Kemarin, aku baru sadar bahwa followerku di instagram berkurang satu. Kemarin juga aku baru sadar bahwa kontak di BBM berkurang satu sehingga jumlah grup kontak Ichiban no Tomodachi tersisa 8. Dan kemarin aku juga ter-sadar bahwa aku kehilangan seorang sahabat.
Some feeling could be come true.
Sekilas info, aku ini termasuk cewek yang feelingnya lumayan works. Apalagi feeling nggak enak bertema kehilangan. Akan kuceritakan padamu beberapa cerita yang based on true story tentangku, dan feeling-kehilangan-ku.
Dulu, aku punya kucing yang mama beri nama Tuning karena warnanya kuning. FYI, Mama selalu memberi nama Tuning untuk semua kucing kuning di dunia yang mama jumpai. Suatu hari, aku yang berada di ruang tamu memandang ke pelataran rumahku dan mendapati Tuning sedang berjalan mengikuti gebetannya. Tiba-tiba aku merasakan feeling aneh. Aku berpikiran, "Bawa masuk aja kali, ye, si Tuning." Tapi di sisi lain aku juga berpikir "Ah, entar ngeganggu dia lagi PDKT sama ntu kucing. Biarin aja deh."
"Tapi kok aku ngerasa nggak enak ya."
"Ini pertanda apa."
"Apa ini cuma dilema?"
Hitung menghitung timbang menimbang, pada akhirnya aku hanya membiarkan si Tuning pergi. Keesokan harinya, si Tuning tidak datang ke rumahku lagi. Hari-hari selanjutnya pun demikian. Kabar yang aku dapatkan kemudian, Tuning telah tewas ditabrak motor.
Masih tentang kucing, mari kukenalkan padamu Tuning Part II. Sudah beberapa tahun terakhir keluargaku tidak memelihara kucing lagi. Namun, terkadang ada saat dimana ada kucing tetangga yang ngeloyor main ke rumah. Kalau kucingnya cakep, kami ajak main dan kasih makan. Kalau kucingnya kotor kami usir. Tapi jarang sih ada kucing kotor masuk, biasanya cakep semua. Nah, si Tuning Part II ini adalah kucing tetangga seberang yang mama pinjem dan bawa ke rumah pulang dari mesjid. Tuning Pt.II ini menjadi primadona karena badannya yang super gendut. Kekurangannya adalah karena Tuning Pt.II suka berkelahi, maka wajahnya full of luka. Tapi kami tetap sayang Tuning Pt.II, kami kasih makan kami ajak main. Dan akhirnya Tuning Pt.II pun jadi sering main ke rumah, bahkan ampe nginep selama bermalam-malam.
Suatu siang ketika aku ingin pergi, Tuning Pt.II berbaring di dekat pintu. Aku mendapat feeling aneh yang membujukku untuk membawanya masuk ke rumah. Namun dilema selalu terjadi. "Ah, dia udah PW gitu masa aku angkat." Lalu itulah menjadi pembelaan terakhirku hingga akhirnya aku tak pernah melihatnya lagi. Kabar yang kami dapatkan Tuning Pt.II juga tewas ditabrak motor.
Dan terhadap orang yang meng-unfollow, mendelcon, dan pergi dari hidupku kemarin, aku juga sempat merasakan feeling yang sama. Pada saat acara pengukuhan, aku merasa ada sesuatu yang berbeda dengannya. Ia bahkan rada-rada enggan berfoto denganku. Kami hanya berfoto satu kali, dan itupun menggunakan kameranya. Aku tak pernah tahu bagaimana hasil fotonya. Padahal aku sangat senang sekali melihatnya mengingat aku mendengar rumor bahwa dia tidak akan datang dikarenakan harus pergi ke Banjarmasin.
Boku wa Tomodachi ga Sukunai NEXT eps. 8
Ya, menyedihkan saat seseorang menghilang dari hidupmu tanpa memberitahu.
Apalagi orang yang kau anggap sahabat.
Bukan cuma sahabat, tapi sahabat nomor 1.
Sahabat, yang katanya orang yang ada untukmu walau 1001 orang pergi meninggalkanmu.
Apa aku telah keliru dalam mendefinisikan arti kata "sahabat"?
Tidak aku tidak keliru.
Hanya saja di sini aku ... yang ditinggalkan.
Kalau kureview ulang kilas balik dunia persahabatanku, aku memang tak pernah becus dalam bersahabat. Saat aku kecil, aku bersahabat dengan 3 orang tetanggaku tapi kini kami sudah tidak akrab lagi (kami beda umur dan sekolah yang berbeda memisahkan kami). Saat aku SD, aku pernah dimusuhi oleh teman-teman sekelasku. Saat aku SMP, aku kembali dimusuhi oleh teman-teman sekelasku. Dan ketika aku SMA, aku kehilangan sahabat yang sangat berarti untukku.
Aku ini ... payah, bukan?
Dimusuhi satu kelas bukannya tidak membawa dampak apa-apa bagiku. Aku sempat menjadi orang yang "sahabat? Aku tidak peduli apa itu sahabat. Mereka hanya orang yang datang padamu lalu ketika kau sakiti mereka membuat komplotan dan bersatu memusuhimu."
Aku pernah berpikir untuk menjadi orang yang berdiri dengan kedua kakiku sendiri. Berjalan tanpa ada yang menemani. Tersenyum untuk berpura-pura mengerti. Tertawa untuk pura-pura menikmati. Aku pernah menjadi orang yang super palsu. Super muka dua. Tapi saat kutemukan manusia-manusia yang kemudian dengan beraninya aku mencap mereka sahabat dan kukategorikan mereka dalam Ichiban no Tomodachi, kutemukan diriku lepas dari segala kepalsuan.
Aku adalah Aulia yang sebenarnya ketika aku bersama mereka. Tak ada keraguan untukku untuk tertawa keras. Untuk tersenyum pada hal yang benar-benar kunikmati. Untuk menjadi aneh dan absurd. Kutemukan diriku yang sesungguhnya bersama mereka karena itu ...
karena itu aku berani ...
mencap mereka sebagai ...
sahabat.
Pada akhirnya it makes nonsense. Aku tak dapat menutup kemungkinan suatu hari salah satu atau semua dari mereka akan meninggalkanku.
Dampak apa yang kudapatkan usai peristiwa kehilangan yang entah keberapakalinya ini?
Yah, aku mulai berpikir untuk menjadi sosok yang baru. Sosok yang independen. Aku tidak akan terjebak dalam klise persahabatan karena mau itu sejati atau tidak, seseorang masih dapat datang dan pergi darimu.
Aku akan menjadi orang yang bebas berteman dan mandiri dari teman. Aku tidak akan bergantung pada kebahagiaan yang hanya bisa didapatkan bersama teman tapi aku akan mencari kebahagiaanku sendiri. Aku akan menonton anime, drama korea, bertarung dengan diriku sendiri untuk mencapai puncak impianku selama ini, dan berinteraksi dengan dunia luar seperlunya saja.
Mungkin kau akan menilaiku terjatuh dalam sisi gelap. Namun percayalah, aku tidak berada di sisi manapun. Tidak di dalam sisi terang, atau sisi gelap. Aku mencampur kedua sisi itu dan menciptakan sisiku sendiri. Sisi kelabu -mari kita menyebutnya begitu.
Bagaimana dunia sisi kelabu ini? Sisi kelabu adalah dunia yang terlihat sangat labil, namun sebenarnya dunia yang sangat fleksibel. Karena penghuninya mampu menyesuaikan diri dengan penghuni sisi terang dan gelap tanpa menjadi bagian dari kedua sisi yang saling bertolak belakang. Namun sayang, kelemahan dari para penghuni sisi kelabu adalah ...
Some feeling could be come true.
Sekilas info, aku ini termasuk cewek yang feelingnya lumayan works. Apalagi feeling nggak enak bertema kehilangan. Akan kuceritakan padamu beberapa cerita yang based on true story tentangku, dan feeling-kehilangan-ku.
Dulu, aku punya kucing yang mama beri nama Tuning karena warnanya kuning. FYI, Mama selalu memberi nama Tuning untuk semua kucing kuning di dunia yang mama jumpai. Suatu hari, aku yang berada di ruang tamu memandang ke pelataran rumahku dan mendapati Tuning sedang berjalan mengikuti gebetannya. Tiba-tiba aku merasakan feeling aneh. Aku berpikiran, "Bawa masuk aja kali, ye, si Tuning." Tapi di sisi lain aku juga berpikir "Ah, entar ngeganggu dia lagi PDKT sama ntu kucing. Biarin aja deh."
"Tapi kok aku ngerasa nggak enak ya."
"Ini pertanda apa."
"Apa ini cuma dilema?"
Hitung menghitung timbang menimbang, pada akhirnya aku hanya membiarkan si Tuning pergi. Keesokan harinya, si Tuning tidak datang ke rumahku lagi. Hari-hari selanjutnya pun demikian. Kabar yang aku dapatkan kemudian, Tuning telah tewas ditabrak motor.
Masih tentang kucing, mari kukenalkan padamu Tuning Part II. Sudah beberapa tahun terakhir keluargaku tidak memelihara kucing lagi. Namun, terkadang ada saat dimana ada kucing tetangga yang ngeloyor main ke rumah. Kalau kucingnya cakep, kami ajak main dan kasih makan. Kalau kucingnya kotor kami usir. Tapi jarang sih ada kucing kotor masuk, biasanya cakep semua. Nah, si Tuning Part II ini adalah kucing tetangga seberang yang mama pinjem dan bawa ke rumah pulang dari mesjid. Tuning Pt.II ini menjadi primadona karena badannya yang super gendut. Kekurangannya adalah karena Tuning Pt.II suka berkelahi, maka wajahnya full of luka. Tapi kami tetap sayang Tuning Pt.II, kami kasih makan kami ajak main. Dan akhirnya Tuning Pt.II pun jadi sering main ke rumah, bahkan ampe nginep selama bermalam-malam.
Suatu siang ketika aku ingin pergi, Tuning Pt.II berbaring di dekat pintu. Aku mendapat feeling aneh yang membujukku untuk membawanya masuk ke rumah. Namun dilema selalu terjadi. "Ah, dia udah PW gitu masa aku angkat." Lalu itulah menjadi pembelaan terakhirku hingga akhirnya aku tak pernah melihatnya lagi. Kabar yang kami dapatkan Tuning Pt.II juga tewas ditabrak motor.
Dan terhadap orang yang meng-unfollow, mendelcon, dan pergi dari hidupku kemarin, aku juga sempat merasakan feeling yang sama. Pada saat acara pengukuhan, aku merasa ada sesuatu yang berbeda dengannya. Ia bahkan rada-rada enggan berfoto denganku. Kami hanya berfoto satu kali, dan itupun menggunakan kameranya. Aku tak pernah tahu bagaimana hasil fotonya. Padahal aku sangat senang sekali melihatnya mengingat aku mendengar rumor bahwa dia tidak akan datang dikarenakan harus pergi ke Banjarmasin.
Boku wa Tomodachi ga Sukunai NEXT eps. 8
Ya, menyedihkan saat seseorang menghilang dari hidupmu tanpa memberitahu.
Apalagi orang yang kau anggap sahabat.
Bukan cuma sahabat, tapi sahabat nomor 1.
Sahabat, yang katanya orang yang ada untukmu walau 1001 orang pergi meninggalkanmu.
Apa aku telah keliru dalam mendefinisikan arti kata "sahabat"?
Tidak aku tidak keliru.
Hanya saja di sini aku ... yang ditinggalkan.
Kalau kureview ulang kilas balik dunia persahabatanku, aku memang tak pernah becus dalam bersahabat. Saat aku kecil, aku bersahabat dengan 3 orang tetanggaku tapi kini kami sudah tidak akrab lagi (kami beda umur dan sekolah yang berbeda memisahkan kami). Saat aku SD, aku pernah dimusuhi oleh teman-teman sekelasku. Saat aku SMP, aku kembali dimusuhi oleh teman-teman sekelasku. Dan ketika aku SMA, aku kehilangan sahabat yang sangat berarti untukku.
Aku ini ... payah, bukan?
Dimusuhi satu kelas bukannya tidak membawa dampak apa-apa bagiku. Aku sempat menjadi orang yang "sahabat? Aku tidak peduli apa itu sahabat. Mereka hanya orang yang datang padamu lalu ketika kau sakiti mereka membuat komplotan dan bersatu memusuhimu."
Aku pernah berpikir untuk menjadi orang yang berdiri dengan kedua kakiku sendiri. Berjalan tanpa ada yang menemani. Tersenyum untuk berpura-pura mengerti. Tertawa untuk pura-pura menikmati. Aku pernah menjadi orang yang super palsu. Super muka dua. Tapi saat kutemukan manusia-manusia yang kemudian dengan beraninya aku mencap mereka sahabat dan kukategorikan mereka dalam Ichiban no Tomodachi, kutemukan diriku lepas dari segala kepalsuan.
Aku adalah Aulia yang sebenarnya ketika aku bersama mereka. Tak ada keraguan untukku untuk tertawa keras. Untuk tersenyum pada hal yang benar-benar kunikmati. Untuk menjadi aneh dan absurd. Kutemukan diriku yang sesungguhnya bersama mereka karena itu ...
karena itu aku berani ...
mencap mereka sebagai ...
sahabat.
Pada akhirnya it makes nonsense. Aku tak dapat menutup kemungkinan suatu hari salah satu atau semua dari mereka akan meninggalkanku.
Dampak apa yang kudapatkan usai peristiwa kehilangan yang entah keberapakalinya ini?
Yah, aku mulai berpikir untuk menjadi sosok yang baru. Sosok yang independen. Aku tidak akan terjebak dalam klise persahabatan karena mau itu sejati atau tidak, seseorang masih dapat datang dan pergi darimu.
Aku akan menjadi orang yang bebas berteman dan mandiri dari teman. Aku tidak akan bergantung pada kebahagiaan yang hanya bisa didapatkan bersama teman tapi aku akan mencari kebahagiaanku sendiri. Aku akan menonton anime, drama korea, bertarung dengan diriku sendiri untuk mencapai puncak impianku selama ini, dan berinteraksi dengan dunia luar seperlunya saja.
Mungkin kau akan menilaiku terjatuh dalam sisi gelap. Namun percayalah, aku tidak berada di sisi manapun. Tidak di dalam sisi terang, atau sisi gelap. Aku mencampur kedua sisi itu dan menciptakan sisiku sendiri. Sisi kelabu -mari kita menyebutnya begitu.
Bagaimana dunia sisi kelabu ini? Sisi kelabu adalah dunia yang terlihat sangat labil, namun sebenarnya dunia yang sangat fleksibel. Karena penghuninya mampu menyesuaikan diri dengan penghuni sisi terang dan gelap tanpa menjadi bagian dari kedua sisi yang saling bertolak belakang. Namun sayang, kelemahan dari para penghuni sisi kelabu adalah ...
...mereka kadang -bahkan sebagian besar- meragukan karakter aslinya sendiri.
Dari semua kejadian yang pernah terjadi dalam dunia persahabatanku, ada satu dampak yang sangat besar dalam hidupku sampai-sampai aku tidak tahu harus senang atau sedih karenanya. Dampak ini tidak dapat kudefinisikan sebagai dampak positif atau negatif, dampak ini lebih dapat didenifinikan sesuai keadaannya yang menguntungkanku atau justru merugikanku. Dan dampak itu adalah;
"susah nangis."
Barusan ada yang udah ngucapin what the f- ?
Ya, susah nangis. Itu adalah dampak terbesar yang kurasakan hingga saat ini dan mungkin untuk kedepannya juga. Menurutmu itu hanya hal kecil? Tidak. Susah nangis benar-benar bukan hal kecil, apalagi jika disertai perasaan hampa dalam dirimu yang seolah tidak merasakan apa-apa.
Seperti ketika Tuning Pt. II mati, aku tidak merasa sedih ataupun kehilangan yang begitu dalam sampai-sampai mengeluarkan air mata. Aku hanya seperti "Oh, begitu ya. Jadi begitu."
Dan tidak merasakan apapun ketika harusnya kau sedih dan kehilangan, membuatku muak pada diriku sendiri.
Sekarang ini, aku juga sedang muak pada diriku sendiri. Pada diriku yang nampaknya tidak terlalu sedih ataupun kehilangan setelah ditinggalkan oleh sahabat. Aku baru menyadari sahabatku meninggalkanku tadi malam, tepat sebelum ingin tidur, aku gemetaran dan ingin sekali menangis. Ingin sekali terluka. Ingin sekali sedih sejadi-jadinya. Ingin sekali seperti di film-film dimana aku tidak bisa tidur hanya karena kepikiran. Tapi semua itu tidak terjadi padaku. Rasanya aku ingin berteriak keras namun tak mungkin, hari sudah malam. Aku benci pada diriku yang begitu dingin. Ya, hatiku telah beku. Tak dapat merasakan apa-apa.
Kini aku harus bertahan dengan hati yang beku ini, sampai kutemukan seseorang yang dapat mencairkannya. Tidak, itu terlalu bergantung pada orang lain. Akan kucairkan hatiku yang beku ini sendiri -bagaimanapun caranya.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
No quote for this post. It's an outpouring-heart post.
Hari ini try out season 2 berakhir. Artinya, drama Hyde, Jekyll, Me besok tamat. Oke, enggak nyambung. Entah kenapa, hari ini nggak ada perasaan "merdeka" kayak apa yang selalu kurasakan ketika selesai ujian di hari terakhir. Mungkin karena udah biasa kali ya. Gimana enggak, UAS selama satu minggu full dua minggu yang lalu cukup memberi kontribusi yang berarti dalam menghadapi ujian. Try out 3 hari mah nggak ada apa-apanya dibanding UAS 1 minggu. Lebih capek UAS. Tapi, lebih serem try out soal-soalnya (T_T)
Nyinggung-nyinggung soal drama, tadi siang aku nonton drama Hyde Jekyll Me episode 19 lalu menemukan scene yang menjadi alasan mengapa aku menulis judul "Memori" dalam postku kali ini.
Oke aku jelasin sedikit kenapa Robin bilang kek gitu biar kalian yang tersesat dalam blogku ini paling nggak bisa ngerti dikiiiiit aja betapa dalemnya scene ini.
Goo Seo Jin adalah seorang laki-laki yang menderita DID (Disoriented Identity Disorder) yang artinya Seo Jin memiliki kepribadian ganda. Bukan kepribadian seperti baik hati, rajin menabung dan tidak sombong. Kepribadian di sini lebih kurang seperti "roh" lain yang bersemayam di tubuh Seo Jin. Dan "roh" itu salah satunya adalah Robin. Dalam drama ini, Robin adalah "roh" atau "kepribadian" yang paling dominan karena Robin adalah kepribadian yang pertama kali diciptakan Seo Jin akibat trauma masa lalunya. Intinya, di dalam tubuh Seo Jin ada roh "dirinya" dan roh "Robin".
Antara Seo Jin maupun Robin tidak dapat berbagi kenangan. Itu artinya, apa yang dilakukan Seo Jin tidak dapat diketahui Robin ketika roh Robin "bangun" dalam tubuh Seo Jin. Begitu pula sebaliknya. Namun lambat laun, masalah bermunculan yang mengakibatkan terjadi hal-hal aneh pada Seo Jin dan Robin. Seperti, Robin dapat meingat potongan-potongan ingatan Seo Jin dan sebaliknya. Klimaksnya, ingatan Robin, memudar satu persatu. Robin yang sangat mencintai Ha Na memutuskan untuk pergi karena dia tidak ingin menjadi orang yang tidak memiliki kenangan apapun bersama orang yang dicintainya. Iyalah, pacar lupa hari jadian aja marahnya selangit apalagi lupa segalanya alias hilang ingatan. Bayangannya gitu.
Karena itu, Robin bilang.
"Bahkan jika lengan ini menghilang, aku masih akan menjadi Robin. Bahkan jika kaki ini menghilang, aku masih akan menjadi Robin. Tapi, jika kenanganku menghilang, maka aku bukan lagi Robin."
Seorang Aulia yang menulis post ini adalah orang yang saaaaaaangat pelupa. Baju yang kemarin aku pakai aja perlu waktu beberapa menit dulu buat mikir baru aku ingat. Yah, bisa dibilang sifat pelupaku ini mungkin diturunkan dari gen Mama. Mama juga orang yang pelupa sehingga, ketika aku menemani Mama ke pasar dan sewaktu pulang ternyata ada yang ketinggalan di pasar, aku akan jadi bulan-bulanan Mama.
Nyinggung-nyinggung soal drama, tadi siang aku nonton drama Hyde Jekyll Me episode 19 lalu menemukan scene yang menjadi alasan mengapa aku menulis judul "Memori" dalam postku kali ini.
Oke aku jelasin sedikit kenapa Robin bilang kek gitu biar kalian yang tersesat dalam blogku ini paling nggak bisa ngerti dikiiiiit aja betapa dalemnya scene ini.
Goo Seo Jin adalah seorang laki-laki yang menderita DID (Disoriented Identity Disorder) yang artinya Seo Jin memiliki kepribadian ganda. Bukan kepribadian seperti baik hati, rajin menabung dan tidak sombong. Kepribadian di sini lebih kurang seperti "roh" lain yang bersemayam di tubuh Seo Jin. Dan "roh" itu salah satunya adalah Robin. Dalam drama ini, Robin adalah "roh" atau "kepribadian" yang paling dominan karena Robin adalah kepribadian yang pertama kali diciptakan Seo Jin akibat trauma masa lalunya. Intinya, di dalam tubuh Seo Jin ada roh "dirinya" dan roh "Robin".
Antara Seo Jin maupun Robin tidak dapat berbagi kenangan. Itu artinya, apa yang dilakukan Seo Jin tidak dapat diketahui Robin ketika roh Robin "bangun" dalam tubuh Seo Jin. Begitu pula sebaliknya. Namun lambat laun, masalah bermunculan yang mengakibatkan terjadi hal-hal aneh pada Seo Jin dan Robin. Seperti, Robin dapat meingat potongan-potongan ingatan Seo Jin dan sebaliknya. Klimaksnya, ingatan Robin, memudar satu persatu. Robin yang sangat mencintai Ha Na memutuskan untuk pergi karena dia tidak ingin menjadi orang yang tidak memiliki kenangan apapun bersama orang yang dicintainya. Iyalah, pacar lupa hari jadian aja marahnya selangit apalagi lupa segalanya alias hilang ingatan. Bayangannya gitu.
Karena itu, Robin bilang.
"Bahkan jika lengan ini menghilang, aku masih akan menjadi Robin. Bahkan jika kaki ini menghilang, aku masih akan menjadi Robin. Tapi, jika kenanganku menghilang, maka aku bukan lagi Robin."
Seorang Aulia yang menulis post ini adalah orang yang saaaaaaangat pelupa. Baju yang kemarin aku pakai aja perlu waktu beberapa menit dulu buat mikir baru aku ingat. Yah, bisa dibilang sifat pelupaku ini mungkin diturunkan dari gen Mama. Mama juga orang yang pelupa sehingga, ketika aku menemani Mama ke pasar dan sewaktu pulang ternyata ada yang ketinggalan di pasar, aku akan jadi bulan-bulanan Mama.
"Lia sih nggak ngingetin Mama! Ketinggalan, kan, jadinya."
Ngga sekali-duakali Mama ngomong gitu.
Ber..................................kali-kali.
Tau kan gimana sedihnya aku?
Udah yang nurunin gennya siapa ..................
#bercandaMa #maafinanakmuMa
Tapi, ternyata sifat pelupaku ini membuatku menjadi Masternya dalam hal move on.
Move on dari kesedihan, move on dari pelajaran sekolah, dan move on dari ................... #ahsudahlahyahsudahberlalu
Kadang aku berfikir, "Kalau aku terus-terusan lupa, dan tak banyak yang dapat kuingat dari masa lalu ... apa aku akan baik-baik saja?"
Sampai menit ke 48 lewat 43 detik aku nonton Hyde, Jekyll, Me (scene di atas) aku belum menemukan jawabannya. Usai menit tersebut, aku rasa aku menemukan jawaban atas pertanyaanku selama ini.
"Aku, tidak akan baik-baik saja."
Setelah menit tersebut, aku yakin kalau aku tidak akan baik-baik saja jika aku tidak dapat mengenang masa lalu. Entah itu masa lalu yang pahit, sedih, mengecewakan, memalukan, hingga yang membahagiakan ..... aku, aku tidak ingin melupakannya.
Tidak ingin.
Orang yang pernah dekat denganku sebelumnya adalah orang yang termasuk pengingat alias tidak mudah lupa. Aku ingat dia sering kecewa ketika aku lupa dengan apa yang pernah terjadi di masa lampau. Kini aku mengerti rasa kecewa-nya seperti apa. Dan "kini" itu, ... sudah sangat terlambat.
Aku kadang bertanya-tanya, orang seperti apa di masa depan nanti yang akan "tahan" dengan sifat pelupaku ini. Orang yang pengingat namun luar biasa sabar, kah ... atau orang yang tidak terlalu pedulian dengan hal-hal kecil, kah ... atau justru orang yang sama-sama pelupa. Entahlah. Aku tidak dapat membayangkannya.
Saat ini aku mungkin saja sedang mengalami stres ringan.
Memikirkan bahwa tidak banyak hal yang dapat kuingat di masa lalu, membuatku sedih. Mungkin nanti ketika acara reunian SMA, cuma aku yang tersenyum dan tertawa palsu. Tertawa, akan kenangan lucu di masa lalu yang mereka bicarakan. Kenangan lucu, yang tak dapat kuingat.
Memikirkan bahwa tidak banyak hal yang dapat kuingat di masa lalu, membuatku sedih. Mungkin nanti ketika acara reunian SMA, cuma aku yang tersenyum dan tertawa palsu. Tertawa, akan kenangan lucu di masa lalu yang mereka bicarakan. Kenangan lucu, yang tak dapat kuingat.
Semakin keras aku mengingat, justru semakin sulit bagiku mengumpulkan kepingan puzzle memori hidupku. Memori-memori itu bagiku sudah seperti remote TV saja, yang menghilang ketika dicari namun ada ketika aku tidak membutuhkan.
Datang, begitu saja.
Alternatifku saat ini untuk keluar dari zona stres ini adalah; tidak mengingatnya. Karena ketika berusaha mengingatnya, aku merasa miskin memori. Namun aku tahu dengan tidak mengingatnya tidak menjamin bahwa aku tidak akan kehilangan memori lagi. Setidaknya, aku tidak perlu sedih.
Setidaknya, untuk saat ini.
Adakah orang di luar sana yang mampu membantuku?
Membantuku mengingat atau membantuku menghadapi sifat pelupaku?
Aku ... tidak ingin begini.
Siapapun ... tolong aku.[]
............................................................................................................................................................
"Memori ibarat novel yang memuat cerita hidup. Seberapa tebal novelmu saat ini? Ingatkah kamu cerita di bab-bab sebelumnya? Apa jangan-jangan ada halaman yang robek?"
..............................................................................................................................................................
Kemarin tanggal 14 Februari ya? Wah ... berarti ada event khusus dong, yah. Kalo gitu aku mau ngucapin dulu deh. Ekhem. Happy ....................................................................................... Birthday, Abah! Yap, si Abah ulang tahun hari ini ^^
Hari yang orang lain sebut-sebut sebagai hari kasih sayang tidaklah begitu di mataku. Tanggal 14 Februari ya hari ulang tahunnya si Abah. Tidak ada yang berkesan kecuali satu, kemarin aku jogging sama si dia. *cieeeee* Rasanya menyenangkan, keliling-keliling pendopo dan bercanda ria. Berbicara banyak hal dan menertawakan banyak hal. Tidak ada degup kencang saat aku bersamanya. Tidak ada panas dingin saat kami tidak sengaja bersenggolan. Yang kurasakan hanya satu saat bersamanya; nyaman.
Dan itu cukup.
Waktupun berlalu begitu cepatnya. Jam menunjukkan pukul 5.30. Waktunya pulang. Waktunya berpisah. Tidak ada rasa "berat" saat waktu memisahkanku darinya. Oke, kuakui sedikit. Hanya seeeeedikit. Kurasa, aku sudah cukup baik dalam meng-handle perasaan suka ini. Kuharap. Nantinya, jika kami sudah benar-benar terpisah *kuliah di kota berbeda* aku sudah siap menjalani hari tanpa melihatnya lagi, untuk waktu yang sangat lama :')
Oh, iya. Kemarin, Lia, sahabatku -sekaligus saudara senamaku *sama-sama ada kata Lia dalam nama kami*- berkata padaku bahwa ia akan memberiku sebuah hadiah hari ini. Dan hari ini pun ia memberikannya padaku, sebuah kotak kecil dari kertas yang ia buat sendiri dengan hadiah gantungan hp berbentuk sepatu dari plastik. Sekilas, hadiah ini tampak sederhana. Tapi bagiku, hadiah ini sangat luar biasa. Ah, sudahkah aku memberitahumu bahwa ada surat di dalamnya?
Yap. Itulah surat dari Lia yang sangat, sangat membuatku terharu :')
Apa ada yang bertanya-tanya apa hubungan semua ini dengan judul post ini?
Oke, jawabannya akan kamu temukan jika kamu membaca post ini sampai selesai.
Ketakutan dalam persahabatan.
Hey, kamu. Seberapa banyak teman atau sahabat yang kamu miliki?
Sepuluh? Dua puluh?
Seberapa banyak teman yang datang di kala kau sakit?
Sepuluh? Dua puluh?
Seberapa banyak teman yang mengulurkan tangan di kala kau membutuhkan pertolongan?
Sepuluh? Dua puluh?
Meski kamu mengenal sejuta manusia, kenyataannya yang pasti ada untuk kita hanyalah beberapa. Pernahkah kamu menganggap seseorang begitu spesialnya, menganggap dia sahabat sejati dan sebagainya tapi dia tidak melakukan hal yang sama? Atau, sempat melakukan hal yang sama namun kedepannya justru meninggalkanmu begitu saja?
Bagaimana perasaanmu saat itu?
Tentunya menyakitkan, pasti. Rasanya seperti berjuang sendirian. Berjuang membangun tembok persahabatan namun sahabatmu itu hanya termenung melihat kita yang sibuk sendiri. Dan ketika dia sudah capek termenung, dia akan menjauh begitu saja. Mengendap-endap, lalu pergi tanpa kita sadari. Atau, terang-terangan pergi dan menghancurkan tembok itu hingga berkeping-keping.
Inilah ketakutanku dalam memulai sebuah persahabatan. Karena aku pernah membangun sebuah persahabatan yang akhirnya hancur begitu saja. Yang membuat ku dan nya tak lagi bertegur sapa seakrab dulu. Yang membuat ku dan nya tersenyum dalam rasa yang disebut canggung.
Siapa, sih, yang tidak ingin memiliki teman sehati dan sepemikiran? Sepemikiran dalam artian sama dalam menginterpretasi mana hal yang baik dan mana hal yang buruk. Aku sudah berkali-kali mencoba membangun persahabatan dengan orang-orang yang kiranya berpotensi menjadi teman sehati dan sepemikiran itu. Namun pada akhirnya, hanya aku yang berjuang.
Pertemuan pertamaku dengan Lia adalah ketika LPMT alias Lingkaran Penulis Remaja Tabalong mengadakan workshop kepenulisan. Aku dan Lia datang lebih dulu di perpustakaan daerah. Karena tidak ada siapa-siapa, aku iseng memulai pembicaraan daripada hanya diam. Awalnya kami hanya membicarakan topik ringan seperti betapa ngaretnya ketua LPMT yang bilang jam setengah 8 sudah harus ngumpul, dan ternyata topik berjalan semakin jauh. Belakangan aku tahu Lia ini termasuk anak berprestasi.
Iapun berbicara banyak hal padaku sampai pada kejadian naas yang menimpa ayahnya dan merenggut nyawa ayahnya di depan matanya. Yang kupikirkan saat itu adalah; ini kali pertama aku bertemu dan berbicara padanya dan ia sudah percaya padaku untuk berbicara hal yang ... seperti itu? Yang menyangkut kenangan keluarga? Betapa ... apa orang ini tipikal yang mau bicara hal seperti ini kepada siapa saja? Atau memang dia memiliki feel bahwa aku mungkin dapat menjadi sahabat sehati-sepemikirannya? Otakku terus bertanya-tanya, dan aku terus menggali jawabannya.
Karena jarak antar rumah yang jauh, aku dan Lia hanya bisa bertemu sekali dalam seminggu. Aku merasa klop dengannya karena kami hampir memiliki kesamaan dalam hal-hal tertentu. Akupun ingin percaya. Sekali lagi percaya pada feeling itu. Feeling yang mengatakan bahwa aku menemukan orang yang tepat. Orang yang bisa menjadi teman sehati dan sepemikiran.
Dan akhirnya, semua benar-benar terjawab hari ini. Semua benar-benar terjawab dengan surat ini. Kali ini, tidak hanya aku yang berjuang membangun tembok itu, tapi Lia juga. Kami berdua sama-sama berjuang membangun tembok persahabatan yang kelak akan menjadi sebuah rumah. Lalu kami akan terpisah dan suatu hari di kala kami sudah tua nanti, kami akan bertemu lagi dan masuk ke dalam rumah itu. Kami akan menempelkan tangan di dinding dan berjalan sambil menyentuh dinding dengan bangganya. Bangga, karena tembok itu kami bangun bersama. Lalu kami akan mengamati foto-foto kenangan kami bersama yang kami abadikan di tembok itu sambil tertawa dan bercucuran air mata nostalgia. Ya, perasaan seperti itu. Aku akan berjuang untuk mewujudkannya, bersamanya.
Yang ingin kukatakan di sini adalah,
Hey! Tidak perlu takut untuk menjalin sebuah relasi yang bersama persahabatan. Kau mungkin akan ditinggalkan oleh (calon) sahabatmu itu berkali-kali tapi yakinlah!
Tuhan akan memberikanmu yang terbaik, pada akhirnya.
Jika kau berhenti di tengah jalan, maka sampai kiamatpun kamu takkan pernah melihat akhir.
Apalagi jika kamu tidak ingin memulai, bagaimana bisa kau berharap untuk melihat akhir?
Tenang. Sukses itu diawali oleh huruf S. Karena itu, sebelum Sukses, kita harus Susah dulu. Sukses di sini yang aku maksud adalah sukses dalam persahabatan. Kapan kita mengetahui bahwa ini adalah akhir perjuangan kita dalam mencari sahabat? Jawabannya: kita takkan pernah mengetahuinya. Bahkan dengan surat dari Lia ini, bukannya tidak memungkinkan jika suatu hari kami justru musuhan. Tapi dengan surat ini, perjuanganku yang sungguh-sungguh dalam bersahabat baru saja dimulai. Kesimpulannya? Jangan berhenti berjuang. Berjuang untuk membuktikan bahwa dia-lah atau mereka-lah akhir yang terbaik untukmu.
Quotes untuk postingan kali eneeeeeh :
You'll never see the end if you don't even want to try because of your fears.
The true end sometimes comes slowly, but surely. Just believe that good things come on the right time.
-Aau-chan
Oke sampe situ dulu postingan kali ini ...
Salam!
PS : Kalo kamu udah nyerah buat nyari sahabat sehati-dan-sepemikiran, tenang, masih ada aku kok! Haha :D
Hari yang orang lain sebut-sebut sebagai hari kasih sayang tidaklah begitu di mataku. Tanggal 14 Februari ya hari ulang tahunnya si Abah. Tidak ada yang berkesan kecuali satu, kemarin aku jogging sama si dia. *cieeeee* Rasanya menyenangkan, keliling-keliling pendopo dan bercanda ria. Berbicara banyak hal dan menertawakan banyak hal. Tidak ada degup kencang saat aku bersamanya. Tidak ada panas dingin saat kami tidak sengaja bersenggolan. Yang kurasakan hanya satu saat bersamanya; nyaman.
Dan itu cukup.
Waktupun berlalu begitu cepatnya. Jam menunjukkan pukul 5.30. Waktunya pulang. Waktunya berpisah. Tidak ada rasa "berat" saat waktu memisahkanku darinya. Oke, kuakui sedikit. Hanya seeeeedikit. Kurasa, aku sudah cukup baik dalam meng-handle perasaan suka ini. Kuharap. Nantinya, jika kami sudah benar-benar terpisah *kuliah di kota berbeda* aku sudah siap menjalani hari tanpa melihatnya lagi, untuk waktu yang sangat lama :')
Oh, iya. Kemarin, Lia, sahabatku -sekaligus saudara senamaku *sama-sama ada kata Lia dalam nama kami*- berkata padaku bahwa ia akan memberiku sebuah hadiah hari ini. Dan hari ini pun ia memberikannya padaku, sebuah kotak kecil dari kertas yang ia buat sendiri dengan hadiah gantungan hp berbentuk sepatu dari plastik. Sekilas, hadiah ini tampak sederhana. Tapi bagiku, hadiah ini sangat luar biasa. Ah, sudahkah aku memberitahumu bahwa ada surat di dalamnya?
Yap. Itulah surat dari Lia yang sangat, sangat membuatku terharu :')
Apa ada yang bertanya-tanya apa hubungan semua ini dengan judul post ini?
Oke, jawabannya akan kamu temukan jika kamu membaca post ini sampai selesai.
Ketakutan dalam persahabatan.
Hey, kamu. Seberapa banyak teman atau sahabat yang kamu miliki?
Sepuluh? Dua puluh?
Seberapa banyak teman yang datang di kala kau sakit?
Sepuluh? Dua puluh?
Seberapa banyak teman yang mengulurkan tangan di kala kau membutuhkan pertolongan?
Sepuluh? Dua puluh?
Meski kamu mengenal sejuta manusia, kenyataannya yang pasti ada untuk kita hanyalah beberapa. Pernahkah kamu menganggap seseorang begitu spesialnya, menganggap dia sahabat sejati dan sebagainya tapi dia tidak melakukan hal yang sama? Atau, sempat melakukan hal yang sama namun kedepannya justru meninggalkanmu begitu saja?
Bagaimana perasaanmu saat itu?
Tentunya menyakitkan, pasti. Rasanya seperti berjuang sendirian. Berjuang membangun tembok persahabatan namun sahabatmu itu hanya termenung melihat kita yang sibuk sendiri. Dan ketika dia sudah capek termenung, dia akan menjauh begitu saja. Mengendap-endap, lalu pergi tanpa kita sadari. Atau, terang-terangan pergi dan menghancurkan tembok itu hingga berkeping-keping.
Inilah ketakutanku dalam memulai sebuah persahabatan. Karena aku pernah membangun sebuah persahabatan yang akhirnya hancur begitu saja. Yang membuat ku dan nya tak lagi bertegur sapa seakrab dulu. Yang membuat ku dan nya tersenyum dalam rasa yang disebut canggung.
Siapa, sih, yang tidak ingin memiliki teman sehati dan sepemikiran? Sepemikiran dalam artian sama dalam menginterpretasi mana hal yang baik dan mana hal yang buruk. Aku sudah berkali-kali mencoba membangun persahabatan dengan orang-orang yang kiranya berpotensi menjadi teman sehati dan sepemikiran itu. Namun pada akhirnya, hanya aku yang berjuang.
Pertemuan pertamaku dengan Lia adalah ketika LPMT alias Lingkaran Penulis Remaja Tabalong mengadakan workshop kepenulisan. Aku dan Lia datang lebih dulu di perpustakaan daerah. Karena tidak ada siapa-siapa, aku iseng memulai pembicaraan daripada hanya diam. Awalnya kami hanya membicarakan topik ringan seperti betapa ngaretnya ketua LPMT yang bilang jam setengah 8 sudah harus ngumpul, dan ternyata topik berjalan semakin jauh. Belakangan aku tahu Lia ini termasuk anak berprestasi.
Iapun berbicara banyak hal padaku sampai pada kejadian naas yang menimpa ayahnya dan merenggut nyawa ayahnya di depan matanya. Yang kupikirkan saat itu adalah; ini kali pertama aku bertemu dan berbicara padanya dan ia sudah percaya padaku untuk berbicara hal yang ... seperti itu? Yang menyangkut kenangan keluarga? Betapa ... apa orang ini tipikal yang mau bicara hal seperti ini kepada siapa saja? Atau memang dia memiliki feel bahwa aku mungkin dapat menjadi sahabat sehati-sepemikirannya? Otakku terus bertanya-tanya, dan aku terus menggali jawabannya.
Karena jarak antar rumah yang jauh, aku dan Lia hanya bisa bertemu sekali dalam seminggu. Aku merasa klop dengannya karena kami hampir memiliki kesamaan dalam hal-hal tertentu. Akupun ingin percaya. Sekali lagi percaya pada feeling itu. Feeling yang mengatakan bahwa aku menemukan orang yang tepat. Orang yang bisa menjadi teman sehati dan sepemikiran.
Dan akhirnya, semua benar-benar terjawab hari ini. Semua benar-benar terjawab dengan surat ini. Kali ini, tidak hanya aku yang berjuang membangun tembok itu, tapi Lia juga. Kami berdua sama-sama berjuang membangun tembok persahabatan yang kelak akan menjadi sebuah rumah. Lalu kami akan terpisah dan suatu hari di kala kami sudah tua nanti, kami akan bertemu lagi dan masuk ke dalam rumah itu. Kami akan menempelkan tangan di dinding dan berjalan sambil menyentuh dinding dengan bangganya. Bangga, karena tembok itu kami bangun bersama. Lalu kami akan mengamati foto-foto kenangan kami bersama yang kami abadikan di tembok itu sambil tertawa dan bercucuran air mata nostalgia. Ya, perasaan seperti itu. Aku akan berjuang untuk mewujudkannya, bersamanya.
Yang ingin kukatakan di sini adalah,
Hey! Tidak perlu takut untuk menjalin sebuah relasi yang bersama persahabatan. Kau mungkin akan ditinggalkan oleh (calon) sahabatmu itu berkali-kali tapi yakinlah!
Tuhan akan memberikanmu yang terbaik, pada akhirnya.
Jika kau berhenti di tengah jalan, maka sampai kiamatpun kamu takkan pernah melihat akhir.
Apalagi jika kamu tidak ingin memulai, bagaimana bisa kau berharap untuk melihat akhir?
Tenang. Sukses itu diawali oleh huruf S. Karena itu, sebelum Sukses, kita harus Susah dulu. Sukses di sini yang aku maksud adalah sukses dalam persahabatan. Kapan kita mengetahui bahwa ini adalah akhir perjuangan kita dalam mencari sahabat? Jawabannya: kita takkan pernah mengetahuinya. Bahkan dengan surat dari Lia ini, bukannya tidak memungkinkan jika suatu hari kami justru musuhan. Tapi dengan surat ini, perjuanganku yang sungguh-sungguh dalam bersahabat baru saja dimulai. Kesimpulannya? Jangan berhenti berjuang. Berjuang untuk membuktikan bahwa dia-lah atau mereka-lah akhir yang terbaik untukmu.
Quotes untuk postingan kali eneeeeeh :
You'll never see the end if you don't even want to try because of your fears.
The true end sometimes comes slowly, but surely. Just believe that good things come on the right time.
-Aau-chan
Oke sampe situ dulu postingan kali ini ...
Salam!
PS : Kalo kamu udah nyerah buat nyari sahabat sehati-dan-sepemikiran, tenang, masih ada aku kok! Haha :D
Oke, bagi yang udah tau maksud dari Liebster Award, mungkin judul postku kesannya udik bin kidu banget, ya? Tapi buat yang belum, nih, aku kasih tau apa itu Liebster Award.
Tenang, ngga usah ngutak-atik channel TV karena Liebster Award ngga ditayangin di stasiun TV manapun. Liebster Award itu semacam penghargaan yang diberikan seorang blogger kepada 11 orang sahabat bloggernya. Gitu.
Nah, untuk memberikan penghargaan ini, ada rulesnya gaes.
1. Bikin post Liebster Award di blog kamu, iya kamu, bukan di blog mantan kamu.
2. Berterima kasih kepada orang yang telah memberikan Liebster Award sama kamu, iya kamu.
3. Tulis 11 hal tentang kamu. Yah, mungkin semacam #20factsaboutme
4. Jawab pertanyaan dari orang yang memberikan Liebster Award sama kamu.
5. Pilih 11 sahabat blogger kamu, dan beri mereka pertanyaan.
1. Bikin post Liebster Award di blog kamu, iya kamu, bukan di blog mantan kamu
Oke point numer uno sudah terpenuhi. Sekarang aku maucapcin capcus ke point nomor 2.
2. Berterima kasih kepada orang yang telah memberikan Liebster Award sama kamu, iya kamu.
Terima kasih buaaaaaaaaanyaks buat Naufal Raga, embahnya blog "OTAK KECIL (BUKAN BIOLOGI)" Karena atas berkatRahmat temen sekelasnya tag-nya, aku merasa dianggap sebagai seorang blogger. Dan terima kasih lagi buat Raga, aku jadi harus mikir untuk mencari siapa yang harus ku-tag karena temen bloggerku cuma ada 3 (termasuk dirinya) -_-
3. Tulis 11 hal tentang kamu. Yah, mungkin semacam #20factsaboutme
Oke inilah sebelas hal tentangku.
1. Anak kamaran. Satu tingkat lebih tinggi dari anak rumahan. Kalo nggak ada kerjaan di rumah pasti dapat ditemukan di kamar. Kalo ngga ada, berarti di luar kamar. *apaan sih*
2. Anime Lovers :* Suka nonton anime selain untuk hiburan juga untuk belajar dari anime. Anime banyak mengandung qoutes-quotes yang #paskenahatiku. Anime daaiiiisukiiiii !!!!
3. Anak ke 3 dari 3 bersaudara yang lahir pada tanggal 3 Juli 1998 dan uniknya menjadi angkatan kelas akselerasi ke 3 sewaktu SMP lalu masuk kelas X-3, XI IPA 3, dan XII IPA 3 sewaktu SMA. Ada apa dengan angka tiga?
4. Suka lagu barat, ada 848 trek di handphoneku dan kalo aku presentase-kan 90%nya adalah lagu-lagu barat.
5. Suka ngebut di jalanan. Tapi ngebutnya -insya Allah- masih berperi-kelalu-lintasan. Kenapa aku bilang berperi-kelalu-lintasan? Karena aku ngebutnya nggak meresahkan pengendara lain, tetapi meresahkan diri sendiri -oke, yang ini becanda. Bukannya pengen cari sensasi di jalan tapi entah kenapa kalo berkendara dengan lambat itu anginnya ngga berasa.
6. Suka sama yang namanya kacamata. Apalagi kalo cowo pake kacamata. Entah kenapa di mataku itu kelihatan cool gimanaaaa gitu.
7. Buruk dalam berkomunikasi dengan orang baru tetapi baik dalam berkomunikasi dengan kawan sepermainan. Ya, kalo kamu ketemu aku untuk yang pertamakalinya, mungkin kamu bakal ngira aku itu orangnya pendiam, pemalu, gimanaaa gitu. Tapi kalo kamu udah kenal banget sama aku, aku orangnya berbanding 180 derajat dengan Aau yang ada di kesan pertamamu itu.
8. Telah menghasilkan banyak karya-karya tulis yang selalu berujung kata "draft" dalam word dokumenku. Haha. Ya, aku punya ketertarikan dalam dunia tulis menulis. Pinginnya sih jadi penulis novel. Tapi semua novel yang kugarap selalu berakhir pada kata "draft" alias ngga pernah selesai. Haha :D
9. Cemilers tingkat dewa. Cemilers adalah sebutanku buat orang yang suka makan cemilan. Kasih aku cemilan apa aja dan aku yakin bisa ngabisin tuh cemilan dalam sekejap mata. FYI, aku punya kecepatan makan yang relatif tinggi. Buktinya? Tanya sama temen-temenku kalo makan di kantin siapa yang duluan habis. Haha
10. Punya motto "Segala sesuatu harus dikerjakan secara sistematis". Menyukai hal-hal yang sifatnya balance, antara kiri dengan kanan atau atas dengan bawah. Karena itu, ketidakadilan bisa membangkitkan esmosiku.
11. Nggak suka keramaian. Bagiku, sunyi yang damai adalah sebuah kenikmatan.
4. Jawab pertanyaan dari orang yang memberikan Liebster Award sama kamu.
Dan pertanyaannya adalah ...
1. Apa tujuan elo nge-blog?
Jawab : Tujuanku? Yah, sebagai orang yang suka berpikir out of the things, atau dalam bahasa sederhananya mikir hal yang sebenernya ngga usah dipikirin. Aku pingin dunia membaca opini tentang apa yang telah kupikirkan. Misalnya gini, kamu sering, kan, melihat ending bahagia seperti "...dan Cinderella pun hidup bahagia bersama pangeran selamanya"
selamanya.
se-la-ma-nya.
Normal people nggak akan mikir lebih jauh tentang ending bahagia ini tetapi orang sepertiku akan berpikiran yang lebih jauh. Hah? Selamanya? Yakin tuh? Gimana naratornya bisa yakin kalo Cinderella bakal hidup bahagia sama Pangeran selamanya? Pastilah habis nikah mereka kadang-kadang bisa berantem dan siapa tau mereka cerai pada akhirnya. Nah, kebiasaan berpikir macam ini yang membuatku ingin dunia melihat suatu hal bukan hanya dari satu sisi, tapi dari sisi lainnya juga.
2. Kapan pertama kali nge-blog?
Jawab : Aku nggak bisa kasih informasi detailnya mengenai tanggal, bulan, tahun, menit, detik karena pada dasarnya aku pelupa. Tapi satu hal yang pasti: aku pertama kali nge-blog ketika SMP.
3. Menurut elo blog OTAK KECIL gue ini gimana sih?
Jawab : Secara appearance alias penampilan sih bagus. Soalnya simple dan nggak ribet. Nggak perlu masuk ke pemendek tautan atau nge-close iklan-iklan gapenting dulu. Secara isi, cukup menghibur. Elu, Ga, selalu punya cara menabur humor dalam setiap post elu. Itu yang aku suka x)
4. Menurut lo blogger yang baik itu gimana sih?
Jawab : Blogger yang baik adalah blogger yang mau promosiin blog sahabatnya ke blogger lainnya. *Ngefek Raga* -Oke ini becanda xD. Blogger yang baik adalah ... blogger yang selalu setia mengupdate tulisannya tetapi kualitas isinya tetap terjaga. Terus blogger yang baik juga sedia ngeladenin komentar pengunjung-pengunjungnya ataupun balik berkomentar pada blog yang dia kunjungi. Juga, blogger yang baik selalu berusaha membuat blognya menjadi yang terbaik di mata pengunjung blognya.
5. Siapa blogger yang paling menginspirasi lo?
Jawab : Karena basically aku ngeblog buat mengeluarkan isi pikiranku dalam bentuk tulisan, jadi nggak ada sih jawaban buat ini. Maaf ya!
6. Apa yang akan lo lakukan kalo pacar lo selingkuh?
Jawab : Beli boneka kecil terus nempelin foto pacar di kepala boneka itu terus nusuk-nusuk bonekanya sama paku. Oke, becanda lagi. The thing is ... aku ngga pernah diselingkuhin jadi ngga tau rasanya atau apa yang harus kulakukan. Yang jelas, kalau sampai terjadi ya pastinya marah, dan mungkin berujung putus. Tapi sebelum itu terjadi, aku akan berusaha membuatnya takkan melihat orang lain. I'm gonna make another girl couldn't be seen on his eyes. #tsah
7. Apa yang akan lo lakukan kalo pelajaran di sekolah or kampus ngebosenin?
Jawab : Liat tipikal gurunya dulu. Kalo gurunya itu ngga suka tawaf keliling kelas, maka yang akan kulakukan adalah pergi ke belakang kelas dan tidur dengan posisi yang tak terlihat dari guru. Jika gurunya killer, mungkin cuma bakal corat-coret kertas ngga jelas.
8. Apa yang akan lo lakukan kalo lagi gak ada kerjaan di rumah?
Jawab : Pacaran sama netbook dan ngutak atik folder buat nyari tontonan.
9. Apa yang akan lo lakukan kalo lagi galau?
Jawab : Dengerin + nyanyi lagu-lagu yang punya kenangan tersendiri :')
10. Apa yang akan lo lakukan kalo rumah lo kebakaran?
Jawab : Nelpon pemadam kebakaran, Agar-agar :')
11. Apa aja resolusi ato harapan lo di tahun 2015 ini yang harus tercapai?
Jawab : Masuk tiga besar sekabupaten dalam peringkat UN amiiiiiiiin O:)
5. Pilih 11 sahabat blogger kamu, dan beri mereka pertanyaan.
Oke jujur aku seneng banget akhirnya udah nyampe point terakhir tapi ini juga point paling nyesek juga sih sebenernya karena nggak punya banyak sahabat blogger -_- Pengunjung blog ini aja kebanyakan netter nyasar. Oke langsung aja
Sebelas orang yang menerima Liebster Award dariku adalaaaaaaah *eng* *ing* *eng* :
1. Hafidz Rachmadana
2. M.Ikhlasul Amal S.
3. Almay Alif I.
4. Aditya Novan F.
5. Agung Gumilang P.
6. Kamu
7. Kamu?
8. Iya, kamu
9. Sumpah, kamu
10. Kamu, yang baca post ini
11. Kamu, siapapun itu :)
*Raga boleh di-tag lagi nggak sih? Kalo boleh lu kudu jawab 11 pertanyaan di bawah ini, Ga.*
And the questions are :
1. Melalui blog, apa sih yang sebenernya pingin kamu tunjukkin kepada netter?
2. Apa rintangan terbesar bagi seorang blogger menurut kamu?
3. Masa-masa paling indah ketika berada di kelas?
4. Pengalaman paling memalukan sepanjang sejarah hidupmu?
5. Hal yang paling tidak ingin kamu lewatkan?
6. Lagu yang masih kamu sukai dari dulu hingga detik ini?
7. Hal kecil yang bisa membuatmu tersenyum?
8. Jelaskan hubungan perkembangan teknologi dengan adanya Perang Dunia I dan Perang Dunia II! (ngga ada yang bilang nggak boleh nanya PR kan? mhihihi)
9. Film yang bikin kamu nangis/paling berkesan hingga saat ini?
10. Momen yang tidak terlupakan olehmu?
11. Mimpi terbesarmu?
Oke segitu aja dulu, itupun udah banyak banget, cukup banyak buat bikin dua jari telunjuk kanan-kiriku keriting. Terima kasih telah membaca dan kini waktunya saya menunjukkan kalian, para netter yang tersesat di blog saya, ke jalan yang benar.
Saya Aau-chan
Wassalam
Tenang, ngga usah ngutak-atik channel TV karena Liebster Award ngga ditayangin di stasiun TV manapun. Liebster Award itu semacam penghargaan yang diberikan seorang blogger kepada 11 orang sahabat bloggernya. Gitu.
Nah, untuk memberikan penghargaan ini, ada rulesnya gaes.
1. Bikin post Liebster Award di blog kamu, iya kamu, bukan di blog mantan kamu.
2. Berterima kasih kepada orang yang telah memberikan Liebster Award sama kamu, iya kamu.
3. Tulis 11 hal tentang kamu. Yah, mungkin semacam #20factsaboutme
4. Jawab pertanyaan dari orang yang memberikan Liebster Award sama kamu.
5. Pilih 11 sahabat blogger kamu, dan beri mereka pertanyaan.
1. Bikin post Liebster Award di blog kamu, iya kamu, bukan di blog mantan kamu
Oke point numer uno sudah terpenuhi. Sekarang aku mau
2. Berterima kasih kepada orang yang telah memberikan Liebster Award sama kamu, iya kamu.
Terima kasih buaaaaaaaaanyaks buat Naufal Raga, embahnya blog "OTAK KECIL (BUKAN BIOLOGI)" Karena atas berkat
3. Tulis 11 hal tentang kamu. Yah, mungkin semacam #20factsaboutme
Oke inilah sebelas hal tentangku.
1. Anak kamaran. Satu tingkat lebih tinggi dari anak rumahan. Kalo nggak ada kerjaan di rumah pasti dapat ditemukan di kamar. Kalo ngga ada, berarti di luar kamar. *apaan sih*
2. Anime Lovers :* Suka nonton anime selain untuk hiburan juga untuk belajar dari anime. Anime banyak mengandung qoutes-quotes yang #paskenahatiku. Anime daaiiiisukiiiii !!!!
3. Anak ke 3 dari 3 bersaudara yang lahir pada tanggal 3 Juli 1998 dan uniknya menjadi angkatan kelas akselerasi ke 3 sewaktu SMP lalu masuk kelas X-3, XI IPA 3, dan XII IPA 3 sewaktu SMA. Ada apa dengan angka tiga?
4. Suka lagu barat, ada 848 trek di handphoneku dan kalo aku presentase-kan 90%nya adalah lagu-lagu barat.
5. Suka ngebut di jalanan. Tapi ngebutnya -insya Allah- masih berperi-kelalu-lintasan. Kenapa aku bilang berperi-kelalu-lintasan? Karena aku ngebutnya nggak meresahkan pengendara lain, tetapi meresahkan diri sendiri -oke, yang ini becanda. Bukannya pengen cari sensasi di jalan tapi entah kenapa kalo berkendara dengan lambat itu anginnya ngga berasa.
6. Suka sama yang namanya kacamata. Apalagi kalo cowo pake kacamata. Entah kenapa di mataku itu kelihatan cool gimanaaaa gitu.
7. Buruk dalam berkomunikasi dengan orang baru tetapi baik dalam berkomunikasi dengan kawan sepermainan. Ya, kalo kamu ketemu aku untuk yang pertamakalinya, mungkin kamu bakal ngira aku itu orangnya pendiam, pemalu, gimanaaa gitu. Tapi kalo kamu udah kenal banget sama aku, aku orangnya berbanding 180 derajat dengan Aau yang ada di kesan pertamamu itu.
8. Telah menghasilkan banyak karya-karya tulis yang selalu berujung kata "draft" dalam word dokumenku. Haha. Ya, aku punya ketertarikan dalam dunia tulis menulis. Pinginnya sih jadi penulis novel. Tapi semua novel yang kugarap selalu berakhir pada kata "draft" alias ngga pernah selesai. Haha :D
9. Cemilers tingkat dewa. Cemilers adalah sebutanku buat orang yang suka makan cemilan. Kasih aku cemilan apa aja dan aku yakin bisa ngabisin tuh cemilan dalam sekejap mata. FYI, aku punya kecepatan makan yang relatif tinggi. Buktinya? Tanya sama temen-temenku kalo makan di kantin siapa yang duluan habis. Haha
10. Punya motto "Segala sesuatu harus dikerjakan secara sistematis". Menyukai hal-hal yang sifatnya balance, antara kiri dengan kanan atau atas dengan bawah. Karena itu, ketidakadilan bisa membangkitkan esmosiku.
11. Nggak suka keramaian. Bagiku, sunyi yang damai adalah sebuah kenikmatan.
4. Jawab pertanyaan dari orang yang memberikan Liebster Award sama kamu.
Dan pertanyaannya adalah ...
1. Apa tujuan elo nge-blog?
Jawab : Tujuanku? Yah, sebagai orang yang suka berpikir out of the things, atau dalam bahasa sederhananya mikir hal yang sebenernya ngga usah dipikirin. Aku pingin dunia membaca opini tentang apa yang telah kupikirkan. Misalnya gini, kamu sering, kan, melihat ending bahagia seperti "...dan Cinderella pun hidup bahagia bersama pangeran selamanya"
selamanya.
se-la-ma-nya.
Normal people nggak akan mikir lebih jauh tentang ending bahagia ini tetapi orang sepertiku akan berpikiran yang lebih jauh. Hah? Selamanya? Yakin tuh? Gimana naratornya bisa yakin kalo Cinderella bakal hidup bahagia sama Pangeran selamanya? Pastilah habis nikah mereka kadang-kadang bisa berantem dan siapa tau mereka cerai pada akhirnya. Nah, kebiasaan berpikir macam ini yang membuatku ingin dunia melihat suatu hal bukan hanya dari satu sisi, tapi dari sisi lainnya juga.
2. Kapan pertama kali nge-blog?
Jawab : Aku nggak bisa kasih informasi detailnya mengenai tanggal, bulan, tahun, menit, detik karena pada dasarnya aku pelupa. Tapi satu hal yang pasti: aku pertama kali nge-blog ketika SMP.
3. Menurut elo blog OTAK KECIL gue ini gimana sih?
Jawab : Secara appearance alias penampilan sih bagus. Soalnya simple dan nggak ribet. Nggak perlu masuk ke pemendek tautan atau nge-close iklan-iklan gapenting dulu. Secara isi, cukup menghibur. Elu, Ga, selalu punya cara menabur humor dalam setiap post elu. Itu yang aku suka x)
4. Menurut lo blogger yang baik itu gimana sih?
Jawab : Blogger yang baik adalah blogger yang mau promosiin blog sahabatnya ke blogger lainnya. *Ngefek Raga* -Oke ini becanda xD. Blogger yang baik adalah ... blogger yang selalu setia mengupdate tulisannya tetapi kualitas isinya tetap terjaga. Terus blogger yang baik juga sedia ngeladenin komentar pengunjung-pengunjungnya ataupun balik berkomentar pada blog yang dia kunjungi. Juga, blogger yang baik selalu berusaha membuat blognya menjadi yang terbaik di mata pengunjung blognya.
5. Siapa blogger yang paling menginspirasi lo?
Jawab : Karena basically aku ngeblog buat mengeluarkan isi pikiranku dalam bentuk tulisan, jadi nggak ada sih jawaban buat ini. Maaf ya!
6. Apa yang akan lo lakukan kalo pacar lo selingkuh?
Jawab : Beli boneka kecil terus nempelin foto pacar di kepala boneka itu terus nusuk-nusuk bonekanya sama paku. Oke, becanda lagi. The thing is ... aku ngga pernah diselingkuhin jadi ngga tau rasanya atau apa yang harus kulakukan. Yang jelas, kalau sampai terjadi ya pastinya marah, dan mungkin berujung putus. Tapi sebelum itu terjadi, aku akan berusaha membuatnya takkan melihat orang lain. I'm gonna make another girl couldn't be seen on his eyes. #tsah
7. Apa yang akan lo lakukan kalo pelajaran di sekolah or kampus ngebosenin?
Jawab : Liat tipikal gurunya dulu. Kalo gurunya itu ngga suka tawaf keliling kelas, maka yang akan kulakukan adalah pergi ke belakang kelas dan tidur dengan posisi yang tak terlihat dari guru. Jika gurunya killer, mungkin cuma bakal corat-coret kertas ngga jelas.
8. Apa yang akan lo lakukan kalo lagi gak ada kerjaan di rumah?
Jawab : Pacaran sama netbook dan ngutak atik folder buat nyari tontonan.
9. Apa yang akan lo lakukan kalo lagi galau?
Jawab : Dengerin + nyanyi lagu-lagu yang punya kenangan tersendiri :')
10. Apa yang akan lo lakukan kalo rumah lo kebakaran?
Jawab : Nelpon pemadam kebakaran, Agar-agar :')
11. Apa aja resolusi ato harapan lo di tahun 2015 ini yang harus tercapai?
Jawab : Masuk tiga besar sekabupaten dalam peringkat UN amiiiiiiiin O:)
5. Pilih 11 sahabat blogger kamu, dan beri mereka pertanyaan.
Oke jujur aku seneng banget akhirnya udah nyampe point terakhir tapi ini juga point paling nyesek juga sih sebenernya karena nggak punya banyak sahabat blogger -_- Pengunjung blog ini aja kebanyakan netter nyasar. Oke langsung aja
Sebelas orang yang menerima Liebster Award dariku adalaaaaaaah *eng* *ing* *eng* :
1. Hafidz Rachmadana
2. M.Ikhlasul Amal S.
3. Almay Alif I.
4. Aditya Novan F.
5. Agung Gumilang P.
6. Kamu
7. Kamu?
8. Iya, kamu
9. Sumpah, kamu
10. Kamu, yang baca post ini
11. Kamu, siapapun itu :)
*Raga boleh di-tag lagi nggak sih? Kalo boleh lu kudu jawab 11 pertanyaan di bawah ini, Ga.*
And the questions are :
1. Melalui blog, apa sih yang sebenernya pingin kamu tunjukkin kepada netter?
2. Apa rintangan terbesar bagi seorang blogger menurut kamu?
3. Masa-masa paling indah ketika berada di kelas?
4. Pengalaman paling memalukan sepanjang sejarah hidupmu?
5. Hal yang paling tidak ingin kamu lewatkan?
6. Lagu yang masih kamu sukai dari dulu hingga detik ini?
7. Hal kecil yang bisa membuatmu tersenyum?
8. Jelaskan hubungan perkembangan teknologi dengan adanya Perang Dunia I dan Perang Dunia II! (ngga ada yang bilang nggak boleh nanya PR kan? mhihihi)
9. Film yang bikin kamu nangis/paling berkesan hingga saat ini?
10. Momen yang tidak terlupakan olehmu?
11. Mimpi terbesarmu?
Oke segitu aja dulu, itupun udah banyak banget, cukup banyak buat bikin dua jari telunjuk kanan-kiriku keriting. Terima kasih telah membaca dan kini waktunya saya menunjukkan kalian, para netter yang tersesat di blog saya, ke jalan yang benar.
Saya Aau-chan
Wassalam
Selamat sore, kamu.
Iya, kamu.
Yang nulis post ini. *ngucapin sama diri sendiri* #miris
Oke udah lama banget ya aku ngga nulis, eh, ngetik deng. Hal ini tidak lain dan tidak bukan karena mempersiapkan diri untuk ujian nasional (baca : masalah dengan koneksi internet). Ya, WiFiku sangat bermasalah -_-
Kemarin (sabtu), aku dikasih makanan ringan sama orang yang kusuka. Katanya dia ngga suka karena rasa keju -tetapi dia tetap menyimpan satu, aneh ^^". Makanan itu kujaga terus sampai pulang dan rencananya bakal kumakan sambil nonton anime. Sampai sore menjelang ketika aku ingin pergi ke perpustakaan daerah, aku masih belum memakannya karena lupa. Sejenak aku berpikir ingin menyembunyikannya sebelum pergi, takut ada yang masuk kamarku lalu memakannya. Tetapi aku tidak melakukannya. Aku lupa.
Pulang dari pusda -perpustakaan daerah, akupun mencari makanan ringan itu. Ternyata ilang. Aku mencari keseluruh penjuru kamar -sampai ngorek bak sampah- tetap tidak ada. Lalu ada rasa sesak di hatiku. Siapa yang mengambilnya? Ponakan? Kakakku? Mengapa kehilangan makanan ringan seharga Rp.500 rasanya sesakit kehilangan iPhone 6? #lebay
Akupun mencoba berpikir rasional untuk menenangkan diri. "Au, itu cuma makanan. Besok-besok juga bisa beli kan di koperasi?" "Biasa aja, oke. Kadang sesuatu yang hilang akan muncul dengan cara yang tidak terduga." "Itu cuma makanan, kan? Cuma makanan ... yang dikasih sama orang yang kamu suka." Cuma ... cuma ... Ngga peduli bagaimana aku menyakinkan diriku dengan kata "cuma", tetap aja rasanya ngga bisa.
Tapi akhirnya aku bisa. Aku mengalihkan perhatianku dengan cara berpikir "Aneh ya, kalau itu tentang seseorang yang kau sukai, segalanya ... hal-hal yang kecil sekalipun ... terasa sangat besar dan penting, juga berharga. Mungkin, aku hanya sedang terkena syndrome orang yang jatuh cinta. Mungkin."
Kemudian, segalanya terasa lurus.
Ini yang kusebut dengan the power of love. Cinta bisa membuatmu terbang setinggi langit, lalu bisa juga menjatuhkanmu dari ketinggian yang sama. Cinta itu netral. Sangking netralnya, dia juga rapuh. Seperti titik nol yang jika diperlakukan baik akan mengarah pada bilangan bulat positif tetapi jika diperlakukan dengan buruk akan mengarah pada bilangan bulat negatif. Ya, hakikat cinta yang sesungguhnya seperti itu.
Di dunia ini, hal yang paling membahagiakan jika berbicara tentang cinta adalah orang yang kau sukai juga menyukaimu. Mengapa? Karena, dalam kondisi :
1. Ada orang yang menyukaimu tetapi kamu tidak memiliki perasaan terhadapnya, dan
2. Kau menyukai orang lain tetapi orang yang kau sukai tidak memiliki perasaan terhadapmu,
rasa sakit selalu menyertai.
Oke, well, bukan berarti orang yang sama-sama suka ngga bisa sakit hati. Tapi dua kondisi di atas itu rasa sakitnya "beda". BSB. Bukan Sakit Biasa.
Posisikan dirimu sebagai orang yang disukai orang lain, tetapi kamu tidak memiliki perasaan terhadapnya. Mungkin terlihat mudah bagimu, semudah "Kalau dia nembak ya tinggal tolak" tetapi pasti sangat sulit bagi orang yang menyukaimu itu. Apalagi jika dia selama ini selalu berusaha mendekatkan dirinya padamu, sekedar untuk berbicara dan membuatmu tersenyum.
Aku bukannya ngebet pengin macarin orang yang kusuka. Hanya saja aku memiliki masalah komunikasi yang sedikit ... susah dengannya. Sebentar lagi UN, dan sebentar lagi semua bakal misah. Aku berpikir bahwa aku harus menyelesaikan urusan perasaan ini dengan jelas padanya. Mungkin waktu memang dapat menggerus rasa yang tidak memiliki arah kepastian, tetapi aku ingin bersikap lebih tegas terhadap diriku. Menurutku ini harus menjadi sebuah pelajaran agar aku tidak terjebak dalam hal yang sama untuk kesekiankalinya di masa depan.
Ketika kamu mencintai orang yang rasanya tidak akan pernah dapat kau raih, perlu kamu ketahui bahwa rasa sakit yang kamu rasakan sesungguhnya adalah konsekuensi yang "wajib" kamu dapatkan. Mengapa? Karena kita sebagai manusia dapat melakukan sebuah kata yang terdiri dari 8 huruf diawali dengan huruf b dan diakhiri dengan huruf p yang tidak lain dan tidak bukan adalah ...
Iya, kamu.
Yang nulis post ini. *ngucapin sama diri sendiri* #miris
Oke udah lama banget ya aku ngga nulis, eh, ngetik deng. Hal ini tidak lain dan tidak bukan karena mempersiapkan diri untuk ujian nasional (baca : masalah dengan koneksi internet). Ya, WiFiku sangat bermasalah -_-
Kemarin (sabtu), aku dikasih makanan ringan sama orang yang kusuka. Katanya dia ngga suka karena rasa keju -tetapi dia tetap menyimpan satu, aneh ^^". Makanan itu kujaga terus sampai pulang dan rencananya bakal kumakan sambil nonton anime. Sampai sore menjelang ketika aku ingin pergi ke perpustakaan daerah, aku masih belum memakannya karena lupa. Sejenak aku berpikir ingin menyembunyikannya sebelum pergi, takut ada yang masuk kamarku lalu memakannya. Tetapi aku tidak melakukannya. Aku lupa.
Pulang dari pusda -perpustakaan daerah, akupun mencari makanan ringan itu. Ternyata ilang. Aku mencari keseluruh penjuru kamar -sampai ngorek bak sampah- tetap tidak ada. Lalu ada rasa sesak di hatiku. Siapa yang mengambilnya? Ponakan? Kakakku? Mengapa kehilangan makanan ringan seharga Rp.500 rasanya sesakit kehilangan iPhone 6? #lebay
Akupun mencoba berpikir rasional untuk menenangkan diri. "Au, itu cuma makanan. Besok-besok juga bisa beli kan di koperasi?" "Biasa aja, oke. Kadang sesuatu yang hilang akan muncul dengan cara yang tidak terduga." "Itu cuma makanan, kan? Cuma makanan ... yang dikasih sama orang yang kamu suka." Cuma ... cuma ... Ngga peduli bagaimana aku menyakinkan diriku dengan kata "cuma", tetap aja rasanya ngga bisa.
Tapi akhirnya aku bisa. Aku mengalihkan perhatianku dengan cara berpikir "Aneh ya, kalau itu tentang seseorang yang kau sukai, segalanya ... hal-hal yang kecil sekalipun ... terasa sangat besar dan penting, juga berharga. Mungkin, aku hanya sedang terkena syndrome orang yang jatuh cinta. Mungkin."
Kemudian, segalanya terasa lurus.
Ini yang kusebut dengan the power of love. Cinta bisa membuatmu terbang setinggi langit, lalu bisa juga menjatuhkanmu dari ketinggian yang sama. Cinta itu netral. Sangking netralnya, dia juga rapuh. Seperti titik nol yang jika diperlakukan baik akan mengarah pada bilangan bulat positif tetapi jika diperlakukan dengan buruk akan mengarah pada bilangan bulat negatif. Ya, hakikat cinta yang sesungguhnya seperti itu.
Di dunia ini, hal yang paling membahagiakan jika berbicara tentang cinta adalah orang yang kau sukai juga menyukaimu. Mengapa? Karena, dalam kondisi :
1. Ada orang yang menyukaimu tetapi kamu tidak memiliki perasaan terhadapnya, dan
2. Kau menyukai orang lain tetapi orang yang kau sukai tidak memiliki perasaan terhadapmu,
rasa sakit selalu menyertai.
Oke, well, bukan berarti orang yang sama-sama suka ngga bisa sakit hati. Tapi dua kondisi di atas itu rasa sakitnya "beda". BSB. Bukan Sakit Biasa.
Posisikan dirimu sebagai orang yang disukai orang lain, tetapi kamu tidak memiliki perasaan terhadapnya. Mungkin terlihat mudah bagimu, semudah "Kalau dia nembak ya tinggal tolak" tetapi pasti sangat sulit bagi orang yang menyukaimu itu. Apalagi jika dia selama ini selalu berusaha mendekatkan dirinya padamu, sekedar untuk berbicara dan membuatmu tersenyum.
Menyukai seseorang itu sudah kodrat manusia, bukan? Siapapun bisa jatuh cinta kepada siapapun. Kapanpun, dan dimanapun. Jadi, jika ada orang yang menyukaimu tetapi kau tidak dapat membalas perasaannya, hargailah dia. Hargai usahanya dalam berusaha membuatmu bahagia. Karena bisa saja orang tersebut adalah orang yang paling sabar, paling peduli, dan paling setia yang pernah kau temui. Kau takkan pernah tahu bagaimana perjuangannya melawan gejolak hati, melawan segala pikiran "Menyerahlah! Dia tidak menyukaimu! Sampai kiamatpun kau takkan terlihat di matanya!" namun pada akhirnya ia tetap bertahan. Setidaknya, buatlah dia berhenti mencintaimu karena keinginannya sendiri. Bukan karena luka yang sengaja kau buat.
Lalu, bagaimana dengan kondisi nomor 2? Kau menyukai orang yang tidak memiliki perasaan terhadapmu. Jujur, ini sulit. Karena inilah yang sekarang aku rasakan.
Aku bukannya ngebet pengin macarin orang yang kusuka. Hanya saja aku memiliki masalah komunikasi yang sedikit ... susah dengannya. Sebentar lagi UN, dan sebentar lagi semua bakal misah. Aku berpikir bahwa aku harus menyelesaikan urusan perasaan ini dengan jelas padanya. Mungkin waktu memang dapat menggerus rasa yang tidak memiliki arah kepastian, tetapi aku ingin bersikap lebih tegas terhadap diriku. Menurutku ini harus menjadi sebuah pelajaran agar aku tidak terjebak dalam hal yang sama untuk kesekiankalinya di masa depan.
Ketika kamu mencintai orang yang rasanya tidak akan pernah dapat kau raih, perlu kamu ketahui bahwa rasa sakit yang kamu rasakan sesungguhnya adalah konsekuensi yang "wajib" kamu dapatkan. Mengapa? Karena kita sebagai manusia dapat melakukan sebuah kata yang terdiri dari 8 huruf diawali dengan huruf b dan diakhiri dengan huruf p yang tidak lain dan tidak bukan adalah ...
berharap
Ya. Menurut teoriku, manusia merasakan rasa sakit sesungguhnya karena mereka berharap. Berharap suatu hari nanti orang yang mereka sukai akan melihat mereka, akan menyapa mereka lebih dulu, akan mengulurkan tangan ketika kita terjatuh, akan menambah topik pembicaraan ketika mulai surut, akan membalas sms atau chat dengan emot yang beraneka ragam, dan akan akan lainnya.
Ketika semua akan akan tersebut berubah menjadi fakta yang tidak akan pernah terjadi, disitulah rasa sakit sebagai sebuah konsekuensi muncul.
Kemarin aku nonton anime Kamisama Hajimemashita dan nemu scene yang ... #paskenakeadaanku
Dalam hati aku terus bertanya-tanya. Bisakah aku seperti itu? -Tidak, bisakah manusia seperti itu?
Memang dunia nyata ini tidak bisa terlalu dibanding-bandingkan dengan dunia anime, manga, film, atau drama karena pada dasarnya kita hidup di dunia nyata, bukan fiktif. Tetapi, dunia fiktif dapat memberi kita arahan untuk memilih suatu pilihan dalam hidup.
The question is ...
Terhadap rasa, dapatkah aku membuatmu bahagia walau hanya menyukainya dari jauh?
Mampukah aku meyakinkan diriku bahwa menyukainya saja sudah lebih dari cukup?
Sungguh, aku tidak ingin kamu merasakan perasaan sakit lebih dalam.
Hanya ... aku tidak bisa membuat perasaan ini benar-benar pergi.
Perasaan ini seperti pelampung yang kupaksa untuk menenggelamkannya.
Tetapi ia tidak benar-benar bisa tenggelam; tekanan air akan membuatnya naik.
Dan membuatku menyukainya kembali. Bahkan lebih.
Yah, kayaknya alur post ini udah nggak jelas ke mana arahnya tapi kuharap para pembaca setia nyasar blog ini akan menikmati isinya. Pesanku adalah, jika kamu sedang berada dalam kondisi percintaan yang sama denganku saat ini, jangan membuat harapan diluar batas kewajaran. Karena yang berada di dalam batas kewajaran saja kalau tidak mendapatkannya sudah terasa sakit apalagi yang di atas batas kewajaran. Pengecualian bagi orang yang berhati baja atau saraf-saraf di hatinya udah pada nggak berfungsi ._.v
Seorang teman berkata padaku.
"Heh, orang kayak gitu disukain."
Mungkin ini yang harusnya kukatakan padanya saat itu.
"Menyukai dan memilih untuk menyukai adalah hal yang berbeda. Dalam kasus ini, sepertinya aku menyukainya ... "begitu saja", seiring kebersamaan yang sempat kurasakan. Karena itu, perasaan ini ... harusnya hilang juga dengan "begitu saja", seiring kebersamaaan tak dapat kurasakan lagi."
Jadi, rasa suka macam apa yang kamu rasakan?
Rasa suka yang terjadi "begitu saja" atau rasa suka karena melihat segala kelebihan dan keunikan yang ada pada diri seseorang?
Sebagai cewek yang dulunya mengagumi seorang kakak kelas di sekolah, memilih untuk menyukai dan menyukai adalah dua hal berbeda yang sangat mudah dimengerti. Karena ketika kakak kelas tersebut sudah lulus, cukup mudah untuk menghapus perasaan sedih karena tidak dapat melihatnya lagi. Tetapi, menyukai yang terjadi begitu saja ... rasanya puluhan, ratusan, mungkin ribuan kali lebih sulit, bahkan untuk memikirkannya saja, semua terasa berat. Sangat berat.
Oke quotes dari Aau-chan kali ini yang mungkin sedikit kurang dapat dimengerti adalah :
Ketika kau memilih untuk jatuh ke dalam suatu lubang bernama cinta, kau juga dapat memilih untuk menjauh dari lubang tersebut. Tetapi ketika kau terjatuh dengan sendirinya ke dalam cinta, kau takkan pernah benar-benar bisa pergi menjauhi lubang itu semudah memilih untuk menjauhi lubang yang tidak ingin kau jatuhi!
-Aau-chan
Aau-chan's World
Wassalam.
Ceilah ... judulnya tumben banget suasananya mellow mellow gimanaa gitchu. Oke, langsung aja welcome back pembaca nyasar blog Aau-chan's World, pada post kali ini mungkin akan lebih sedikit ke ... curhat. Gak apa-apa kan yah? Gak apa-apa dong, suka-suka yang punya blog lah. Iyakan? Iyadong. Oke. Stop. -_-"
Hari ini ... adalah hari selasa. Di sekolah, aku melewatinya dengan cukup senang dan seperti biasa ada beberapa moment yang bikin aku feel lonely. Yah, namanya juga nggak punya temen yang heart-to-heart banget alias gak punya temen berduaan. Adanya berlimaan. Nah, dari yang berlimaan itu, aku dapet bagian moment yang, kadang mereka asyik berempat dan aku ketinggalan sendiri. Kadang, oke, kadang. Dan di moment-moment itulah, I feel lonely inside.
Ehe, ehm.
Hari ini aku punya planning pergi ke Pameran Buku Hemat M*zan sepulang sekolah. Pameran ini digelar di salah satu ruko yang berada tidak jauh dari rumahku. Pamerannya tidak begitu besar seperti namanya, tetapi koleksi bukunya bisa dibilang lumayan, lah. Beberapa buku yang kupikir tidak akan kutemukan di sana, ternyata ada. Seperti #Allegiant atau #UnravelMe yang termasuk buku baru dari M*zan.
Malam sebelumnya aku telah searching buku-buku terbitan m*zan yang pingin kucari. Dan berikut datanya :
1. Shatter Me Trilogy by Tahereh Mafi
#1 : Shatter Me
#2 : Unravel Me
#3 : Ignite Me
2. The Maze Runner Trilogy by James Dashner
#1 : The Maze Runner
#2 : The Scorch Trials
#3 : The Death Cure
3. Maximum Ride Series by James Patterson
#1 : The Angel Experiment
#2 : School's Out - Forever
#3 : Saving The World and Other Extreme Sports
Aku membuat list sebanyak itu sebagai antisipasi kalau-kalau ada buku yang tidak kutemukan di sana. Pada akhirnya, aku hanya menemukan dua buku dari list di atas. Sekitar pukul lima sore tadi, aku dan Beat tersayangku melancong ke pameran tersebut. Cuaca cukup cerah, alhamdulillah. Setibanya aku di sana, aku langsung menyerbu buku-buku yang disinyalir memiliki kategori m*zan fantasy karena yep! Semua buku-buku dari list di atas genrenya adalah fantasy.
Aku menemukan beberapa judul dari m*zan fantasy yang hampir menggoda imanku. Karena tidak melihat sedikitpun dari judul-judul list di atas, aku hampir membeli buku lain. Untunglah, karena kegigihanku -ceilah- aku mampu menemukan The Scorch Trials dan The Death Cure. Sedikit mengecewakan, sebenarnya, karena aku tidak mendeteksi adanya buku #1 yaitu The Maze Runner. Tapi pada akhirnya kuboyong juga dua buku ini mengingat harganya yang terlampau murah yaitu seharga 25 rebhau per-buku dan keyakinanku bahwa suatu hari nanti, aku akan menemukan buku pertamanya. Aku yakin. Pasti.
Aku juga menemukan judul Pandemonium pada rak yang sama yang ternyata adalah buku #2 dari Trilogy Delirium. Jauh hari sebelumnya, eh, jauh bulan deng, ada bazaar buku yang diselenggarakan oleh Gramed*a. Pada bazaar itu, aku membeli novel Delirium karena harganya yang murah yaitu 20 rebhau. Kapan lagi coba nemuin novel tebel, New York Times Bestseller, punya penghargaan, dan yang terpenting, murah meriah! Karena tidak disebutkan di covernya bahwa ini trilogy, jadilah aku membelinya. Itung-itung nambah koleksi novel fantasy. Setelah melihat Pandemonium dan covernya yang mengatakan bahwa Pandemonium adalah buku #2 dari Delirium, mau-tidak-mau aku membelinya. Daripada membeli lain hari, terus harganya naik? Jadilah aku membeli tiga novel; Pandemonium, The Scorch Trials, dan The Death Cure.
Mungkin ada yang bertanya-tanya, apa sih serunya novel fantasy? Fantasy? Ah, bacaannya berat. Bikin banyak mikir. Capekhati baca, kudu perlahan-lahan bacanya supaya ngerti. Ah, tebel, bikin males baca. Fantasy? Kayak Harry Potter gitu? Ahaha, mending nonton film-nya, mah! Dan lain-lain ... dan lain-lain.
Contohnya aku. Ya, dulu aku berpikiran seperti itu. Dulu, tak sedikitpun aku tertarik sama yang namanya novel fantasy karena, yep, firstly, bacaannya tergolong berat untuk manusia sepertiku. Jika konsentrasiku lepas, maka aku harus membaca paragraf itu dua kali atau lebih. Dengan kata lain, perlu konsentrasi yang kuat untuk membaca novel fantasy. Kedua, imajinasi rendah. Novel fantasy akan menyuguhkan latar yang terkadang, sangat suswah -dengan w, satu tingkat lebih tinggi daripada susah- sekali dibayangkan. Seperti latar di novel Divergent contohnya, ketika aku telah menonton filmnya, latar yang kubayangkan dengan latar di film itu sangat berbeda jauh. Ketiga, covernya yang kadang kurang menarik. I know, I know, Don't judge a book by its cover. But, I dont know why, dulutuh aku suka ngeliat buku dari sampulnya. Apalagi kalau sampulnya mengandung kata-kata manis bin so sweet, beugh~ -yang tidak lain dan tidak bukan ditemukan pada novel romance.
Tapi sebenernya, novel fantasy itu justru hebat lho! Aku menyadari kehebatannya setelah suatu hari ketika aku sedang berselancar di dunia maya dan menemukan gambar ini :
Hatiku bener-bener tersentuh ketika melihat gambar ini yang 100% ugly truth banget buat aku, dan mungkin kamu juga. Iya, kamu~
Aku sadar bahwa, dengan membaca, apalagi novel bergenre fantasy, itu sebenernya melatih otak buat berimajinasi. Ber-fantasy. Tapi kalau modal nonton, kita nggak membayangkan apa-apa meski yah harus diakui bahwa sensasi nonton dan baca itu sangat berbeda. Tapi, think of all, membaca lebih memberi dampak positif bagi kemajuan otak.
Kemudian, membaca novel dapat melatih konsentrasi kita. Semakin sulit bacaanmu, semakin tinggi juga konsentrasimu. Sisanya tinggal membiasakan. Membiasakan diri membaca bacaan berat. Sesudahnya, Insya Allah urusan konsentrasi kita mah jagonya -dalam beberapa hal lho yah.
And then, masalah cover. Ini nih penyakit yang sampe sekarang belum sembuh-sembuh juga dariku. Cover Divergent aja deh, contohnya. Berlatar biru tua kehitaman kemudian ada semacam bola api menyarak di atasnya dan tulisan Divergent tentunya. Sekilas, aku tak akan tertarik untuk membacanya. Tapi, kalau bukan seseorang yang berjasa itu, aku tak akan pernah tahu betapa menariknya novel ini. Untuk mengatasi masalah cover, ada baiknya sebelum beli novel, eh, ke toko buku deh, kalian searching aja dulu novel-novel yang bagus. Entah dari rate-nya, atau mungkin penghargaan dari novel itu, atau sinopsinya, se-te-rah! Awalnya aku kaget ketika melihat cover The Death Cure yang warna latarnya mirip merah bata kecoklatan, sampai berfikir "Gak mungkin ini, kan, novelnya? Yang Trilogy The Maze Runner itu?" tapi karena yakin isinya bagus, aku pun sedia membelinya.
Kesukaanku pada novel fantasy seperti yang kubilang merupakan hasil dari jasa orang itu. Orang yang pernah menjadi seseorang yang paling berharga di hidupku. Ia mengenalkanku pada novel Divergent, lalu, Insurgent -buku kedua trilogy Divergent. Dia yang membuatku tertarik pada serunya berimajinasi di dunia fantasy. Akupun masuk dalam dunia yang sama dengannya. Aku menikmati waktu-waktu dimana kami berbincang tentang dunia itu -dunia fantasy. Membicarakan tokoh, alur, latar, kelanjutan novel, novel fantasy yang ingin dibeli, dll. Aku menikmati semuanya. Namun sekarang, tiada lagi orang yang akan membicarakan semua hal itu padaku. Tidak ada lagi.
Kadang aku kesepian, karena tidak ada orang lain yang bisa kuajak berbicara tentang novel fantasy. Rasanya sepi, menikmati kesenangan sendiri. Apalah artinya mendapati moment lucu jika hanya kau yang tertawa? Sepi bukan? Nah, begitulah kira-kira aku.
Usai transaksi jual-beli berakhir, aku langsung pulang. Kulirik kembali novel Allegiant -yang merupakan novel ketiga dari trilogy Divergent- yang berada di bagian bawah rak. Aku pun bertanya-tanya, apakah dia telah membacanya? Bagaimana ceritanya? Haruskah aku belikan untuknya? Tidak. Tidak. Tidak. Dompetku bisa kempis seketika. Sampai sekarang, aku masih belum tahu kelanjutan cerita Tris dan Tobias pada trilogy Divergent. Aku membaca Divergent dan Insurgent dengan modal pinjam dari orang itu. Komunikasi kami bisa dibilang lost, yang sangat kusayangkan sebelum ia memiliki Allegiant dan sebelum aku meminjamnya lagi. --> gak modal.
Entahlah sekarang. Aku tidak tahu apakah ia sudah memiliki Allegiant atau belum. Terakhir yang kutahu, dia membeli Trilogy The Hunger Games dan novel romance The Fault in Our Stars. Hanya itu. Dan itu sudah ... beberapa bulan yang lampau.
Inilah aku, dan ceritaku berhubungan dengan novel fantasy. Setiap aku membeli novel fantasy, yang kupikirkan hanyalah dirinya. Maksudku, tentang semua pertanyaan-pertanyaan ini; apakah dia telah memiliki novel ini? Tahukah dia bahwa novel ini adalah novel yang ratingnya bagus? Novel fantasy apa yang sekarang ia baca, kira-kira? Masihkah dia berburu novel fantasy? Bolehkah aku meminjamnya nanti? Dan lain-lain ... dan lain-lain ...
Aku merindukanmu, sungguh. About all the talk. About what we've shared.
Karena kesenangan ketika membaca novel fantasy, rasanya belum afdhal jika tidak dibagi dan dibicarakan kepada orang yang sama-sama menyukai novel fantasy.
Unfinished Story -cerita yang belum terselesaikan.
Itulah yang menggambarkan perjalananku dalam membaca trilogy Divergent. Masih ada satu buku lagi dan I wonder where would I find orang yang akan meminjamkan aku novel itu. Bukannya aku nggak modal banget untuk membeli Allegiant, hanya saja aku tidak suka hal-hal yang setengah-setengah. Kalau mau beli Trilogy, ya beli semuanya. Dan nggak mungkin aku beli Divergent dan Insurgent, aku sudah membacanya. Kalaupun mungkin, itu adalah ketika harga dua novel itu sudah rendah. HUAHAHAHAHA. --> sumpah ini perkataan orang yang nggak modal banget.
Aa .. quotes, ya. Quotes untuk hari ini apa ya?
Kebahagiaan barulah terasa lengkap jika kamu memiliki seseorang untuk saling berbagi.
Saya Aau-chan ...
sekian.
Hari ini ... adalah hari selasa. Di sekolah, aku melewatinya dengan cukup senang dan seperti biasa ada beberapa moment yang bikin aku feel lonely. Yah, namanya juga nggak punya temen yang heart-to-heart banget alias gak punya temen berduaan. Adanya berlimaan. Nah, dari yang berlimaan itu, aku dapet bagian moment yang, kadang mereka asyik berempat dan aku ketinggalan sendiri. Kadang, oke, kadang. Dan di moment-moment itulah, I feel lonely inside.
Ehe, ehm.
Hari ini aku punya planning pergi ke Pameran Buku Hemat M*zan sepulang sekolah. Pameran ini digelar di salah satu ruko yang berada tidak jauh dari rumahku. Pamerannya tidak begitu besar seperti namanya, tetapi koleksi bukunya bisa dibilang lumayan, lah. Beberapa buku yang kupikir tidak akan kutemukan di sana, ternyata ada. Seperti #Allegiant atau #UnravelMe yang termasuk buku baru dari M*zan.
Malam sebelumnya aku telah searching buku-buku terbitan m*zan yang pingin kucari. Dan berikut datanya :
1. Shatter Me Trilogy by Tahereh Mafi
#1 : Shatter Me
#2 : Unravel Me
#3 : Ignite Me
2. The Maze Runner Trilogy by James Dashner
#1 : The Maze Runner
#2 : The Scorch Trials
#3 : The Death Cure
3. Maximum Ride Series by James Patterson
#1 : The Angel Experiment
#2 : School's Out - Forever
#3 : Saving The World and Other Extreme Sports
Aku membuat list sebanyak itu sebagai antisipasi kalau-kalau ada buku yang tidak kutemukan di sana. Pada akhirnya, aku hanya menemukan dua buku dari list di atas. Sekitar pukul lima sore tadi, aku dan Beat tersayangku melancong ke pameran tersebut. Cuaca cukup cerah, alhamdulillah. Setibanya aku di sana, aku langsung menyerbu buku-buku yang disinyalir memiliki kategori m*zan fantasy karena yep! Semua buku-buku dari list di atas genrenya adalah fantasy.
Aku menemukan beberapa judul dari m*zan fantasy yang hampir menggoda imanku. Karena tidak melihat sedikitpun dari judul-judul list di atas, aku hampir membeli buku lain. Untunglah, karena kegigihanku -ceilah- aku mampu menemukan The Scorch Trials dan The Death Cure. Sedikit mengecewakan, sebenarnya, karena aku tidak mendeteksi adanya buku #1 yaitu The Maze Runner. Tapi pada akhirnya kuboyong juga dua buku ini mengingat harganya yang terlampau murah yaitu seharga 25 rebhau per-buku dan keyakinanku bahwa suatu hari nanti, aku akan menemukan buku pertamanya. Aku yakin. Pasti.
Aku juga menemukan judul Pandemonium pada rak yang sama yang ternyata adalah buku #2 dari Trilogy Delirium. Jauh hari sebelumnya, eh, jauh bulan deng, ada bazaar buku yang diselenggarakan oleh Gramed*a. Pada bazaar itu, aku membeli novel Delirium karena harganya yang murah yaitu 20 rebhau. Kapan lagi coba nemuin novel tebel, New York Times Bestseller, punya penghargaan, dan yang terpenting, murah meriah! Karena tidak disebutkan di covernya bahwa ini trilogy, jadilah aku membelinya. Itung-itung nambah koleksi novel fantasy. Setelah melihat Pandemonium dan covernya yang mengatakan bahwa Pandemonium adalah buku #2 dari Delirium, mau-tidak-mau aku membelinya. Daripada membeli lain hari, terus harganya naik? Jadilah aku membeli tiga novel; Pandemonium, The Scorch Trials, dan The Death Cure.
Mungkin ada yang bertanya-tanya, apa sih serunya novel fantasy? Fantasy? Ah, bacaannya berat. Bikin banyak mikir. Capek
Contohnya aku. Ya, dulu aku berpikiran seperti itu. Dulu, tak sedikitpun aku tertarik sama yang namanya novel fantasy karena, yep, firstly, bacaannya tergolong berat untuk manusia sepertiku. Jika konsentrasiku lepas, maka aku harus membaca paragraf itu dua kali atau lebih. Dengan kata lain, perlu konsentrasi yang kuat untuk membaca novel fantasy. Kedua, imajinasi rendah. Novel fantasy akan menyuguhkan latar yang terkadang, sangat suswah -dengan w, satu tingkat lebih tinggi daripada susah- sekali dibayangkan. Seperti latar di novel Divergent contohnya, ketika aku telah menonton filmnya, latar yang kubayangkan dengan latar di film itu sangat berbeda jauh. Ketiga, covernya yang kadang kurang menarik. I know, I know, Don't judge a book by its cover. But, I dont know why, dulutuh aku suka ngeliat buku dari sampulnya. Apalagi kalau sampulnya mengandung kata-kata manis bin so sweet, beugh~ -yang tidak lain dan tidak bukan ditemukan pada novel romance.
Tapi sebenernya, novel fantasy itu justru hebat lho! Aku menyadari kehebatannya setelah suatu hari ketika aku sedang berselancar di dunia maya dan menemukan gambar ini :
![]() |
| mind's blowing |
Aku sadar bahwa, dengan membaca, apalagi novel bergenre fantasy, itu sebenernya melatih otak buat berimajinasi. Ber-fantasy. Tapi kalau modal nonton, kita nggak membayangkan apa-apa meski yah harus diakui bahwa sensasi nonton dan baca itu sangat berbeda. Tapi, think of all, membaca lebih memberi dampak positif bagi kemajuan otak.
Kemudian, membaca novel dapat melatih konsentrasi kita. Semakin sulit bacaanmu, semakin tinggi juga konsentrasimu. Sisanya tinggal membiasakan. Membiasakan diri membaca bacaan berat. Sesudahnya, Insya Allah urusan konsentrasi kita mah jagonya -dalam beberapa hal lho yah.
And then, masalah cover. Ini nih penyakit yang sampe sekarang belum sembuh-sembuh juga dariku. Cover Divergent aja deh, contohnya. Berlatar biru tua kehitaman kemudian ada semacam bola api menyarak di atasnya dan tulisan Divergent tentunya. Sekilas, aku tak akan tertarik untuk membacanya. Tapi, kalau bukan seseorang yang berjasa itu, aku tak akan pernah tahu betapa menariknya novel ini. Untuk mengatasi masalah cover, ada baiknya sebelum beli novel, eh, ke toko buku deh, kalian searching aja dulu novel-novel yang bagus. Entah dari rate-nya, atau mungkin penghargaan dari novel itu, atau sinopsinya, se-te-rah! Awalnya aku kaget ketika melihat cover The Death Cure yang warna latarnya mirip merah bata kecoklatan, sampai berfikir "Gak mungkin ini, kan, novelnya? Yang Trilogy The Maze Runner itu?" tapi karena yakin isinya bagus, aku pun sedia membelinya.
Kesukaanku pada novel fantasy seperti yang kubilang merupakan hasil dari jasa orang itu. Orang yang pernah menjadi seseorang yang paling berharga di hidupku. Ia mengenalkanku pada novel Divergent, lalu, Insurgent -buku kedua trilogy Divergent. Dia yang membuatku tertarik pada serunya berimajinasi di dunia fantasy. Akupun masuk dalam dunia yang sama dengannya. Aku menikmati waktu-waktu dimana kami berbincang tentang dunia itu -dunia fantasy. Membicarakan tokoh, alur, latar, kelanjutan novel, novel fantasy yang ingin dibeli, dll. Aku menikmati semuanya. Namun sekarang, tiada lagi orang yang akan membicarakan semua hal itu padaku. Tidak ada lagi.
Kadang aku kesepian, karena tidak ada orang lain yang bisa kuajak berbicara tentang novel fantasy. Rasanya sepi, menikmati kesenangan sendiri. Apalah artinya mendapati moment lucu jika hanya kau yang tertawa? Sepi bukan? Nah, begitulah kira-kira aku.
Usai transaksi jual-beli berakhir, aku langsung pulang. Kulirik kembali novel Allegiant -yang merupakan novel ketiga dari trilogy Divergent- yang berada di bagian bawah rak. Aku pun bertanya-tanya, apakah dia telah membacanya? Bagaimana ceritanya? Haruskah aku belikan untuknya? Tidak. Tidak. Tidak. Dompetku bisa kempis seketika. Sampai sekarang, aku masih belum tahu kelanjutan cerita Tris dan Tobias pada trilogy Divergent. Aku membaca Divergent dan Insurgent dengan modal pinjam dari orang itu. Komunikasi kami bisa dibilang lost, yang sangat kusayangkan sebelum ia memiliki Allegiant dan sebelum aku meminjamnya lagi. --> gak modal.
Entahlah sekarang. Aku tidak tahu apakah ia sudah memiliki Allegiant atau belum. Terakhir yang kutahu, dia membeli Trilogy The Hunger Games dan novel romance The Fault in Our Stars. Hanya itu. Dan itu sudah ... beberapa bulan yang lampau.
Inilah aku, dan ceritaku berhubungan dengan novel fantasy. Setiap aku membeli novel fantasy, yang kupikirkan hanyalah dirinya. Maksudku, tentang semua pertanyaan-pertanyaan ini; apakah dia telah memiliki novel ini? Tahukah dia bahwa novel ini adalah novel yang ratingnya bagus? Novel fantasy apa yang sekarang ia baca, kira-kira? Masihkah dia berburu novel fantasy? Bolehkah aku meminjamnya nanti? Dan lain-lain ... dan lain-lain ...
Aku merindukanmu, sungguh. About all the talk. About what we've shared.
Karena kesenangan ketika membaca novel fantasy, rasanya belum afdhal jika tidak dibagi dan dibicarakan kepada orang yang sama-sama menyukai novel fantasy.
Unfinished Story -cerita yang belum terselesaikan.
Itulah yang menggambarkan perjalananku dalam membaca trilogy Divergent. Masih ada satu buku lagi dan I wonder where would I find orang yang akan meminjamkan aku novel itu. Bukannya aku nggak modal banget untuk membeli Allegiant, hanya saja aku tidak suka hal-hal yang setengah-setengah. Kalau mau beli Trilogy, ya beli semuanya. Dan nggak mungkin aku beli Divergent dan Insurgent, aku sudah membacanya. Kalaupun mungkin, itu adalah ketika harga dua novel itu sudah rendah. HUAHAHAHAHA. --> sumpah ini perkataan orang yang nggak modal banget.
Aa .. quotes, ya. Quotes untuk hari ini apa ya?
Kebahagiaan barulah terasa lengkap jika kamu memiliki seseorang untuk saling berbagi.
Saya Aau-chan ...
sekian.
Hai-ho!
How's life there?
Baik? Buruk? Menyenangkan? Mengecewakan? Menyedihkan? Mengagumkan? Biasa-biasa saja?
Well, jawaban kalian pasti beragam tapi aku harap kebahagiaan selalu menyertai kita semua. Amiiin
Ngomong-ngomong soal kebahagiaan, coba deh kalian pikirkan sesuatu yang dapat membuat kalian bahagia. Et-et-et, tunggu dulu, jangan langsung lamunin muka pacar ato gebetan, entar kalian malah asyik melamun terus nggak lanjutin baca nih post -_-" Sesuatu yang aku maksud itu lebih seperti ... hal-hal kecil yang, entah mengapa dapat membuat kalian bahagia walau secara tampak luar, sesuatu itu hanyalah hal biasa. For example nih, misalkan kalian melihat bunga mawar, entah kenapa hati kalian adem-adem gimanaaaa gitu. Nah intinya hal-hal kecil, lah.
Dan sekarang, coba pikirkan semua hal-hal kecil yang dapat membuat kalian bahagia itu.
Sebagian dari kalian, mungkin sekarang sedang tenggelam dalam fantasi hal-hal kecil itu. Dan sebagian dari lagi mungkin sedang kebingungan memikirkan; "Apa, ya?"
Oke, cukup ngebayanginnya, sekarang dari hasil ngebayangin itu, kalian setuju dong kalau aku menyatakan : kebahagiaan terdapat di mana-mana, bahkan pada hal-hal kecil sekalipun. Dan buat yang tadinya bertanya-tanya "Apa, ya?", aku rasa kalian masih belum peka terhadap kebahagiaan-kebahagiaan itu. Lantas, bagaimana caranya biar peka?
Oke sebelum menjawabnya, pernah gak sih kalian mempertanyakan Kenapa sih aku harus lahir di kota ini? Kenapa sih aku harus lahir di keluarga ini? Kenapa sih aku harus sekelas sama dia? Kenapa sih dunia selalu bertolak belakang dengan apa yang kuharapkan? Mengapa dunia tak seindah yang terlihat? Kenapa sih nasibku tidak sebaik dia? Kenapa? Kenapa? KENAPA???
Aku? Pernah.
Aku pernah bertanya-tanya mengapa aku dilahirkan di kota kecil ini. Aku pernah bertanya-tanya mengapa aku tidak seberuntung orang lain yang memiliki suara bagus, gadget keren,pacar cakep, dan lain sebagainya. Aku pernah bertanya-tanya ... namun aku tak sadar telah diberikan jawabannya.
Bicara tentang kebahagiaan-dari-sesuatu yang dalam tanda kutip adalah benda, memang faktor ekonomi memang sering mendominasi. Keluarga yang ekonominya tinggi mah enak, bisa beli ini beli itu, makan makanan yang asupan 4 sehat 5 sempurna tercapai, lah bagi yang ekonominya menengah kebawah? This is our time to activate peka-sense kita guys!
Dan cara untuk mengaktifkannya adalah ...
E
N
G
.
.
I
N
G
.
.
E
N
G
.
.
sadar.
iya, sadar. Kamu nggak salah baca kok.
Latar belakang aku menulis post ini adalah dari kebiasaanku yang suka minum teh dengan gula yang sedikit. Sangat sedikit, malahan. Sangat sedikit sampai-sampai temenku bilang "Kalo gulanya cuma segitu, mending nggak usah pake gula sekalian, Au. Nggak ada bedanya."
Nah, silakan dikira-kira se-sedikit apa.
Tapi menurutku, dan menurut lidahku, ada perbedaan jika aku tidak menambahkan gula ke dalam teh, sedikit apa pun itu. Rasanya, pahitnya teh terasa pekat di lidah. Tetapi jika aku menambahkan gula-yang-super-sedikit-itu, maka pekatnya akan terasa berkurang. Secara teori, betul kata temenku, mungkin emang nggak bakal ada bedanya. Tapi, inilah yang mungkin disebut sebagai the power of sugesti. Rasanya ... beda aja, gitu. Kalau kuberi gula, rasanya ada rasa manis tersendiri yang bisa kurasakan.
Nggak cuma teh, tapi sirup juga. Aku tidak suka sirup yang terlalu manis. Perbandingan takarannya mungkin 1% sirup : 99% air putih. Jadi jangan heran kalo sirup di rumah awet lama. Menurutku, sirup dengan takaran segitu sudah manis, dan prinsipku ya yang penting ada rasanya, ada manisnya, walau cuma sedikit. Dan dari kebiasaanku ini, suatu hari aku tersadar. Mungkin manusia harusnya juga seperti ini. Bisa merasakan manis, di dalam sirup yang hambar.
Seperti yang kita ketahui, kehidupan tidaklah selalu berjalan mulus. Selalu ada kerikil-kerikil masalah yang mencoba membuatmu tersandung ketika kau berjalan menjalani hidupmu. Tetapi ketahuilah, ketika kamu tersandung dan terjatuh, kamu tidak hanya mendapat luka. Jika saja kamu bisa lebih peka, maka adegan kamu jatuh dan terluka justru bisa saja membuatmu tertawa.
Misal, ketika kamu mendapat nilai jelek dan rasanya kayak ... mati-aja-gue, maka cobalah peka sedikit. Tersenyumlah dan katakan "Well, school life emang harusnya begini kan? Ada waktunya nilai kita tinggi dan ada saatnya nilai kita rendah. Masa nilai tinggi melulu? Nggak ada variasinya." Kemudian, berilah emot smile di kertas itu. Simpan. Beberapa tahun kemudian ketika kamu dewasa, lihatlah kertas itu lagi. Dan kamu akan tersenyum kembali.
Atau ketika kamu diputusin pacar dan gak bisa-bisa move on. Tersenyumlah. Sadari apa saja positive things yang kamu dapat sehabis putus dari pacar. Pulsa jadi hemat, atau ... paket internet bener-bener buat hal yang berguna, bisa pergi ke mana aja tanpa lapor, dll. dll.
Jadi, ilustrasinya gini.
Dapat masalah --> menyadari positif dan negatif dari masalah yang dihadapi --> merasakan sakit, tetapi masih bisa bahagia karenanya --> do it all over again when facing problems --> menjadi manusia yang peka --> lebih banyak tersenyum bahagia dalam hidup ^^
So, be peka-enough to find happiness around you!
Karena kebahagiaan itu tersebar di mana-mana, dari hal besar sampai hal kecil sekalipun!
How's life there?
Baik? Buruk? Menyenangkan? Mengecewakan? Menyedihkan? Mengagumkan? Biasa-biasa saja?
Well, jawaban kalian pasti beragam tapi aku harap kebahagiaan selalu menyertai kita semua. Amiiin
Ngomong-ngomong soal kebahagiaan, coba deh kalian pikirkan sesuatu yang dapat membuat kalian bahagia. Et-et-et, tunggu dulu, jangan langsung lamunin muka pacar ato gebetan, entar kalian malah asyik melamun terus nggak lanjutin baca nih post -_-" Sesuatu yang aku maksud itu lebih seperti ... hal-hal kecil yang, entah mengapa dapat membuat kalian bahagia walau secara tampak luar, sesuatu itu hanyalah hal biasa. For example nih, misalkan kalian melihat bunga mawar, entah kenapa hati kalian adem-adem gimanaaaa gitu. Nah intinya hal-hal kecil, lah.
Dan sekarang, coba pikirkan semua hal-hal kecil yang dapat membuat kalian bahagia itu.
Sebagian dari kalian, mungkin sekarang sedang tenggelam dalam fantasi hal-hal kecil itu. Dan sebagian dari lagi mungkin sedang kebingungan memikirkan; "Apa, ya?"
Oke, cukup ngebayanginnya, sekarang dari hasil ngebayangin itu, kalian setuju dong kalau aku menyatakan : kebahagiaan terdapat di mana-mana, bahkan pada hal-hal kecil sekalipun. Dan buat yang tadinya bertanya-tanya "Apa, ya?", aku rasa kalian masih belum peka terhadap kebahagiaan-kebahagiaan itu. Lantas, bagaimana caranya biar peka?
Oke sebelum menjawabnya, pernah gak sih kalian mempertanyakan Kenapa sih aku harus lahir di kota ini? Kenapa sih aku harus lahir di keluarga ini? Kenapa sih aku harus sekelas sama dia? Kenapa sih dunia selalu bertolak belakang dengan apa yang kuharapkan? Mengapa dunia tak seindah yang terlihat? Kenapa sih nasibku tidak sebaik dia? Kenapa? Kenapa? KENAPA???
Aku? Pernah.
Aku pernah bertanya-tanya mengapa aku dilahirkan di kota kecil ini. Aku pernah bertanya-tanya mengapa aku tidak seberuntung orang lain yang memiliki suara bagus, gadget keren,
Bicara tentang kebahagiaan-dari-sesuatu yang dalam tanda kutip adalah benda, memang faktor ekonomi memang sering mendominasi. Keluarga yang ekonominya tinggi mah enak, bisa beli ini beli itu, makan makanan yang asupan 4 sehat 5 sempurna tercapai, lah bagi yang ekonominya menengah kebawah? This is our time to activate peka-sense kita guys!
Dan cara untuk mengaktifkannya adalah ...
E
N
G
.
.
I
N
G
.
.
E
N
G
.
.
sadar.
iya, sadar. Kamu nggak salah baca kok.
Latar belakang aku menulis post ini adalah dari kebiasaanku yang suka minum teh dengan gula yang sedikit. Sangat sedikit, malahan. Sangat sedikit sampai-sampai temenku bilang "Kalo gulanya cuma segitu, mending nggak usah pake gula sekalian, Au. Nggak ada bedanya."
Nah, silakan dikira-kira se-sedikit apa.
Tapi menurutku, dan menurut lidahku, ada perbedaan jika aku tidak menambahkan gula ke dalam teh, sedikit apa pun itu. Rasanya, pahitnya teh terasa pekat di lidah. Tetapi jika aku menambahkan gula-yang-super-sedikit-itu, maka pekatnya akan terasa berkurang. Secara teori, betul kata temenku, mungkin emang nggak bakal ada bedanya. Tapi, inilah yang mungkin disebut sebagai the power of sugesti. Rasanya ... beda aja, gitu. Kalau kuberi gula, rasanya ada rasa manis tersendiri yang bisa kurasakan.
Nggak cuma teh, tapi sirup juga. Aku tidak suka sirup yang terlalu manis. Perbandingan takarannya mungkin 1% sirup : 99% air putih. Jadi jangan heran kalo sirup di rumah awet lama. Menurutku, sirup dengan takaran segitu sudah manis, dan prinsipku ya yang penting ada rasanya, ada manisnya, walau cuma sedikit. Dan dari kebiasaanku ini, suatu hari aku tersadar. Mungkin manusia harusnya juga seperti ini. Bisa merasakan manis, di dalam sirup yang hambar.
Seperti yang kita ketahui, kehidupan tidaklah selalu berjalan mulus. Selalu ada kerikil-kerikil masalah yang mencoba membuatmu tersandung ketika kau berjalan menjalani hidupmu. Tetapi ketahuilah, ketika kamu tersandung dan terjatuh, kamu tidak hanya mendapat luka. Jika saja kamu bisa lebih peka, maka adegan kamu jatuh dan terluka justru bisa saja membuatmu tertawa.
Misal, ketika kamu mendapat nilai jelek dan rasanya kayak ... mati-aja-gue, maka cobalah peka sedikit. Tersenyumlah dan katakan "Well, school life emang harusnya begini kan? Ada waktunya nilai kita tinggi dan ada saatnya nilai kita rendah. Masa nilai tinggi melulu? Nggak ada variasinya." Kemudian, berilah emot smile di kertas itu. Simpan. Beberapa tahun kemudian ketika kamu dewasa, lihatlah kertas itu lagi. Dan kamu akan tersenyum kembali.
Atau ketika kamu diputusin pacar dan gak bisa-bisa move on. Tersenyumlah. Sadari apa saja positive things yang kamu dapat sehabis putus dari pacar. Pulsa jadi hemat, atau ... paket internet bener-bener buat hal yang berguna, bisa pergi ke mana aja tanpa lapor, dll. dll.
Jadi, ilustrasinya gini.
Dapat masalah --> menyadari positif dan negatif dari masalah yang dihadapi --> merasakan sakit, tetapi masih bisa bahagia karenanya --> do it all over again when facing problems --> menjadi manusia yang peka --> lebih banyak tersenyum bahagia dalam hidup ^^
So, be peka-enough to find happiness around you!
Karena kebahagiaan itu tersebar di mana-mana, dari hal besar sampai hal kecil sekalipun!





