Posted by : ayachin Kamis, 26 Juni 2014

Nggak, aku nggak bakalan ngegosipin cinta, kok. Sementang judulnya membicarakan tentang cinta, ya. Setelah menonton A Werewolf Boy -yang walau sering di skip- hatiku tergerak untuk membicarakan sesuatu tentang cinta, sesuatu tentang penantian.

Mengapa aku mau berbicara tentang cinta? Karena hari ini aku dipenuhi dengan romance tragis. Mengapa? (a) Aku membabat habis novel The Fault in Our Stars karya John Green yang kau tahu, kisah cinta tentang dua orang yang mengidap kanker, (b) Aku barusan menonton A Werewolf Boy, meski romancenya tidak terlalu menonjol, tetapi tetap saja, tragis. Song Joong Ki, pangeranku  -udeh, jangan muntah- yang memerankan Chul-soo di akhir kisah tetap menunggu Park Bo-Young yang memerankan Kim Su-Ni. Ceritanya yah Joong Ki itu semacam manusia serigala, skip skip skip, Bo-Young harus pindah dan berpisah dari Joong Ki. Suatu hari ketika Bo-Young udah jadi nenek-nenek, ia menengok rumahnya yang dulu ia tempati ketika remaja. Di gudang, tempat Joong Ki dulu ditemukan, ternyata Joong Ki masih ada di sana, menunggunya dengan bold, italic, dan underline. Ditambah, Joong Ki udah bisa ngomong, dan suaranya itu ... euh, seksoy abis lah didenger. Bikin mentega yang dipanaskan di atas frying pan menjadi meleleh #yaiyalah!

Loh. Kok aku malah bahas film, sih?
Sori. Khilaf.

Sesuatu tentang cinta. Sesuatu tentang penantian.
Kisah cinta di bumi, diawali oleh penantian. Jika ternyata pendapatku salah, kalian boleh memintaku menraktir kalian *itu juga kalau bertemu :p*, tapi, wets, jangan salah, aku yakin 99,9 % kalau pernyataanku itu benar. Sengaja tidak kugenapkan menjadi 100% karena aku kepingin melihat adakah diantara kalian yang mencari 0,1% setelah aku mengatakan alasan atas keyakinan 99.9% ku ini :
"Adam dan Hawa diturunkan -ini semacam bahasa halus- ke bumi, terpisah dengan jarak yang beribu-ribu mil jauhnya, dan masing-masing diantara mereka menanti waktu yang akan mempertemukan mereka kembali. Dengan cinta yang masih utuh."

Masih ingin mencari peluang 0,1% itu?

Apa yang ingin kukatakan dalam postingan ini adalah, cinta itu merupakan sesuatu tentang penantian, penantian, dan penantian. Cinta itu bukan mie instan yang tinggal direbus terus dibumbui. Cinta itu semacam menanam sebuah bibit ke dalam sebuah tanah yang bernama hati, menyiraminya dengan kasih sayang, menjaga agar suhunya tidak terlalu panas maupun dingin. Dan ketika bibit itu telah menyembulkan batang dan daun pertama, sebagai penanam bibit itu, kita akan mulai senyam-senyum melihat kerja keras kita yang mulai menampakkan awal-dari-hasil. Tentu saja, itu baru tumbuhan kecil, kau belum bisa memetik apa pun darinya. Kau pun akan menanti, hingga batang itu mulai meninggi berkat jaringa meristem yang selalu membelah, dedaunan pun akan semakin banyak dan rimbun, tapi perlu diingat, suatu waktu ulat atau hama lainnya dapat menganggu kalian; kau dan tumbuhan cintamu -mari kita sebut begitu. Dan kau harus menangani segala hama itu dengan benar, karena kalau tidak, hanya akan menghancurkan tumbuhan cintamu, dan kau, akan hancur juga, tepatnya di suatu tempat di hatimu.

Ketika tumbuhan cintamu mulai dewasa, kau juga masih dihadapkan dengan penantian. Walau tumbuhan cintamu telah jauh lebih tinggi daripada tinggi badanmu, bukan berarti dia sudah dapat berbuah. Tumbuhan cintamu perlu waktu. Kau harus memahaminya. Kau tidak boleh memaksanya agar segera menghasilkan buah-buah. Walau tumbuhan cintamu sudah besar, ia perlu waktu untuk mematangkan elemen-elemen pada dirinya yang kebanyakan tidak kita ketahui. Mungkin tumbuhan cintamu perlu menguatkan akarnya agar tidak roboh sekalipun Tsunami menerjang, mungkin ia ingin melebatkan daunnya agar kau dapat bernaung dengan nyaman ketika terik matahari tidak bersahabat, dan segala kemungkinan lainnya yang sering tak dapat kita, -kutujukan khususnya untuk para cowok- pahami.

Yang ingin kukatakan secara blakblakan adalah,
Wahai para muda dan mudi di dunia.
Cinta adalah perasaan terunik yang memiliki banyak efek samping. Cinta adalah obat, dan obat itu adalah racun. Cinta tak ayal adalah pisau bermata dua. Cinta adalah hitam, tetapi cinta jugalah putih. Cinta adalah dua sisi yang menyatu, dan dua sisi yang berpisah. Cinta adalah, kau tahu, jika seluruh dunia ikut mendefinisikan cinta, maka akan ada banyak definisi yang kau dapatkan jika beberapa definisi yang kuungkapkan belum cukup untukmu.

Cinta adalah sesuatu tentang penantian, karena cinta bukan barang instan.
Cinta timbul dari rasa suka, tapi bagiku cinta muncul dari rasa nyaman. Rasa nyaman ketika kau berada di sisi seseorang sehingga kau akan betah -bahkan hatimu akan merasa kehilangan jika dia pergi- lama-lama bersamanya. Tetapi rasa nyaman tidak selalu membuahkan cinta, begitu juga suka. Namun dengan siraman kasih sayang apalagi perhatian, kemungkinan terwujudnya akan sangat tinggi.

Sedikit OOT -Out of topic, aku akan melanjutkan.

Tidakkah kau bisa mengerti setelah membaca perjuangan mengenai menumbuhkan tumbuhan cinta barusan? Kupikir aku telah menganalogikannya dengan hampir sempurna. Segala sesuatu tentang penantian itu. Aku sedikit prihatin, tentu saja, dengan bangsaku, muda mudi seumuran atau bahkan yang lebih muda dariku, dan yang lebih tua di atasku, yang terjerat kasus gara-gara cinta yang diawali kata ber- sebelumnya. Kasus pribadi maupun yang menyangkut kepolisian, yang menjadikan cinta begitu hitam dan kelam untuk dirasakan. Siapa yang patut disalahkan? Timing. Waktu. Bukan, kalian bukannya harus menyalahkan waktu, tetapi kalian harus merasa bersalah kepada waktu. Menggunakannya untuk mempercepat tumbuhnya buah pada tumbuhan cinta kalian padahal kalian mengerti konsekuensinya apa. Karena kalian tidak akan begitu tolol untuk melakukannya sebelum kalian mengerti cara kerjanya. Oke. Ini sudah blak-blakan.

Tidakkah tumbuhan cinta yang telah berkembang menjadi pohon cinta akan membuahkan sesuatu yang manis ketika serbuk sari dari pohon cinta jatuh ke kepala putik dengan timing. waktu. yang. tepat?

Segala sesuatu memiliki waktunya tersendiri, bahkan ketika kau lahir ke dunia ini, semua itu telah dicanangkan Tuhan timing yang tepat. Ibumu, ayahmu, orangtuamu, menunggumu, menantimu, sepanjang perjalanan 9 bulan 10 hari itu. Mereka mencurahkan kasih sayang kepadamu, melakukan segala yang terbaik yang dapat mereka lakukan hanya agar kau terlahir dengan sehat, atau setidaknya, selamat. Tidakkah kau bisa berkata kepada mereka -yang mengasihimu semasa kau kecil sampai saat nanti- "Aku akan mengalahkan kalian! Aku akan menantikan seseorang yang kukasihi sampai waktunya tiba! Aku akan mengalahkan kalian! Aku juga bisa menanti seseorang yang kukasihi seperti kalian yang menantiku selama 9 bulan 10 hari, menantiku bisa merangkak, berjalan, berlari, mengeja, membaca, menulis, berteman, menantiku untuk menjadi orang yang berguna dan bukan orang yang bersifat kurang ajar kepada orang tua dan orang-orang disekitarku. Lihat saja, Bu, Yah! Akan kumenangkan hatinya dengan penantian ini, dan kami akan memperlihatkan kalian buah (hati) yang begitu manis, ketika waktu penantian akhirnya berakhir!"

Cinta bukan tentang ciuman, cinta tentang memupuk perasaan.
Kita sudah tahu tentang hal itu. Namun ancap kali, hawa nafsu menguasai kita.

Bayangkan. Bayangkan kamu sekarang berdiri di atas padang pasir yang begitu tandus dan menyengat. Lalu di seberang sana, kau melihat sebuah kota dengan segala hijau pepohonan yang rindang. Lalu, tiba-tiba saja, muncul sebuah lubang di dekatmu. Lubang yang cukup dalam, dengan keping benih cinta berada di dasarnya. Kau menjatuhkan sesuatu, dan ternyata lubang itu bukan lubang biasa, melainkan pasir hisap. Kau ingin menyelamatkan benih itu, lalu menanamnya di kota yang kau lihat barusan, namun kau tahu konsekuensi jika menyelamatkan benih itu. Kau juga bisa menjadi korbannya.

Cinta, adalah pilihan.

Sekarang, pilih keputusanmu.
Tidak, kau tidak bisa ke kota untuk meminta pertolongan, karena benih itu harus diselamatkan secepatnya.

Posisikan dirimu.

Kau ingin terjun? Boleh-boleh saja. Aku tidak mengatakan kau akan gugur atau apa.

Kau sudah terjun? Benih cinta itu sudah di tanganmu?

INILAH MEDAN TEMPURMU.

Pasir hisap itu adalah hawa nafsu.

Mereka akan menyedotmu, menarikmu, agar jatuh lebih dalam, dalam buaian cinta.

Tapi kau tahu? Pasir hisap itu memiliki kelemahan!

TENANG!
JANGAN MERONTA-RONTA SEPERTI ITU!

Bagus.

Tubuhmu yang meronta-ronta itu bagaikan hormon-hormon di dalam tubuhmu yang bergejolak. Kini kau sudah tenang. Kau berhenti tenggelam lebih jauh. Kau tahu, kelemahan dari pasir hisap adalah ketenangan.

Kini kau selamat. Dan benihmu pun selamat. Jangan tanya padaku bagaimana kalian bisa keluar dari lubang itu karena aku tidak bisa memikirkan analogi yang pas, terlebih, aku tidak pernah merasakan terjatuh dan selamat dari pasir hisap. Aku yang bercerita, ikuti sajalah alurku.

Begitulah kira-kira yang dapat kugambarkan kepada kalian, bagaimana sesunggunya cinta itu.

Sekarang, waktunya berbagi quotes ~

Quotes : Ketika kau memutuskan untuk jatuh cinta, kau sebenarnya memutuskan untuk memasuki sebuah medan perang dengan misi menyelamatkan cinta itu sendiri.

Quotes : Cinta itu tentang penantian, dan waktu yang tepat.

-ANH

Sekian ya semuanyaaa! Jujur kali ini topik mengalir diotakku dengan begitu lancarnya, bahkan sebelumnya, aku tidak berniat untuk menulis tentang penantian yang berkaitan dengan Adam dan Hawa, apalagi sesuatu tentang tumbuhan cinta itu! Astaga, aku merasa hebat dengan tulisanku, kurasa. Kupikir aku bisa menjadi seorang penulis, tetapi aku tidak tahu termasuk genre apa tulisanku ini. Haha! Terlalu dini memuji diri, aku masih harus banyak berlatih menulis, juga mengetik -aku masih megandalkan dua telunjuk kanan-kiri ku, kuharap setelah sekian lama memiliki netbook, aku seharusnya bisa mengetik dengan jari-jari lain juga! Jika kau menyukai tulisan ini, kau dapat membaginya di jejaring sosialmu! Atas segala perhatian dan waktu yang kalian curahkan semata untuk membaca postingan -yang terbilang panjang daripada biasanya- ini, aku ucapkan MILYARAN TERIMA KASIH!

{ 2 komentar... read them below or Comment }

  1. "Ketika kau memutuskan untuk jatuh cinta, kau sebenarnya memutuskan untuk memasuki sebuah medan perang dengan misi menyelamatkan cinta itu sendiri." dalam hal ini kita bisa menempatkan posisi yang disebutin tadi terjebak di dalam lubang pasir hisap untuk menyelamakan cinta, tapi yang harus di ingat adalah sebuah kelanjutan kisahnya jika kita gagal dalam satu cinta terlepas dari alasan kau tenggelam dan gugur atau kelelahan saat berjalan menuju kota hijau tadi karna kehabisan tenaga untuk menyelamatkan cinta tersebut artinya kita harus mencoba dan mengulangnya lagi dari awal, mempertahankan dan menyelematkan Cinta emang susah (ini paragraph emang gak ada solusinya).
    Tulisan kamu makin bagus cuman kayanya agak sedikit keganggu dengan tanda baca yang sebenernya gak perlu tapi over all artikel ini keren, udah aku share via twitter :)
    dan satu lagi kamu bisa ilangin chapta nya biar yang mau komen gak ribet.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena cinta itu dinamis, selalu berubah-ubah. Aku tidak bisa menciptakan teori universal tentang apa itu cinta -ini juga menjadi alasan mengapa ada ribuan definisi cinta di muka bumi ini-, yang kubisa hanyalah memikirkan sebuah keadaan, menganalogikannya, kemudian terciptalah sebuah "pandangan" tentang apa itu cinta.
      Mungkin sifatnya sedikit teoritis, namun hanya dapat diterapkan sebagian orang.

      Cinta yang gagal diselamatkan ... adalah cinta yang patut diperjuangkan kembali, atau cinta yang menuntut pengganti?
      Andai aku boleh mengintip skenario Tuhan, aku akan menjawabnya.

      Terima kasih telah berkunjung! Aku sangat menghargai umpan balik darimu dalam postingan ini, apalagi kau menuangkan sedikit pemikiranmu ke dalamnya yang tentu saja tak terpikirkan olehku tadi malam. Terima kasih atas segala sarannya, mengenai tanda baca itu, haha, beginilah gaya ketikanku setelah membaca novel The Fault in Our Stars. Jika kau membacanya, percayalah, kau akan mengerti untuk apa tanda titik yang bertebaran di sela-sela kata. Chapta sudah kuhilangkan -astaga, aku baru tahu ada chapta jika ingin memberi komentar. sungguh, terima kasih sarannya!- dan terima kasih terakhir untuk bersedia membagikan postinganku di jejaring sosialmu. Kapan-kapan, berkunjung lagi, ya!

      Hapus

Popular Post

Diberdayakan oleh Blogger.
K-On Mio Akiyama

Follow me

Nama Jepangku ~

- Copyright © 2013 Aau-chan's World -Sao v2- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -