuler mempersempit waktu latihan. Belum lagi ... pramuka. Namun, karena kegiatan ini, kami, oleh pihak kecamatan diberi surat dispensasi ke sekolah untuk libur pramuka. Yay!
Kata-kata yang biasanya seperti ini "Au, hari ini latihan" sekarang berubah menjadi "Au, hari ini latihan malam". Kuakui, sungguh melelahkan. Belum lagi jika ada ulangan. Rasanya ... stres.
Selama latihan, tentu banyak hal yang telah kami lalui bersama. Pernah, suatu malam ketika kami latihan, mati lampu. Penerangan hanya bermodal lilin. Karena rata-rata lapar, kami diberi popmi. "Air panasnya?", tanya kami bergantian. "Pakai banyu akua gen loko?" (Pakai air akua aja, gih) Kami pun gelak tertawa. Masa popmi pake akua. Kami pun punya gelaran masing-masing, dan masih banyak lagi.
Hari H tiba. Kami mendapat no urut pertama tampil. Pakaian kami, jujur saja, kurang bagus. Modelnya adalah model lama nan sederhana, ditambah warna hijau lumut dan kuning keemasan. menurutku tidak begitu cocok. Dibanding peserta lain, mereka modis sekali. Nyaliku agak ciut di sini.
Kami pun tampil dengan catatan; yang boleh tampil hanya 11 orang. Kacau! Formasi berubah! Aku panik. Bagaimana bisa mengubah formasi tanpa latihan minimal 3 hari? Yah, 3 hari, karena formasi-formasi yang ada saja kami suka salah. This will be bad.
Benar saja, ketika tampil, formasi kacau. Panggungnya? Disayangkan, sangat sempit menurutku. Ditambah, banyak tali-tali memenuhi lantai. Menyusahkan untuk melangkah. Tangga untuk naik panggung juga sangat curam! Untung, sepatu kami tidak terlalu tinggi, asal pelan, maka takkan terjatuh. Penampilan kami pun tidak semaksimal ketika latihan terakhir. Sangat disayangkan.
Usai tampil, kami duduk di tempat semula. Penampilan-demi-penampilan berikutnya sangatlah memukau. Berbeda dari kami yang formasinya sangat sederhana. Aku tahu tak ada harapan menang. Tidak ada.
Malamnya, kami langsung pulang.
Di rumah, rasanya kecewa. Kecewa tidak bisa memberikan yang terbaik padahal selama ini sudah berlatih keras, bahkan usai tampil, jariku bengkak sampai beberapa hari. Tapi aku berusaha memaklumi keadaan, we're not a professional, thought.
Ya, kami tidak menang. Setidaknya, katanya, vocalis rebana kami yang paling baik diantara yang lainnya. Setidaknya nggak hancur-hancur amat lah. Masih ada point plus untuk kami. Setidaknya ...
Apa kalian rasa kegagalanku ini juga sebuah bentuk kesia-siaan? Yah, sia-sia latihan keras kalau hasilnya di panggung tidak maksimal dan terbilang mengecewakan. Pelatih kami, beliau tidak sama sekali memasang air muka kecewa. Bahkan, beliau memuji kami atas penampilan kami. Aku merasa bersalah. Setelah semuanya ... hanya begini jadinya?
Terlintas di pikiranku ... Apa semua pertarungan Naruto selalu menang?
Ya. Boleh jadi ceritaku kali ini adalah cerita kegagalan. Bahkan Rasulullah saw. pernah kalah sekali dalam perang yang meski kekalahan tersebut bukan dikarenakan beliau, melainkan karena pengikutnya yang tidak patuh padanya. Tidak ada cerita yang selalu happy ending.
Aku menampar pipiku. Mata hatiku terbuka lebar. Selain belajar yang namanya kegagalan, aku juga menyadari, bahwa kebahagiaan itu sebenarnya kecil. Aku sadar, selama latihan, tak pernah sekali pun kami konflik. Kami selalu bercanda dan tentunya tertawa. Makan bersama, letih bersama, semuanya bersama. Aku sadar, kebahagiaan itu begitu kecil. Sekecil senyum yang kau ukir ketika melihat album foto lama ... sekecil kau menang ketika main PS melawan temanmu, sekecil ketika idolamu menang dalam suatu ajang tertentu, sekecil ketika ... kamu tertawa bahagia bersama temanmu. Teman terbaikmu. Orang yang kau sayang.
Lantas ... kebahagiaan terbesar ... apa ya?
Kebahagiaan terbesar -menurutku- adalah ...
"Membuat orang lain bahagia"
Sekecil apa pun senyum yang orang lain berikan -walau tak tersenyum sekalipun- asal dia bahagia, itu sudah luar biasa senangnya. Membahagiakan orang lain ... terutama yang kau sayangi <3
Aku terbangun dari lamunanku. Aku menoleh kepada Icha yang sedari tadi sibuk dengan makanannya.
"Cha, hari ini latihan malam"
Kebahagiaan itu ... kecil. Percaya, nggak?
Waktu itu sepulang sekolah, aku dan Icha bareng ke parkiran. Baru saja melewati kelas X-5, Kak Ayu memanggil Icha. Icha memintaku menunggu dan ia pun masuk ke kelas X-5 Aku bertahan. Melirik sebentar ke dalam. Sebagian teman-teman anggota habsyi berkumpul dan berpusat pada Kak Ayu. Aku heran, yah, sebagai anggota Rismata -kelompok habsyi mesjid At-Taqwa- mengapa aku tidak dipanggil? Hatiku meragu, antara ingin masuk ke dalam dan tidak. Usai bolak-balik tidak keruan, aku pun memberanikan diri masuk dan mendengarkan pembicaraan mereka.
Ternyata, Kak Ayu sedang merekrut anggota rebana. Ia diminta untuk mencari orang yang bisa memukul gendang untuk lomba antar-kecamatan. Tentunya, kami bisa. Tapi, banyak dari anggota Rismata yang tidak bisa ikut. Pada akhirnya, hanya aku, Icha, dan Kak Ayu dari Rismata yang ikut. Fyi, Kak Ayu tidak terlalu berpengalaman dalam gendang. Di Rismata, Kak Ayu seorang penyair, yaitu orang yang membaca syair, sementara aku dan Icha, menjadi ... gendang-ers.
Perlombaan masih cukup lama. Latihan pun dilaksanakan hari demi hari. Bertempat di kantor kecamatan Tanjung, di sana aku memperoleh apa yang kusebut ... kebahagiaan.
Pada awal-awal latihan, aku agak sedikit bingung. Latihan yang kami jalani sangat membingungkan. Aku saja bingung ketukanku yang mana. Kalau disuruh begini, ya begini. Besoknya? Lupa. Kami pun memiliki kendala personil yang masih belum lengkap -diperlukan 11 orang. Namun lambat laun personil lengkap, 12 orang, malah. Tapi kondisi latihan yang acakadut, membuat aku dan Icha ragu. Kami tidak tahu ketukan mana yang harus kami dendangkan.
Faktornya? Jelas ada. Sebagian besar anggota rebana kami masih newbie. Iya, newbie -pemula. Mereka masih harus diajari dasar-dasarnya dan mereka sering salah. My .. my ..
Tapi, sekitar 2 minggu sebelum hari H, kami seperti mendapat setruman ekstra. Latihan yang semula cuma sore hari kini beralih menjadi malam. Harapannya, bisa mendapat waktu latihan lebih lama. Mengingat, anak SMA yang pulangnya siang ditambah ada kegiatan ekstrakulikuler mempersempit waktu latihan. Belum lagi ... pramuka. Namun, karena kegiatan ini, kami, oleh pihak kecamatan diberi surat dispensasi ke sekolah untuk libur pramuka. Yay!
Kata-kata yang biasanya seperti ini "Au, hari ini latihan" sekarang berubah menjadi "Au, hari ini latihan malam". Kuakui, sungguh melelahkan. Belum lagi jika ada ulangan. Rasanya ... stres.
Selama latihan, tentu banyak hal yang telah kami lalui bersama. Pernah, suatu malam ketika kami latihan, mati lampu. Penerangan hanya bermodal lilin. Karena rata-rata lapar, kami diberi popmi. "Air panasnya?", tanya kami bergantian. "Pakai banyu akua gen loko?" (Pakai air akua aja, gih) Kami pun gelak tertawa. Masa popmi pake akua. Kami pun punya gelaran masing-masing, dan masih banyak lagi.
Hari H tiba. Kami mendapat no urut pertama tampil. Pakaian kami, jujur saja, kurang bagus. Modelnya adalah model lama nan sederhana, ditambah warna hijau lumut dan kuning keemasan. menurutku tidak begitu cocok. Dibanding peserta lain, mereka modis sekali. Nyaliku agak ciut di sini.
Kami pun tampil dengan catatan; yang boleh tampil hanya 11 orang. Kacau! Formasi berubah! Aku panik. Bagaimana bisa mengubah formasi tanpa latihan minimal 3 hari? Yah, 3 hari, karena formasi-formasi yang ada saja kami suka salah. This will be bad.
Benar saja, ketika tampil, formasi kacau. Panggungnya? Disayangkan, sangat sempit menurutku. Ditambah, banyak tali-tali memenuhi lantai. Menyusahkan untuk melangkah. Tangga untuk naik panggung juga sangat curam! Untung, sepatu kami tidak terlalu tinggi, asal pelan, maka takkan terjatuh. Penampilan kami pun tidak semaksimal ketika latihan terakhir. Sangat disayangkan.
Usai tampil, kami duduk di tempat semula. Penampilan-demi-penampilan berikutnya sangatlah memukau. Berbeda dari kami yang formasinya sangat sederhana. Aku tahu tak ada harapan menang. Tidak ada.
Malamnya, kami langsung pulang.
Di rumah, rasanya kecewa. Kecewa tidak bisa memberikan yang terbaik padahal selama ini sudah berlatih keras, bahkan usai tampil, jariku bengkak sampai beberapa hari. Tapi aku berusaha memaklumi keadaan, we're not a professional, thought.
Ya, kami tidak menang. Setidaknya, katanya, vocalis rebana kami yang paling baik diantara yang lainnya. Setidaknya nggak hancur-hancur amat lah. Masih ada point plus untuk kami. Setidaknya ...
Apa kalian rasa kegagalanku ini juga sebuah bentuk kesia-siaan? Yah, sia-sia latihan keras kalau hasilnya di panggung tidak maksimal dan terbilang mengecewakan. Pelatih kami, beliau tidak sama sekali memasang air muka kecewa. Bahkan, beliau memuji kami atas penampilan kami. Aku merasa bersalah. Setelah semuanya ... hanya begini jadinya?
Terlintas di pikiranku ... Apa semua pertarungan Naruto selalu menang?
Ya. Boleh jadi ceritaku kali ini adalah cerita kegagalan. Bahkan Rasulullah saw. pernah kalah sekali dalam perang yang meski kekalahan tersebut bukan dikarenakan beliau, melainkan karena pengikutnya yang tidak patuh padanya. Tidak ada cerita yang selalu happy ending.
Aku menampar pipiku. Mata hatiku terbuka lebar. Selain belajar yang namanya kegagalan, aku juga menyadari, bahwa kebahagiaan itu sebenarnya kecil. Aku sadar, selama latihan, tak pernah sekali pun kami konflik. Kami selalu bercanda dan tentunya tertawa. Makan bersama, letih bersama, semuanya bersama. Aku sadar, kebahagiaan itu begitu kecil. Sekecil senyum yang kau ukir ketika melihat album foto lama ... sekecil kau menang ketika main PS melawan temanmu, sekecil ketika idolamu menang dalam suatu ajang tertentu, sekecil ketika ... kamu tertawa bahagia bersama temanmu. Teman terbaikmu. Orang yang kau sayang.
Lantas ... kebahagiaan terbesar ... apa ya?
Kebahagiaan terbesar -menurutku- adalah ...
"Membuat orang lain bahagia"
Sekecil apa pun senyum yang orang lain berikan -walau tak tersenyum sekalipun- asal dia bahagia, itu sudah luar biasa senangnya. Membahagiakan orang lain ... terutama yang kau sayangi <3
Aku terbangun dari lamunanku. Aku menoleh kepada Icha yang sedari tadi sibuk dengan makanannya.
"Cha, hari ini latihan malam"
