Aku buka postingan ini dengan membaca basmallah.

Bismillahirrahmanirrahim.

Wih ... alim betul, ya? Haha. Sementang kali ini membahas sabar. Tapi postingan ini umum, kok. Nggak menyangkut-pautkan tentang kepercayaan. Well, ibarat karya ilmah, tentu ada latar belakang yang mendasari mengapa-aku-mengangkat-tema-sabar.

Sebernarnya alasannya simple, sih. Gara-gara tadi, di sekolah, sewaktu pelajaran BP alias Budi Pekerti, kami disuruh menjawab 3 soal tentang pokok bahasan "sabar".
Dan pertanyaannya adalah .............. *eng* *ing* *eng*

1. Apa yang dimaksud sabar (menurut kamu) ?
2. Sebutkan dan jelaskan macam-macam sabar! (Min 4)
3. Apa manfaat sabar di dalam kehidupan?
                                                                ...............yah yang kuingat kira-kira seperti itu pertanyaannya
Wih ... sekilas pertanyaannya mudah-mudah aja, ya. Cuma nomor 2 yang mengandung kata horor yaitu "jelaskan". Tapi untuk seorang pengamat dunia sepertiku, satu halaman kertas buram hampir terisi sepenuhnya. Dan ketika menjawab soal nomor dua, ada adegan yang bikin aku mau mengangkat tema sabar ke postinganku ini. Ehm, gak asyik, kayaknya kalau aku main to-the-point. Yah, sekedar basa-basi, mari simak jawabanku atas ketiga jawaban di atas.

1) Pengertian sabar menurutku.
Sabar adalah sikap tahan dalam menghadapi sesuatu hal buruk. Sabar juga dapat diartikan sebagai tidak cepat marah, tidak mudah putus asa, dll.
Oke, ehm, ... sebenarnya bisa dikatakan jawabanku itu bukan "menurutku" karena .............. bukan bukan bukan, ini tidak seperti aku mencontek, ya! #tsundere haha tapi bener kok, aku nggak nyontek. Hanya saja ....... aku ........... melihatnya di alfalink .___________. #ngomonggituajasusah
Yah karena aku ini kreatif (baca : tidak mau terlalu sama dengan di alfalink) aku menambahkan kata-kata biar jawabanku makin kece (baca : panjang). Huehehehehe ( '-')a

2) Macam-macam sabar
a) Sabar dalam menghadapi cobaan
So paste, sabar itu sering dikaitkan dengan yang namanya --> menghadapi cobaan. Dalam hidup, hal baik dan hal buruk akan datang silih berganti. Dan dalam menghadapi hal buruk (kita sebut sebagai cobaan) tentu sikap utama yang harus kita miliki adalah sabar. Orang yang sabar akan berusaha melewati cobaan dan menganggap cobaan sebagai ujian yang mengandung sejuta hikmah kehidupan. #tsahhhh #kece(baca:panjang)gaktuhjawabanku ?

b) Sabar dalam menghadapi kegagalan
Siapa, sih, yang dalam hidupnya nggak pernah ngalamin kegagalan? Nabi Muhammad aja pernah gagal (kalah) dalam perang (meski sebenarnya bukan Beliau penyebab kekalahan dalam perang tersebut). Hal ini musti belo-in mata kita bahwasanya, nggak ada yang sempurna. Jadi lupain deh yang namanya nyari cowo perfect. #Loh #TopikSalahArah
Kegagalan itu identik dalam perlombaan. Orang yang sabar akan bersikap optimis terhadap kegagalan. Orang yang sabar akan kuat mental menerima kegagalan dengan percaya bahwasanya kegagalan yang ia dapatkan merupakan titik start dari kesuksesan yang akan ia raih di garis finish. So, anggap aja kegagalan itu adalah rintangan atau medan yang harus kamu lewati sebelum akhirnya kamu akan melewati garis finish. Be PATIENT, be SUCCES! YAY!
FYI : Jawaban untuk point B aku ngarang sendiri (bukan dari jawaban asliku di sekolah. Gile aje kalo aku serajin ini nulis sebanyak yang di atas --")

c) Sabar dalam ketahanan emosi.
Emosi. Emosi erat kaitannya dengan marah. Padahal, orang yang emosional belum tentu adalah orang yang pemarah. Marah adalah salah satu bentuk emosi. Itulah yang aku pahami selama ini.
Emosi itu banyak. Dan kebanyakan mereka menuntut kita untuk meluapkannya dalam segala bentuk apa pun sehigga kita akan merasa "plong". Kalo nggak, analoginya seperti mau kentut, tapi ditahan.
#Oke #BacktoTopic
Emosi tidaklah semua patut diluapkan. Contoh paling umum adalah marah. Orang yang marah ancap kali sering melakukan apa saja agar dapat memuaskan tuntutan emosi. Entah dengan menampar, memukul, mengata-ngatai orang dengan kata-kata kasar, menjambak rambut, ahhh banyak lagi deh pokoknya. Dan dalam menghadapi emosi ini, diperlukan banyak kata sabar. Sabar di sini artinya kita meminimalisir / menekan kembali tekanan emosi itu. Menekannya sampai dia nggak muncul lagi.
FYI (lagi) : jawaban ini aku karang sendiri.

d) Sabar dalam menghadapi nafsu/godaan.
Beugh. Yang namanya godaan mah bejibun di dunia ini. Mulai dari godaan playboy kelas kakap sampai godaan playboy kelas bawal. #EmangSeaFood  #Oke #TopikSalahArah
Godaan itu banyak, aku ambil contoh seseorang yang sedang berpuasa.
Sabar yang bagaimana sih yang dilakukan orang yang berpuasa?
Yaitu sabar dengan menghindari segala godaan yang ada dengan cara menahan nafsu makannya. Orang yang sabar dalam berpuasa akan memotivasi dirinya dengan apa yang ia niatkan dalam menahan nafsunya. Simplenya, sih, ketika nafsunya mulai menyerukan bisikan untuk membatalkan puasa, orang tersebut akan mengingatkan dirinya akan "niat" yang ingin ia tunaikan. Bahwasanya ia berniat puasa, dan bukan batal di tengah jalan.

Minimal 4, kan? Tapi gara-gara adegan ini, aku nambah satu point lagi untuk macam-macam sabar.
Dita : Au, kan yang ditanya macam-macam sabar ...
Aku : Iya, terus?
Dita : Berarti sabar dalam penantian, juga termasuk, dong, Au?
JLEB ................. BLEB ..................... BLEB.

e) Sabar dalam penantian
Menanti identik dengan, ehm, menunggu. Menuggu si itu peka dengan perasaanku. #Eh #TopikSalahArah
Menunggu. Menunggu juga banyak macamnya. Menuggu kepulangan seseorang. Menunggu kedatangan seseorang. Dan menunggu si itu peka  dengan perasaanku. #TopikSalahArah #Lagi
Kalau ditanya harus menunggu sampai kapan, maka hanya waktu yang dapat menjawabnya. Bagaimana jika kita dihadapkan dengan menunggu sesuatu yang tak pasti akan datang? Selama apakah kita harus bersabar menunggunya? Apa dalam hal ini kita perlu menerapkan ilmu sabar? Bahwasanya orang yang sabar akan menunggu, menunggu sampai titik akhir, menunggu, layaknya Hachiko yang menunggu tuannya?

Semua kembali pada diri kita masing-masing. Keyakinan diri dan keteguhan hati juga berperan besar dalam mewujudkan sikap sabar. Mungkin memang benar, hanya waktu yang dapat menjawabnya. Tapi setidaknya, walau pun yang kita tunggu sebenarnya hanyalah kesia-siaan, seberapa lama kita kuat bersabar menunggu sesuatu itu, memberikan cermin yang akan memperlihatkan kepada kita :
Seberapa berharganya sesuatu itu hingga kita rela menunggunya untuk waktu yang lama.

Huaaaa ... gomennasai, kayaknya aku nggak sanggup lagi menjawab untuk soal nomor 3. Jari telunjukku pegel. Iya telunjuk. Hehehe .______.)a

Sekian!

Macam-macam Sabar

Posted by ayachin
Senin, 24 Maret 2014
Oke setelah sekian lama menghilang kini aku muncul lagi ~
Hhmm untuk post kali ini enaknya bahas tentang apa, ya?
Tentang persahabatan, udah sering. Cinta, ahhh masa cinta-cintaan mulu. #faktorjomblo
Gimana kalo ngebahas hal yang gak biasa yang anti mainstream seperti ................................................
aku?
#Oke #Fine #Lupakan

Mungkin aku basa basi dulu kali ya...
Aku ini hobby baca novel, oleh karena itu banyak sekali anime di dalam netbookku ini. Gak nyambung? Emang.
Ya, aku adalah seorang Ani-Lovers alias Anime Lovers. Aku nggak sampai ke tahapan otaku karena basically aku cuma sekadar gemar menonton dan mengoleksi anime. Anime itu kayak film, ada genrenya. Dan diantara sekian banyak jenis genre, tiga genre faforitku adalah slice of life, supranatural, dan romance. Tapi yang bikin aku suka itu lebih ke genre slice of life. Biasanya banyak kata-kata mutiara dari anime yang bergenre itu. Jadilah, seorang Aau yang dulunya cuma asal nonton anime sekarang malah nonton anime -> ketemu quotes menarik -> pause -> pencet PrtScSysRq di keyboard -> buka Ms. Office Word 2010 -> Paste -> Klik kanan gambar -> Save as picture -> save.
Iya, sekarang aku punya kebiasaan baru ketika nonton anime, yaitu berburu quotes. Lumayan ribet, sih, karena terkadang aku lupa bahwa aku sedang berburu quotes.

Anime yang baru-baru ini aku tonton adalah Yahari ore no Seishun Love Come wa Machigatteiru atau kalau diartikan My Youth Romantic Comedy is Wrong as I Expected. Genrenya school life, comedy, slice of life, social psychology, romance ... nah, kan, ada slice of lifenya. Tapi mungkin yang dominan adalah social psychologynya.

Nah ini dia anime yang aku maksud
Aku nggak bakal ngasih review apa-apa tentang anime ini, cuma ngasih info dikit, deh. Siapa tahu kalian tertarik. Anime ini menceritakan ketiga orang di atas yang semuanya itu LONER. Iya, loner, penyendiri. Otomatis, gak punya teman. Yang paling mending sih menurutku si Yuigahama Yui (yang rambut pink) soalnya walaupun dia loner, dia masih mau berusaha untuk berteman. Hanya saja, dia terlalu penurut. Dalam kelompok pergaulan, dia hanya mengiyakan setiap keputusan walau tak sesuai dengan yang ia mau. Karena takut akan ditinggalkan. Itu sih yang aku tangkap. Tapi tetep, faforitku si Yukinoshita Yukino. Ya, yang rambut hitam. Dia itu blak-blakan, kadang kasar, namun semua itu sesuai kenyataan. Aku kagum dengan karakter yang seperti itu. Karakter yang dewasa, dan tegar walaupun menjadi seorang loner.

Oke, mungkin kalian mulai bertanya topik pembicaraan ini mengarah ke mana sebenarnya.
Nah, gara-gara kebiasaan menonton animeku yang baru, ketika aku nonton anime ini, aku menemukan ................ ini :
Dan quotes itu...................ugly truth banget.

Setiap manusia pasti pernah nge-judge orang. Entah penampilannya, perilakunya, kebiasaannya, yang walau dilakukan dalam beberapa penjumlahan sampai pembagian dan mencari rata-rata, titik akhirnya cuma berada pada dua penilaian : baik, atau buruk.

Kesan pertama selalu merupakan kesan yang paling diingat. Kesan pertama ketemu sama seseorang, pertama mengikuti lomba, pertama kali menang lomba, pertama kali pacaran, dan pertama-pertama lainnya. Setiap orang secara sadar maupun tidak akan menilai hal-hal "pertama" tersebut. Aku kasih contoh deh ...
Aku sempat menjadi penyanyi cafe. Di hari pertama aku nyanyi, aku membawakan lagu Christina Peri - A Thousand Years. Dan ...... gila! Fals banget. Awal-awalnya sih engga, tapi terakhirannya itu loh. Ya ampun. Aku malu banget. Jadilah, aku nggak mau lagi membawakan lagu a thousand years. Trauma. Entar keinget hari pertama nyanyi di cafe. Malu di kuadrat-in. Malu-malu-in!

Dalam hidup, seringkali kita menilai seseorang. Penilaian beragam, namun seperti yang sudah kukatakan, hanya berujung baik atau buruk. Semua tergantung pada cara penilaian: sebelah mata, atau sepasang mata.

-Hukum I Kesan
Kesan buruk akan bertahan berkepanjangan. Ketika kesan baik datang, kesan buruk akan sama kuatnya dengan kesan baik. Kenapa? Karena ketika kesan baik datang, kesan buruk akan menghantui.
foreksampel:
Ada cowok yang playboy abis. Suatu hari, dia fallin' in love pada seorang cewek di saat ia sudah bertekad agar tidak playboy lagi. Sejauh ini PDKT berjalan lancar-lancar saja, sudah pake kakak-adek segala, lagi. Cuma yang bikin mereka nggak-jadi-jadi, yah, bisa dilihat dari sudut pandang si cewek.
Si cewek pasti, lah, tahu, kalau si cowok itu playboy. O to the matis, si cewek menilai buruk si cowok. Namun, alur membawa mereka berdua menjadi dekat. Lambat laun, sisi baik si cowok keluar, sehingga memberikan kesan yang baik. Si cewek? Dilema, lah. Walau si cowok janji buat setia, si cewek pastinya bakal takut. Takut si cowok bakal kembali kayak dulu. Karena mau gak mau kenyataan bahwa dia playboy itu masih ada. Karena itu, aku menganggap kedudukan kesan baik dan buruk dalam hal ini sama besar.

-Hukum II Kesan
Kesan baik dapat hancur seketika oleh kesan buruk
Orang yang selama ini menampilkan kesan baik, dapat hancur seketika oleh kesan buruk.
Foreksampel :
Ada seorang cewek yang taaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaat banget beribadah. Tapi suatu hari, dia kedapatan lagi pelukan sama cowok yang tidak dikenal. Gosip pun menyebar bahwa si cewek cuma baik-di-luar-buruk-di-dalam atau kalau aku analogikan kayak telor setengah matang. Dari luar kuning telurnya sih bagus-bagus aja, pas udah dibuka, isinya masih cair.

Namun pasti, di suatu tempat di luar sana, hukum kesan yang di atas justru gak berlaku. Hanya saja, kedua hukum di atas merupakan hukum yang paling sering diterapkan masyarakat. Atau kalau kasarnya aku bilang "Sekali buruk, tetap buruk. Kebaikan yang ia lakukan tidak lebih hanya sebagai penebus kesalahannya yang lalu-lalu"

Kejam, ya?

Bagaimana jika kita telah meninggalkan kesan buruk pada orang lain, kemudian ingin merubahnya?
Bagaimana jika mereka tidak percaya kita akan berubah?

Aku ......... tidak tahu.
Sejauh yang aku mengerti, diperlukan usaha yang keras untuk menggapai langit yang tinggi.
Jika tidak bisa terbang, naik balon udara. Oh, atau, naik pesawat. Apapun! Apapun yang dapat membuat kita mengangkasa.

Oleh karena itu ... mungkin ... mengubah kesan itu seperti menggapai langit. Tidak mungkin dapat diraih kalau kita hanya melocat-loncat saja. Dibutuhkan usaha lebih. Usaha yang ekstra. Karena mengubah kesan kita di mata orang lain tak semudah membalikkan telapak kaki tangan.

"Tapi, kalau kesan baik, berarti aku harus hati-hati dong sama kesan buruk."
Berhati-hati dengan kesan buruk sama saja menjauhkan kita dari perilaku yang tidak sepantasnya.
Dengan kata lain, menjauhan kita dari dosa. Bukan begitu?
 
Ciptakanlah kesan baik, atau tidak sama sekali! Kita takkan tahu betapa dahsyatnya pengaruh kesan terhadap kehidupan kita di masa mendatang. Kerjakan hal baik di masa sekarang dan nikmati buah dari hal baik tersebut di masa yang akan datang.

Salam !
 

Kesan

Posted by ayachin
Rabu, 19 Maret 2014
Aku rasa dunia remaja gahol dewasa ini sudah tidak asing lagi dengan istilah PHP. Yep, PHP adalah singkatan dari Pemberi Harapan Palsu. Aku, sih, sebagai salah satu remaja yang hidup di dunia itu ... ah, lebih tepatnya pengamat, pengamat dunia itu, telah banyak melihat kisah-kisah tentang ke-PHP-an. Objek pengamatanku sih nggak jauh-jauh, cukup teman-temanku aja. Yah, bukan berarti aku menjadikan mereka kelinci percobaan, hanya saja, aku mengamati perilaku mereka yang fallin in love dan terkadang mereka sering mempermasalahkan tentang ...
"Harapan"

Sebenernya, apasih, yang perlu kita khawatirkan? Kita boleh berharap, apa aja, udah gitu, gratis gak ada yang ngelarang! Cius! Jikalau keadaan memang tidak memungkinkan harapan itu terwujud, kita masih boleh berharap, tapi kita belum tentu dibolehin harapan-harapan itu terwujud.
Intinya, berharap itu boleh.

Sering ya, kalian mendapati teman kalian terlibat kasus had a crush on someone who too impossible to be reached. Bahkan, mungkin justru kalian salah satunya? Kasus-kasus pun terbagi dalam berbagai jenis, salah-empat-nya :

1)Suka sama si A -> nggak berani deketin si A -> berujung pada secret admirer yang suka nyumpahin si A putus kalau si A punya pacar.

2)Suka sama si B -> nggak berani deketin si B -> berujung pada berusaha ikhlas dan tersenyum ketika si B punya pacar

3)Suka sama si C -> nggak bisa deketin si C karena si C orang terkece seantero sekolah -> berujung pada secret admirer yang selalu berdoa agar si C suatu hari berpaling padanya

4)Suka sama si D -> berusaha akrab sama si D -> nggak berani nyatain perasaan -> berujung pada secret admirer yang selalu bilang "Aku nggak papa" "Aku nggak mama ngarepin dia lagi kok" "Semua sudah berlalu, lagian dia udah punya pacar" Padahal dalam hatinya ... Atttiiiitttt.

Ahhh banyak lagi lah pokoknya kasus-kasusnya. Terus, di semua tipe kasus itu, pasti ada adegan di mana harapan itu ada, dan harapan itu hilang. Bikin orang jadi labil, kadang ngarep, kadang "Aku harus sadar kalau aku harus ngelepasin dia~". Ujung-ujungnya sih ngadu deh sama temen "Kemaren dia kayak suka sama aku, baik sama aku, kenapa dia sekarang malah pacaran sama orang lin? Aku di-PHP-in dong? Huaaa" #nangisdipojokan

Nih, ya, elu elu elu dan elu harus tau bahwa PHP itu ada 2 macam.
1. PHP karena salah paham.
2. PHP karena ... ya elu emang sejak awal mau diPHPin sama orang itu.

TAPI.
Nggak fair kan kalau ternyata PHP yang kamu alamin ternyata PHP yang nomer 1? Terus kamu malah umbar sana umbar sini kalau si dia itu cuma PeHaPers? Siapa tau orangnya baik, rajin menabung dan tidak sombong, cuman kalian aja yang ......................
 Bagaimana aku menyebutnya ya ............
   MMmmmmmm ...
"Ke-GR-an"

Oke aku cuma mau bahas PHP yang nomer 1 karena aku nggak setuju ada pihak yang selalu dirugikan dalam masalah "Siapa yang salah dalam kasus PHP ini?"
Menurut sudut pandang aku sih, yang sering jadi korban ya pihak cowok. Ya, cewek sering ke-GR-an. Otomatis, aku nggak setuju kalau pihak cowok dihujani gosip yang nggak-nggak. Tapi aku juga gak bilang kalau nggak banyak oknum cowok yang emang brengs*k. Ada kok cowok yang sukanya cuma main-main sama perasaan cewek. Merasa tersinggung? Situ suka mainin perasaan cewek nggak? Nggak? Brarti nggak brengs*k. Susmat. Susah amat.
 
Andai, ya. Google Translate bisa men-terjemah-kan makna perkataan atau sikap perhatian orang lain kepada kita. Pasti. Pasti tingkat korban dan pelaku PHP menurun drastis. Dari sisi ke-cewek-an aku, jujur aku merasa cewek itu emang suka diperhatikan. Tapi, diperhatikannya secara gentle. Lo gak mesti harus nanya udah-makan-belom-udah-mandi-belom-udah-BAB-belom, contohnya aja nih, pas ada cewek lagi sakit, dia muruuuung aja di kelas, lo pegang dahinya, terus bilang "Ke UKS, ya? Jangan memaksakan diri. Sini aku antar." Edeeehhh aku mah bakal kelepek kuadrat mah kalau gitu! Yaha ... maklum ... kebanyakan nonton drama xD
But-ta-to-the-pi ~
Si cewek ketika menghadapi ke-care-an dari seseorang, tidak boleh mengasumsikan bahwa seseorang itu suka sama dia. Pokoknya nggak boleh. Titik. Ini, nih yang biasanya disalahartikan sama cewek. Sebagai cewek, kita harus berfikir sepositif mungkin dengan mempertimbangkan kemungkinan terburuk yang ada. Kemungkinan, bahwa itu cuma perhatian biasa. Nggak lebih. Biar pas kita tahu kebenaran buruknya (bahwa ternyata si cowok nggak ada feel sama sekali) kita nggak akan merasa di-PHP-i.

Kesimpulannya yo guys ...
Buat cowok, kalau mau perhatian sama cewek boleh boleh aja, tapi secara gentle dan tidak berlebihan.
Buat cewek, jangan salah mengartikan perhatian cowok. Ingat, rasa GR-mu itulah yang membuatmu merasa di-PHP pada akhirnya. Tanggapilah balik perhatian itu jika memang kamu sudah memastikan perasaannya terhadapmu :) 
Oh, dan kalau kamu terlalu lelah menunggu kepastian, maka kamu sendirilah yang harus memastikannya. Berikan suatu ketegasan, padanya :)

Nah, untuk itu, aku ada quotes buat kalian semuwaaa ~

"It's a man's duty to be gentle, and it's a woman's duty to do not misunderstand with a man's gentleness"
                                                                                              -Aau-chan

Artinya? Aku rasa mbah gutrans masih bisa nerjemahin deh.
Sekian dan terima kasih banyaaaaaaaaaaaaaaak !!!

PHP dan Cara Mengantisipasinya ala Aau-chan

Posted by ayachin
Jumat, 07 Maret 2014
 Cokelat Misterius dari Mr.Misterius
Ehm. Di suatu pagi yang cerah -sebenernya gak cerah-cerah amat sih, mendung juga kagak, eh, lebih tepatnya aku nggak tahu gimana cuaca di luar- ketika aku sedang terburu-buru menyusun buku pelajaranku, aku dikejutkan oleh bungkus yang bergambar kacang mete yang aku kenal banget bungkus apaan itu.
Coklat.

Beberapa saat, aku bengong ngeliatin tuh coklat. Punya siapa? Punya temen yang gak sengaja coklatnya masuk ke tasku? Atau ... ada orang yang ngasih? Ah gamungkin-gamungkin-gamungkin. Valentine masih jauh. Terus ini coklat siapa? siapa?
Dalam hati, aku ke-GR-an abis. Jangan-jangan aku punya secret admirer. Jangan-jangan coklat ini emang ditujukan sama aku. Jangan-jangan bentar lagi ada yang nembak aku. Tapi semua jangan-jangan itu hilang saat aku menatap cermin. Nggak, bukannya jelek. Jilbabku gak rapi. Itu aja kok.

Karena masih dihantui dengan jangan-jangan-ini-coklat-temen-yang-gak-sengaja-masuk-ke-tas-ku, sampai di sekolah, aku nggak berani makan tuh coklat. Aku nunggu gugatan cerai tentang coklat itu. Siapa tahu nanti ada yang ngomong "Au, ada liat coklat di tasmu gak?". Tapi sampai jam pelajaran berakhir, gak ada yang gugat aku. Kemudian, GR itu timbul lagi. Emang buat aku kali, ya?

Sampai akhirnya, si Mr.Misterius mengakui kalau dia yang ngasih aku cokelat. Aku kaget, pada awalnya. Tapi semua kekagetan itu berusaha aku simpan dalam-dalam. Tapi ternyata susah, bawaannya pengen senyam-senyum mulu. Bukan karena yang ngasih cowok-cakep-se-antero-SMA *bukan berarti dia cowok jelek seantero SMA , ya --"* Tapi karena detik itu ... aku ... merasa kayak di film-film, cuy.

Pulang ke rumah, rasa senang itu masih lekat di hati. Buktinya, senyumku yang mengembang enggan layu. Rasanya ... We-A-We-We-O-We. Rasanya ... apa ya? Ah, aku gak bisa lukiskan dalam kata-kata. Lucu, mungkin. Haha. Adegan-adegan yang biasanya kamu *iya, kamu. Aku kan udah mupon dari tipi* tonton di tipitipi, yang biasanya bikin kamu iri, yang kemudian kamun mengutuki adegan sinetron itu dengan "Halah, drama banget, sih." "Mana ada cowok yang kayak gitu. Alah, sinetron" Tapi ternyata justru terjadi di hidupmu itu rasanya ............................................ waw.

Usai naruh tas, buru-buru deh aku ambil tuh coklat. Ngambil pita, ikat di coklatnya *haha, iya, pita itu aku yang ngikat, biar lebih drama :D *, terus Twitpic. Jadilah temen-temenku pada heboh semua. Apalagi temen-temen OGAL yang digandrungi @shenoza_ @CinthiA_E_P @shofiayrd @ditasifa_ ditambah makhluk yang aku anggap kakak sendiri @sehaevo . Mereka pada kepo sama identitas Mr.Misterius. Tapi aku gak mau kasih tau karena .................

Jujur, menurutku ini memalukan.

Dulu, aku orangnya open sama orang terdekatku. Aku gak segan-segan cerita masalah tentangku ke orang tersebut. Dia juga gak segan-segan bercerita apa pun tentangnya, keluarganya, padaku. Tapi, karena suatu hal, kami bertengkar. Dan akhirnya, semua rahasia-rahasiaku yang dulu terpaut dengan jari kelingking kami, semuanya terbongkar. Kenapa aku nggak balas bongkar rahasia dia? Karena aku orangnya pelupa. Aku itu tipikal orang yang kepo selangit, kalo udah tau ya puas, tapi lama-kelamaan semua hal itu bakal terlupa olehku. Jadi, aku bisa jamin kerahasiaan yang ingin orang lain simpan padaku. Toh, nantinya aku juga lupa. It is hard to keep something big alone. Sometimes it's good to have someone to share; someone who will help, someone who will keep, someone who will listen.

Dari situ, aku merasa ........... jera.

Peranku berubah. Aku yang dulunya terbuka sekarang tertutup. Tapi aku tetap terbuka sebagai orang yang "dibagi", bukan sebagai orang yang "membagi". Aku senang membantu orang lain memecahkan masalah mereka. Aku senang menjaga setiap rahasia-rahasia mereka -yang padahal bisa aja terlupa. Dan aku sangat senang menjadi orang yang mereka percayai untuk mendengar masalah-masalah mereka. Tapi, emang, ya. Berbicara itu lebih sulit dibanding mendengar. Aku enggan membicarakan hal-hal pribadiku kepada orang dekatku, bahkan OGAL sekali pun. Mungkin karena masih teringat masa lalu. Mungkin juga masa lalu itu menghantuiku sehingga nyaliku ciut untuk berbicara pada orang lain. Tapi, di sisi lain, dengan sangat jujur hati kecilku berharap : Aku ingin memiliki tempat untukku berbagi.

Temen-temen OGALku orangnya baik. Aku nggak bilang kalo mereka nggak bisa dipercaya. Tapi, itu tadi, aku takut. Takut nantinya kami bertengkar. Takut nantinya semua rahasia itu bocor. Takut nantinya rahasia itu dipandang layaknya aib oleh orang lain saat melihatku. Aku takut. Tapi aku ingin.

Jadilah aku mencoba menguatkan diri dengan mencoba berbagai alternatif lain. Mulai dari mencurahkan di diary, jika rasanya ingin menangis aku dengerin lagu yang paling bikin semangat, jika aku teringat aku akan menyibukkan diriku dengan kegiatan lain, tapi perasaan lega yang kudapat setelah melakukan semua hal itu bukan perasaan lega seperti ketika aku membicarakannya pada orang lain.
It's different.

Rasanya berat, bukan, memikul semuanya sendirian?
Hanya jiwa yang cukup tegar yang mampu melakukannya. Namun jiwa yang tegar itu belum mampu bisa menikmatinya. Menurutmu, apakah yang dimaksud dengan janji?

Menurutku, janji adalah pertaruhan hati.

Ya, pertaruhan. Ketika kita berjanji, menurutku, kita sudah mempertaruhkan hati kita. Jika dalam pertaruhan itu kita gagal, akan ada perasaan yang terbuang. Perasaan yang seharusnya lega, justru menjadi suatu ketakutan, atau dendam, atau benci, atau yang lainnya.

Janji juga cermin.
Janji dapat memperihatkan sosok seseorang tergantung berhasil tidaknya ia menjaga janji tersebut.

Janji pun adalah jalan yang terlihat ujungnya.
Janji tidak dapat dilihat bagaimana akhirnya. Apakah akan terbongkar, terlupa, tersimpan.

Tapi ketahuilah, orang yang berjanji, mempertaruhkan kepercayaannya padamu.

Orang yang berjanji mempertaruhkan sudut pandang mereka di matamu. Tentunya gak ada orang yang bodoh yang mau dicap sebagai a liar, 'kan? Jika kamu ingin menautkan jari kelingkingmu pada orang lain, cek dulu orangnya kayak gimana. Ya, kurang lebihnya kayak ngecek keaslian uang. Kalo aku sih, bukan orang yang paling tahu tentangmu, kebiasaanmu, atau apa pun yang berhubungan dengan kamu lainnya yang lainnya yang tepat untuk menjadi teman berbagi, tapi orang yang bisa membuatmu nyaman ketika kamu berbicara padanya. Orang yang cukup keras kepala yang berusaha mematahkan kata-kata "Aku nggak apa-apa, kok." Orang yang cukup humoris yang akan membuatmu tertawa. Dan orang yang tulus yang akan berkata "Aku senang, kamu udah senyum lagi :)"

Identitas Mr.Misterius udah aku kasih tau sama seseorang. Rasanya, sangat lega. Lega yang dulu tidak pernah lagi aku rasakan karena ketakutanku. Karenanya, aku belajar mempercayai seseorang. Aku ingin percaya pada teman-teman dekatku. Aku ingin mempertaruhkan kepercayaan ini pada mereka, karena mereka juga mempertaruhkan kepercayaan ini padaku. Seseorang pernah berkata padaku, kunci sebuah kesuksesan dalam bersahabat adalah :
"Mutual trust"


Janji dan Coklat Misterius

Posted by ayachin
Sabtu, 18 Januari 2014
Jujur gue orangnya nggak suka keramaian. Tau deh tuh kenapa. Sampai-sampai, dulu, waktu gue lagi asyik pacaran sama nebi di kamar (baca: netbook), terus tiba-tiba bokap-nyokap-ponakan tiba-tiba masuk, gue merasa sedikit ........... terusik.
Idih, emang setan kali ya?
Naujubilah.
Sebenarnya mereka nggak ngapa-ngapain. Ponakan gue masuk cuma mau ganggu-ganggu gue aja- biasa lah, anak kecil. Dia loncat-loncat di kasur, terus bokap-nyokap ketawa ngeliat tingkah laku ponakan gue yang kekanak-kanakan -Lha, dia kan masih kecil ?!?!- tapi gue cuma bisa tersenyum sinis sambil mikir;
Apanya yang lucu?
Jadilah kamar gue dipenuhi gelak tawa. Gue sih diem. Dalam hati gue pengen semuanya cepet-cepet keluar. Gue pengen ketenangan. Tapi tenangnya gak usah sampai mati lampu segala. Itu bukan tenang, horor namanya.
Tiba-tiba gue mikir : Gue jahat, ya, sampai bisa mikir kayak gitu?
Mungkin. Mungkin kalo gue bisa merasakan "lucu" yang bokap-nyokap gue rasain ketika melihat tingkah ponakan gue, gue gak bakal merasa terusik. Mungkin gue justru bakal seneng kamar gue jadi ramai. Tapi itu "mungkin", kenyataannya gue gak bisa nangkep apa yang mereka tertawakan.
Gue ... nggak jahat, kan? ._______.

Sekarang gue menyandang predikat baru. Gue bukan lagi anak rumahan. Gue anak "kamar-an". Yo'i, kalo nggak ada yang gue kerjakan, gue bakal diem di kamar. Gue nggak peduli lagi sama dunia luar. Sampai-sampai, gue nggak peduli lagi sama TV. Tadi, di sekolah,
Cinthia   : "Au, tadi Novan nyanyi goyang oplosan"
Gue        : "Terus?"
Cinthia   : "Bener-bener nggak ngerti nih anak. Nggak punya tipi dia di rumah"
Gue cuma cengengesan.

Oke. oke. Gue udah move on dari tv sejak ......... kapan, ya? Mungkin sejak gue masuk SMA. Menurut gue, SMA itu berat. Buktinya gue gak sanggup ngangkat SMA gue. Tuh, kan. Berat.
Back to topic.
Saking beratnya, gue nggak bisa ngangkat ada niatan lagi nonton TV. Tugas kelompok, lah. PR, lah. Ekskul, lah. Les, lah. Bener-bener bikin gue aktif seharian. Belum lagi kalau ada ulangan, bisa sampai malam tuh aktifnya.

Mungkin gara-gara itu semua, gue merasa tenang di kamar ini. Gue merasa nyaman. Padahal kamar ini pernah menjadi list ruang-di-rumah-yang-paling-gue-takutin. Kamar ini meraih posisi kedua setelah ruang tamu. Alasannya? Simple. Gelap.
Awalnya kamar ini nggak ada yang nempatin, sebatas ruang buat sholat gitu. Nah, pas belum ada yang nempatin, gue sering disuruh nyalain lampu luar pas magrib. Pas buka pintu, rasanya pengen dzikir 1000 kali. Gelap abis.
Ruang tamu? Nggak beda jauh. Yang jauh cuma saklarnya doang, bikin gue harus jalan beberapa langkah. Kalau yang di kamar ini mah nggak jauh sama pintu. Tiga langkah pun jadi. Kalau di ruang tamu, gue bisa lari. Lari ketakutan.

Entah. Entah deh tuh bokap-nyokap gue ngeliat putri yang tertukar nya yang suka diem di kamar ini kayak gimana. Mereka nggak ada komentar sih. Atau malah nggak peduli? DEG. Tapi nggak papa, gue nggak minta diperhatiin juga, kok. *pembelaan*
Di kamar, temen gue sih ada dua; nebi sama HP. Asal ngutak-ngatik mereka berdua nih, gue sih nggak masalah sendirian. Bahkan, gue bisa aja lupa kalau gue ini sendirian dan ... kesepian.
Tapi suatu hari, bencana itu terjadi.
Bencanya yang akhirnya menjitak kepala gue yang akhirnya menyadarkan gue akan kesendirian.
Mati lampu.
HP sama Nebi couple-an, sama-sama lowbat.

Jadilah gue diem di kamar dalam gelap. Gue sengaja nggak nyalain lampu emergency karena emang lampu emergency yang gue punya dipake semua. Gue sengaja nggak nyalain lilin karena emang gue nggak punya. Gue sengaja nggak nyalain lampu duduk karena emang gue nggak punya lampu berdiri.
Intinya, gue sengaja. Entah karena perasaan apa, gue merasa tenang dalam kegelapan itu.

Gue menoleh ke kiri dan ke kanan.
Nggak keliatan apa-apa.
*Senam Ya Iya Iya Lah ~*
Abaikan.
Gue sadar, betapa mirisnya gue. Tanpa nebi sama HP, gue cuma bisa diem mematung di kamar. Gue baru sadar sebeginikesepiannya gue. Nggak ada temen yang merupakan tetangga yang bisa diajak main, nggak ada kakak yang bisa diajak curhat, nggak ada adik yang bisa diajak main -gue bungsu, sih, dan masih banyak nggak ada nggak ada lainnya.
Gue kesepian, ya, ternyata?
Gue mikir, mungkin di ruangan ini ada makhluk lain yang sedang ngeliat gue. Kalau itu benar, rasanya, pengen deh, punya kemampuan untuk melihatnya. Siapa tahu gue bisa nyapa dia, terus temenan deh sama dia. Mengingat, nggak ada nggak ada di atas tadi. Tapi, ini gila! Gue nggak sebegitunya juga, kali ._____.
Haha, bahkan waktu kecil dulu, gue berharap punya peri kecil sejenis Tinker Bell. Seenggaknya, gue gak bakal merasa kesepian di rumah. Habisnya, gue merasa, di rumah ini nggak ada orang yang cocok yang bisa mendengar cerita gue, keluh kesah gue, cerita bahagia gue.
Yang bisa mendengarnya hanyalah temen-temen gue.
Makanya, gue sangat menghargai mereka yang ada untuk mendengar cerita gue. Karena menurut gue, cerita ke orang itu perkara yang sulit. Gue sih biasanya mikir 2x, bahkan lebih sebelum gue yakin cerita ke orang. Bagi mereka yang pernah mendengar ceritaku, selamat, kamu adalah orang yang termasuk dalam orang yang gue percayai.

Gue gak yakin, perilaku gue yang menyendiri ini benar. Di sekolah, gue sih fine-fine aja sama temen-temen. Bahkan gue nggak terganggu akan keramaian yang mereka buat. Karena aku, ikut tertawa di dalamnya. Ketika kesepian itu melanda, kupikir, aku hanya perlu mencari obatnya. Bisa juga, berpura-pura tidak berada di dalamnya. Pilihan lain: menikmatinya.

Tapi untuk kupu-kupu sejenisku, yang memiliki sepasang sayap kecil indah namun sebenarnya rapuh, pada akhirnya, pilihan mencari temanlah yang terbaik. Namun jika kamu dapat menahannya sepertiku, Kuakui kamu termasuk orang yang tegar. Jika kamu melarikan diri darinya, aku hanya bisa berharap kamu menemukan jalan baru yang dalam mengembangkan senyum di bibirmu :)


Di dalam kegelapan, aku bertanya.
Dapatkah aku mendapatkan cahaya yang 'kan menerangi?
Baru aku sadari betapa gelapnya hati ini.
Hey, katakan padaku.
Maukah kau menjadi cahaya itu?

Lonely Butterfly

Posted by ayachin
Jumat, 10 Januari 2014
Jika hidup bagaikan sebuah handphone, maka pulsa dapat dianalogikan sebagai batasan dapat digunakan-tidaknya handphone tersebut untuk sms atau telepon. Pulsa yang hanya diberikan sekali seumur hidup. Pulsa yang tidak dapat dicek nominalnya. Pulsa yang misterius. Pulsa yang kadang membuat hati bertanya-tanya "Jika aku menelpon seseorang sekarang, cukup tidak, ya?"

Tentu, selama kita memiliki handphone tersebut, tidak semuanya kita gunakan hanya untuk menelpon/sms semata. Kita dapat mengambil foto, mendengarkan lagu, merekam video maupun audio, tergantung tipe dan merk handphone yang kita punya. Seperti merk handphone A yang speakernya keras tapi kameranya hanya 3.2 megapixel tetapi merk B speakernya kecil namun kameranya 5 megapixel. Selalu ada kekurangan, kelebihan, mau pun kebalikan.

Ya, selama kita memiliki handphone, kita bisa menggunakannya untuk hal lain juga. Kadang kita memakainya karena memang membutuhkannya. Namun kadang kita juga memakainya tanpa alasan jelas. Sekedar menekan tombol "unlock" menatap layarnya sebentar, kemudian me-lock-nya kembali.

Kadang, aku sering menatap handphoneku tanpa alasan. Kadang aku membandingkannya dengan tipe yang lebih tinggi, kemudian aku melihat betapa kurangnya ponselku. Kemudian aku membandingkannya dengan tipe yang lebih rendah, kemudian aku melihat betapa lebihnya ponselku. Tapi akhirnya aku tak ingin membandingkannya dengan tipe manapun karena ponselku adalah ponselku. Aku dapat membuatnya lebih baik, aku dapat pula membuatnya menjadi buruk. Tak pandang tipe, yang penting isi. Tipe yang tinggi berperan besar sebagai faktor pendukung, namun jika dipakai hanya untuk smsan/telponan semata, apa artinya?

Sampai sekarang, aku masih bertanya-tanya pada diriku, "Berapa banyak pulsa yang kupunya?"
Aku ingin menggunakannya dengan baik, aku tak ingin membuang-buangnya, namun bagaimana aku memperhitungkannya jika aku sendiri tak tahu nominalnya? Ingin sekali aku menganggarkan pulsa tersebut dalam kebutuhan yang aku miliki. Kebutuhan komunikasi sms, telpon, sampai internet, semuanya. Tapi aku dihantui rasa takut. Takut pulsaku habis tanpa kugunakan untuk hal yang benar-benar penting. Takut pulsaku habis hanya gara-gara melakukan hal yang tak penting.

Ya, kira-kira seperti itulah hidup.

Kadang aku berangan-angan, lulus SMA aku akan masuk perguruan tinggi. Mencari program beasiswa untuk kuliah abroad. Membayangkan jika aku benar-benar dapat mewujudkannya. Membayangkan hidupku yang nantinya akan sendiri dan mandiri. Membayangkan aku dapat sukses kuliah sukses pula bekerja. Membayangkan aku pulang ke kampung halaman dan dengan jerih payah itu aku akan mengantarkan orang tuaku ke Tanah Suci Mekah. Aku menjadi bersemangat, dan ... takut.

Bagaimana jika hidupku berakhir sebelum aku bisa mewujudkannya?
Bagaimana jika kuliahku tidak sesuai dengan yang kuimpikan?
Bagaimana jika pekerjaanku tidak berjalan mulus?
Dan masih banyak bagaimana-bagaimana lainnya.

Apa itu artinya aku telah sia-sia membeli "handphone"?

Tujuan hidup utamaku sebagai seorang anak adalah membahagiakan kedua orang tuaku. Itu yang aku yakini hingga sekarang dan aku ingin terus meyakininya. Diperjalanan meraih keinginan itu, aku dapat sambil memenuhi keinginan pribadi hidupku misalnya kuliah di universitas terkenal ataupun menginjakkan kakiku di luar negeri. Aku hanya bisa berharap, berdoa agar aku dapat mewujudkannya. Sekesal apa pun terkadang aku dengan orang tuaku, pada akhirnya orang tua kita adalah orang tua kita. Adalah orang yang melahirkan kita dan menyayangi kita. Tak peduli luka kata atau luka hati yang pernah tergores di diri kita karena mereka. Aku yakin, di lubuk hati mereka, mereka menyayangi kita sepenuh hati. Jika kau ragu, anggap saja perasaan mereka tersembunyi. Well, sekarang tugasmu untuk membuat mereka memperlihatkan betapa sayangnya mereka kepadamu. Jadi, masih ada alasan untuk tidak membahagiakan mereka?

Kepada ayah dan ibu yang telah melahirkanku.
Kepada ayah dan ibu yang telah membesarkanku.
Kepada ayah dan ibu yang selalu menyayangiku.
Aku tidak tahu kapan waktu di mana kita masih dapat berkumpul berakhir. Namun aku akan berusaha membahagiakan kalian sebelum waktu tersebut tiba. Maafkan sikapku yang mengisolasi diri dari keramaian. Itu semua karena aku merasa nyaman berada di dalamnya. Maafkan tak bercerita masalahku pada kalian. Itu semua karena aku lebih merasa nyaman memendamnya, sebesar-besar mengungkapkannya hanyalah pada teman yang benar-benar kupercaya.
Kepada ayah dan ibu,
Aku menyayangimu.



"Tak seorangpun ingin menyianyiakan hidupnya di dunia ini. Di dunia ini terlalu banyak jalan. Kita bisa saja mengambil jalan yang salah. Jika kita terlanjur mengambilnya, beritahu orang lain agar tidak mengambil jalan tersebut. Maka hidupmu takkan sia-sia. Karena itu artinya kamu telah menyelamatkan orang lain dari jalan yang salah."

Hidup = Handphone

Posted by ayachin
Jumat, 20 Desember 2013
Pada dasarnya manusia itu serupa tapi tak sama. Manusia dilahirkan ke dunia dengan berbagai cerita; mengharukan, menyedihkan, menegangkan, dan manusia pun hidup di dunia dengan berbagai kisah pula. Manusia, jika dikaitkan dalam biologi, adalah kesatuan sistem organ yang berfungsi menurut fungsinya masing-masing sehingga terciptalah individu. Ya, individu.

Manusia adalah individu yang unik. Pada dasarnya mereka lemah, tapi mereka peduli terhadap sesama. Mereka tidak memiliki cakar elang maupun rauman singa, namun hal yang tak dapat dilihat seperti akal membuatnya menjadi makhluk hidup yang berada di tingkat atas dibanding hewan dan tumbuhan. Manusia memiliki perasaan, yang dapat mereka ekspressikan dengan 3 cara; langsung, tak langsung, dipendam. Hal itu semakin membuat manusia makhluk yang menarik. Mereka dapat tertawa dengan ramainya di sebuah perkumpulan namun dapat juga terpecah belah karena hal kecil.

Manusia adalah makhluk sosial. Mereka memerlukan satu sama lain dalam menjalankan kehidupannya. Mereka membutuhkan orang lain dan menentukan posisinya di matanya; entah sebagai teman belaka, sahabat sejati, rekan kerja, kekasih, dll. Ngomong-ngomong, temanmu ada berapa?

Aku? Jawabanku tidak tahu. Bukan, bukan karena sangking banyaknya aku memiliki teman, bukan juga karena tidak memiliki sama sekali. Aku hanya ... tidak bisa menentukan dengan pasti posisi mereka di mataku. Sejak kapan, ya ... Mungkin tahun keduaku di SMP, Aku tidak terlalu tertarik lagi dengan pencarian teman. Karena beberapa alasan tertentu, aku memilih ikut GNB (Gerakan Non-Blok). Pergaulan di kelasku kebanyakan membuat blok-blok atau yang biasa kalian sebut 'gang'. Biar kuberi sedikit gambaran, dulu aku pernah musuhan sama teman-teman dikelas. Yah, musuhannya ini simplenya seperti ini:
1) Aku mulai bersikap menyebalkan di kelas
2) Mereka mulai tidak menyukaiku
3) Aku dimusuhi dengan tujuan agar aku menyadari kesalahanku
Yah, namanya manusia. Melihat punggungnya aja nggak bisa tanpa bantuan cermin apalagi melihat kesalahan dirinya yang tak terlihat itu. Aku pun menjalani hariku secara pasif.

Usai kami baikan, aku masih belum tenang atau tepatnya merasa belum ada yang berubah dari diriku. Aku hanya berusaha sebisa mungkin menjadi apa yang dapat diterima mereka agar dapat menjadi bagian dari mereka. Kadang, ketika mereka bersenang-senang, aku hanya bisa tertawa dengan tawa palsu. Sungguh, aku tidak dapat masuk ke dunia mereka lagi. Dari situ, aku mulai menyadari, duniaku berbeda dengan mereka. Jika kami sedang melangkah di tangga, mereka melangkah dengan jarak yang jauh denganku. Sampai-sampai walau mereka menghadap ke belakang, mereka takkan melihat batang hidungku. Sementara aku, aku adalah orang-yang-tertinggal, yang ingin maju dan melangkah bersama mereka. Di saat aku menyadari betapa tertinggalnya aku, aku menyadari bahwa diriku ... kesepian.

Dan perasaan itu membuatku takut menjalani hubungan pertemanan yang terlalu berlebih sampai ke SMA. Di mataku, teman adalah seseorang yang kau kenal, dimana kau bisa bermain bersamanya, bercanda, ataupun bertengkar, namun hanya bersifat sementara karena mereka bisa datang, bisa pergi.
Sulit bagiku untuk berharap "teman yang selalu ada untukku" karena pada dasarnya aku tidak bisa menjadi "teman yang selalu ada untuk mereka". Bukankah di sekolah kita sudah diajarkan untuk menghargai orang lain jika ingin dihargai?

Permasalahan hidup datang silih berganti. Semakin pahit makanan yang kau makan, jika dapat melaluinya, lidahmu akan terlatih agar tahan pada makanan pahit. Yah, kira-kira seperti itu. Semua permasalahan itu membuatku yakin pada sebuah keyakinan; lebih baik sendiri daripada berdua tetapi tidak abadi. Masalah-masalah yang menimpaku selalu kupendam, dan sebesar-besarnya aku dapat meluapkan, paling-paling hanyalah sikap jutekku di rumah karena stres.
 
Tapi, teman ...
Hidup sendiri dan kesepian tidaklah membuatmu menjadi orang yang 'cool'. Bagaimana pun juga, hal itu menyakitkan. Namun karena sakit, kita menjadi kuat. Namun kekuatan itu tidak berguna jika pada akhirnya, hati kita hanya akan hancur berkeping-keping. Jika kamu merasa sepi, sadarlah, berarti kamu membutuhkan orang lain.

Tadi siang, aku bertanya kepada seniorku;
Aau-chan : "Apa yang sebaiknya kita lakukan kalau kita ... kesepian?"
Senior      : "Ahahahaha .... cari temen ... gitu aja kok repot :b hihihi ..."
Aau-chan : "Itu ... maksudnya, kegiatan yang dilakukan secara individu tapi nggak bikin kesepian"
Senior      : ":) Ga ada ... Ahahaha ... Ngebohongin diri sendiri itu cuma berlaku di beberapa situasi. Sebenernya kesibukan apa pun bisa bikin kita lupa kalo kita lagi sendiri. Tapi, kalo udah tiba waktu kejenuhannya di puncak, cuma orang lain yang bisa bantu keluar :) itu sebabnya manusia gak bisa sendirian"

Aku merasa tertampar dengan jawaban Senior itu. Bagaimana pun gajenya dia balas smsku (Lihat saja dia ketawa "ahahaha" mulu), tapi dia berbakat dalam bidang beginian. Mungkin, orang kesepian itu (terlebih orang sepertiku) lebih menyukai sosok bijak yang dapat membangun semangat mereka. Ya, kita membutuhkan orang lain. Seberapapun tangguhnya kita berdiri di atas kayu yang rapuh.

Sayangnya, kebanyakan manusia itu bawel.
1) Mereka menginginkan orang yang dapat mengerti mereka,
2) Mereka menginginkan orang yang peka terhadap perasaan mereka sekalipun tidak dikatakan,
3) Mereka menginginkan orang yang dapat membuatnya bahagia,
PADAHAL,
Mereka sendiri tidak dapat melakukan ketiga hal utama di atas kepada orang lain.

"Jika kamu haus, minumlah air dengan menutup matamu. Jika pahit, langsung kau buang. Tak perlu kau pedulikan warna dan rasa."

Ya, jika kita membutuhkan teman, janganlah mencari teman dengan kriteria ini itu. Terimalah mereka apa adanya. Jika teman itu hanya semakin memperparah keadaanmu, atau membimbingmu ke jalan yang salah, berarti dia bukanlah teman yang kau butuhkan. Jangan pedulikan kekurangannya, hargai keberadaanya untukmu.











                                                                                                                 - Thank a million for B-senpai

We Need Friend(s)

Posted by ayachin
Jumat, 13 Desember 2013

Popular Post

Diberdayakan oleh Blogger.
K-On Mio Akiyama

Follow me

Nama Jepangku ~

- Copyright © 2013 Aau-chan's World -Sao v2- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -